Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon
"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."
Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.
Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.
Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.
Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Undangan di Alam Mimpi
Kabar mengenai insiden mengerikan di koridor kampus menyebar secepat wabah yang mematikan. Meskipun pihak rektorat mencoba meredam isu tersebut dengan alasan Rian mengalami kecelakaan akibat kelalaian pribadi—terkena cairan kimia atau disfungsi gawai yang meledak—gosip di kalangan mahasiswa tidak bisa dibendung.
Mereka mulai berbisik-bisik setiap kali Sekar lewat. Tatapan mata mereka dipenuhi oleh kombinasi rasa curiga, ngeri, dan syak wasangka yang tebal. Sekar dipulangkan lebih awal demi menenangkan situasi.
Sore itu, rumah tua peninggalan ayahnya terasa jauh lebih mencekam daripada biasanya. Hujan gerimis yang mengguyur sejak siang tidak juga reda, meninggalkan bau tanah basah yang kini terasa mengintimidasi indra penciuman Sekar.
Di dalam kamarnya, Sekar duduk meringkuk di atas ranjang kayu jatinya. Kemeja tebal dan jaket denimnya sudah ditanggalkan, diganti dengan kaus katun putih yang longgar.
Punggung kanannya tidak lagi terasa panas membara, namun sensasi dingin yang kaku—seperti es batu yang ditempelkan langsung ke daging—masih tertinggal di sana. Tanda lahir bersisik itu seolah sedang beristirahat setelah mengonsumsi energi ketakutan dari Rian tadi siang.
Ibunya kembali mengurung diri di dapur. Tidak ada obrolan hangat. Suara denting pisau dan talenan dari arah belakang rumah terdengar ritmis, monoton, dan lambat, justru menciptakan atmosfer yang membuat kepala Sekar kian pening.
Rasa lelah yang teramat sangat, baik secara fisik maupun mental, perlahan-lahan mulai menjalar ke seluruh saraf tubuh Sekar. Kelopak matanya terasa seberat timah. Jam dinding baru menunjukkan pukul delapan malam, namun kegelapan di luar jendela kamarnya seolah merayap masuk secara paksa, memaksanya untuk menyerah pada rasa kantuk yang tidak wajar.
Sekar merebahkan tubuhnya dalam posisi terlentang. Dia menarik selimut tebalnya hingga ke batas dada, memejamkan mata, dan berharap bahwa esok hari semua kegilaan ini hanyalah mimpi buruk yang akan menguap begitu fajar tiba.
Dia tertidur. Namun, tidur kali ini tidak membawanya ke dalam kedamaian.
Klek.
Suara itu terdengar sangat lirih, namun entah bagaimana berhasil menembus lapisan ketidaksadaran Sekar.
Sekar membuka matanya. Hal pertama yang dia sadari adalah hawa dingin yang luar biasa ekstrem telah menyelimuti kamarnya. Kamar itu mendadak begitu gelap, jauh lebih gelap daripada malam paling kelam yang pernah dia lalui. Dia mencoba menggerakkan ujung jari tangan kirinya.
Gagal.
Jemarinya terasa beku, mati rasa, seolah-olah seluruh pasokan darah ke tangannya telah dihentikan. Sekar mencoba menarik napas dalam-dalam, namun paru-parunya menolak untuk mengembang. Ada tekanan tak kasat mata yang teramat berat mendarat tepat di atas dadanya. Beban itu begitu masif, seperti ada sebongkah batu hitam besar yang diletakkan di atas tulang rusuknya, menekannya hingga dia hampir tidak bisa menghirup udara.
Ketindihan. Sekar mendiagnosis kondisinya dengan panik yang mulai membubung. Sebagai mahasiswa, dia tahu penjelasan ilmiah tentang sleep paralysis—sebuah kondisi di mana otak sudah terbangun namun tubuh masih dalam fase tidur dalam (REM sleep).
Namun, penjelasan ilmiah itu langsung hancur berkeping-keping ketika Sekar menyadari bahwa indra pendengaran dan penciumannya berfungsi dengan ketajaman yang tidak normal.
Bau kenanga yang matang dan busuk kembali menyeruak, kali ini begitu pekat hingga membuat tenggorokannya terasa tersumbat. Dan dari sudut kamarnya yang gulita, keheningan itu mulai dikoyak oleh suara desisan yang teramat halus, disusul oleh suara gesekan kain sutra yang diseret di atas lantai semen.
Sreeet... sreeet... ssssshh...
Sekar mencoba menjerit. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk membuka mulut dan meneriakkan nama Ibunya. Namun, tidak ada suara yang keluar dari celah bibirnya. Hanya desis napas pendek yang tertahan di tenggorokan. Matanya melirik liar ke sekeliling ruangan, namun pandangannya perlahan-lahan mulai kabur, diselimuti oleh kabut hitam tebal yang mendadak muncul dari lantai kamarnya.
Kabut hitam itu bergerak lambat namun pasti, merayap naik ke atas ranjang, menyelimuti kakinya, badannya, hingga pandangan Sekar sepenuhnya tertutup oleh kegelapan yang absolut.
Ketika kabut itu perlahan menipis, Sekar menyadari dia tidak lagi berada di dalam kamarnya yang sempit.
Suhu udara merosot kian ekstrem. Sekar mendapati dirinya berdiri di atas lantai marmer hitam yang begitu licin dan mengilat, memantulkan bayangan dirinya dengan sangat jelas. Tempat itu adalah sebuah aula keraton kuno yang ukurannya teramat megah, luas tak bertepi, dengan pilar-pilar kayu jati raksasa berwarna hitam legam yang menjulang tinggi hingga menembus kegelapan di langit-langit bangunan.
Tidak ada dinding di tempat ini. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan kabut hitam pekat yang bergulung-gulung lambat di antara pilar-pilar raksasa tersebut, seolah-olah bangunan ini didirikan di tengah-tengah dimensi hampa udara yang terisolasi dari dunia luar.
Atmosfer di dalam aula ini begitu magis, agung, namun di saat yang sama memancarkan aura ancaman yang luar biasa intimidatif. Bau kemenyan bakar bercampur dengan wangi kenanga kuno memenuhi seluruh ruangan, menciptakan rasa pening yang mencekik di kepala Sekar.
Di sepanjang koridor aula, samar-samar Sekar bisa melihat siluet mahluk-mahluk yang berdiri diam di balik pilar. Mereka mengenakan pakaian prajurit keraton zaman dahulu, lengkap dengan tombak dan keris di pinggang. Namun, tubuh mereka terlalu kaku untuk ukuran manusia, dan dari balik kegelapan kabut, Sekar bisa melihat ekor panjang bersisik yang merayap lambat di lantai dari balik kain jarik yang mereka kenakan.
Mereka bukan manusia. Mereka adalah barisan mahluk halus yang menjaga tempat ini.
Langkah kaki Sekar seolah digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata. Tubuhnya berjalan maju secara otomatis, melintasi karpet merah beludru panjang yang membentang di tengah aula, menuju ke ujung ruangan di mana sebuah singgasana kayu berukir naga dan ular raksasa berdiri dengan megahnya.
Di atas singgasana itu, duduk seorang pria.
Langkah kaki Sekar terhenti tepat beberapa meter di depan undakan singgasana. Kabut hitam yang tadinya menyelimuti ujung aula perlahan menyusut, mengendap di lantai seolah tunduk pada sosok yang duduk di atas kursi megah tersebut.
Pria itu duduk dengan posisi santai, namun posturnya memancarkan otoritas yang mutlak dan tak terbantahkan. Dia mengenakan pakaian kebesaran bangsawan Jawa kuno berwarna hitam pekat, dengan sulaman benang emas berbentuk sulur-sulur tanaman malam di sepanjang kerah dan lengannya. Dodot atau kain jarik yang dikenakannya bermotif parang rusak berukuran besar, namun warnanya kelabu gelap seperti abu jenazah.
Wajah pria itu... luar biasa tampan.
Parasnya memiliki simetri yang teramat sempurna untuk ukuran manusia. Kulitnya putih pucat dengan rahang yang tegas, kontras dengan rambut hitam legamnya yang panjang dibiarkan terurai sebagian ke bahu. Di atas kepalanya, sebuah mahkota emas kuno berbentuk kepala naga melingkar dengan anggun, bertatahkan batu permata merah yang memantulkan pendar cahaya suram.
Namun, ketampanan itu tidak memberikan rasa aman sedikit pun bagi Sekar. Ketampanan pria itu terasa dingin, statis, dan mematikan—seperti melihat patung marmer indah yang dipahat untuk diletakkan di atas sebuah makam raja.
Saat pria itu perlahan mengangkat wajahnya, jantung Sekar terasa berhenti berdetak.
Sepasang mata pria itu menatap lurus ke arah Sekar. Sepasang mata yang tidak memiliki bagian putih layaknya mata manusia biasa. Seluruh bola matanya berwarna kuning keemasan yang redup, dengan pupil bermanik vertikal tajam—persis seperti sepasang mata ular raksasa yang sedang mengunci mangsanya di tengah kegelapan semak. Tatapan itu begitu tajam, menguliti seluruh isi pikiran Sekar, meninggalkannya dalam kondisi telanjang dan tak berdaya.
Pria itu tersenyum tipis. Sudut bibirnya terangkat, menampilkan deretan gigi yang teramat rapi, namun ada kilatan taring yang samar di balik celah bibirnya.
"Kau datang juga, Cah Ayu..." Suara pria itu bergema di dalam aula keraton.
Suaranya tidak menggelegar, melainkan berupa bisikan bariton yang teramat lembut, halus seperti beludru, namun entah bagaimana getarannya merambat langsung ke dalam rongga dada Sekar, memicu detak jantungnya untuk berpacu liar. Suara itu terasa begitu memikat, seolah memiliki daya hipnotis yang memaksa Sekar untuk tunduk dan berlutut di hadapannya.
Sekar mencoba melangkah mundur, namun kedua kakinya seolah telah melekat kuat pada lantai marmer hitam. Dia terperangkap dalam pesona yang mengerikan.
Pria itu bangkit berdiri dari singgasananya. Gerakannya teramat luwes, hampir tanpa suara, seolah dia tidak berjalan melainkan melayang di atas kabut hitam yang menyelimuti undakan. Dia melangkah turun, mendekati Sekar yang gemetar hebat. Setiap kali kaki pria itu menginjak lantai, aroma kenanga dan tanah kuburan di dalam aula meledak kian pekat, menyiksa indra penciuman Sekar hingga kepalanya pening.
Kini, jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Sekar bisa merasakan hawa dingin yang luar biasa kuat memancar dari tubuh pria rupawan di hadapannya.
Tangan pria itu terangkat. Jemarinya panjang, dengan kuku-kuku yang sedikit meruncing dan berkilau gelap. Dengan gerakan yang teramat lembut, seolah sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat berharga, ujung jari pria itu mengelus pipi pucat Sekar. Sentuhan itu terasa sedingin es, mengirimkan sensasi kejut yang membuat seluruh bulu kuduk Sekar berdiri tegak.
"Lama sekali aku menunggumu di sini," bisik pria itu lagi, wajahnya mendekat ke telinga Sekar. Napasnya tidak hangat, melainkan berupa embusan angin es yang berbau harum bunga kenanga kuno. "Tempatmu bukan di dunia yang fana dan kotor itu. Di sini... bersamaku... kau adalah segalanya."
"S-siapa... kamu?" Sekar akhirnya berhasil meloloskan satu pertanyaan dari tenggorokannya yang tercekat, suaranya parau dan bergetar hebat.
Pria itu terkekeh pelan, sebuah suara tawa yang terdengar dingin dan bergema janggal. Manik mata vertikalnya melebar, menatap lurus ke dalam pupil mata Sekar dengan kedalaman horor yang murni.
"Aku adalah pemilik janjimu. Aku adalah pelindungmu. Panggil aku... Kalingga."
Tangan Kalingga beralih dari pipi Sekar, merayap turun ke leher, lalu berputar menuju pundak kanan Sekar—tepat di atas tanda lahir bersisik yang dimilikinya. Begitu telapak tangan Kalingga menempel di sana, tanda lahir di punggung Sekar mendadak berdenyut sangat kencang, memancarkan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya, meruntuhkan seluruh pertahanan psikologis yang Sekar miliki.
"Kembalilah pulang, Cah Ayu... Waktumu sudah hampir tiba. Sabtu Kliwon-ku..."
Kalingga mencengkeram pundak Sekar sedikit lebih erat. Bersamaan dengan itu, wajah tampan Kalingga perlahan mulai bergetar. Kulit putih pucatnya mulai retak-retak, mengelupas menyedihkan, menampilkan lapisan sisik hitam legam di bawahnya. Rahangnya melebar secara tidak wajar, memanjang, dan sepasang mata kuningnya menyala benderang di tengah kegelapan aula yang mendadak runtuh.
Sekar berteriak histeris—
"AHHH!!!"
Sekar terlonjak tegak di atas ranjangnya. Napasnya memburu hebat, memutus keheningan kamarnya yang gelap. Dadanya naik-turun dengan cepat, mencoba meraup oksigen sebanyak-banyaknya seolah dia baru saja tenggelam di dasar laut yang dalam.
Dia menoleh ke sekeliling dengan panik. Kamarnya yang berukuran empat kali empat meter kembali terlihat. Cahaya fajar yang abu-abu samar merayap masuk melalui celah ventilasi jendela. Jam dinding menunjukkan pukul 05.15 pagi.
Itu hanya mimpi. Sebuah sleep paralysis yang teramat nyata.
Namun, saat Sekar mencoba menurunkan kakinya dari tempat tidur, tubuhnya mendadak bergidik hebat. Dia merasakan sesuatu yang basah dan tidak nyaman menempel di kulit punggung dan pahanya.
Sekar menarik selimut tebal yang semalaman membungkus tubuhnya.
Jantungnya seolah copot dari tempatnya. Selimut katun tebal itu tidak lagi hangat. Seluruh permukaan bagian dalam selimut itu... terasa sangat dingin, lembap, dan basah kuyup, seolah-olah selimut itu baru saja direndam di dalam air sumur tua atau sumur pemakaman yang gelap. Dan ketika Sekar mengangkat selimut itu mendekati wajahnya, bau yang menyeruak bukan lagi bau sisa keringat tidurnya.
Itu adalah wangi kemenyan bakar dan harum bunga kenanga yang teramat pekat—aroma yang persis sama dengan yang dihirupnya di aula keraton milik Kalingga beberapa menit lalu.
Teror itu tidak tinggal di dalam mimpi. Undangan itu nyata, dan Kalingga telah meninggalkan jejak kehadirannya di atas ranjang Sekar sebagai pengingat bahwa pelarian apa pun yang dicoba Sekar... akan sia-sia.