NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Turnamen Dimulai

Keesokan paginya, seorang prajurit bergegas melaporkan kepada Lesmana tentang keberadaan Wira dan Sinta yang berada di dalam rumah bangsawan tersebut, "Maaf, Tuan. Pemuda yang kita awasi itu sekarang berada di sini sejak tadi malam," lapornya.

Laporan yang disampaikan prajuritnya itu membuat rasa penasaran langsung timbul di benak Lesmana, " Bagaimana bisa dia di sini? Siapa yang mengajaknya?"

"Kami yang mengajaknya, Tuan. Ada kejadian yang membuat kami harus mengajak mereka menginap di sini."

"Kejadian apa? Dan yang kau maksud dengan mereka itu siapa?" Lesmana semakin dibuat bingung.

"Ternyata pemuda itu bersama seorang gadis, Tuan. Entah gadis itu istrinya atau kekasihnya hamba tidak tahu."

Prajurit tersebut kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi malam tadi. Berawal dari kecurigaan mereka sampai pecahnya pertarungan di dalam penginapan.

"Andai dia tidak menyelamatkan kami, mungkin kami sudah tewas tadi malam. Dan yang mencengangkan lagi Tuan, dia juga berhasil membunuh Suwarna."

"Suwarna ketua Perguruan Macan Hitam?"

"Benar, Tuan. Ternyata yang melakukan penyerangan terhadap pemuda itu dari perguruan Macan Hitam."

Lesmana menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dia tahu betul jika Suwarna mempunyai kemampuan yang tinggi dan hanya sedikit orang di Kotaraja yang bisa mengalahkannya.

"Pemuda yang menarik. Ternyata aku sangat salah menilainya," gumam Lesmana dalam hati. Senyum tipis terlihat jelas di bibirnya seiring dengan rasa kagumnya terhadap Wira.

"Cepat kau panggil mereka berdua kemari!" Lesmana semakin dibuat penasaran dengan sosok Wira. Dia ingin mengetahui sifat pemuda itu sebenarnya.

"Baik, Tuan." Prajurit tersebut memberi hormat, sebelum melangkah keluar dari ruangan tersebut.

Tak berapa lama, prajurit itu sudah kembali bersama Wira dan Sinta.

"Duduklah."

"Terima kasih, Tuan," jawab Wira.

Sepasang kekasih itu lalu duduk di depan Lesmana. Sedang prajurit yang menjemput mereka berdua langsung keluar dari ruangan itu.

"Wira, menurut laporan prajurit, tadi malam ada segerombolan orang yang menyerang kalian berdua. Kalau boleh tahu, apakah selama di kotaraja ini kalian mempunyai masalah dengan seseorang?" Lesmana menanyakan pertanyaan sama seperti yang tadi malam ditanyakan prajurit.

"Tuan, aku tidak mempunyai masalah dengan siapapun sejak berada di ibukota," jawab Wira.

"Coba kau ingat-ingat lagi, Wira. Tidak akan ada asap jika tidak ada api. Aku yakin sebelumnya kau pasti ada masalah dengan seseorang."

Tiba-tiba saja Wira teringat pernah bermasalah dengan Raden Sanjaya sebelum dia tiba di kotaraja. Dia lalu mengutarakannya kepada Lesmana, "Aku punya masalah sedikit di sebuah desa yang tidak jauh dari kotaraja, Tuan. Kalau tidak salah, orang itu bernama Raden Sanjaya."

"Raden Sanjaya! Apa kau tidak salah orang?"

"Entahlah, Tuan. Tapi prajurit yang mengawalnya mengatakan seperti itu," jawab Wira.

"Lalu masalah apa yang terjadi antara kamu dan Raden Sanjaya?"

Wira kemudian menceritakan semua yang terjadi di desa kepada Lesmana tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dia juga menceritakan tentang peraturan tidak tertulis yang membuatnya harus berseteru dengan Raden Sanjaya.

"Bisa jadi akar permasalahannya berasal dari situ. Sekarang begini saja, kalian berdua tinggal di rumah ini sampai turnamen selesai. Dan berdasar dari cerita prajurit tadi, besar kemungkinan kau akan mencapai final."

Wira tersenyum tipis kepada Lesmana. "Aku tidak berharap banyak, Tuan. Masih banyak yang kemampuannya ada di atasku."

"Kau boleh saja bilang begitu. Tapi mungkin kau belum tahu, aku yang memegang daftar nama peserta. Dari 64 orang yang akan ikut dalam turnamen, hanya beberapa nama saja yang memiliki kemungkinan untuk maju sampai ke final, salah satunya adalah Raden Sanjaya."

Wira tersenyum kecil setelah mendengar nama Raden Sanjaya akan ikut dalam turnamen. Dia berharap dapat bertemu di panggung untuk memberi pelajaran kepadanya.

Sementara itu, 4 orang pengawal Raden Sanjaya yang sedang berada di dalam sebuah rumah, terlihat kebingungan untuk menyelesaikan masalah yang sebentar lagi akan mereka hadapi.

Jika dalam satu hari mereka tidak bisa mendapatkan Sinta, besar kemungkinan nasib mereka di kotaraja habis sudah. Apalagi setelah tadi pagi mereka melihat dengan mata sendiri, jika orang-orang yang mereka sewa telah menjadi mayat seluruhnya.

"Tampaknya nasib kita di sini sudah berakhir. Sebaiknya kita harus segera meninggalkan Kotaraja sebelum Raden Sanjaya menghabisi kita semua," ucap seorang dari mereka. Lelaki itu sudah kehilangan semangatnya untuk bisa menculik gadis, sesuai yang diperintahkan Raden Sanjaya.

"Sebaiknya begitu. Aku juga akan segera meninggalkan Kotaraja ini. Pemuda itu terlalu hebat untuk kita hadapi. Suwarna saja bisa dia bunuh, apalagi kita berempat," sahut temannya.

Setelah berunding, mereka berempat akhirnya mengambil keputusan yang sama, meninggalkan kotaraja nanti malam. Mereka tentu tidak mau nyawa mereka melayang begitu saja, sehingga keputusan itu adalah jalan terbaik yang harus mereka ambil.

Tidak terlihatnya 4 orang pengawalnya sampai sehari sebelum turnamen dimulai membuat Raden Sanjaya uring-uringan. Dia kemudian memerintahkan 8 orang prajurit untuk mencari keberadaan mereka berempat sampai ketemu.

Namun setelah menunggu hingga malam tiba, delapan prajurit yang mencari 4 pengawal pribadinya itu juga belum menampakkan batang hidungnya. Dan itu membuat Raden Sanjaya semakin emosi. Harapannya untuk menikmati tubuh Sinta akhirnya pupus sudah.

Keesokan paginya, 4 buah panggung besar yang pengerjaannya dikebut hanya dalam waktu semalam, sudah berdiri dengan kokohnya. Kursi untuk para pejabat dan peserta juga sudah tertata dengan rapi di sekitar panggung.

Hingga menjelang siang, lebih dari seribu penduduk Kotaraja, terlihat sudah menyemut mengelilingi 4 panggung besar tersebut. Mereka seakan sudah tidak sabar ingin menyaksikan perhelatan akbar yang sebentar lagi akan segera digelar itu. Para pedagang yang mencoba mengambil peruntungan dari acara besar tersebut, juga sudah terlihat di sekitar alon-alon Kotaraja menjajakan dagangannya.

Sementara itu di rumah Lesmana, Wira terlihat sudah bersiap menuju panggung arena yang tidak jauh dari rumah Lesmana.

Sebelum keluar dari rumah besar itu, Wira mendatangi Sinta yang berada di dalam kamar untuk berpamitan.

"Tetaplah di dalam rumah sampai aku kembali nanti. Aku tidak ingin kau celaka jika berada di luar sana. Apabila aku berhasil sampai di final, baru kau boleh melihatku bertanding."

Sinta tersenyum karena Wira begitu mengkhawatirkannya. Dia mengangguk lalu memeluk pemuda itu dengan erat. "Aku selalu berdoa untuk keselamatan dan kemenanganmu."

Wira mengecup kening gadis cantik itu untuk kedua kalinya sebelum berangkat menuju panggung arena turnamen.

Sengaja pemuda itu mencari tempat sendiri di sekitar panggung 4 dan tidak duduk bergabung bersama peserta lainnya yang sudah memenuhi tempat duduknya masing-masing. Selain karena pertandingan pertamanya di panggung 4, dia juga tidak ingin terlihat oleh Raden Sanjaya.

Tak berapa lama, Raden Sanjaya terlihat berjalan menuju kursi yang disediakan untuk peserta. Lelaki yang diunggulkan menjadi calon kuat pemenang dalam turnamen itu, berjalan sambil mengangkat wajahnya dan menunjukkan kesombongannya. Dia begitu yakin jika tidak akan ada peserta yang bisa menghambatnya untuk menjadi Senopati agung berikutnya.

Seorang lelaki yang bertugas untuk menjadi pembawa acara, terlihat menaiki panggung arena pertandingan sambil membawa sebuah gulungan kain. Sesaat kemudian, lelaki tersebut membacakan nama 8 orang peserta yang akan bertanding di atas empat buah panggung.

Sebelum lelaki pembawa acara turun dari panggung, dia membacakan peraturan yang harus ditaati para peserta.

Peserta akan dinyatakan menang jika lawannya menyerah, keluar dari panggung atau tidak bisa melanjutkan pertandingan. Para peserta juga diperbolehkan saling melukai, tapi dilarang untuk membunuh dan juga dilarang menghilangkan kemampuan lawannya. Peserta yang terbukti melakukan pelanggaran, akan dianggap kalah.

 

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!