Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.
Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.
Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Di saat yang sama, usaha jahit rumahan yang selama ini ia rintis juga mengalami perkembangan pesat. Banyak pelanggan yang awalnya mengenal Nadia dari dunia modeling kemudian mengetahui bahwa ia sendiri adalah seorang desainer sekaligus penjahit. Pesanan pun berdatangan dari berbagai daerah. Tidak sedikit pelanggan yang secara khusus meminta dibuatkan busana berdasarkan sketsa hasil karya Nadia karena menyukai ciri khas desainnya yang elegan, nyaman dikenakan, dan tetap sesuai dengan kebutuhan perempuan muslim.
Melihat permintaan yang terus meningkat, Nadia mulai memberdayakan beberapa ibu rumah tangga di sekitar kontrakannya untuk membantunya menjahit. Baginya, berkembangnya usaha bukan hanya soal menambah keuntungan, tetapi juga membuka kesempatan bagi perempuan lain untuk memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan keluarganya. Sedikit demi sedikit, ruang jahit kecil di rumah kontrakannya berubah menjadi tempat yang selalu ramai oleh suara mesin jahit dan tawa para pekerja.
Kini, banyak orang mengenal Nadia bukan hanya sebagai model busana muslim, tetapi juga sebagai pengusaha jahit rumahan yang membangun usahanya dari nol dengan kerja keras dan ketekunan. Setiap kali ditanya tentang rahasia keberhasilannya, Nadia hanya tersenyum. Ia percaya bahwa semua pencapaian itu bukan datang karena kepopuleran semata, melainkan karena keberanian untuk terus melangkah meski hidup pernah menjatuhkannya berkali-kali.:::
Setelah kondisi keuangannya benar-benar membaik, ada satu hal yang sejak lama ingin segera diselesaikan oleh Nadia. Ia masih mengingat bantuan yang pernah diberikan Fahri melalui Ray saat Kian hampir tidak bisa membayar uang sekolah. Meski Fahri berkali-kali mengatakan agar uang itu tidak perlu dikembalikan, Nadia merasa hatinya baru akan tenang jika melunasi bantuan tersebut.
Sore itu, Nadia menghubungi Fahri dan memintanya meluangkan sedikit waktu untuk bertemu. Fahri menyanggupi. Mereka sepakat bertemu di sebuah kedai kopi yang tidak jauh dari sekolah anak-anak mereka.
Begitu bertemu, Nadia langsung mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tasnya dan mendorongnya perlahan ke hadapan Fahri. "Ini uang yang dulu Bapak bantu untuk SPP Kian."
Fahri tersenyum tipis tanpa langsung mengambilnya. "Bu Nadia, saya kan sudah bilang..."
Nadia menggeleng pelan. "Saya tahu. Tapi izinkan saya mengembalikannya. Dulu bantuan itu sangat berarti buat saya. Sekarang, alhamdulillah, saya sudah mampu."
Melihat kesungguhan Nadia, Fahri akhirnya menerima amplop tersebut. "Kalau begitu, saya terima, saya menghargai komitmen dan niat baik Ibu."
Nadia tersenyum lega. Setelah urusan itu selesai, suasana menjadi jauh lebih santai. Mereka memesan dua cangkir kopi dan mengobrol ringan sambil menunggu waktu penjemputan anak-anak. Topik pembicaraan mereka tidak lagi berkisar pada masalah rumah tangga atau masa lalu, melainkan tentang perkembangan Kian dan Ray di sekolah, kesibukan usaha jahit Nadia yang semakin ramai, serta pekerjaan Fahri yang juga semakin padat.
Fahri beberapa kali mengucapkan selamat atas keberhasilan Nadia membangun usahanya. "Saya senang melihat Ibu bisa bangkit."
Nadia tersenyum hangat. "Terima kasih. Kalau bukan karena banyak orang baik yang membantu saat saya terjatuh, mungkin saya tidak akan sampai di titik ini."
Fahri hanya mengangguk sambil menyeruput kopinya. Di dalam hatinya tumbuh rasa hormat yang semakin besar kepada Nadia. Perempuan di hadapannya tidak hanya tangguh menghadapi ujian hidup, tetapi juga tidak pernah melupakan kebaikan sekecil apa pun yang pernah diterimanya.
Sore itu, secangkir kopi menjadi saksi berakhirnya sebuah utang budi. Yang tersisa di antara mereka kini hanyalah rasa saling menghormati dan persahabatan yang terjalin dengan tulus demi kebahagiaan kedua anak mereka.
Obrolan mereka mengalir semakin santai. Setelah beberapa saat membahas perkembangan usaha jahit Nadia, Fahri meletakkan cangkir kopinya lalu menatap Nadia dengan senyum tipis.
"Oh ya, Bu Nadia. Saya kepikiran sesuatu. Kalau suatu hari usaha Ibu mau diperbesar dan membutuhkan investor, sepertinya kita bisa bekerja sama. Nanti kita bicarakan baik-baik kalau memang Ibu sudah siap."
Nadia tampak terkejut. Tawaran itu sama sekali tidak pernah terlintas di benaknya.
Fahri kemudian melanjutkan dengan nada yang ringan. "Satu lagi. Saya tahu pekerjaan Ibu sekarang mulai sering mengharuskan pergi ke luar untuk pemotretan atau urusan bisnis."
Nadia mengangguk.
"Kalau suatu hari Ibu sedang sibuk dan tidak ada yang menjaga Kian setelah pulang sekolah, jangan sungkan. Biar Kian ikut pulang dulu sama saya dan Ray. Nanti sore atau malam tinggal Ibu jemput."
Nadia terdiam beberapa saat. Tawaran itu terasa begitu melegakan. Belakangan ini, jadwal pekerjaannya memang semakin padat. Beberapa kali ia harus menghadiri rapat dengan klien atau sesi pemotretan yang selesai menjelang sore. Hal yang paling sering membuatnya cemas bukanlah pekerjaannya, melainkan memikirkan Kian yang tidak ada teman menunggu di rumah.
Karena Kian dan Ray sudah bersahabat sejak lama, Nadia merasa usul Fahri justru menjadi solusi yang sangat membantu. Ia tahu Kian akan merasa nyaman bermain bersama Ray daripada harus dititipkan kepada orang yang belum dikenalnya.
"Terima kasih, Pak Fahri." Senyum Nadia kali ini terasa jauh lebih lega. "Jujur, itu memang yang akhir-akhir ini paling sering saya pikirkan."
Fahri mengangguk pelan. "Anggap saja kita saling membantu. Saya juga senang kalau Ray ada teman bermain di rumah."
Mendengar itu, hati Nadia terasa hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama berjuang sendirian, ia mulai merasakan bahwa ia tidak harus memikul semua beban seorang diri. Terkadang, menerima uluran tangan dengan penuh rasa syukur juga merupakan bagian dari ikhtiar untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi dirinya dan Kian.
***
Seiring berjalannya waktu, Nadia mulai menyadari satu hal tentang Fahri. Pria itu tidak pernah mencampuri urusan pribadinya, tidak pernah memaksa untuk menjadi bagian dari hidupnya, dan tidak pernah memanfaatkan setiap kesempatan untuk mendekat. Fahri selalu menjaga batas dengan sangat baik. Ia hadir sewajarnya, berbicara seperlunya, lalu kembali menjalani kehidupannya sendiri.
Namun, setiap kali Nadia berada dalam kesulitan, entah bagaimana Fahri selalu menjadi salah satu orang pertama yang mengulurkan bantuan. Saat Nadia bingung mencari tempat yang aman untuk Kian ketika jadwal kerjanya bertabrakan dengan jam pulang sekolah, Fahri menawarkan agar Kian bermain bersama Ray tanpa membuat Nadia merasa berutang budi.
Ketika Nadia mulai memikirkan cara mengembangkan usaha jahitnya, Fahri menawarkan kemungkinan bekerja sama sebagai investor, tetapi tidak pernah mendesaknya untuk segera mengambil keputusan. Bahkan setelah semua persoalan rumah tangga Nadia selesai, Fahri tidak pernah sekalipun menyinggung masa lalu yang bisa membuka kembali luka perempuan itu.
Sikap itulah yang diam-diam membuat Nadia merasa nyaman. Ia tidak pernah merasa dikasihani, apalagi diperlakukan seolah tidak mampu. Fahri selalu membantu dengan cara yang menjaga harga dirinya. Setiap bantuan diberikan seperti sebuah kerja sama antarteman, bukan belas kasihan kepada seorang ibu tunggal yang sedang berjuang.