NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:20.9k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Sumpah Yang Tak Tertulis

BRAK.

Pintu ruang istirahat privat yang terletak di balik ruang kerja Arka tertutup rapat. Begitu kunci otomatis berbunyi klik, keheningan yang tebal langsung menyelimuti mereka berdua. Ruangan ini dirancang khusus dengan dinding kedap suara berlapis ganda, membuat bisingnya jalur protokol Jakarta di bawah sana menghilang tanpa sisa.

Arka tidak langsung duduk. Pria itu berjalan menuju wastafel marmer di sudut ruangan, mencengkeram tepiannya dengan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih kembali. Kepala bidangnya menunduk dalam, napasnya keluar dalam hembusan-hembusan pendek yang bergetar. Efek serangan panik yang sempat tertahan di dalam ruang rapat tadi kini menuntut bayaran fisik yang nyata.

Ayana tidak membuang waktu satu detik pun. Ia meletakkan tas jinjingnya di atas meja kecil, lalu bergerak cepat menghampiri Arka.

"Arka, duduk di sofa. Sekarang," perintah Ayana, suaranya melembut namun tetap memiliki ketegasan seorang praktisi medis yang memegang kendali penuh.

Arka menurut tanpa bantahan—sebuah pemandangan yang akan membuat seluruh dewan direksi Pradipta Group pingsan berjamaah jika melihatnya. Pria bertubuh jangkung itu menghempaskan dirinya di atas sofa kulit cokelat tua, menyandarkan kepalanya yang terasa seberat semen ke bantalan sofa, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.

Ayana berlutut di lantai tepat di depan lutut Arka, posisi grounding andalannya yang terbukti paling efektif untuk memutus arus korsleting di otak pria itu. Tanpa menunggu izin, Ayana meraih tangan kanan Arka, menempelkan dua jarinya di urat nadi pergelangan tangan sang CEO, sementara tangan kirinya bergerak menyentuh dahi Arka untuk memeriksa suhu tubuhnya.

"Denyut nadi Anda naik lagi ke angka seratus sepuluh. Kulit Anda dingin dan lembap. Ini fase pasca-trauma yang terstimulasi oleh stres tingkat tinggi," analisis Ayana dengan suara yang sengaja diatur dalam nada rendah yang menenangkan.

Arka membuka kelopak matanya perlahan, menatap wajah Ayana yang berada sangat dekat dengannya. Di bawah lampu temaram ruang istirahat, wajah dokter mudanya itu tampak dipenuhi oleh kecemasan yang murni, bukan kecemasan korporat tentang saham atau reputasi, melainkan kecemasan tentang keselamatan jiwanya.

"Tante Elena... dia tahu tentang obat penenang itu," bisik Arka, suaranya terdengar serak dan lelah, kehilangan seluruh keangkuhan diktatornya. "Dia sudah lama mencari celah untuk membuktikan kepada dewan komisaris bahwa saya... cacat secara mental. Jika hari ini kamu tidak menghentikan rapat itu, Ayana... mereka akan memaksa saya melakukan tes independen."

Ayana meremas pelan jemari Arka, memberikan stimulasi taktil yang konsisten. "Saya tahu. Makanya saya tidak akan membiarkan wanita bermulut ular itu menyentuh Anda, Pak Bos. Di dalam ruangan ini, Anda aman. Di luar ruangan ini, surat hak veto medis Anda yang memegang kendali."

Ayana merogoh saku blazernya, mengeluarkan sebuah tisu basah antiseptik dan sisa botol aromaterapi peppermint-lavender miliknya. Dengan gerakan yang teramat lembut dan telaten, ia menyeka butiran keringat dingin yang membasahi dahi dan pelipis tegap Arka, lalu kembali mengoleskan minyak esensial tersebut di titik-titik nadi leher belakang pria itu.

"Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, Arka... rasakan dinginnya peppermint itu masuk ke paru-paru Anda," bimbing Ayana, matanya mengunci pandangan elang Arka yang mulai kembali menemukan fokusnya. "Keluarkan pelan-pelan melalui mulut. Bagus. Ingat hitungannya. Satu... dua... tiga... empat..."

Arka mengikuti panduan tersebut. Setiap kali ia menghirup aroma racikan Ayana, rasa sesak yang menghimpit dadanya seperti batu besar perlahan-lahan mulai terkikis. Sentuhan jemari Ayana di wajah dan lehernya bertindak seperti perisai gaib yang menghalau segala bentuk intimidasi dari dunia luar.

"Kenapa kamu melakukan ini, Ayana?" tanya Arka lirih setelah napasnya mulai stabil. Matanya menatap dalam-dalam ke dalam manik mata bulat Ayana. "Taruhannya adalah kariermu di seluruh Asia. Kakek saya tidak akan segan-segan mencabut izin praktikmu jika dalam tiga delayed bulan saya melakukan satu saja kesalahan fatal di perusahaan. Kenapa kamu mau bertaruh sejauh ini untuk orang sekaku saya?"

Ayana menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap pulpen gel hitam yang terselip di saku blazernya, lalu kembali menatap Arka dengan seulas senyuman tipis yang teramat manis dan tulus.

"Karena saat saya mengambil sumpah dokter beberapa tahun lalu di depan altar medis, saya bersumpah untuk menyembuhkan pasien saya tanpa memandang siapa mereka, seberapa kaya mereka, atau seberapa menyebalkan sifat mereka," jawab Ayana dengan nada jenaka di akhir kalimatnya untuk mencairkan suasana.

"Dan khusus untuk Anda, Pak Arka..." Ayana mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa belasan senti. "Saya melihat seorang pria yang terlalu lama dipaksa menjadi batu karang di tengah lautan badai. Semua orang menuntut Anda menjadi kuat demi uang dan kekuasaan, tapi tidak ada satu pun orang yang bertanya apakah Anda lelah atau tidak. Jadi... anggap saja saya adalah satu-satunya manusia bodoh di kota ini yang memilih untuk berdiri di samping batu karang itu agar dia tidak pecah menjadi serpihan."

Mendengar kata-kata yang begitu tulus keluar dari ranah bibir Ayana, dada Arka mendadak berdesir hebat. Sebuah kehangatan yang teramat masif merayap naik, melumerkan sisa-sisa pertahanan es yang selama belasan tahun ini ia bangun untuk membentengi hatinya dari dunia luar. Pria itu menatap Ayana dengan pandangan yang tidak lagi bisa diartikan sebagai sekadar hubungan antara pasien dan dokter pribadi. Ada sesuatu yang jauh lebih besar, lebih dalam, dan lebih berbahaya bagi profesionalitas mereka yang mulai berakar di sana.

Arka mengangkat tangan kirinya, lalu dengan gerakan yang teramat pelan, ia menggenggam balik tangan Ayana yang berada di atas lututnya, menyatukan jemari mereka dalam sebuah kuncian yang erat dan solid.

"Sepuluh menit sudah habis, Dokter Ayana," ucap Arka, suaranya kini kembali dipenuhi oleh kekuatan beratnya yang khas, namun ada nada kelembutan yang nyata yang hanya ditujukan untuk wanita di depannya ini. "Mari kita kembali ke ruang rapat. Dan kali ini... saya akan memastikan Tante Elena tahu... siapa pemilik Pradipta Group yang sesungguhnya."

Ayana berdiri, membetulkan letak blazernya, lalu memberikan anggukan profesional yang mantap. "Mari kita ratakan meja bundar itu, Pak Bos."

Ketika pintu ruang rapat pleno kembali terbuka tepat pada menit kesepuluh, atmosfer di dalam ruangan seketika berubah. Arkananta melangkah masuk dengan aura otoritas yang jauh lebih masif dan mengintimidasi dibanding sebelumnya. Setelan jas abu-abu gelapnya tampak tegak sempurna, jalannya mantap, dan matanya memancarkan kilat kemenangan yang mutlak.

Di sampingnya, Ayana berjalan dengan ekspresi wajah tenang, menggenggam papan jalannya seperti seorang penasihat militer yang siap memberikan komando eksekusi.

Elena Pradipta yang mengira keponakannya akan kembali dalam kondisi lemas atau linglung, seketika terbelalak syok melihat transformasi instan tersebut.

Arka mendudukkan dirinya di kursi kebesaran, lalu menopang kedua tangannya di atas meja marmer bundar. "Baik, mari kita lanjutkan dari poin anomali pengeluaran tiga belas persen pada divisi riset medis yang Tante sebutkan tadi."

Arka melirik ke arah Karina, memberi isyarat kecil. Karina dengan cekatan langsung membagikan sebuah bundel berkas baru berwarna biru tua kepada seluruh anggota dewan komisaris.

"Pengeluaran tiga belas persen itu bukan anomali, melainkan investasi strategis pra-akuisisi untuk laboratorium farmasi siber di Singapura yang izin resminya baru keluar dari kementerian kesehatan pagi ini jam delapan," ujar Arka, suaranya menggelegar tenang namun mematikan. "Proyeksi keuntungan dari investasi ini akan menaikkan nilai saham Pradipta Group sebesar delapan koma lima persen dalam kuartal berikutnya. Seluruh dokumen hukumnya sudah ditandatangani oleh Kakek dua hari lalu."

Arka memajukan tubuhnya, menatap Elena dengan pandangan mata yang sangat tajam seperti elang yang siap menyergap mangsanya. "Jadi, Tante Elena... jika Tante dan tim auditor Anda masih menganggap ini sebuah kesalahan manajemen... saya rasa yang perlu diaudit bukan laporan keuangan saya, melainkan kompetensi Tante sebagai Direktur Keuangan yang gagal membaca pergerakan pasar makro."

DEB!

Beberapa komisaris senior langsung mengangguk-angguk setuju setelah membaca berkas biru tersebut, sementara wajah Elena Pradipta seketika berubah menjadi merah padam karena malu sekaligus murka yang luar biasa. Argumen culasnya runtuh total dalam waktu kurang dari lima menit.

Rapat audit hari pertama itu akhirnya ditutup dengan kemenangan mutlak berada di tangan Arkananta. Satu per satu dewan komisaris menyalami Arka dengan penuh rasa hormat sebelum meninggalkan ruangan, menyisakan Elena yang hanya bisa menatap Ayana dengan pandangan penuh dendam dari kejauhan sebelum akhirnya melangkah pergi dengan menghentakkan kaki kasarnya.

Setelah ruangan benar-benar sepi, Arka melonggarkan kancing jas abu-abunya, lalu menoleh ke arah Ayana yang sedang tersenyum puas di samping jendela.

"Pertempuran hari ini selesai, Dokter Ayana," ujar Arka dengan nada suara yang santai.

Ayana menoleh, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya rewelnya yang biasa. "Ini baru awal, Pak Kapitalis. Kita baru menyelesaikan satu babak dari rencana panjang delapan puluh babak kehidupan medis Anda. Jadi... bersiaplah untuk volume lima belas persen besok sore di penthouse!"

Arka tidak bisa menahan tawa lepasnya mendengar hal itu—sebuah tawa merdu yang menggema hangat di dalam ruang rapat pleno yang megah, membuktikan bahwa benteng pertahanan mereka berdua tidak akan pernah bisa diruntuhkan oleh siapa pun.

Bersambung.

1
yeyen Hondro
Ceritanya bagus banget.....👍👍👍
neyrfly: makasi ya kakk😍
total 1 replies
Alissia
awas lo arka nanti kamu jatuh cinta sama doktet aya🤭🤭🤣🤣
Wardah Wilda
wuuiihh..Thor..kata2 nya bagus banget ..sangat presisi .akurat..tanpa membuat bingung...alur nya jelas..👍👍
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
Hennyy exo
wah makin banyak musuhnya ayana
Hennyy exo
wow arka aku padamu😍
Hennyy exo
ingin sekali ku tampar bibi elena 🤣
Hennyy exo
wow alurnya makin menarik

btw terima kasih thor upnya🤭
Susilawati Susilawati
up lagi thor
neyrfly: syiapp🫡
total 1 replies
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
neyrfly: siap kakk🫡
total 1 replies
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
neyrfly: siap kakk🫡
total 1 replies
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
neyrfly: makasih kakk😍🙏
total 1 replies
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!