NovelToon NovelToon
Dia Tak Lagi Membujuknya

Dia Tak Lagi Membujuknya

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Keiko Hartono punya rahasia.

Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.

Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.

Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.

Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.

Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.

Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.

"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."

Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 - Raka dari Sekolah Sebelah

Video Keiko menari menyebar lebih cepat daripada pengumuman tugas matematika.

Pagi setelah pentas seni, bahkan sebelum bel pertama berbunyi, beberapa anak kelas lain sudah berhenti di depan XI-IPA 4 hanya untuk melihatnya. Ada yang pura-pura mencari teman. Ada yang terang-terangan melongok dari pintu. Fajar menghitung jumlah orang lewat di koridor, lalu menulis angka di sudut papan seperti petugas statistik tidak resmi.

"Dua puluh tiga," katanya. "Kei, lu resmi lebih populer dari gorengan kantin."

Keiko menutup wajah dengan buku. "Jangan dihitung."

Anisa duduk di meja depan sambil membuka ponsel. "Terlambat. Video kamu sudah masuk grup OSIS, grup angkatan, grup alumni, dan kemungkinan besar grup arisan orang tua."

Putri mengangguk serius. "Mama aku sudah tanya, `Itu teman kamu yang cantik sekali ya?`"

Keiko semakin menunduk.

Nadia, yang biasanya tidak peduli pada keributan semacam itu, melirik layar ponselnya. "Kameranya jelek, tapi kamu tetap kelihatan bagus."

Kelvin yang duduk di sebelah Keiko berhenti sebentar saat membuka buku. Kamera jelek itu jelas miliknya. Dia tidak menoleh, tetapi Bagas langsung menangkap peluang.

"Bang Kel, lu upload?"

"Nggak."

"Terus kok semua orang punya?"

"Fajar."

Fajar tersedak. "Fitnah!"

Dimas menatapnya datar. "Kemarin lu kirim ke grup kelas dengan caption `kelas kita punya peri`."

"Itu apresiasi seni!"

Keributan itu membuat Keiko sedikit lebih mudah bernapas. Diperhatikan banyak orang tetap membuatnya tidak nyaman, tetapi teman-temannya menjadikannya tidak terlalu menakutkan. Kelvin juga tidak membuatnya semakin malu. Dia hanya menggeser botol air hangat ke sisi mejanya seperti biasa, seolah seluruh sekolah tidak sedang membicarakan selendang ungu.

Menjelang istirahat pertama, seorang panitia OSIS datang membawa paper bag kecil berwarna cokelat.

"Keiko Hartono?" tanya siswi itu dari pintu.

Keiko mengangkat kepala.

"Ini titipan dari panitia tamu kemarin."

Bagas langsung berdiri. "Wah."

Dimas menariknya duduk lagi bahkan sebelum Bagas sempat melangkah.

Keiko menerima paper bag itu dengan bingung. Di dalamnya ada kotak kecil berisi permen jahe, satu botol teh madu hangat yang dibungkus kain, dan kartu putih tanpa hiasan berlebihan.

Tulisannya rapi.

**Terima kasih untuk penampilan kemarin. Kalau setelah turun panggung kamu sempat pusing, teh madu ini mungkin membantu.**

**Raka Wijaya.**

Tidak ada hati. Tidak ada kalimat berlebihan. Justru karena sopan, kelas menjadi lebih ribut.

Anisa menutup mulut. "Aduh."

Putri membaca kartu dari samping Keiko. "Ini anak sekolah sebelah yang kemarin bantu panitia tamu, kan? Yang tinggi, pakai jas OSIS."

Fajar mengangkat tangan. "Gue ingat. Mukanya kayak pemeran utama web series."

Bagas langsung menoleh ke Kelvin. "Bang Kel, gimana tanggapan lu sebagai manajer artis?"

Kelvin menutup buku pelan. "Kenapa nanya gue?"

"Ya... survei publik."

"Publik lu doang."

Nada Kelvin tidak berubah, tetapi Keiko merasakan sesuatu di udara sebelahnya menegang. Bukan marah besar. Hanya diam yang sedikit lebih dingin.

Keiko mengambil kartu itu, lalu memasukkan kembali botol teh madu ke paper bag. "Aku akan kembalikan setelah istirahat."

Anisa berkedip. "Dikembalikan?"

"Permennya juga?"

"Aku belum kenal dia."

Nadia mengangguk pelan. "Keputusan masuk akal."

Bagas memegangi dada. "Tapi teh madunya kelihatan mahal."

Dimas menatapnya. "Murah hati sedikit."

"Gue cuma memikirkan nasib teh."

Keiko tersenyum kecil. Dia tidak ingin mempermalukan orang yang sudah bersikap baik. Tapi hadiah dari orang asing tetap terasa seperti pintu yang terlalu cepat dibuka. Dia sudah belajar bahwa rasa kasihan, perhatian, dan ketertarikan sering datang dengan harapan yang tidak diucapkan. Lebih baik menutupnya sebelum menjadi salah paham.

Saat istirahat, Keiko pergi ke ruang OSIS bersama Anisa. Ternyata Raka Wijaya tidak ada di sana. Panitia Bina Bangsa hanya berkata bahwa beberapa siswa dari sekolah sebelah masih membantu membongkar perlengkapan panggung di aula kecil.

Keiko akhirnya menitipkan paper bag itu kepada panitia, bersama kartu balasan singkat yang dia tulis di kertas memo.

**Terima kasih. Aku menghargai perhatianmu, tapi lain kali tidak perlu mengirim hadiah. Penampilan kemarin sudah selesai, dan aku baik-baik saja.**

Anisa membaca sekilas dan menghela napas. "Halus banget. Kalau aku yang nulis, mungkin bunyinya, `Jangan kirim lagi, nanti kelasku ribut.`"

"Itu juga alasan sebenarnya."

"Keiko bisa bercanda sekarang. Kemajuan besar."

Keiko tertawa pelan.

Dia mengira urusan itu selesai.

Ternyata tidak.

Dua hari kemudian, di perpustakaan sekolah, sebuah buku kumpulan esai seni pertunjukan diletakkan di meja Keiko. Di halaman pertama ada sticky note kuning.

**Aku dengar kamu suka membaca. Ini bukan hadiah, pinjaman. Kalau tidak suka, boleh langsung kembalikan.**

**Raka.**

Kali ini Keiko tidak langsung mengembalikan lewat panitia. Dia membaca judulnya, menimbang sebentar, lalu menutup buku itu.

Kelvin duduk di seberangnya, mengerjakan soal fisika. Matanya tidak naik, tetapi pulpen di tangannya berhenti menulis.

"Buku dari siapa?" tanyanya.

"Raka."

"Yang teh madu?"

"Iya."

"Mau diterima?"

Keiko menyentuh ujung sticky note. "Aku akan kembalikan langsung. Biar jelas."

Kelvin mengangguk sekali. "Hmm."

Itu saja.

Tidak ada pertanyaan lain, tidak ada larangan, tidak ada kalimat yang membuat Keiko harus memilih posisi. Tapi setelah itu, Kelvin mengerjakan tiga soal dengan cara yang terlalu cepat dan salah di bagian tanda negatif.

Keiko menggeser kertasnya kembali. "Kelvin."

Dia menatap coretan itu, lalu menghela napas. "Iya, tahu."

"Kamu salah tanda."

"Gue tahu."

"Kalau tahu, kenapa ditulis?"

Kelvin terdiam. Bagas, dari meja sebelah, langsung pura-pura batuk keras untuk menutupi tawa. Dimas menendang kakinya di bawah meja.

Sore itu, Keiko akhirnya bertemu Raka di depan gerbang sekolah.

Dia berdiri dekat pos satpam, memakai seragam putih abu-abu dari sekolah lain dengan jas OSIS dilipat rapi di lengan. Wajahnya memang seperti yang Fajar bilang, bersih, tenang, mudah membuat orang menoleh. Namun yang paling menonjol bukan itu. Raka berdiri dengan jarak yang sopan. Ketika melihat Keiko datang, dia tidak langsung mendekat sampai Keiko berhenti sendiri.

"Keiko Hartono?" tanyanya.

"Iya."

Raka tersenyum. "Aku Raka Wijaya. Maaf soal teh madu dan buku. Aku seharusnya bertanya dulu."

Keiko memegang buku yang hendak dikembalikan. "Terima kasih sudah perhatian. Tapi aku lebih nyaman kalau tidak menerima hadiah pribadi."

"Bahkan kalau bentuknya pinjaman?"

"Untuk sekarang, iya."

Raka mengangguk tanpa tersinggung. "Baik. Aku terima."

Jawaban itu membuat Keiko sedikit lega. Dia menyerahkan buku tersebut. "Penampilan kemarin juga terima kasih sudah membantu panitia."

"Aku cuma bantu kabel dan kursi." Raka menerima buku itu. "Yang membuat orang diam satu lapangan bukan panitia."

Keiko tidak tahu harus menjawab apa.

Raka tidak memanfaatkan diam itu untuk mendesak. Dia hanya berkata, "Kalau suatu hari kamu mau bicara soal tari atau buku, aku akan senang. Kalau tidak, tidak apa-apa."

"Aku tidak ingin memberi harapan yang salah."

"Kamu belum memberi apa pun." Senyum Raka tetap tenang. "Aku yang tertarik mengenalmu. Itu tanggung jawabku, bukan bebanmu."

Kalimat itu sopan. Terlalu sopan untuk ditolak dengan kasar.

Keiko mengangguk kecil. "Terima kasih sudah mengerti."

Dari arah parkiran motor, suara Bagas terdengar samar memanggil Dimas. Keiko menoleh sebentar.

Kelvin berdiri beberapa meter dari mereka, helm hitam di satu tangan, helm pink di tangan lain.

Dia melihat Raka. Lalu melihat buku di tangan Raka. Lalu melihat Keiko.

Untuk satu detik, mata mereka bertemu.

Kelvin tidak berjalan mendekat. Dia hanya memalingkan wajah ke arah motor, seolah tiba-tiba tertarik pada sesuatu di spion.

Rahangnya mengeras.

1
Yani
yuk lanjut crita nya yuk Thorr 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!