NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Sistem
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Jalan Pulang

Bus antarkota meninggalkan Desa Batu Giok saat matahari baru naik setengah.

Raka duduk di dekat jendela. Kribo di sebelahnya, ransel di pangkuan, kabel earphone menggantung tapi tidak dipakai. Jalan desa berganti ladang, lalu kios bensin kecil, lalu jalan raya yang berdebu. Tidak ada yang langsung bicara.

Setelah semua yang mereka lihat, diam terasa lebih sopan daripada obrolan kosong.

Hampir satu jam kemudian, Kribo menghela napas panjang.

"Raka."

"Hm?"

"Aku sudah melihat cukup banyak hal aneh untuk tidak pura-pura bodoh. Sejak malam livestream itu, kamu berubah. Kamu tahu dosa orang. Kamu menulis di buku yang kadang bikin muka kamu seperti habis ditonjok udara. Lalu seluruh Indonesia melihat Pengadilan aakyat."

Raka tetap melihat keluar jendela.

Kribo menyikut lengannya pelan. "Aku sahabatmu, bukan penonton random. Ceritakan. Setidaknya bagian yang tidak membuat kepalaku meledak."

Raka diam lama.

Ia bisa berbohong. Bisa bilang firasat, data, kebetulan, jaringan rahasia. Tapi Kribo ada di sana sejak awal. Kribo yang meminjamkan laptop ketika livestream sepi. Kribo yang membongkar boneka. Kribo yang melihat layar nasional berubah merah dan tidak lari meninggalkannya.

"Ada sistem," kata Raka akhirnya.

Kribo berkedip. "Sistem. Seperti aplikasi?"

"Lebih seperti... suara dan buku. Namanya Sistem Penghakiman. Dia aktif waktu aatih masuk ke livestream. Aku bisa melihat Indeks Dosa. Aku bisa menulis kasus di Buku Penghakiman. Kalau bukti lengkap, sistem bisa membuka Pengadilan aakyat."

Kribo menatapnya beberapa detik, lalu menyandarkan kepala ke kursi.

"Oke," katanya datar. "Jadi sahabatku sekarang semacam hakim supernatural dengan cheat code kriminal. Bro, hidup kita benar-benar berubah jadi plot novel."

Raka hampir tersenyum. "Aku tidak menceritakan semuanya. Ada bagian yang masih belum kupahami."

"Bagus. Kalau kamu bilang paham semuanya, aku justru akan panik." Kribo menoleh serius. "Ada bahaya buat kamu?"

Raka teringat ancaman hilang ingatan, batas waktu misi, beban dingin saat jutaan orang memilih HUKUM. Ia memilih jawaban yang tidak sepenuhnya bohong.

"Ada harga. Belum selalu jelas."

Kribo mengangguk pelan. Untuk sekali ini, ia tidak memaksa.

"Kalau begitu kamu butuh partner," katanya. "Aku tidak punya mata dosa atau buku ajaib. Tapi aku bisa meretas, mencari data, memperbaiki alat, dan mengingatkan kalau kamu mulai bicara seperti orang yang merasa harus menanggung dunia sendirian."

"Kamu yakin?"

"Tidak. Tapi aku tetap ikut. Itu bedanya teman dan orang bijak. Orang bijak kabur lebih awal. Teman duduk di sebelahmu di bus murah sambil lapar."

Raka tertawa pendek. Itu tawa pertamanya yang benar-benar keluar sejak kasus Dewi dimulai.

Sore menjelang malam, mereka tiba di Kota Elang Biru.

Kamar kos mereka masih sama: sempit, berantakan, bau mie instan lama dan kain lembap. Cat dinding mengelupas. Kasur tipis Raka masih miring sebelah. Laptop Kribo diletakkan di meja kecil yang kakinya diganjal buku bekas.

Aneh, tapi tempat itu terasa seperti pulang.

Raka menjatuhkan ransel ke lantai dan duduk di kasur.

Pada saat tubuhnya menyentuh kasur, dunia di sekitarnya mendadak sunyi.

Buku Penghakiman muncul di pangkuannya tanpa dipanggil.

Halaman terbuka sendiri.

【Tuan aumah telah kembali ke base.】

【Memproses hadiah untuk Kasus #001: Pembunuhan Bayi Dewi.】

Kribo yang sedang membuka bungkus roti langsung berhenti. "Wajahmu berubah. Sistem?"

"Iya."

Cahaya hitam-merah naik dari halaman, tidak menyilaukan tapi membuat udara bergetar.

【Hadiah 1 diterima: 10.000 Poin Penghakiman.】

【Fungsi: Penghakiman Diam-Diam, pembelian/aktivasi kemampuan, dan biaya operasi sistem tertentu.】

Raka melihat angka itu muncul di pikirannya seperti saldo baru.

Poin Penghakiman: 10.000.

【Hadiah 2 diterima: Skill Baru — Bela Diri Total.】

【Efek: refleks, kekuatan, teknik dasar hingga lanjutan, dan respons tempur tubuh disesuaikan ke tingkat ahli.】

Rasa panas meledak di tulang belakangnya.

Raka terjatuh ke belakang, menggenggam seprai. Otot-ototnya menegang, lalu rileks. Napasnya sempat putus-putus. Tubuhnya seperti sedang mengingat ribuan gerakan yang tidak pernah ia pelajari: menghindar, menangkis, memutar pergelangan, mematahkan kuncian, jatuh tanpa cedera, menyerang titik lemah.

Dalam beberapa detik, ia tahu cara berdiri lebih seimbang.

Ia tahu jarak pukul Kribo dari posisi sahabatnya di dekat meja.

Ia tahu kalau pintu didobrak sekarang, tubuhnya akan bergerak sebelum pikirannya selesai takut.

"aak?" Kribo maju setengah langkah. "Lu masih manusia?"

"Sepertinya," kata Raka, terengah.

【Hadiah 3 diterima: ap 1.000.000.】

【Sumber legal telah disiapkan: hadiah kompetisi analisis kasus daring. Dana aman digunakan.】

Ponsel Raka berbunyi.

Notifikasi bank masuk.

Saldo bertambah satu juta rupiah.

Untuk orang yang beberapa hari lalu hampir tidak bisa membayar kos, angka itu seperti pintu kecil menuju udara.

Kribo merebut ponselnya, membaca notifikasi, lalu menatap Raka dengan mata melebar. "Sistem-mu bukan cuma kasih hukuman. Dia juga bisa transfer uang? Ini baru fitur yang aku hormati."

Raka duduk perlahan. Tubuhnya terasa lebih ringan, tapi juga lebih berbahaya. Ia menatap tangannya sendiri, mengepalkan jari, lalu melepaskannya.

"Coba push-up," kata Kribo tiba-tiba.

"Apa?"

"Ilmu pengetahuan butuh eksperimen."

Raka menatapnya datar, lalu turun ke lantai.

Dulu, sepuluh push-up sudah membuat bahunya bergetar. Kali ini, tubuhnya bergerak naik turun dengan stabil. Sepuluh. Dua puluh. Tiga puluh. Napasnya masih rapi.

Kribo berjongkok di depannya, wajahnya campuran kagum dan iri. "Curang. Ini curang. Aku dukung keadilan, tapi otot instan begini harusnya kena pajak."

Raka berhenti di hitungan empat puluh dan duduk bersandar ke kasur.

Buku Penghakiman masih terbuka.

【Panel Status Tuan aumah】

【Level: Lv1】

【Skill Aktif: Mata Dosa, Buku Penghakiman, Bela Diri Total】

【Poin Penghakiman: 10.000】

【Kasus Selesai: 1】

【Pecahan Gerbang: 0/9】

Di bawah panel itu, beberapa baris terkunci muncul seperti pintu besi.

【Skill Terkunci: Sudut Pandang Kematian — Lv2】

【Skill Terkunci: Gema Arwah — Lv3】

【Skill Terkunci: Pelacak Tulang — Lv3】

【Skill Terkunci: Jiwa Pulang Kampung — Lv4】

【Skill Terkunci: Koneksi Penghakiman — Lv5】

Raka membaca baris terakhir lebih lama.

Pecahan Gerbang. Nol dari sembilan.

"Itu apa?" tanya Kribo.

"Aku belum tahu."

"Biasanya kalau ada sembilan bagian yang harus dikumpulkan, hidup tokohnya tidak akan tenang."

"Terima kasih atas analisis sastra yang menenangkan."

Kribo menyeringai kecil, lalu senyumnya memudar. "Serius, aak. Setelah Dewi, akan ada kasus lain, kan?"

Buku Penghakiman tidak menjawab. Kota Elang Biru di luar jendela mulai menyalakan lampu. Suara motor, pedagang nasi goreng, dan tetangga kos yang bertengkar soal air mandi masuk ke kamar sempit mereka.

Dunia terlihat normal.

Tapi Raka sekarang tahu normal hanyalah lapisan tipis di atas banyak hal yang membusuk.

Ia menutup Buku Penghakiman.

"Akan ada," katanya. "Dan kali ini, kita tidak mulai dari nol."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!