NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Asap putih mengepul dari tungku besar, memenuhi ruangan sempit yang pengap oleh aroma kedelai rebus. Hamida mengangkat cetakan tahu yang masih panas dengan kedua tangan telanjang. Uap yang mengepul menyengat wajahnya, tetapi ia sudah terlalu terbiasa untuk mengeluh.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dan pernikahannya berakhir, pekerjaan di pabrik tahu milik Kak Dewi menjadi satu-satunya cara agar dapur kecil di gubuknya tetap berasap. Setiap pagi sebelum matahari benar-benar tinggi, ia berangkat setelah memastikan Harapan berangkat sekolah dengan seragam yang selalu dicuci bersih meski mulai pudar warnanya. Anak itu selalu mencium punggung tangannya sebelum berlari menyusuri jalan kampung.

"Nanti pulang jangan lupa cerita dapat nilai berapa," begitu pesan yang selalu Mida ulang setiap hari. Pagi itu pun tak berbeda. Harapan tersenyum lebar sambil mengangguk, lalu menghilang di tikungan jalan. Mida sama sekali tidak tahu bahwa itu adalah senyum terakhir yang ia lihat dari putra semata wayangnya.

Baru beberapa jam bekerja, suara derap langkah tergesa terdengar dari luar pabrik. Seorang lelaki paruh baya berhenti di depan pintu dengan napas memburu. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar, seolah bingung memilih kata yang harus diucapkan. Semua pekerja menoleh. Mida ikut mengangkat kepala dari cetakan tahu yang sedang disusunnya.

"Mi... Mida..." panggil lelaki itu terputus-putus. "Harapan... katanya kecelakaan."

Dunia seolah berhenti berputar. Cetakan tahu yang berada di tangan Mida jatuh menghantam lantai. Air dadih memercik ke mana-mana. "Apa?" suaranya nyaris tak terdengar.

"Di bendungan... cepat ke sana."

Tanpa sempat melepas celemek, Mida berlari keluar pabrik. Sandalnya beberapa kali nyaris terlepas, tetapi ia tak peduli. Napasnya memburu, dadanya sesak, sementara pikirannya dipenuhi doa-doa yang saling bertabrakan. Tidak, anakku pasti hanya terpeleset. Mungkin kakinya patah. Mungkin hanya pingsan. Harapan bisa berenang. Harapan pasti baik-baik saja.

Semakin dekat ke bendungan, semakin banyak warga yang berdiri berkerumun. Tidak ada suara gaduh. Hanya bisik-bisik pelan yang membuat bulu kuduknya meremang. Kerumunan itu perlahan membuka jalan ketika melihat Mida datang. Tak seorang pun berani menatap matanya.

Langkah Mida terhenti. Di tepi sungai yang airnya bahkan tidak tampak deras, sesosok tubuh kecil terbujur kaku. Seluruh tubuhnya telah ditutupi kain putih lusuh. Hanya sepasang kaki mungil yang masih terlihat di balik ujung kain itu. Sepasang kaki yang pagi tadi berlari meninggalkannya menuju sekolah.

"Lepas... lepas kainnya..." suara Mida pecah. Tak ada yang bergerak. Ia menerobos maju, berlutut di samping tubuh kecil itu dengan tangan gemetar. Perlahan ia membuka ujung kain yang menutupi wajahnya.

Wajah Harapan muncul dalam keadaan pucat kebiruan. Mata yang biasanya berbinar kini terpejam rapat. Bibir mungilnya membiru. Di pelipisnya tampak lebam kehitaman, sementara sudut bibirnya menyisakan noda darah yang telah mengering.

"Harapan..." Tak ada jawaban. Mida mengguncang tubuh anaknya berkali-kali. "Bangun, Nak... Ibu datang. Harapan, bangun..." Tubuh kecil itu tetap diam. Jeritan Mida memecah langit siang, menggema di sepanjang bendungan hingga membuat beberapa perempuan ikut menangis. Ia memeluk tubuh Harapan erat-erat, seakan kehangatan pelukannya masih mampu mengembalikan nyawa putranya.

Di kejauhan, suara sirene mulai terdengar. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil polisi berhenti di dekat kerumunan. Dua orang anggota turun bersama petugas yang membawa kantong jenazah. Salah seorang polisi memandang sekilas tubuh Harapan, lalu mengalihkan pandangan kepada warga. "Siapa yang pertama menemukan korban?" tanyanya datar.

Mida mengangkat wajah yang basah oleh air mata. Di balik isak tangis yang tak kunjung reda, sebuah pertanyaan mulai tumbuh perlahan di dalam hatinya. Mengapa tubuh anak yang katanya tenggelam penuh luka?

Tangisan Hamida tak juga reda ketika petugas kepolisian perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Harapan. Ia meronta, memohon agar mereka tidak membawa putranya pergi sebelum ia benar-benar yakin bahwa semua ini bukan mimpi. Namun, tubuh kecil yang sudah dingin itu tetap diangkat ke dalam kantong jenazah berwarna hitam. Ritsleting ditarik perlahan, menghilangkan wajah Harapan dari pandangannya. Seolah untuk kedua kalinya, anak itu direnggut dari pelukannya.

"Bu, jenazah harus dibawa ke rumah sakit dulu," ucap salah seorang polisi dengan nada datar.

"Saya ikut!" seru Hamida sambil naik ke dalam ambulans tanpa menunggu izin siapa pun.

Tak seorang pun menghalanginya. Seorang petugas medis hanya bergeser memberi ruang di samping brankar. Pintu ambulans ditutup. Sirene meraung memecah siang. Mobil mulai melaju meninggalkan bendungan.

Hamida duduk di lantai ambulans, tepat di samping tubuh Harapan. Tangannya tak pernah lepas menggenggam kantong jenazah berisi anaknya yang mulai membeku. Sesekali ia mengusap kaki mungil itu, berharap ada sedikit saja kehangatan yang tersisa.

"Bangun, Nak..." bisiknya lirih. "Kita pulang... Ibu masak sayur bayam kesukaanmu. Bangun ya, Harapan...." Tidak ada jawaban selain bunyi sirene yang bersahutan dengan isak tangisnya.

Sirene ambulans berhenti tepat di depan Instalasi Gawat Darurat. Begitu pintu belakang dibuka, dua petugas segera menurunkan brankar yang membawa tubuh Harapan. Hamida ikut turun dengan langkah sempoyongan, tangannya masih menggenggam ujung kain yang menutupi tubuh putranya, seolah tak rela melepaskannya. Namun, seorang petugas rumah sakit menghalangi langkahnya. "Maaf, Bu. Ibu tunggu di luar dulu."

"Itu anak saya," ucap Hamida dengan suara serak. "Saya ikut."

"Nanti kami panggil."

Tanpa memberi kesempatan Hamida membantah, pintu ruang jenazah ditutup rapat. Hamida berdiri mematung menatap pintu berwarna abu-abu itu. Di balik sana, putra semata wayangnya berada. Ia bahkan tak tahu apa yang sedang dilakukan orang-orang terhadap tubuh anak yang selama delapan tahun ia rawat dengan penuh kasih.

Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa terdengar dari arah lorong. Kak Dewi datang dengan napas tersengal. Perempuan itu langsung memeluk Hamida yang sejak tadi berdiri seperti kehilangan jiwa. "Mida."

Hamida tak mampu berkata apa-apa. Air matanya kembali mengalir deras di bahu atasannya itu.

"Aku di sini," bisik Kak Dewi sambil mengusap punggungnya. "Kamu nggak sendirian."

Waktu terasa berjalan sangat lambat. Hampir satu jam Hamida hanya duduk di kursi lorong sambil menatap pintu ruang jenazah yang tak kunjung terbuka. Hingga akhirnya seorang petugas keluar mendorong sebuah brankar. Hamida spontan berdiri. Tubuh Harapan sudah terbujur rapi, seluruhnya dibalut kain kafan putih.

Hamida membelalak. "Ini... apa?" sambil menunjuk tubuh putranya.

Petugas itu tampak kebingungan. "Jenazah sudah kami kafani, Bu."

"Siapa yang suruh mengkafani?" teriak Hamida. Lorong rumah sakit mendadak hening. "Aku ibunya!" Suaranya pecah. "Aku yang melahirkan dia! Aku yang berhak memandikan dan mengkafani anakku! Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini tanpa izin dariku?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!