"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Permata Berlutut
Kotak hitam itu tetap berada di meja sampai pagi.
Arya belum membukanya.
Ada benda-benda yang tidak boleh disentuh saat hati masih dipenuhi suara orang lain. Dan semalam, suara Maryam, Sinta, Dewi, Tiara, Pak Satria, bahkan Revan, semuanya masih bergerak di kepalanya seperti potongan kaca.
Pukul delapan pagi, ia duduk di kontrakan lama dengan kemeja bersih dan tablet di tangan. Di layar, grafik Keluarga Permata sudah berubah dari kuning menjadi merah.
Pak Satria masuk membawa laporan baru.
"Bank ketiga menghentikan fasilitas kredit sementara. Dua proyek konstruksi yang memakai jasa Permata Logistics ditunda. Supplier utama meminta pembayaran di muka. PT Suara Kreatif kehilangan tiga klien."
Arya membaca tanpa ekspresi. "Karyawan kecil?"
"Gaji mereka masih bisa dibayar bulan ini jika keluarga tidak memindahkan dana secara bodoh."
"Mereka akan memindahkan dana secara bodoh."
Pak Satria tidak membantah.
Di Rumah Besar Permata, prediksi itu terbukti sebelum makan siang.
Maryam memaksa menjual cepat dua perhiasan keluarga untuk menutup tagihan pribadi. Salah satu sepupu menarik dana dari rekening operasional untuk melunasi pinjaman investasi bodong. Om Besar Permata berteriak sampai suaranya hilang, tetapi semua orang sudah terlalu panik untuk mendengar.
Menjelang sore, Om Besar akhirnya datang.
Ia tidak datang dengan rombongan.
Tidak membawa pengacara.
Tidak membawa Maryam.
Pria tua itu turun dari mobil hitam di depan gang kontrakan Arya dengan wajah yang tampak lebih tua sepuluh tahun. Setelannya masih mahal, tetapi kerahnya berantakan. Sopirnya ingin memayungi, namun Om Besar mengangkat tangan, menolak.
Ia berjalan sendiri melewati gang.
Orang-orang menoleh. Beberapa mengenalnya dari berita bisnis lokal. Ketua Keluarga Permata, lelaki yang dulu selalu muncul di acara peresmian dengan senyum besar, kini berjalan ke kontrakan sempit seperti orang yang mencari hakim.
Arya sedang duduk di ruang depan saat Om Besar tiba.
Pak Satria berdiri di samping pintu.
"Masuk, Om," kata Arya.
Kata Om terdengar sopan, tetapi tidak lagi hangat.
Om Besar masuk dan menatap ruangan kecil itu. Ia pernah melihat Arya berdiri di sudut ruang makan Permata, membawakan piring, menerima ejekan, dan menunduk. Ia tidak pernah membayangkan lelaki yang sama menerima tamu di tempat sederhana ini dengan kehadiran yang membuat ruangan kecil terasa seperti ruang direksi.
"Arya," katanya serak.
"Duduk."
Om Besar tidak duduk.
Tangannya gemetar. "Saya datang untuk meminta maaf."
Pak Satria tidak bergerak, tetapi matanya mengamati setiap detail. Di luar, dua orang keamanan sipil berjaga tanpa terlihat mencolok.
Arya meletakkan tablet. "Untuk apa?"
Pertanyaan itu membuat Om Besar tersentak.
Untuk apa?
Terlalu banyak jawabannya.
Untuk tiga tahun penghinaan. Untuk membiarkan Maryam memperlakukan Arya seperti pembantu. Untuk rapat keluarga yang sering menjadikan nama Arya sebagai bahan tertawaan. Untuk semalam, ketika ia tidak hadir tetapi ikut menikmati keputusan mengusir menantu miskin yang dianggap tidak berguna.
Om Besar perlahan menekuk lutut.
Pak Satria sedikit mengangkat alis.
Arya tidak bergerak.
Lutut Om Besar menyentuh lantai.
"Mas Arya," katanya, suara pecah, "tolong ampuni keluarga kami."
Di luar jendela, beberapa warga yang lewat berhenti tanpa sengaja. Mereka tidak mendengar jelas, tetapi cukup melihat: seorang tokoh bisnis lokal berlutut di depan lelaki yang kemarin masih terlihat seperti penghuni kontrakan biasa.
Arya menatap Om Besar.
"Tiga tahun lalu," katanya pelan, "di ulang tahun Mbah Permata, Om menyuruhku makan di dapur karena katanya meja utama tidak untuk laki-laki tidak berguna."
Wajah Om Besar memucat.
"Aku ingat."
"Dua tahun lalu, waktu proyek Permata hampir gagal, Om bilang pada Sinta bahwa aku membawa sial."
"Saya..."
"Setahun lalu, Om menyebutku sampah di depan vendor. Vendor itu sekarang bekerja dengan Takdir."
Om Besar menunduk sampai dahinya hampir menyentuh lantai. "Saya salah."
Arya bangkit dari kursi.
Langkahnya pelan. Ia berdiri di depan Om Besar, menatap lelaki tua yang dulu begitu tinggi di mata keluarga itu.
"Tiga tahun Om menyebutku sampah." Suara Arya rendah, tidak marah, justru itulah yang membuatnya lebih berat. "Sekarang Om berlutut di depan sampah. Dunia memang cepat berubah."
Tubuh Om Besar bergetar.
Pak Satria memalingkan wajah sedikit. Bukan karena kasihan, tetapi karena kalimat itu terlalu lama tertahan.
"Saya mohon," kata Om Besar. "Kalau Takdir terus menekan, kami hancur. Ratusan karyawan akan kehilangan pekerjaan. Keluarga kami..."
"Jangan pakai karyawan sebagai tameng." Mata Arya menjadi dingin. "Aku sudah memastikan gaji mereka tidak tersentuh. Yang sedang hancur adalah struktur kalian, utang kalian, dan kesombongan kalian."
Om Besar tidak bisa menjawab.
"Bangun," kata Arya.
Om Besar perlahan berdiri, tetapi punggungnya tetap membungkuk.
"Aku tidak akan mengembalikan kontrak hanya karena Om berlutut."
Wajah Om Besar runtuh.
"Tapi aku juga tidak akan mengejar sampai orang kecil kelaparan. Permata masih punya pilihan: jual aset yang tidak produktif, bayar karyawan, hadapi audit, dan berhenti memakai nama orang lain untuk menutup kebusukan."
"Lalu keluarga kami?"
"Nasib Keluarga Permata ditentukan oleh Keluarga Permata sendiri." Arya menatapnya lurus. "Aku sudah bukan bagian dari rumah itu."
Om Besar menelan ludah. "Maryam dan Sinta..."
"Jangan sebut mereka untuk menawar denganku."
Om Besar langsung diam.
Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kontrakan dengan wajah kosong. Di luar, sopirnya buru-buru membuka pintu. Om Besar masuk tanpa bicara. Mobil itu pergi meninggalkan gang dengan lambat.
Baru dua tikungan dari gang, ponsel Om Besar berdering. Nama Maryam muncul di layar. Ia mengangkat tanpa semangat.
"Bagaimana? Arya mau membantu, kan?" suara Maryam langsung menyerbu. "Katakan padanya Sinta masih bisa mempertimbangkan rujuk kalau dia mau bersikap baik."
Om Besar memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa keluarga mereka bukan hanya kehilangan kontrak. Mereka kehilangan kemampuan membaca kenyataan.
"Diam, Maryam," katanya lelah. "Kamu masih belum sadar siapa yang kamu usir."
Ia memutus panggilan sebelum Maryam sempat menjerit.
Pak Satria menutup pintu.
"Tuan Muda memberi mereka jalan hidup."
"Jalan hidup bukan jalan keluar."
"Tentu."
Arya kembali duduk. Ia menatap kotak hitam peninggalan Lestari, lalu mengalihkan pandangan ke tablet. Di layar, nama Revan Hadinata berada di halaman laporan berikutnya.
"Pak Satria."
"Ya, Tuan Muda."
"Siapkan laporan penuh tentang Revan Hadinata dan Keluarga Hadinata. Aku ingin tahu semua koneksi bisnis mereka, vendor yang mereka pakai, rekening yang terhubung dengan Wulan, dan siapa saja yang ikut dalam jebakan foto itu."
"Sudah saya mulai sejak semalam."
"Percepat."
Pak Satria menunduk. "Baik."
Ponsel Arya bergetar.
Pesan dari Dewi.
Prabu mengirim orang lagi ke Kota Awan. Bukan utusan bisnis. Kemungkinan Balai Bayangan. Hati-hati.
Arya membaca pesan itu dua kali.
Di luar kontrakan, sebuah motor berhenti sebentar di ujung gang. Pengendaranya tidak melepas helm. Ia hanya melihat ke arah rumah Arya selama beberapa detik, lalu pergi.
Pak Satria juga melihatnya.
"Tuan Muda?"
Arya meletakkan ponsel di meja.
"Keluarga mulai tidak sabar."
Ia menatap kotak hitam ibunya.
"Kalau begitu kita buka satu perang lagi."