NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13 - KALAU DIA BERANI, PASANG ZIRAHMU

Pagi setelah malam yang kacau itu, vila keluarga Wijaya terasa lengang dan muram. Para pelayan berjalan dengan ujung kaki, seolah takut membangunkan suasana pekat yang menyelimuti rumah itu sejak subuh. Di ruang keluarga, Kirana dan Ratih duduk berhadapan dalam keheningan yang berat, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Kirana menatap cangkir teh di tangannya yang sudah dingin. Pikirannya melayang ke sosok berbalut kabut itu; nama "Rangga Adinata" terpatri di dalam Gelang Lentera, dan beban itu tidak berani ia ceritakan kepada siapa pun kecuali kepada ibunya. Sementara di hadapannya, ibunya sendiri masih membara oleh perlakuan ayahnya yang berat sebelah dan selalu memihak Sekar.

"Bu, apa Ibu sungguh-sungguh ingin bercerai dengan Ayah?" tanya Kirana akhirnya, memecah keheningan yang menggantung sejak tadi. "Aku memang tidak bisa memahami Ayah yang begitu baik kepada Sekar. Tetapi perasaanku berkata bahwa Sekar bukanlah anak kandung Ayah. Dulu, ketika Ibu mengadopsinya, bukankah Ibu diam-diam melakukan pemeriksaan darah keturunan?"

"Dari raut wajah sampai perangainya, tidak ada sedikit pun kemiripan di antara mereka berdua," kata Kirana menambahkan, menegaskan dugaan yang sudah lama ia pendam di dalam hati.

"Kecuali kalau memang terjadi mutasi di dalam darah Sekar, dan itu pun sangat mustahil terjadi tanpa meninggalkan jejak apa pun di tubuhnya. Sebab darah tidak pernah berbohong, apa lagi soal garis keturunan."

"Tetapi tingkat mutasi sebesar itu terlalu besar untuk sekadar sebuah kebetulan; mustahil tidak menimbulkan tanda apa pun di wajah maupun perangainya."

Ratih mengerutkan dahi: "Ibu tahu. Tetapi dia terlalu baik kepada Sekar! Kemarin Danendra tidak bisa datang ke pernikahan, jelas-jelas karena Sekar! Tetapi ayahmu malah menegur Ibu, bilang Ibu tidak tahu diri! Pokoknya, Ibu tidak bisa menelan perlakuan ini begitu saja!"

Kirana menenangkan ibunya dengan sabar: "Bu, Danendra sudah berlalu. Dia tidak penting, jadi Sekar pun tidak penting. Ibu tidak perlu bercerai karena urusanku. Tentu saja, kalau Ayah benar-benar berbuat salah kepada Ibu, maka Ibu berhak bercerai dan aku mendukung penuh. Lagi pula, menampar itu perbuatan yang salah; kalau sekali dibiarkan, bisa berulang, dan Ibu tidak boleh memakluminya! Kalau dia berani menampar Ibu lagi, laporkan saja kepada penjaga kota!"

"Ibu juga berpikir begitu!" Ratih mengangguk mantap, matanya menyala oleh semangat yang baru. "Sejak dulu Ibu tidak sudi diperlakukan seperti ini, apa lagi terus dibentak-bentak demi membela Sekar."

Saat ibu dan anak tengah berbincang, pintu terbuka, dan Pradipta masuk dengan tergesa: "Bu, Kakek memanggil Rara."

Kecuali Kirana dan Ratih, seluruh keluarga Wijaya belum mengetahui jati diri sebenarnya dari mempelai pria semalam. Bagi mereka, pria itu hanyalah orang asing yang kebetulan ditemui Kirana di saat-saat yang paling genting.

Di tengah perjalanan menuju ruang kerja Ki Ageng, Pradipta menegur dengan suara rendah: "Semua ini karena kau, sampai-sampai Ayah dan Ibu mau bercerai!"

Kirana mengangkat mata, menatap kakak keduanya yang sehari-harinya berkutat di dunia panggung hiburan itu, tempat ia mengejar popularitas dan tepuk tangan.

Ia mencibir dingin: "Kenapa kau tidak menyalahkan Danendra dan Sekar saja? Kalau saja mereka tidak membuat kekacauan kemarin, tidak akan ada apa-apa yang harus diperdebatkan."

"Kenapa kau bicara seperti itu? Sekar buru-buru berangkat demi menghadiri pernikahanmu, lalu di tengah jalan terjadi kecelakaan. Kalau Danendra tidak menyelamatkannya tepat waktu, dia mungkin sudah tidak bernyawa! Kau seharusnya berterima kasih, bukan mencaci-maki!"

Kirana tidak mau repot mendengarkan alasan-alasan semacam itu. Ia hanya melangkah terus, meninggalkan kakaknya yang masih bersungut-sungut di belakang; pikirannya sudah jauh, menimbang-nimbang bagaimana sebaiknya menghadapi Kakek di ruang kerja itu nanti.

"Saat Sekar kecelakaan, reaksi pertamamu justru meminta bantuan calon kakak iparmu sendiri. Apakah itu wajar? Kau kira kau bisa membodohi siapa saja dengan alasan yang dibuat-buat seperti itu?"

"Pradipta, kalau kau begitu menyayangi Sekar, jadikan saja dia adik kandungmu sepenuhnya mulai hari ini. Dengan begitu kau tidak perlu lagi bersusah payah membelanya di depan siapa pun."

"Kau pikir aku sudi menjadi kakakmu?!" Wajah Pradipta memerah; ia menghentikan langkah dan menatap Kirana dengan tajam. "Kau sendiri yang selalu merecoki urusan keluarga!"

"Kalau begitu, aku tidak akan memaksamu," jawab Kirana tenang, tanpa sedikit pun terpengaruh oleh amarah kakaknya.

Kirana mengabaikan Pradipta yang mondar-mandir kesal, lalu meneruskan langkahnya. Begitu pintu ruang kerja kakek tertutup di belakangnya, kakak kedua itu pun terisolasi sendirian di balik pintu, mengomel tanpa ada yang mendengarkan.

Ki Ageng duduk di sofa, mengenakan kacamata baca, sedang menekuni sebuah buku resep kuno yang ia pegang dengan penuh hormat.

Resep-resep Alam Kuna sudah lama lenyap ditelan zaman. Buku yang dipegang Ki Ageng itu disusun bertahun-tahun dari manuskrip-manuskrip yang tersebar di berbagai tempat; banyak bagian di dalamnya tidak lengkap, tetapi Ki Ageng tetap menyimpannya seperti harta pusaka yang tak ternilai harganya.

Sebab di zaman sekarang, manuskrip yang remuk dan tidak utuh pun bisa laku dengan harga selangit di pasaran. Orang-orang berlomba memburunya demi satu atau dua resep yang masih terbaca jelas.

Begitu melihat cucunya masuk, Ki Ageng meletakkan buku itu dengan hati-hati ke dalam kotak kaca di atas meja, seolah menyimpan mutiara yang paling berharga di dunia.

Kirana hanya meliriknya sekilas, lalu mengalihkan pandangan. Ia tidak merasa perlu berlama-lama menatap isi buku itu.

Ketika jiwanya menjelajah Alam Kuna dulu, ia kebetulan menetap dalam keluarga peracik ramu yang ternama. Jumlah resep yang tercatat dalam buku itu bahkan tidak sebanding dengan jumlah resep yang ia kuasai sekarang.

Tentu saja, Kirana tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun; ia tahu betul bagaimana beratnya memikul rahasia sebesar itu sendirian, bahkan kepada ibunya sendiri pun ia belum pernah membuka mulut soal warisan Alam Kuna itu.

Ia berkata dengan sopan: "Kakek, ada apa gerangan Kakek memanggil Rara?"

"Di mana pemuda itu?" Ki Ageng bertanya singkat, menatap cucunya dari balik kacamata bacanya dengan mata yang masih awas.

"...Dia ada urusan, jadi pergi lebih dulu." Kirana masih segan kepada kakeknya. Meskipun ia tidak ingin membohongi kakek, siapa tahu besok ia dan Rangga sudah putus hubungan; lebih baik tidak menambah persoalan di saat seperti ini.

Ia bangkit menghampiri meja teh, menuangkan secangkir untuk kakek dengan tangan yang sengaja dibuat tenang: "Kakek, dalam keadaan seperti itu, kalau Rara tidak segera menemukan seseorang untuk dinikahi, Rara bisa saja dijodohkan secara acak oleh Arsip Agung. Bagaimana kalau yang ditunjuk adalah pria berwajah buruk dan berhati gelap? Bukankah itu lebih mengerikan daripada menikah dengan pemuda yang Rara kenal?"

Ki Ageng menerima cangkir teh itu, agak bingung dengan pembelaan cucunya, lalu bertanya perlahan: "Kalau begitu, kau menyukai pemuda itu?"

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!