Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dara mengusap pelan sudut matanya yang mulai basah. "Aku ingat semuanya."
Kejadian tragis itu tersimpan dalam ingatan Dara. Walau terjadi dalam waktu singkat dan sekejap, tetapi sangat membekas.
Gavin menatapnya.
"Waktu itu melihat Aa berdiri di tengah pinggir jalan. Aku takut Aa tertabrak. Aku sudah berteriak kencang mengingatkan ada mobil, tapi Aa seperti tidak mendengar teriakan aku. Jadi, aku lari dan mendorong Aa ke pinggir."
Air mata Dara akhirnya jatuh. Suaranya pun mulai bergetar.
"Setelah itu, aku yang tertabrak. Sebelah kakiku terlindas. Setelah itu aku tidak sadarkan diri. Ketika bangun aku sudah ada di rumah dan banyak orang datang melayat nenek yang meninggal karena serangan jantung."
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Dara terasa seperti menghantam dada Gavin. Tatapannya perlahan beralih ke kaki kiri istrinya. Kaki yang selama ini berjalan sedikit pincang. Ternyata penyebabnya adalah dirinya.
Seluruh tubuh Gavin mendadak terasa lemas. Ia mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya terasa berat.
"Aku tidak pernah tahu."
Suara Gavin terdengar serak. Ia menggeleng pelan berkali-kali. Rasa bersalah memenuhi dadanya.
"Kalau saja waktu itu aku tidak pergi dari rumah dan aku lebih berhati-hati, kamu tidak akan mengalami semua ini."
Selama bertahun-tahun Gavin hidup tanpa mengetahui bahwa ada seseorang yang kehilangan masa kecilnya demi menyelamatkan nyawanya.
Perlahan Gavin menundukkan kepala. "Maafkan aku, Dara."
Kalimat itu keluar begitu lirih. Namun, terasa begitu tulus. "Aku benar-benar minta maaf."
Melihat suaminya seperti itu, Dara buru-buru menggeleng. "Itu bukan salah Aa."
Gavin tetap menunduk. "Tapi kalau bukan karena aku—"
Dara memotong ucapannya dengan lembut. "Waktu itu aku menolong Aa karena memang ingin menolong. Bukan karena dipaksa."
Dara mengusap air matanya, lalu tersenyum tipis. "Kalau waktu bisa diputar kembali, aku tetap akan berlari. Aku tetap akan mendorong Aa. Aku tidak ingin melihat orang lain kehilangan nyawanya di depan mataku."
Ucapan itu membuat dada Gavin semakin sesak. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun lalu, matanya mulai dipenuhi air mata. Setetes bening jatuh membasahi pipinya. Ia tidak menangis karena kelemahan. Ia menangis karena rasa bersalah yang baru saja menghantam hatinya.
Dara memandang Gavin dengan mata yang juga berkaca-kaca.
Takdir benar-benar memiliki cara yang sulit dipahami manusia. Gadis kecil yang pernah menyelamatkan seorang remaja asing kini telah menjadi istri pria yang sama. Sementara remaja yang dulu tidak sempat mengucapkan terima kasih, kini menjadi orang yang akan menemani hidup Dara seumur hidupnya.
Di tengah keheningan kamar itu, keduanya saling memandang tanpa mampu berkata apa-apa lagi. Namun, tanpa mereka sadari, luka lama yang selama ini tersimpan rapat perlahan mulai menemukan jalan untuk sembuh.
"Aneh." Gavin mengernyit, seolah baru menyadari sesuatu yang selama ini mengganggunya. "Sampai sekarang aku selalu merasa mobil itu tidak sedang kehilangan kendali."
Dara ikut mengernyit. "Maksud Aa?"
Gavin menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Mungkin hanya firasatku. Tapi saat itu rasanya mobil itu memang sengaja mengarah kepadaku."
Gavin menarik napas panjang.
"Sayangnya aku keburu pingsan sebelum sempat melihat plat nomornya. Saat sadar, polisi bilang itu hanya kecelakaan biasa, tabrak lari."
Ruangan mendadak hening. Dara memandangi wajah Gavin cukup lama. Baru kali ini ia melihat pria itu memperlihatkan sisi rapuhnya.
Selama ini Gavin selalu tampak tenang, dingin, dan sulit ditebak. Namun, di balik semua itu, ternyata ada beban yang terus menghantuinya selama bertahun-tahun.
Dara perlahan menutup album foto itu. "Aa."
"Iya?"
"Aku memang tidak mengerti soal semua itu."
"Tapi, jangan terlalu sering memikirkan kejadian yang sudah lewat." Dara tersenyum kecil.
Gavin mengangkat alis. "Kenapa?"
Dara menatap lurus ke arah suaminya.
"Karena Aa tidak akan bisa mengubah masa lalu." Kalau memang benar ada orang jahat yang sengaja melakukannya." Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara lembut, "biarkan Tuhan yang membalas kejahatan mereka."
Gavin terdiam. Kalimat itu sangat sederhana. Namun, entah mengapa dadanya terasa jauh lebih ringan.
Selama ini, setiap kali ia mencoba menceritakan firasatnya kepada orang lain, mereka selalu menyuruhnya mencari bukti, melapor, atau melupakan semuanya. Tidak ada yang menjawab sesederhana Dara, biarkan Tuhan yang membalas.
Tanpa sadar, sudut bibir Gavin terangkat.
"Aa kenapa tersenyum?" Dara memiringkan kepala.
Gavin menggeleng pelan. "Tidak apa-apa."
"Bohong. Kelihatan jelas, kok."
Gavin terkekeh pelan. Ia menatap wajah polos istrinya. "Aku cuma merasa kamu memang berbeda."
"Berbeda?"
"Iya. Selama ini banyak orang memandangku dengan rasa kasihan. Sebagian lagi menganggap aku pria cacat. Ada juga yang takut berbicara denganku karena pendengaranku."
Tatapan Gavin melembut. "Tapi sejak pertama kali bertemu, aku tidak pernah melihat tatapan seperti itu di matamu."
Dara berkedip bingung. "Memangnya tatapan aku bagaimana?"
"Polos, jujur, dan pemalu."
Pipi Dara langsung memerah. "Aa, aku jadi malu."
Gavin tersenyum kecil. "Bagus."
"Kenapa bagus?"
"Karena wajahmu lucu kalau malu."
Kini Dara benar-benar menundukkan kepala. "Kenapa Aa suka menggoda aku?"
"Aku cuma mengatakan yang sebenarnya."
Dara mendengus pelan sambil menahan senyum. Semakin hari percakapan mereka terasa mengalir tanpa kecanggungan yang berlebihan.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan damai. Setiap pagi Gavin berangkat ke kantor pusat perusahaan keluarga. Sementara Dara membantu mengurus rumah, walau sudah ada dua orang pekerja.
Sesekali Dara menemani berjalan-jalan di taman rumah. Dia masih merasa bermimpi tinggal di rumah mewah itu.
Tiga bulan memang masih cukup lama sebelum perkuliahan dimulai. Namun, Gavin tidak ingin menunda persiapan Dara. Suatu sore, ia pulang membawa sebuah map berwarna biru.
"Aa sudah pulang."
Dara yang sedang menyiram bunga segera menghampiri. Dia mencium tangan suaminya.
Gavin menyerahkan map itu. "Ini untukmu."
Dara menerimanya dengan bingung. "Apa ini?"
"Buka saja."
Perlahan Dara membuka map tersebut.
Matanya langsung membulat. "Surat penerimaan mahasiswa..."
Dara membaca sekali lagi untuk memastikan dirinya tidak salah. Tangannya mulai gemetar.
"Universitas ...? Aku diterima, A?"
"Iya." Suara Gavin terdengar tenang. "Aku sudah mengurus semua proses pendaftarannya. Tinggal menunggu perkuliahan dimulai tiga bulan lagi."
Dara menatap surat itu bergantian dengan wajah suaminya. Air matanya mulai menggenang.
"Aa, benarkah saya bisa kuliah?"
"Bisa."
"Tapi, aku sudah setahun lulus SMA."
"Itu bukan masalah."
Tanpa sadar Dara memeluk map di dadanya. Mimpi yang selama ini ia kubur rapat, perlahan mulai terbuka kembali.