Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sementara itu, di vila keluarga Jordan, suasana liburan yang seharusnya menyenangkan justru terasa sedikit berbeda.
Keyla berdiri sendirian di dekat jendela ruang keluarga. Kedua lengannya terlipat di depan dada sementara pandangannya mengarah ke pantai yang terbentang luas di kejauhan.
Angin laut yang bertiup masuk melalui jendela terbuka mengibaskan pelan rambutnya.
Sejak tadi ia hanya diam. Tatapan kosongnya membuat siapa pun yang melihat pasti sadar ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Ivan yang baru saja masuk ke ruangan itu menghentikan langkah.
"Dek." Sapanya pelan.
"Kok di sini aja? Nggak ikut Geo, Devan, sama Nathan ke pantai?"
Keyla menoleh sekilas, lalu kembali mengembuskan napas panjang. Ekspresi muram itu justru membuat Ivan semakin penasaran.
Ia mendekat dan bertanya, "Ada apa?"
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Keyla membuka suara.
"Kak..."
"Kenapa Keisya nggak ikut kita ke sini?"
Pertanyaan sederhana itu membuat tangan Ivan yang semula hendak mengacak rambut adiknya membeku di udara.
Dadanya mendadak berdebar seolah ada sesuatu yang selama ini terlupakan tiba-tiba dipaksa muncul ke permukaan.
'Bagaimana mungkin ia bisa melupakan adiknya sendiri?'
Perasaan bersalah langsung memenuhi dadanya.
Sementara Keyla masih menatapnya dengan wajah kecewa.
"Benar ya... Keisya memang nggak seberuntung Livia." Suara Keyla terdengar pelan.
Ivar hanya mampu berkedip bingung dan lanjut bertanya, "Apa maksud kamu?"
Keyla memalingkan wajahnya ke arah laut dan perlahan menjawab, "Livia pernah bilang kalau dari dulu kalian memang sering lupa sama Keisya."
Ucapan itu terasa seperti palu yang menghantam kepala Ivan.
Keyla akhirnya menoleh kembali. Tatapannya lurus menembus mata sang kakak.
"Apa karena dia cuma anak angkat makanya kalian memperlakukan Keisya sedingin ini?"
Setiap kata yang keluar dari mulut Keyla membuat rasa bersalah Ivan semakin menyesakkan.
"Kalau akhirnya mau diabaikan seperti sekarang, buat apa Ayah dulu mengangkatnya menjadi bagian dari keluarga?"
Tak memberi kesempatan Ivan menjawab, Keyla langsung berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
"Keyla!"
Ivan memanggil beberapa kali, namun adiknya tidak menghentikan langkah sedikit pun.
Pria itu hanya bisa berdiri mematung di tempatnya dengan perasaan aneh yang terus memenuhi dadanya.
Ia menoleh ketika menyadari Alden ternyata sudah berdiri tidak jauh dari sana sejak tadi.
"Apa sebenarnya yang udah kita lewatkan?" Suara Ivan terdengar begitu pelan.
"Sampai-sampai kita bisa lupa sama Keisya?"
Alden tidak langsung menjawab. Tatapannya ikut mengarah ke lorong tempat Keyla menghilang beberapa saat lalu. Untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan yang sama muncul di benaknya.
'Apa benar kalau selama ini mereka telah mengabaikan keberadaan Keisya tanpa pernah menyadarinya?'
Bahkan tidak satu pun dari mereka menyadari bahwa anak yang biasanya paling berisik, paling ceria, dan selalu menjadi sumber keramaian itu sama sekali tidak ikut berlibur ke vila bersama mereka.
Baru saat suasana mulai terasa ganjil, keduanya tersadar akan satu kenyataan yang membuat dada mereka sesak. Sudah cukup lama mereka tidak lagi melihat senyum cerah milik Keisya. Tawa yang dulu begitu akrab memenuhi rumah seakan menghilang begitu saja, dan anehnya tak seorang pun merasa kehilangan sampai detik ini.
Bukan Keisya yang berhenti menyapa mereka. Gadis itu masih berusaha mendekat, masih mencoba mencari perhatian dengan caranya sendiri. Namun tanpa mereka sadari, merekalah yang perlahan menutup mata terhadap keberadaannya.
Keisya tetap berada di rumah yang sama, berjalan di lorong yang sama, duduk di meja makan yang sama, tetapi keberadaannya seolah telah memudar hingga tak lagi terlihat.
"Kalau kita semua di sini..." gumam Ivan dengan wajah yang mendadak pucat. Ia menoleh cepat kepada Alden. "Bukannya Jena juga ikut ke sini? Terus... Keisya di rumah sama siapa?"
Pertanyaan itu menghantam kesadaran Alden. Ia yang semula masih larut dalam pikirannya langsung tersentak. Tatapan panik Ivan membuat dadanya ikut mengencang.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu