NovelToon NovelToon
Mechabest

Mechabest

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Penyelamat / Action
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

​Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.

​Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Mechabest, Seribu Masalah

Suasana di Ruang Komando Utama pagi ini terasa agak berbeda. Setelah data peretas kemarin berhasil dianalisis oleh Opik, terkuak satu lokasi tempat persembunyian sang dalang utama yang berada di pinggiran batas Kota Mecha.

Masalahnya, Sahla sedang sibuk dengan jadwal perawatan baju zirah Mecha Watch-nya, sementara Alifian sedang dikarantina ringan karena kepalanya pusing kebanyakan pamer teori penerbangan. Jadilah untuk misi kali ini, hanya Yasing dan Maul yang diterjunkan, didampingi langsung oleh senior mereka yang paling ajaib: Bang Pasya.

Di depan pintu ruang keberangkatan, Teh Caca berdiri bersedekap dada. Kerudung taktisnya terpasang rapi, tapi raut wajahnya kelihatan cemas setengah mati. Matanya bergantian menatap Pasya, Yasing, dan Maul.

"Ingat ya, kalian bertiga," ujar Teh Caca dengan nada penuh penekanan. "Ini misi penangkapan dalang peretasan, bukan ajang pamer jurus atau bikin rusuh. Pasya, lu sebagai senior harusnya bisa ngawasin mereka, bukan malah ngajak sengklek!"

Bang Pasya langsung merapikan jaketnya, mengusap dagu dengan gaya super karismatik. "Tenang aja, Ca. Gua ini kan pahlawan senior penuh wibawa. Dua bocah ini bakal berada di bawah kendali penuh kepemimpinan gua yang sangat berkelas."

Yasing menyeringai lebar sambil menepuk-nepuk Mecha Watch di tangannya. "Siap, Teh Caca! Saya bakal hajar dalangnya sampai kapok!"

Sementara Maul berdiri di sebelah Yasing dengan wajah plenger tanpa dosanya, menyandarkan tubuh ke dinding. "Iya, Teh. Santai aja. Kalau Yasing sama Bang Pasya kelewat konyol, gua siap jadi orang paling GGWP yang memantau kebodohan mereka."

Teh Caca memijat pelipisnya pelan. Firasat sang komandan makin tidak enak. Tiga orang ini kalau digabungin bukan jadi tim tempur, tapi jadi konsosium Trouble Maker, batin Teh Caca pasrah.

Dengan menunggangi mobil taktis berkecepatan tinggi, ketiganya meluncur menuju sebuah gudang penyimpanan tua di batas kota. Di sepanjang jalan, bukannya menyusun strategi, Bang Pasya dan Yasing malah asyik adu mekanik menyanyikan lagu-lagu jadul dengan suara sumbang, sementara Maul sibuk melempar komentar sarkas dari kursi belakang.

"Kalian berdua kalau audisi nyanyi, jurinya langsung pensiun dini sih," celetuk Maul datar.

"Diem lu, Ul! Lu gak tahu keindahan seni vokal tingkat tinggi!" sahut Yasing tak terima.

Satu jam kemudian, mobil bertumpu di balik semak-semak tak jauh dari gudang sasaran. Opik menghubungkan sinyal intercom dari markas pusat.

"Dengerin gua," suara Opik terdengar dari earphone mereka. "Di dalam gudang itu ada sinyal pemancar utama. Dalangnya ada di sana. Jangan langsung dobrak, gua saranin masuk lewat ventilasi belakang secara senyap."

"Oke, siap Pik!" balas Bang Pasya penuh percaya diri.

Namun, baru saja Opik mematikan sambungan telepon, Pasya menatap Yasing dan Maul dengan mata berbinar-binar. Gaya sok keren seniornya mendadak luntur seratus persen.

"Penyerbuan senyap itu membosankan, der," bisik Bang Pasya sambil tersenyum jahil. "Gimana kalau kita panggil dalangnya pakai salam pembuka yang menggelegar?"

Yasing matanya langsung berbinar-binar antusias. "Setuju banget, Bang! Gaya pahlawan sejati tuh harus dramatis!"

Maul cuma menghela napas berat, menggeleng-gelengkan kepala melihat dua temannya. "Bagus. Rencana murni dari dua otak berkapasitas setengah gigabyte. Gua ikut aja deh, males debat."

Tanpa membuang waktu, Yasing menekan jamnya dan bertransformasi ke Mode Singa (Merah). Bang Pasya mengaktifkan Mode Cobra (Hijau Tua), sedangkan Maul memutar jamnya ke Mode Gorila (Biru Tua).

Bukannya masuk lewat belakang seperti arahan Opik, Yasing dan Bang Pasya malah berlari bersamaan ke arah pintu depan gudang yang terbuat dari gerbang besi berlapis.

"PENYERBUAN MECHABEST!" teriak Yasing dan Bang Pasya serempak.

BRANGGG! DUMMM!

Yasing menendang gerbang besi itu sampai terlepas dari engselnya dan terbang melayang ke dalam gudang, sementara Bang Pasya menembakkan gelombang racun hiasan yang memercikkan warna-warni heboh ke udara.

Di dalam gudang, seorang pria berjas hitam canggih yang sedang sibuk memindahkan data langsung melompat kaget dari kursinya. Puluhan anak buahnya yang bersenjata meriam laser otomatis langsung siaga dan mengepung pintu masuk.

"Hah?! Mechabest?!" jerit sang dalang peretas panik. "Serang mereka sekarang!"

Anak buah musuh langsung menembakkan hujan laser ke arah pintu.

Maul yang berada di belakang menggelengkan kepala melihat kekacauan yang diciptakan dua temannya. "Kan... bener kata Teh Caca," gumam Maul datar. Dengan Mode Gorila-nya, Maul maju paling depan, mengangkat lempengan pintu besi yang tadi ditendang Yasing buat dijadikan tameng raksasa.

TAK-TAK-TAK-TAK-TAK!

Ratusan tembakan laser menghantam pintu besi di tangan Maul. Maul cuma menatap musuh dari balik tameng dengan muka plenger-nya. "Tembak terus, Bang. Mumpung gua lagi butuh efek pijat di lengan."

"Serang dari atas, Yasing!" panggil Bang Pasya sambil melompat ke tumpukan kontainer, lalu menembakkan semprotan racun pengganggu pandangan ke arah para pengawal.

"Siap, Bang!" Yasing memanfaatkan pundak Mode Gorila Maul sebagai pijakan, lalu melompat tinggi ke udara. Dengan cakar api Mode Singa-nya, Yasing menebas senjata-senjata laser milik musuh hingga hancur berkeping-keping.

Melihat seluruh pengawalnya tumbang dalam hitungan detik gara-gara kombinasi serangan kacau tapi mematikan dari tiga pahlawan ini, sang dalang peretas gemetaran hebat. Dia mencoba berlari menuju pintu belakang sambil membawa drive penyimpanan data.

"Mau kabur ke mana lu, Om?!" celetuk Maul yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu belakang dengan gaya santainya.

Sebelum sang dalang sempat berbuat apa-apa, Maul cukup memberikan satu jentikan jari berenergi Mode Gorila tepat di dahi sang peretas. CTAK! Sang dalang langsung tumpah terlentang di lantai, pingsan seketika dengan benjol merah di jidatnya.

"Selesai. Gampang banget," pungkasi Maul sambil meniup jarinya, sok cool.

Di Ruang Komando Pusat, Teh Caca menatap layar monitor yang menampilkan gudang sasaran yang kini pintunya jebol, atapnya berlubang, dan sebagian dindingnya belepotan warna racun hijau.

Di layar transmisi, tampak Pasya, Yasing, dan Maul sedang berfoto selfie bertiga di atas tubuh sang dalang peretas yang pingsan.

"Teh Caca! Misi sukses besar! Dalangnya udah dapet!" seru Yasing girang lewat mikrofon.

Teh Caca menarik napas panjang, menepuk jidatnya sendiri di depan Opik dan Prof. Einstein yang cuma bisa tertawa geli.

"Firasat gue beneran gak pernah salah..." gumam Teh Caca pasrah. "Tiga orang itu bener-bener trouble maker sejati!"

1
Ayyasying
GG BANGET BANG! GACORRR!!N/Drool//Drool//Smile/
Dwi Agustina
keren banget ceritanya 👍👍
Dwi Agustina
keren Abang, lnajutkan berkarya 💪💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!