NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 006: Harga Pertama

Kevin tidak langsung menjawab.

Dia menatap ponsel di tangan Meilin, lalu menatap wajahnya yang masih sulit menyembunyikan gemetar. Mungkin dia ingin mengatakan jangan terlalu senang dulu. Mungkin dia ingin mengingatkan bahwa satu pesan belum tentu uang.

Tapi pada akhirnya, yang keluar hanya satu kalimat.

"Jangan jawab sebelum tahu pesanannya apa."

Meilin berkedip, lalu cepat-cepat mengangguk.

Dia membuka DM itu. Pembelinya ingin sketsa wajah dari foto pasangan, ukuran A5 digital, untuk hadiah ulang tahun pacarnya. Meilin membaca dua kali, memastikan tidak ada permintaan aneh, lalu menatap Kevin.

"Harga berapa?"

"Kamu tanya aku?"

"Kamu bilang jangan terlalu murah."

Kevin meletakkan charger yang tadi hendak dia bawa. Dia tampak masih terburu-buru, tapi tetap mendekat dan membaca pesan itu dari jarak sopan.

"Digital file?"

"Iya."

"Revisi berapa kali?"

Meilin terdiam.

Kevin menghela napas pendek. "Tulis maksimal dua revisi kecil. DP setengah di awal. File final setelah lunas. Jangan kirim resolusi penuh sebelum dibayar."

Meilin langsung mengetik semua itu di Notes.

Kevin menatapnya. "Kamu mencatat semuanya?"

"Aku takut lupa."

"Dulu kamu tidak takut apa pun."

"Mungkin itu masalahnya."

Kevin tidak membalas.

Meilin menunduk ke layar DM. Dengan hati-hati, dia menyusun jawaban yang terdengar profesional, tidak terlalu kaku, juga tidak terlalu memohon.

Halo, Kak. Bisa. Untuk sketsa digital A5, harga 150 ribu, termasuk dua revisi kecil. DP 50 persen di awal, file final dikirim setelah pelunasan. Kalau cocok, Kakak bisa kirim fotonya.

Jarinya berhenti di atas tombol kirim.

"Kemahalan?"

Kevin melirik. "Terlalu murah."

"Hah?"

"Tapi untuk pesanan pertama, tidak apa-apa. Naikkan setelah ada portofolio."

Meilin menatap angka 150 ribu itu. Di dunia asalnya, uang sebanyak itu mungkin habis untuk sekali makan dengan teman kampus. Di sini, angka itu berarti telur, beras, token listrik, dan mungkin sedikit sabun cuci.

Dia menekan kirim.

Balasan datang tiga menit kemudian.

Pembeli: Cocok, Kak. Saya transfer DP sekarang.

Meilin menutup mulut dengan tangan.

Kevin melihat ekspresinya, lalu memalingkan wajah seakan tidak ingin ketahuan memperhatikan.

"Jangan senyum sebelum uang masuk."

"Aku tidak senyum."

"Kamu hampir menangis."

"Itu beda."

Kali ini Kevin benar-benar diam beberapa detik. Lalu, sangat pelan, dia berkata, "Menangis juga jangan sebelum uang masuk."

Meilin tidak tahan. Tawa kecil keluar dari mulutnya.

Tawanya pendek, agak canggung, tapi cukup untuk membuat suasana kamar yang biasanya berat terasa sedikit longgar. Kevin mengambil charger lagi, namun sebelum keluar dia menambahkan, "Kalau sudah masuk, beli beras dulu."

"Bukan token?"

"Beras."

"Baik, Ko."

Panggilan itu keluar lebih natural dari kemarin.

Kevin tidak menoleh, tapi langkahnya berhenti setengah detik sebelum dia membuka pintu.

Setelah Kevin pergi, Meilin menunggu dengan jantung berdebar. Pembeli mengirim bukti transfer. Saldo e-wallet bertambah 75 ribu rupiah.

Angka kecil itu membuat matanya panas.

Dia memotretnya bukan untuk pamer, melainkan untuk mengingat. Hari pertama dia tidak hanya menghindari nasib buruk. Hari pertama dia menghasilkan sesuatu dengan tangannya sendiri.

Meilin mengambil amplop bekas yang ditemukan di laci, lalu menulis tiga kata di atasnya: makan, listrik, kerja. Uang digital memang belum bisa dimasukkan ke amplop, tapi pembagian itu membuat kepalanya lebih tenang. Dari 75 ribu, sebagian harus jadi bahan makan, sebagian untuk token, dan sebagian lagi tidak boleh disentuh karena dia masih perlu membeli kertas yang lebih layak.

Dia juga membuat folder khusus di ponsel untuk bukti transfer, foto referensi, dan progres gambar.

Pekerjaan pertama itu tidak mudah.

Foto yang dikirim pembeli buram. Wajah pasangan di dalamnya tertutup bayangan kafe. Meilin harus menebak garis rahang, bentuk mata, dan arah cahaya. Ia menggambar sambil duduk di lantai, punggung pegal, perut hanya diisi nasi telur sisa pagi.

Namun setiap kali tangannya mulai lelah, dia melihat saldo 75 ribu itu.

Dia bisa.

Sore hari, refund durian akhirnya masuk.

Meilin langsung membuat daftar belanja: beras dua kilo, telur setengah kilo, sayur sawi, bawang putih, sabun cuci piring kecil, token listrik secukupnya, dan satu kotak plester luka murah. Dia nyaris membeli salep bekas luka, tapi harganya masih terlalu tinggi.

Nanti.

Dia tidak akan lupa.

Di warung dekat kos, pemiliknya menatap Meilin dengan sedikit heran ketika melihatnya membandingkan harga beras.

"Biasanya Mbak beli yang instan-instan saja."

Meilin tersenyum malu. "Sekarang mau belajar hemat, Bu."

Perempuan itu tertawa ringan. "Bagus. Anak muda kalau bisa masak sendiri, uangnya tidak cepat habis."

Kalimat sederhana dari orang asing itu membuat Meilin merasa seperti baru mendapat izin untuk memulai hidup baru.

Malamnya, Kevin pulang lebih awal dari dua malam sebelumnya. Wajahnya masih lelah, tapi langkahnya tidak terlalu berat. Begitu membuka pintu, dia berhenti.

Aroma bawang putih dan sawi tumis memenuhi kamar sempit.

Di meja lipat, ada nasi hangat, telur dadar tipis yang dipotong dua, dan tumis sawi sederhana. Tidak mewah. Tapi dibanding mi kuah polos, makanan itu terlihat seperti perayaan kecil.

Kevin memandang meja, lalu memandang Meilin.

"Dari uang gambar?"

Meilin mengangguk. "DP pertama dan refund durian."

"Kamu sudah selesaikan gambarnya?"

"Belum. Tapi sketsa awal sudah jadi. Mau lihat?"

Kevin meletakkan tas. "Setelah makan."

Jawaban itu terdengar biasa, tapi Meilin menangkap urutannya: makan dulu. Seperti dia menganggap pekerjaan Meilin penting, tapi tubuhnya lebih penting.

Mereka makan berhadapan di lantai.

Kevin mengambil sedikit sawi, mencicipinya, lalu diam.

Meilin langsung tegang. "Tidak enak?"

"Asin."

"Oh."

"Tapi bisa dimakan."

Meilin menunduk, menahan malu.

Beberapa detik kemudian, Kevin mendorong piringnya sedikit ke tengah. "Besok bawangnya ditumis lebih dulu. Jangan masukkan garam sebanyak itu."

Meilin mengangkat wajah.

"Kamu bisa masak?"

"Sedikit."

"Kalau begitu ajari aku."

Kevin terdiam dengan sendok di tangan.

Permintaan itu menggantung di antara mereka. Dulu, mungkin Meilin hanya akan menyuruh. Sekarang dia meminta diajari.

"Kalau aku sempat," jawabnya.

Itu bukan iya. Tapi juga bukan tidak.

Setelah makan, Meilin menunjukkan sketsa awal pesanan itu. Kevin duduk di sampingnya, memberi saran tentang bayangan wajah dan ukuran file, tidak banyak, tapi tepat. Sesekali bahu mereka hampir bersentuhan. Meilin menjaga jarak, Kevin juga tidak mendekat.

Tetap saja, meja sempit itu terasa berbeda.

Lebih hangat.

Pukul sebelas malam, pembeli menyetujui sketsa awal.

Pembeli: Bagus, Kak. Lanjut final ya.

Meilin menunjukkan pesan itu pada Kevin dengan mata berbinar.

Kevin hanya berkata, "Simpan buktinya."

"Sudah."

"Besok kalau lunas, catat pengeluaran."

"Iya."

Kevin menatap buku catatan kecil di sampingnya. Di halaman pertama, Meilin menulis pemasukan dan belanja hari itu dengan rapi. Di pojok bawah, ada satu baris kecil.

Salep bekas luka: nanti.

Kevin menunjuk tulisan itu.

"Untuk siapa?"

Meilin langsung membeku.

Matanya refleks bergerak ke bekas luka di dekat telinga Kevin.

Kevin mengikuti arah tatapannya.

Kamar mendadak sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!