Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Pulau yang Ditinggalkan
Sebelum ada empat tahun yang membuat Erlyn berhenti memanggil seseorang dengan sebutan Koh, ada satu sore di tahun 2017 ketika ia berdiri di pelabuhan Pulau Belitung dan merasa seluruh hidupnya sedang dimasukkan paksa ke dalam dua koper.
Usianya lima belas tahun.
Langit Belitung hari itu terlalu cerah untuk sebuah perpisahan. Laut di belakangnya berkilau biru, perahu nelayan bergerak pelan di kejauhan, dan angin asin yang biasa membuat rambutnya kusut tiba-tiba terasa seperti tangan yang menariknya agar tidak pergi.
"Er, jangan berdiri terlalu dekat air," kata Mama dari belakang.
Tan Erlyn menoleh.
Liang Jing berdiri di samping koper, memakai blus krem sederhana dan rok panjang yang rapi. Rambutnya disanggul rendah. Di wajah Mama ada senyum kecil yang sejak beberapa bulan terakhir sering Erlyn lihat, senyum yang terlalu hati-hati, seolah takut kebahagiaannya melukai anaknya sendiri.
Hari ini mereka meninggalkan Belitung.
Bukan untuk liburan.
Bukan untuk sekolah singkat.
Mereka pindah ke Surabaya, ke rumah laki-laki yang sekarang menjadi suami Mama.
Yu Changli.
Erlyn baru bertemu dengannya tiga kali sebelum pernikahan. Laki-laki itu selalu berpakaian rapi, berbicara pelan, dan tidak pernah memaksa Erlyn memanggilnya apa pun selain Om. Saat makan bersama, ia bertanya sekolah Erlyn, makanan kesukaannya, dan apakah ia mudah mabuk perjalanan. Semua pertanyaan itu sopan, bahkan baik.
Justru karena terlalu baik, Erlyn tidak tahu harus menaruh curiga di mana.
"Mama masih bisa berubah pikiran," ucap Erlyn pelan.
Jing menatapnya beberapa detik. Senyum di wajahnya tidak hilang, tetapi mata itu melembut sampai Erlyn merasa bersalah duluan.
"Kamu tidak suka Om Changli?"
"Bukan begitu."
"Tidak suka Surabaya?"
Erlyn menunduk, menendang kerikil kecil di dekat sepatu kanvasnya. "Aku belum tahu Surabaya seperti apa."
Mama mendekat, merapikan anak rambut di dekat pelipisnya. "Kalau tidak suka, kita pelan-pelan belajar suka. Kalau tetap tidak suka, Mama akan dengarkan kamu."
Kalimat itu seharusnya membuat Erlyn lega. Tetapi ia tahu orang dewasa sering mengatakan sesuatu agar anak-anak berani melangkah, bukan karena semua jalan benar-benar bisa diputar kembali.
Setelah Papa kandungnya meninggal bertahun-tahun lalu, dunia Erlyn tinggal berdua dengan Mama. Rumah kecil mereka di Belitung tidak mewah, tetapi setiap sudutnya mengenal suara mereka. Dapur sempit yang selalu bau bawang putih, halaman dengan jemuran yang bergoyang, meja kayu tempat Erlyn mengerjakan PR, semua itu sederhana dan pasti.
Surabaya terdengar besar.
Om Changli terdengar jauh.
Keluarga baru terdengar seperti sepatu yang belum tentu pas, tetapi harus dipakai karena semua orang sudah membelinya.
Perjalanan dari Belitung ke Surabaya terasa panjang meski sebenarnya tidak sepanjang itu. Di pesawat, Mama menggenggam tangan Erlyn saat lepas landas. Erlyn pura-pura tidak melihat kuku Mama yang sedikit menekan kulitnya. Mama juga gugup.
Fakta itu membuat Erlyn berhenti marah selama beberapa menit.
Ketika pesawat mendarat dan pintu terbuka, udara Surabaya menyambut mereka dengan panas yang berbeda. Bukan panas asin seperti Belitung. Panas di sini bercampur debu jalan, knalpot, dan suara kendaraan yang tidak pernah benar-benar diam.
Om Changli menjemput mereka di bandara.
"Erlyn," sapanya sambil mengambil koper dari tangan Mama. "Perjalanannya melelahkan?"
"Sedikit, Om."
"Nanti di rumah istirahat dulu. Sekolah dan urusan lain kita bicarakan pelan-pelan."
Erlyn mengangguk.
Ia duduk di kursi belakang mobil, di samping Mama. Om Changli menyetir sendiri. Dari jendela, Surabaya bergerak cepat di luar sana. Gedung tinggi, ruko tua, jalan lebar, pohon flamboyan di tepi jalan, motor yang menyelip tanpa takut mati, semua tampak ramai dan asing.
Mama beberapa kali menunjuk keluar.
"Itu daerah Kembang Jepun. Banyak toko lama keluarga Tionghoa di sana."
Erlyn hanya mengangguk.
Ia sedang menghitung jarak. Dari bandara ke rumah. Dari rumah lama ke rumah baru. Dari dirinya yang dulu ke dirinya yang sebentar lagi harus menjadi anak seseorang yang tidak melahirkannya.
Mobil akhirnya masuk ke sebuah jalan yang lebih tenang. Jalan Kenanga.
Nama itu lembut, tetapi rumah yang muncul di ujung jalan tidak lembut sama sekali.
Rumah kolonial itu berdiri di balik pagar besi hitam, besar dan putih, dengan pilar tinggi, jendela lengkung, dan halaman yang terlalu luas untuk dua orang perempuan dari Belitung. Di sisi kiri halaman, pohon flamboyan tua merentangkan cabang seperti payung. Di dekat teras, bunga melati tumbuh lebat, putih kecil-kecil, mengeluarkan wangi yang langsung menempel di udara.
Erlyn berhenti bernapas beberapa detik.
Ini bukan rumah.
Ini seperti bangunan yang biasa ia lihat di drama, tempat orang-orang kaya makan malam dengan sendok garpu yang jumlahnya lebih banyak daripada anggota keluarga.
Om Changli turun lebih dulu, membuka bagasi. Seorang perempuan paruh baya keluar dari pintu utama bersama seorang laki-laki yang lebih tua. Mereka membungkuk sopan.
"Selamat datang, Tuan. Nyonya," kata perempuan itu.
Nyonya.
Erlyn merasakan tangan Mama di sampingnya sedikit kaku.
"Jangan terlalu formal," kata Jing cepat, tersenyum canggung. "Panggil saya Jing saja."
Perempuan itu tersenyum, tetapi tetap menunduk. "Baik, Nyonya Jing."
Erlyn menahan napas. Di Belitung, tetangga memanggil Mama dengan nama. Kadang Jing, kadang Ci Jing, kadang hanya berteriak dari pagar, "Makan rujak, nggak?" Tidak ada yang membungkuk. Tidak ada yang memanggilnya nyonya dengan jarak setebal pintu kaca.
Om Changli menoleh pada Erlyn.
"Masuk, Erlyn. Anggap rumah sendiri."
Rumah sendiri.
Dua kata itu terdengar mudah di mulut orang dewasa.
Erlyn melangkah melewati pintu utama. Lantai marmer terasa dingin di bawah sol sepatunya. Ruang tamu luas, langit-langit tinggi, lampu gantung besar, kursi-kursi kayu gelap dengan bantalan bersih. Di dinding ada beberapa lukisan, sebagian pemandangan laut, sebagian wajah yang tidak Erlyn kenal.
Ia hampir takut menyentuh apa pun.
Koper mereka dibawa masuk. Mama berdiri di tengah ruangan, tersenyum pada Om Changli, tetapi ujung jarinya mencari tangan Erlyn. Erlyn membiarkannya menggenggam.
"Kamarmu sudah disiapkan," kata Om Changli. "Di lantai dua, sebelah kiri. Kalau ada yang kurang, bilang saja."
"Terima kasih, Om."
Om Changli tampak ingin mengatakan sesuatu tentang panggilan itu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.
Mereka naik tangga lebar yang berkilau. Di setiap anak tangga, Erlyn merasa sepatunya membawa debu Belitung yang tidak pantas menempel di rumah ini. Ia menunduk, memperhatikan tali sepatunya yang mulai kusam.
Di lantai dua, koridor panjang terbentang. Ada beberapa pintu tertutup. Di ujung koridor, tangga kecil mengarah ke atas lagi, lebih sempit, setengah tersembunyi di balik bayangan.
"Itu ke loteng?" tanya Erlyn tanpa sadar.
Perempuan paruh baya yang tadi menyambut mereka menoleh. "Iya, Non."
Non.
Erlyn nyaris tertawa karena canggung. Ia bukan Non. Ia anak yang kemarin masih membeli es di warung dekat sekolah dengan sandal jepit.
"Lotengnya dipakai untuk apa?" tanyanya.
Perempuan itu sempat melihat ke arah Om Changli, seolah meminta izin.
Om Changli menjawab dengan suara tenang, "Ruang kerja Chisen."
Nama itu membuat udara di koridor berubah sedikit.
Chisen.
Putra Om Changli.
Kakak tiri yang belum pernah Erlyn temui.
Ia tahu laki-laki itu dua tahun lebih tua darinya. Tahu ia sekolah di SPI. Tahu ia suka melukis. Tahu Mama pernah berkata, "Anaknya pendiam, tapi baik." Hanya itu.
Pendiam, tapi baik adalah kalimat yang terlalu sering dipakai orang dewasa ketika mereka ingin seorang anak percaya pada orang asing.
Perempuan paruh baya itu menambahkan dengan suara lebih pelan, "Tuan muda ada di lantai atas."
Erlyn mengangkat kepala.
Di ujung tangga kecil menuju loteng, ada jendela sempit. Tirainya bergerak sedikit, seolah baru saja disentuh dari dalam. Sesaat, Erlyn melihat bayangan seseorang di balik kaca. Tinggi. Diam. Berdiri terlalu tenang untuk disebut kebetulan.
Ia belum sempat melihat jelas.
Tirai itu langsung ditarik rapat.
Koridor kembali sunyi.
Erlyn berdiri di anak tangga terakhir dengan tangan masih digenggam Mama, menatap jendela loteng yang sekarang tertutup, dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Belitung, ia merasa rumah baru ini punya mata.