Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.
Tapi Nana tahu yang sebenarnya.
Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.
Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.
*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Nana pulang dari gudang pelayaran lama dengan bau solar masih menempel di rambutnya.
Kalimat Daniel ikut pulang bersamanya.
Kadang membalas dendam dan melakukan hal benar bisa memakai jalan yang sama.
Di mobil, Nana memandangi jalan Surabaya yang mulai padat. Ia memikirkan pria vendor yang menandatangani kontrak dengan tangan gemetar, memikirkan Daniel yang menyebut dirinya bukan orang baik, lalu memikirkan Steven yang berkata jangan percaya pada apa yang terlihat.
Rumah Besar Sie tampak tenang saat ia kembali.
Terlalu tenang.
Stella menunggunya di pintu samping. Begitu Nana turun, Stella langsung menariknya ke sudut taman.
"Kau baik-baik saja?"
"Iya."
"Daniel membuatmu melihat apa?"
Nana ragu. "Angka yang bisa mencekik orang."
Stella memejamkan mata sebentar. "Aku sudah bilang dia berbahaya."
"Tapi dia membantu kita."
"Kadang itu yang paling berbahaya."
Sebelum Nana menjawab, kepala pelayan berjalan cepat dari arah rumah utama. Wajahnya pucat.
"Nona Stella, Pak William meminta semua keluarga inti ke ruang tengah. Sekarang."
Stella langsung menegang. "Ada apa?"
Kepala pelayan melirik Nana, lalu menunduk. "Ada paket untuk Pak Albert."
Ruang tengah sudah penuh ketika Stella dan Nana tiba. William berdiri di dekat meja panjang. Tamara duduk dengan wajah kaku. Lusia memegang kipas, tapi tidak menggerakkannya. Albert berdiri di depan sebuah kotak kecil yang terbuka.
Di dalamnya ada foto.
Foto Albert keluar dari sebuah toko buku tua. Di bagian belakang foto, seseorang menulis dengan spidol hitam: berhenti menyentuh audit, atau pulang sebagai abu.
Nana membaca tulisan itu dua kali.
Perutnya dingin.
Albert justru tersenyum tipis. "Pilihan katanya buruk sekali."
"Ini bukan waktunya bercanda," kata William.
"Aku tidak bercanda. Aku hanya menilai gaya ancamannya."
Lusia bersuara tinggi, "Mereka tahu Paman Albert keluar sendirian. Mereka tahu toko buku yang biasa Paman datangi. Itu berarti orang-orang Victoria Wan sudah terlalu dekat."
Tamara menatap William. "Kita harus pindahkan Paman Albert."
"Aku sudah panggil Irwan," jawab William.
Seolah menunggu namanya, Irwan masuk dari pintu samping bersama Steven. Steven memakai kemeja gelap, wajahnya datar, tapi matanya langsung membaca foto, tulisan, posisi kotak, lalu wajah Albert.
"Kapan datang?" tanya Steven.
"Dua puluh menit lalu," jawab William.
"Siapa yang menerima?"
Kepala pelayan menjawab, "Petugas kurir biasa. Kartu identitasnya sudah disalin."
"Kurir biasa tidak berarti aman."
"Aku tahu," kata William tajam.
Ruangan diam.
Nana berdiri di belakang Stella, berusaha terlihat seperti bagian dari dinding. Namun Steven tiba-tiba menoleh ke arahnya.
"Kau."
Stella langsung maju setengah langkah. "Koko, jangan."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Kalau kau melihat Nana seperti itu, biasanya sesuatu yang buruk akan terjadi."
Albert menoleh kepada Nana. "Anak ini baru pulang dari mengantar dokumen Daniel, kan?"
Nana mengangguk. "Iya, Paman."
"Berarti dia lelah."
Kalimat itu sederhana. Namun di ruangan penuh keputusan, perhatian kecil itu terasa seperti tangan hangat di bahu. Nana mengerti kenapa semua orang mudah percaya pada Albert.
Steven tidak berkedip. "Justru karena orang lain mengira dia cuma anak dapur yang lelah, dia bisa lewat tanpa dihitung."
"Tidak," kata Stella.
William menatap Steven. "Jelaskan."
Irwan membuka map tipis. "Kami perlu memindahkan Pak Albert sebelum tengah malam. Rute utama terlalu mudah ditebak. Rute kedua lewat rumah sakit dan hotel juga kemungkinan sudah dipantau. Ada satu jalur servis dari rumah ini ke kompleks ruko lama, lalu mobil ganti di sana."
"Di mana Nana masuk?" tanya Tamara.
"Di ruko lama ada dua tas yang harus ditukar," jawab Irwan. "Tas pertama dibawa Pak Albert. Tas kedua dibawa orang biasa. Jika ada yang mengikuti, mereka akan mengejar tas yang salah."
Lusia tertawa tidak percaya. "Kalian mau menjadikan anak itu umpan?"
"Bukan umpan," kata Steven. "Pengalih."
"Itu kata yang lebih sopan untuk hal yang sama."
Nana mendengar suaranya sendiri sebelum sempat berpikir. "Apa isi tasnya?"
Semua orang menoleh.
Steven menjawab, "Dokumen palsu. Cukup meyakinkan untuk membuat pengejar merasa menang."
"Kalau mereka mengejar saya?"
"Kau masuk ruko kain. Ada pintu belakang ke gang. Irwan menunggu di sana."
"Kalau Irwan tidak ada?"
"Aku ada."
Jawaban itu terlalu cepat.
Stella menatap Steven, lalu Nana. Wajahnya pucat.
Albert berkata pelan, "Aku tidak setuju jika keselamatanku dibeli dengan risiko anak ini."
Nana menatapnya.
Albert tidak sedang berpura-pura marah. Ia terlihat sungguh tidak nyaman, seperti harga dirinya tersentuh.
"Paman," kata Steven, suaranya lebih rendah, "kalau kau tetap di rumah ini malam ini, besok bukan cuma kau yang berisiko. Semua staf, semua keluarga, semua yang terhubung dengan audit jadi sasaran."
Albert menunduk, lama sekali.
Ketika ia mengangkat wajah, senyumnya hilang.
"Kalau begitu aku pergi. Tapi anak ini hanya ikut jika dia memilih sendiri."
Kali ini semua mata berpindah ke Nana.
Stella berbisik, "Nana, kau tidak harus membuktikan apa pun."
Nana tahu itu. Ia tidak harus membuktikan dirinya berani. Tidak harus membayar makanan, sandal, kamar kecil, atau saputangan Steven dengan nyawa.
Tapi ia juga tahu rasa dikejar.
Ia tahu bagaimana rasanya sendirian di jalan ketika semua orang berpura-pura tidak melihat.
Albert tadi memperhatikan lelahnya saat orang lain melihat kegunaannya.
"Saya ikut," kata Nana.
Stella menggenggam lengannya. "Nana."
"Saya ikut," ulang Nana, lebih pelan. "Tapi saya mau tahu rutenya dari awal sampai akhir. Tidak ada yang disembunyikan."
Steven menatapnya.
Untuk sesaat, Nana mengira ia akan menolak.
Lalu Steven berkata, "Baik."
Irwan meletakkan peta kecil di meja. Garis merah melewati jalan servis, ruko lama, lalu keluar menuju jalan besar arah luar kota.
"Tas Paman Albert hitam, pegangan kulit cokelat," jelas Irwan. "Tas pengalih untukmu sama bentuknya, tapi di dalamnya hanya dokumen palsu dan satu pelacak. Begitu masuk ruko kain, kau tukar tas di balik rak gulungan kain. Kalau ada orang mengikuti, keluar lewat pintu depan dengan tas palsu. Kalau tidak ada yang mengikuti, tinggal di dalam sampai aku jemput."
"Tanda aman?" tanya Nana.
Steven menjawab, "Lampu toko berkedip dua kali. Kalau berkedip tiga kali, jangan keluar. Cari pintu belakang."
Nana mengulang dalam kepala. Dua kali aman. Tiga kali lari.
Albert mengambil foto ancaman dari kotak, lalu melipatnya rapi.
"Jika seseorang harus takut malam ini," katanya, "biarlah aku yang paling takut. Kalian cukup bekerja dengan kepala dingin."
Nana melihat tangan tua itu melipat ancaman seperti melipat surat biasa.
Di dadanya, rasa hormat tumbuh tanpa izin.
Malam belum turun, tapi Rumah Besar Sie sudah terasa seperti menahan napas terlalu lama di balik pintu tertutup malam itu juga.