"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.25. Sudut pandang yang berbeda.
Kara sedang berdiri menatap sebuah ambulans yang masuk ke pekarangan rumah kakek nya, ambulans itu datang membawa jasad Caca yang sudah meninggal. Kara masih tidak bisa mencerna bagaimana bisa Caca di temukan oleh Putri dalam keadaan tergantung di atas pohon yang ada di depan rumah, padahal semalam dia melihat Caca di tarik oleh bepak - bapak yang menggunakan pakaian hitam.
"Caca meninggal, Ra.." Ucap Usi yang saat itu sedang memeluk lengan Kara yang juga sedang menatap ambulans dengan tatapan kosong.
"Kok bisa.." Gumam Kara, dia masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Aku nggak mau mati juga, aku mau pulang." Ucap Usi, yang memang sangat sensitif dengan sekitar nya.
Sebelum nya.. tepat nya di pagi hari ketika Putri bangun dan membuka pintu depan, Putri berteriak saat melihat Caca yang sudah menggantung di pohon dengan mengenaskan. Teriakan Putri itu kemudian membuat ayah nya terbangun dan mereka berdua syok melihat Caca yang Kara cari - cari ternyata sudah mati mengenaskan.
Caca menggantung dengan keadaan kedua mata nya yang sudah tidak ada, mulut nya mengeluarkan ada banyak sekali darah yang sudah mengering dan darah nya membuat sekujur tubuh Caca merah. Leher nya di jerat dengan tali kawat sampai leher nya terkoyak dan menganga nyaris putus.
Selain itu.. kuku - kuku kedua tangan Caca juga tercabut dan berdarah - darah, pemandangan itu sangat mengerikan, seolah bukan di lakukan oleh hantu.. Usi yang saat itu juga bangun lebih dulu karena mendengar teriakan Putri akhir nya mengabari orang tua Caca yang ada di kota agar bisa menjemput Caca.
"Tante.. om.. maafin Kara." Ucap Karam pada kedua orang tua Caca yang histeris melihat anak kesayangan nya meninggal dengan cara yang paling mengerikan.
"Kamu apakan anak saya!?" Ucap ibunya Caca yang masih matah dan kehilangan Caca, Kara pun menggelengkan kepalanya karena memang dia tidak melakukan apapun pada Caca.
"Tante, kami nggak ngapain - ngapain, tante kan juga tau aku Caca sama Kara temenan baik dari dulu. Ada hal yang nggak bisa di jelaskan, tante." Ucap Usi, dia melindungi Kara yang sudah diam tidak bisa menjawab apapun ucapan orang tua Caca.
"Kenapa anak saya bisa meninggal seperti itu!? Kalian pasti merundung Caca, kan!?" Ucap ibunya Caca, dia makin histeris dan akhir nya di tenangkan oleh ayah nya Caca yang menarik ibu nya Caca ke pelukan nya.
"Kara, om tau kalian teman baik.. om juga yakin bukan kalian pelaku nya.. Kalo kamu nggak keberatan, om akan minta Polisi menyelidiki ini di rumah kakek kamu." Ucap ayah nya Caca, dan Kara pun mengangguk.
"Iya om, silahkan." Ucap Kara..
"Hati - hati." Terdengar suara petugas ambulans yang sedang menggotong tubuh Caca ke dalam ambulans.
Jasad Caca akhir nya sudah di bawa masuk kedalam ambulans, semua orang yang ada di sana menyaksikan semua itu, dan setelah sudah selesai.. jasad Caca pun di bawa pergi oleh pihak keluarga nya pergi dari sana.
"Ra, aku pamit pulang juga, ya." Ucap Usi, dia juga ketakutan..
"Maaf, kamu belum bisa pulung dulu, nak. Kamu dan Kara harus tetap di sini untuk kepentingkan penyelidikan." Ucap seorang petugas..
"Tapi dia harus pulang, pak. Kalo bisa jangan ada orang lain lagi yang tinggal di sini." Ucap Kara, Kara tidak mau sesuatu terjadi pada Usi juga.
"Tapi kami perlu melakukan penyelidikan.. kalian adalah saksi mata, selain saksi mata.. kalian juga bisa jadi tersangka karena ibunya mendiang Caca mengatakan kalian melakukan perundungan pada anak nya sampai meninggal." Ucap petugas.
"Pak, kami sahabatan udah bertahun - tahun.. kami kenal satu sama lain dan juga kami nggak pernah terlibat pertengkaran apapun apalagi sampai perundungan." Ucap Usi, Kara manggut - manggut.
"Kalo bapak nggak percaya, bapak juga bisa periksa latar belakang kami." Ucap Usi lagi, para petugas yang melihat itu hanya saling pandang.
"Kalau begitu, mari kita bahas kronologinya.. menurut POV kalian masing - masing, semua yang ada di dalam rumah." Ucap salah satu petugas, akhir nya Kara dan Usi pun mengangguk setuju.
Kara mempersilahkan para petugas yang berjumlah ada tiga otang dimana satu di antaranya adalah perempuan itu masuk kedalam rumah utama, mereka kini duduk di ruang tapi dan para penyidik itu langsung berdecak kagum dengan penampakan isi rumah kakek nya Kara yang memang berisi barang - barang lawas yang bisa di bilang antik.
Salah satu petugas bahkan berjalan menuju ke arah kulit harimau yang di pajang tak jauh dari kepala rusa dan koleksi binatang lain nya, dan mengamati barang - barang itu satu persatu.
"Jadi, gimana kronologi nya yang sebenar nya?" Tanya salah satu petugas yang mulai bertanya.
"Sebelum Caca di temukan meninggal, pak.. kami tidur bertiga di dalam kamar nya Kara. Waktu aku bangun, Kara udah nggak ada di ranjang, dan aku liat Caca berjalan keluar sambil bawa gelas.. aku akhir nya bangun juga dan ikut sama Caca turun kebawah.." Usi yang pertama kali menceritakan apa yang terjadi pada dia dan Caca malam itu.
"Saat aku dan Caca sampai di bawah, kami liat ada.."
Usi menceritakan kronologi malam saat akhir nya dia dan Caca hilang dan tidak bisa menemukan Kara. Malam itu Usi dan Caca yang ketakutan karena melihat ada bapak - bapak bawa golok hitam yang menatap mereka dengan tatapan marah dan ingin membunuh akhir nya mereka lari keluar.. dimana saat itu pintu rumah memang terbuka.
Mereka lari ingin menyelamatkan diri, tapi gerbang rumah itu terkunci dan mereka tidak memiliki kunci nya, akhir nya Usi dan Caca memutuskan untuk sembunyi sebisa mereka dari kejaran bapak - bapak itu, mereka tanpa sengaja terjatuh ke ruangan yang seperti ruang tersembunyi di bawah tanah.
Sejak detik mereka jatuh, mereka tidak bisa lari kemana - mana, karena saat mereka mengintip dari sebuah pintu.. Usi dan Caca menyaksikan ada banyak bapak - bapak yang sedang memotong - motong daging, tapi bukan daging sapi atau kambing.. melainkan memotong - motong tubuh manusia. Karena itu mereka memutuskan berdiam diri di sana.
"Lalu datang lah Kara, aku nggak tau apa yang terjadi tapi mereka ternyata nggak liat kami lewat di antara mereka di ruangan itu saat mereka lagi motong - motong badan perempuan. Akhir nya kami berhasil keluar dan Kara narik kami pergi dari sana untuk balik ke kamar." Ucap Usi, dia sedang menceritakan POV nya.
"Tapi.. saat kami udah masuk ke ruangan ini, bapak - bapak itu ada lagi. Dia ngejar kami lagi. Kami makin kencang naik ke atas, tapi bapak itu berhasil narik Caca.. aku sama Kara berhasil masuk kedalam kamar, Caca di bawa bapak itu." Ucap Usi lagi.
"Hah!! Kok beda sama yang aku liat!!?" Ucap Kara, para petugas gantian menatap Kara
BERSAMBUNG!