Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Kobaran api dari gudang tua yang terbakar di ujung desa masih menyala hebat, memantulkan cahaya jingga kemerahan yang menerangi wajah tegang Arga dan Nara.
Pria berjubah hitam itu memutar lehernya perlahan, memicu suara kertakan tulang yang bergidik. "Kalian berdua rupanya benar-benar berniat untuk mati bersama di tempat ini."
Arga perlahan mengangkat Pedang Penjaga Langit, memosisikan bilahnya lurus ke depan dada. "Boleh jadi. Tapi sebelum ajal menjemput, kami pastikan akan membuatmu menyesali hari di mana kau menginjakkan kaki di desa ini."
Pria itu tertawa terbahak-bahak, suara tawanya menggema angkuh membelah malam. "Kesombongan anak muda zaman sekarang memang selalu menghibur!"
Boom!
Pria berjubah hitam itu menginjak tanah dengan keras. Dalam sekejap, tubuhnya melesat maju bagaikan bayangan hitam yang kabur.
Arga tidak tinggal diam. Ia mengerahkan seluruh Qi di dalam tubuhnya dan langsung melompat menyambut serangan tersebut.
Clang!
Bilah Pedang Penjaga Langit bertabrakan telak dengan telapak tangan pria itu yang telah dilapisi energi pekat. Gelombang kejut Qi yang tercipta dari benturan itu seketika membuat tanah di bawah pijakan mereka retak membentuk pola jaring laba-laba.
Arga terpental beberapa langkah ke belakang untuk meredam daya hancur serangan. Namun, berbeda dari sebelumnya, kali ini ia berhasil mempertahankan keseimbangan jiwanya dan tidak terjatuh.
"Lebih baik," puji Guru Tian dari dalam liontin. "Latihan keras yang kau jalani selama ini akhirnya mulai memperlihatkan hasil yang nyata."
Sementara itu, Nara tidak terburu-buru melepaskan anak panahnya lagi. Gadis itu berdiri diam di posisinya, membiarkan matanya terus mengamati setiap pergerakan musuh, mengatur ritme napasnya yang memburu, dan dengan sabar mencari celah sekecil apa pun.
Guru Tian melirik sekilas ke arah Nara dari balik alam kesadaran Arga. "Gadis itu memiliki insting bertarung yang luar biasa. Dia belajar dengan sangat cepat."
Brak! Buk! Brak!
Pria berjubah hitam itu kembali merangsek maju. Pukulan demi pukulan berlapis energi kematian bertubi-tubi menghujani pertahanan Arga. Kali ini Arga sama sekali tidak mencoba untuk membalas; ia memfokuskan seluruh energinya hanya untuk bertahan, menghindar, dan mengulur waktu sebisa mungkin.
"Senior..." bisik Arga di sela-sela tangkisan pedangnya yang kian melemah. "Apa yang harus kulakukan sekarang? Tekanannya terlalu kuat!"
"Tunggu," jawab Guru Tian pendek.
"Tunggu? Menunggu apa, Senior?"
"Tunggu teman perjalananmu."
Arga sedikit kebingungan dengan arahan sang guru, namun ia memilih untuk memercayainya sepenuhnya dan terus bertahan sekuat tenaga.
Di sisi lain medan pertempuran, Nara perlahan-lahan memejamkan kedua matanya.
Sayup-sayup suara desir angin malam, deru napas Arga yang terengah-engah, hingga ketukan langkah kaki lawan yang berat—semua suara itu disaring dengan rapi di dalam kepalanya. Ayahnya dahulu pernah berpesan sebaris kalimat berharga: “Seorang pemanah yang hebat tidak melihat targetnya menggunakan sepasang mata, Dia menggunakan hatinya.”
Nara mendadak membuka matanya kembali. Sorot mata yang semula dipenuhi keraguan kini berubah menjadi setajam elang di malam hari. "Aku menemukannya."
Nara menarik tali busurnya dengan mantap. Namun kali ini, ia hanya memasang sebilah anak panah kayu biasa.
Wus!
Anak panah itu melesat membelah kegelapan.
Pria berjubah hitam itu mendengus remeh saat menyadari arah serangan. "Trik sampah seperti itu lagi?!" Ia mengangkat tangan kanannya yang bebas, berniat menepis anak panah tersebut seperti yang dilakukannya tadi.
Namun, tepat satu detik sebelum anak panah itu menyentuh telapak tangannya, Arga tiba-tiba menghentak maju dan mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh secara horizontal.
Clang!
Mau tidak mau, pria berjubah hitam itu terpaksa menarik kembali tangannya untuk menangkis sabetan Pedang Penjaga Langit yang mengincar lehernya.
Dan pada pecahan detik itulah, kalkulasi Nara terbukti sempurna. Anak panah kayunya lolos dari pertahanan lawan tanpa hambatan.
Sret!
Anak panah itu menembus lengan kanan pria berjubah hitam dengan telak. Luka itu memang tidak terlalu dalam, namun racun herbal sederhana yang dilumuri Nara pada ujung panah cukup untuk membuat syaraf lengan kanan pria itu mati rasa seketika.
Pria itu membelalakkan matanya dengan tidak percaya, menatap lengannya yang terluka lalu beralih pada dua pemuda di depannya. "Kalian... kalian sengaja bekerja sama?!"
Arga mengulas senyum tipis, napasnya memburu namun matanya menyala puas. "Tentu saja. Dia adalah seorang pemanah, dan aku adalah seorang pendekar pedang. Jika kami bertarung sendiri-sendiri, kami memang tidak memiliki peluang untuk menang melawan Alam Fondasi seperti dirimu. Tapi jika kami bertarung bersama... hasilnya belum tentu sama."
Nara ikut tersenyum tipis di kejauhan. koordinasi serangan mereka terasa sangat selaras. Tanpa perlu banyak bicara dan tanpa perlu saling memberi aba-aba, mereka mulai bisa memahami dan mengikuti ritme bertarung satu sama lain.
Guru Tian mengangguk puas menyaksikan perkembangan tersebut. "Luar biasa. Dalam waktu sesingkat ini, mereka sudah berhasil membangun fondasi kepercayaan yang begitu kokoh."
Namun, senyuman di wajah tak kasat mata Guru Tian segera sirna, digantikan oleh raut wajah yang kembali serius. Ia tahu betul bahwa luka-luka kecil yang berhasil mereka torehkan justru akan membuat monster di depan mereka berhenti bermain-main.
Benar saja. Pria berjubah hitam itu perlahan-lahan mencabut anak panah yang menancap di lengannya dengan wajah dingin tanpa ekspresi. Tatapan matanya kini sepenuhnya berubah, kosong dan dipenuhi hawa membunuh yang membekukan darah.
"Permainan bocah ini... sudah selesai," desisnya parau.
Pria itu tiba-tiba menggigit ujung ibu jarinya sendiri hingga berdarah, lalu dengan cepat mengusapkan darah segar tersebut ke atas dahinya. Seketika itu juga, sebaris ukiran rune kuno berwarna hitam legam membentuk simbol mata misterius muncul dan menyala di keningnya.
Buumm!!!
Tekanan Qi dari Alam Fondasi yang dimilikinya mendadak melonjak drastis hingga berkali-kali lipat dari sebelumnya, menciptakan badai angin hitam yang menyapu seisi desa.
Guru Tian yang menyaksikan ritual tersebut langsung bangkit berdiri dari posisi duduknya di dalam ruang jiwa Arga. Wajah sang guru yang selama ini selalu tenang dan penuh wibawa akhirnya berubah drastis dipenuhi kepanikan.
"Itu... Teknik Terlarang: Pembakaran Darah!" seru Guru Tian dengan nada yang sangat mendesak. "Arga, berhati-hatilah! Mulai detik ini juga... satu kesalahan kecil saja dalam pergerakanmu akan langsung membuat kalian berdua kehilangan nyawa!"