Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Foto Lama Cheryl
Pagi berikutnya, tiga unggahan baru Cheryl memenuhi akun gosip.
Foto pertama diambil saat awal Prima Aeroteknik berdiri. Cheryl berdiri di belakang Nathan dengan tangan di bahunya. Foto kedua memperlihatkan mereka makan malam di luar negeri. Foto terakhir menampilkan Cheryl tertidur di kursi bandara dengan jaket Nathan menutupi tubuhnya.
Semua diunggah dengan kalimat pendek tentang kenangan yang tidak berubah.
Renata melihatnya sambil menunggu ruang server dibuka.
Ia menutup Instagram sebelum anggota tim lain masuk.
Nathan datang beberapa menit kemudian. “Kita perlu bicara tentang laporan vendor.”
“Kirim melalui jalur proyek.”
“Aku bisa jelaskan sekarang.”
“Nggak perlu.”
Perubahan nada itu membuat Nathan mengernyit. Semalam Renata masih mau bekerja di meja yang sama. Pagi ini, ia bahkan tidak melihat wajahnya.
Di Jakarta, Cheryl memperhatikan jumlah tayangan naik. Ia sengaja memilih foto yang tidak memiliki tanggal jelas. Orang-orang akan mengira kedekatan tersebut masih berlangsung.
Pesan Nathan sudah masuk sejak malam.
Kenapa kamu mengunggah foto lama?
Cheryl menunggu sampai pagi sebelum membuka pesan. Ia membiarkan tanda sudah dibaca muncul, lalu tidak menjawab selama dua jam.
Ketika pesan kedua datang, ia tersenyum.
Berhenti. Jangan buat masalah lagi.
Cheryl hanya membalas satu kalimat.
Kamu masih peduli, berarti memang belum berubah.
Setelah itu, ia mengarsipkan percakapan dan kembali mematikan notifikasi. Ia tidak membutuhkan Nathan membalas dengan mesra. Ia hanya membutuhkan Renata melihat bahwa mereka masih saling menghubungi.
Kesempatan itu muncul menjelang siang.
Nathan meletakkan ponselnya di meja ruang kerja saat membantu memeriksa nomor komponen. Layar menyala karena balasan Cheryl.
Renata kebetulan berada di sampingnya.
Di layar terlihat nama Cheryl, potongan kalimat belum berubah, dan tanda bahwa Nathan baru saja mengirim dua pesan.
Renata tidak melihat isi lengkapnya. Ia hanya melihat percakapan yang terus berlangsung setelah foto-foto itu diunggah.
Nathan mengambil ponsel. “Dia sengaja membuat masalah.”
“Itu urusanmu.”
“Aku sudah menyuruhnya berhenti.”
Renata tertawa pendek tanpa kehangatan. “Kamu nggak perlu menjelaskan kepadaku.”
“Tapi sikapmu berubah sejak pagi.”
“Saya sedang bekerja.”
Ia membawa berkas ke meja lain dan meminta semua komunikasi berikutnya melalui Liam.
Nathan membuka percakapan itu lagi. Ia mempertimbangkan menunjukkan layar kepada Renata, tetapi kebiasaan lama menahannya. Baginya, meminta Cheryl berhenti sudah cukup. Ia tidak memahami bahwa orang yang tiga tahun dibiarkan menebak tidak lagi sanggup percaya pada penjelasan setengah.
Ia mengirim pesan ketiga.
Hapus foto-foto itu. Jangan hubungi Rena atau keluargaku.
Pesan hanya menunjukkan terkirim. Cheryl tetap tidak menjawab.
Nathan menelepon, tetapi panggilan masuk ke pesan suara. Ia merasa kesal karena diabaikan, lalu lebih kesal lagi ketika melihat Renata bekerja seolah dirinya tidak ada.
“Kamu percaya foto itu?” tanyanya.
Renata tidak berhenti mengetik. “Saya percaya mata saya.”
“Foto lama nggak menjelaskan keadaan sekarang.”
“Benar. Keadaan sekarang dijelaskan oleh percakapan yang masih berjalan.”
Nathan membuka mulut, tetapi Xavier masuk sebelum penjelasan keluar. Kesempatan itu lewat, dan seperti banyak kesempatan lain, Nathan membiarkannya.
Nathan ingin mengejar, tetapi Xavier masuk bersama koordinator proyek.
“Ada hasil dari kapal kedua,” kata Xavier. “Identitas awaknya palsu. Kita perlu menyelesaikan laporan sebelum mereka menghapus jejak lain.”
Renata langsung beralih ke pekerjaan.
Mereka menemukan bahwa perangkat asing hanya mengirim ringkasan status, bukan isi data utama. Itu berarti kebocoran berhasil dihentikan sebelum berkembang. Renata menyiapkan daftar perbaikan dan meminta Purnama mengganti seluruh izin vendor lama secara bertahap, bukan mematikan sistem mendadak.
“Kalau semua akses ditutup sekaligus, pelaku tahu kita sudah menemukannya,” jelasnya. “Tim lokal harus menjaga layanan tetap berjalan sambil penyelidikan resmi dilakukan.”
Liam mencatat setiap langkah. Xavier menyetujui penambahan personel keamanan dan audit pemasok. Nathan menyerahkan daftar kontak Prima yang dapat diverifikasi tanpa meminta imbalan atau akses tambahan.
Di permukaan, kerja sama mereka berjalan semakin baik. Di antara Renata dan Nathan, jarak justru bertambah setiap jam.
Ia mempercepat pemeriksaan, menyusun temuan, dan membagi tugas tambahan. Ketika seorang staf menyarankan mereka tinggal dua hari lagi untuk memeriksa jaringan pendukung, Renata menolak.
“Kita selesaikan ruang lingkup awal besok. Pemeriksaan lanjutan bisa dilakukan tim lokal dengan pengawasan jarak jauh.”
Xavier menatapnya. “Kemarin Anda bilang mungkin perlu satu hari tambahan.”
“Sekarang nggak perlu.”
“Karena pekerjaan atau hal lain?”
Renata mengangkat wajah.
Xavier tidak menekan. “Baik. Saya siapkan kepulangan sesuai jadwal.”
Sore hari, ia mengosongkan satu jam dalam agenda dan meminta Liam menunjukkan jalur pantai yang paling sepi kepada Renata.
“Saya nggak butuh ditemani,” kata Renata.
“Memang tidak. Jalurnya aman. Saya cuma memastikan orang lain tahu Anda ingin sendiri.”
Xavier membawa Nathan ke ruang komunikasi dengan alasan memeriksa sambungan Prima. Ia tidak bertanya tentang masalah rumah tangga mereka.
Perbedaan itu terasa jelas. Xavier melihat Renata membutuhkan ruang dan memberikannya. Nathan melihat perubahan Renata, lalu menuntut penjelasan yang tidak pernah ia berikan ketika dirinya sendiri menghilang.
Renata berdiri di ujung dermaga selama matahari turun. Angin mengibaskan bajunya. Ia mengulang semua fakta yang seharusnya cukup menjaga akal sehat.
Foto itu lama. Nathan mungkin hanya meminta Cheryl menghapusnya. Ia bahkan mengatakan demikian.
Namun bukankah Nathan selalu punya alasan masuk akal setiap kali memilih Cheryl?
Rena hampir jatuh. Cheryl butuh bantuan. Cheryl hanya teman lama. Cheryl pernah menyelamatkan hidupnya.
Tiga tahun dibangun dari alasan-alasan yang masing-masing terdengar kecil.
Renata tidak mau menambahkan satu alasan lagi untuk membujuk dirinya bertahan.
Malam itu ia mengirim pesan kepada Gerald.
Setelah kembali ke Jakarta, lanjutkan mediasi. Siapkan semua dokumen pemisahan. Saya tidak ingin ada penundaan baru.
Gerald membalas bahwa ia akan menyiapkan jadwal.
Renata menutup percakapan dan menghapus draf pesan yang sempat ingin ia kirim kepada Nathan. Tidak ada gunanya bertanya apakah foto-foto tersebut masih berarti. Jika jawabannya tidak, tiga tahun tetap tidak kembali. Jika jawabannya iya, ia hanya akan terluka sekali lagi.
Tania mengirim tangkapan layar yang menunjukkan waktu unggahan Cheryl tersusun terjadwal. Renata belum membuka analisis lengkapnya. Ia hanya melihat nama Cheryl, menutup pesan, dan meletakkan ponsel terbalik.
Malam itu, kebenaran sudah mulai mendekat. Renata terlalu lelah untuk mempercayainya.
Di ruang tengah, Nathan membaca ulang dua pesan kasarnya kepada Cheryl. Ia baru sadar Renata mungkin tidak melihat isinya.
Ia berjalan ke kamar Renata dan mengetuk.
“Rena, buka sebentar.”
Tidak ada jawaban.
Nathan hendak mengetuk lagi ketika mendengar suara sangat pelan dari dalam. Bukan tangisan keras, hanya napas yang ditahan dan satu isakan yang segera dibungkam.
Tangannya berhenti di udara.
Di balik pintu, Renata duduk membelakanginya. Ponsel berada dalam genggaman, sementara bahunya bergetar tipis.
Nathan tidak berani masuk.