NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Sang Aktor

Suami Rahasiaku Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: avy sulas

Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.

Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.

Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.

Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.

Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik Penentuan

Sejak pagi suasana sekolah sudah sangat ramai. Lapangan basket di tengah sekolah dipenuhi para siswa dari berbagai kelas. Beberapa membawa botol minum, sementara yang lain sibuk membuat yel-yel dan membentangkan spanduk sederhana untuk mendukung kelas masing-masing.

Sesuai pengumuman kemarin, kegiatan belajar hari ini dipersingkat agar seluruh pertandingan basket antar kelas bisa segera dimulai.

Oca berjalan berdampingan bersama Andira dan Kinan menuju tribun penonton. Ketiganya langsung mencari duduk, dan untungnya berhasil mendapatkan tempat di barisan depan yang menghadap langsung ke lapangan.

"Asik, dapet di depan," ucap Andira puas sambil menjatuhkan tubuhnya ke bangku.

"Iya bener, biar puas nonton pertandingannya," balas Kinan sambil diiringi tawa.

"Eh, katanya pertandingan pertama itu kelasnya Dirga lawan kelasnya Devan, ya?" tanya Andira sambil melirik bergantian ke arah Oca dan Kinan.

Kinan mengangguk pelan.

"Iya, untung Devan nggak ikut main, cuma sibuk ngurusin acara doang," sahut Kinan santai, sama sekali tidak terlihat khawatir soal kelas siapa yang bakal menang. "Jadi kalah menang nggak ngaruh buat dia.”

Andira ikut mengangguk setuju, sementara Oca hanya diam, tanpa ikut menanggapi obrolan kedua sahabatnya.

Matanya justru menyapu lapangan yang mulai dipenuhi para pemain dari masing-masing kelas. Beberapa sedang melakukan pemanasan, sementara panitia terlihat sibuk menyiapkan jalannya pertandingan.

Tak lama kemudian, suara mikrofon terdengar menggema dari tengah lapangan. Seluruh siswa yang masih mengobrol perlahan mengalihkan perhatian ke arah lapangan.

Di sana, Devan sudah berdiri di depan meja panitia mengenakan seragam OSIS lengkap. Sebagai Ketua OSIS, ia mendapat tugas membuka turnamen basket tahun ini.

"Selamat pagi, semuanya," ucap Devan. Suaranya menggema melalui pengeras suara hingga terdengar ke seluruh sudut lapangan. "Terima kasih karena sudah hadir untuk mendukung jalannya turnamen basket antar kelas tahun ini. Saya harap seluruh peserta menjunjung tinggi sportivitas dan seluruh penonton tetap menjaga ketertiban selama pertandingan berlangsung."

Beberapa siswa langsung bertepuk tangan.

"Kalau begitu, tanpa memperpanjang waktu lagi..." lanjut Devan sambil mengangkat satu tangannya. "Mari kita mulai pertandingan pertama!"

Tepuk tangan kembali menggema di seluruh lapangan, disusul bunyi peluit panjang dari wasit yang menandakan pertandingan resmi dimulai.

"Andai tiap upacara Devan ngomongnya sesingkat ini," celetuk Andira pelan.

Kinan langsung menyenggol lengannya sambil menahan tawa.

"Ih, berisik."

"Yaelah, pawangnya ngamuk," goda Andira yang membuat mendengus pelan.

Oca hanya terkekeh kecil melihat tingkah kedua sahabatnya. Saat itulah pandangannya tanpa sengaja tertuju ke sisi lapangan.

Di antara para pemain yang sedang bersiap, Dirga terlihat mengenakan seragam basket berwarna biru tua dengan nomor punggung sebelas. Bersama rekan-rekan setimnya, ia masih melakukan pemanasan sebelum pertandingan dimulai.

Seolah merasakan ada yang memperhatikannya, Dirga menoleh ke arah tribun. Begitu pandangannya bertemu dengan Oca, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Tanpa ragu, ia mengangkat satu tangan kecil ke arahnya.

Oca sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya membalas dengan anggukan pelan.

Melihat itu, senyum Dirga justru semakin lebar.

"Cie..." bisik Andira sambil menaik-turunkan alisnya.

"Katanya biasa aja," timpal Kinan.

"Ih, apaan sih. Dia cuma nyapa."

"Iya, nyapa. Tapi yang disapa cuma lo."

Oca hanya mendengus kecil dan memilih mengabaikan godaan kedua sahabatnya.

Tak lama kemudian, wasit kembali meniup peluit sebagai tanda pertandingan pertama resmi dimulai.

Sorak penonton langsung memenuhi lapangan. Kedua tim sama-sama bermain agresif sejak menit pertama. Bola berpindah dari satu pemain ke pemain lain dengan cepat, membuat para penonton beberapa kali berseru setiap kali terjadi perebutan bola.

"Semangat!" teriak beberapa siswa dari tribun.

Dirga yang bermain sebagai point guard beberapa kali berhasil melewati penjagaan lawan. Gerakannya lincah dan cepat, membuat timnya unggul lebih dulu di awal pertandingan.

"Wih... jago juga ya," gumam Andira tanpa mengalihkan pandangan dari lapangan.

"Iya, pantesan dia pemain inti," sahut Kinan.

Oca tidak ikut berkomentar. Meski begitu, matanya tetap mengikuti pergerakan Dirga yang sesekali mengatur serangan timnya.

Pertandingan berlangsung semakin sengit. Memasuki babak kedua, tim lawan mulai bangkit dan perlahan mengejar ketertinggalan. Sorakan penonton semakin ramai setiap kali angka di papan skor bertambah.

"Ayo! Sedikit lagi!"

"Jangan kasih lewat!"

Suara dukungan saling bersahutan dari berbagai sisi tribun.

Beberapa menit kemudian, keadaan justru berbalik. Tim Dirga kehilangan beberapa peluang mencetak angka setelah dua kali tembakannya gagal masuk. Kesempatan itu dimanfaatkan lawan untuk mengambil alih keunggulan.

Skor di papan berubah menjadi 58–55.

"Waduh..." Andira refleks menepuk pahanya. "Ketinggalan."

Kinan ikut terlihat tegang. "Masih ada waktu, kan?"

"Masih," jawab Andira pendek, matanya tak lepas dari papan skor.

Di dalam lapangan, napas para pemain mulai terdengar memburu. Keringat membasahi wajah mereka, tetapi tak satupun mengendurkan permainan.

Pelatih tim Dirga segera meminta waktu jeda.

"Mainnya tenang!" serunya begitu seluruh pemain berkumpul. "Jangan terburu-buru. Manfaatkan setiap peluang. Kita masih bisa kejar!"

Dirga mengangguk singkat sambil mengusap keringat di dahinya.

Peluit kembali dibunyikan dan pertandingan pun berlanjut.

Tim Dirga perlahan menemukan ritme permainan mereka. Umpan demi umpan mulai mengalir lebih rapi hingga akhirnya salah satu rekan setim Dirga berhasil mencetak dua poin.

Skor kembali menipis.

58–57.

Seluruh tribun kembali bergemuruh.

"Ayo! Tinggal satu poin lagi!"

Pertandingan memasuki satu menit terakhir. Ketegangan terasa semakin nyata. Tak sedikit siswa yang berdiri dari bangkunya karena terlalu gugup melihat jalannya pertandingan.

Oca tanpa sadar ikut menggenggam ujung bangkunya.

"Lawan... lawan..." gumam Andira pelan, ikut terbawa suasana.

Beberapa detik kemudian, tim Dirga berhasil merebut bola setelah memotong umpan lawan. Bola segera berpindah ke tangan Dirga.

Ia menggiring bola cepat melewati satu pemain, lalu mengoper kepada rekannya. Namun bola segera kembali lagi ke tangannya.

"Jaga nomor sebelas!" teriak salah satu pemain lawan.

Dua pemain langsung menutup ruang gerak Dirga. Ia memutar badan, mencari celah, lalu kembali menggiring bola menjauh. Seluruh tribun bergemuruh, sementara para pemain lawan terus membayangi setiap langkahnya.

Dengan satu gerakan cepat, Dirga berhasil melewati salah seorang pemain. Kini hanya tersisa satu lawan yang berdiri tepat di hadapannya.

Seluruh isi lapangan seakan menahan napas.

Dirga menarik napas singkat, lalu melangkah mundur satu langkah untuk membuka ruang tembak. Pandangannya sekilas terangkat ke arah tribun. Tepat di barisan depan, Oca masih menatapnya tanpa berkedip.

Detik berikutnya, Dirga melompat.

Bola terlepas dari ujung jarinya, melayang tinggi membelah udara menuju ring…

1
MayAyunda
mampir kak
Lavicaysm
🥰
MayAyunda
ceritanya bagus ..lanjut kak
Putry Chan
semangat ya 💪
Lasa Hardianti: Makasih kak semangat juga yah😁
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
mampir lagi aku kakk, mampir juga dong kaaa ke novel kuu
Lasa Hardianti: Makasih kak nanti aku mampir ya😁
total 1 replies
MayAyunda
cerita bagus kak .
Lasa Hardianti: Thanks ya kak😁
total 1 replies
MayAyunda
lanjut kak
nunu
next lanjut kak
Lasa Hardianti: Oke kak siap, ditunggu lanjutannya ya. makasih udah mampir😁
total 1 replies
MayAyunda
bagus ,mampir kak
white star ⭐
bagus kak
white star ⭐
yah lagi dimasa usia suka kumpul2 sama temen malah nikah kasian oca
Lasa Hardianti: Huhu iya kak masa SMA-nya jadi berubah total, Semoga Oca kuat ya menghadapi semua ini. Makasih udah mampir dan dukung Oca🥹🤍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
kaa sampai sini dlu ya nanti aku mampir lgii
Lasa Hardianti: Siap Kak. Makasih udah mampir sampai sini🥹❤️ Ditunggu lanjutannya ya, semoga makin seru buat Kakak🤭
total 1 replies
author_rabbit18✍︎
acara pernikahan/Facepalm/
Lasa Hardianti: Ssst... jangan dibocorin dulu yaa🤫😂
total 1 replies
author_rabbit18✍︎
baguss
Lasa Hardianti: Makasih banyak kak!🥹❤️
total 1 replies
mary dice
Badai pasti berlalu ya Oca.. semangat lanjut thor
mary dice
benaran nih menang taruhan heeeem
reyanzarayyanfahlevy_
Bagus kak, semangat ya kak salam penulis pemula
reyanzarayyanfahlevy_: iya kak😍💪
total 2 replies
reyanzarayyanfahlevy_
semangat kak
Annisanur hasanah
semangatt kakk, aku tunggu update kakak😍
Annisanur hasanah
bagus dan menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!