NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:45
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekam Medis Subjek 0

Di hadapan layar yang berkedip menayangkan pesan merah mendikte, jemari Nio membeku seketika.

"Periksa... lipatan kertas?" bisik Nora membaca tulisan di monitor dengan napas terengah.

Tangan kanan Nio merogoh saku jaketnya, mengeluarkan selembar kertas kosong yang selalu menemaninya.

Dengan napas tertahan, Nio membuka lipatan tipis di pojok bawah kertas polos tersebut.

Di sana, terukir deretan angka micro-stamping hitam yang memancar di bawah pendar hijau indikator server: 00-MNM-2016.

"Apa itu, Nio?! Kenapa ada tulisan di kertas kosongmu?!" desak Nora merapat.

"Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku," gumam Nio datar.

'Angka ini... kode enkripsi lokal untuk membongkar berkas yang dikunci Zero!' batin Nio menyadari taktik musuhnya.

"Nio! Layarnya makin cepat menghapus! 99%... data Milo bakal lenyap!" jerit Nora histeris.

Tanpa membuang waktu, Nio mengetikkan delapan digit kode tersebut ke dalam baris perintah override terminal.

Brak!

Suara sirene penghapusan mendadak mati, berganti dengan denting halus sinyal dekripsi yang berhasil menembus barikade sistem.

Bilah persentase penghapusan menyusut tajam, lalu layar bertransisi menampilkan berkas tua berformat .RAW bertanggal 14 November 2016.

"S-berkasnya berhenti terhapus... kamu berhasil?!" tanya Nora dengan mata berbinar tak percaya.

"Suara Zero tadi cuma distraksi psikologis. Dia ingin kita panik dan merusak terminal ini," jawab Nio dingin.

Folder bertuliskan [Subjek Nio - Tabula Rasa] terbuka, menampilkan puluhan pemindaian tomografi otak dan rekam medis digital.

Di sudut atas dokumen tersebut, tertera stempel merah tebal bertuliskan Riset Proyek Mnemnosyne: Subjek 0.

"Subjek 0...?" bisik Nora bingung. "Kenapa bukan Subjek Nio?"

"Nio adalah cara mereka mengeja angka nol," sahut Nio dengan suara serak, merasakan pelipisnya mendadak berdenyut hebat.

Mata Nio terpaku pada kolom catatan medis yang membeberkan riwayat pembedahan saraf sepuluh tahun lalu.

Catatan Eksperimen #001 (14/11/2016): Subjek 0 menolak secara agresif protokol penghapusan memori standar. Respon trauma berulang menyebabkan kejang lobus temporal.

'Rasa sakit di kepalaku... kejang di ruang sterilisasi itu... semuanya tercatat di sini!'

Nio mengepalkan tangannya di atas meja, menahan pening pekat yang memburu kesadarannya.

"Nio, wajah kamu makin pucat... Kamu yakin mau lanjut?" tanya Nora cemas seraya memegang lengan Nio.

"Jangan ganggu gue. Fokus cari berkas adik lu," pangkas Nio tanpa mengalihkan pandangan.

Di bawah lembar rekam medis, terdapat sebuah berkas pemutar audio analog dengan durasi tiga menit.

Jemari Nio menekan tombol Play, memicu desis statis nyaring dari pengeras suara internal terminal.

Sssshhhk...

Suara dentang alat medis berbahan logam terdengar jelas, disusul derak napas berat seseorang yang terikat di atas meja operasi.

"Lepaskan... lepaskan gue!" teriak suara pemuda dalam rekaman itu, sarat akan kemarahan dan ketakutan.

Nio tersentak hebat, mengenali frekuensi vokal tersebut yang terasa sangat dekat dengan tenggorokannya sendiri.

'Itu... suara gue sepuluh tahun lalu?!'

"Protokol injeksi pembersih ingatan tahap tiga dimulai. Suntikkan serum Mnemnosyne ke korteks serebral," tutur suara dingin Zero versi muda.

"Tidaaak! JANGAAAAN!! GU-GUE PUNYA NAMA! NAMA GUE—"

Bzzzzzt!

Suara jeritan melengking memecah rekaman, menyatukan dentum frekuensi tinggi yang membuat speaker terminal bergetar hebat.

"Nio! Matikan suaranya! Ini mengerikan sekali!" jerit Nora seraya menutup kedua telinganya rapat-rapat.

Namun Nio bergeming, matanya terbuka lebar menatap garis gelombang suara yang mendatar secara perlahan.

Dari pengeras suara, terdengar suara napas terengah-engah dari pemuda yang kini tak lagi berteriak.

"Sebutkan namamu, Subjek 0," perintah Zero dalam log audio tersebut.

Pening di kepala Nio mengejawantah menjadi siksaan fisik yang membakar saraf pusatnya.

Di dalam rekaman, pemuda itu menjawab dengan nada polos tanpa emosi, bagai robot yang baru diatur ulang.

"Saya... saya tidak punya nama. Saya adalah kertas kosong."

Klik.

Rekaman audio berakhir, menyisakan senyap pekat yang mencekam di dalam laboratorium terbengkalai itu.

Nora menatap Nio dengan tatapan horor dan penuh belas kasih.

"Nio... jadi selama ini... mereka secara paksa mencabut ingatanmu di ruangan ini?" bisik Nora pelan.

Nio meremas kertas kosong di jemarinya, mencoba mengunci kesadarannya yang hampir runtuh.

"Zero tidak membunuh tubuh; dia mencabut sejarah dari dada manusia," ujar Nio mengulangi kalimatnya dengan intonasi membeku.

'Semua penyangkalan gue selama ini... ketakutan gue pada nama asli... adalah akibat dari protokol pembersihan itu.'

"Lalu... bagaimana dengan berkas Milo, Nio?" cecar Nora panik.

Nio menelan ludah yang terasa pahit, mengklik folder bertuliskan [Milo - Tereliminasi].

Hanya ada satu dokumen pdf pendek di dalamnya, berisi manifes pemindahan subjek percobaan tahun 2021.

Status Subjek Milo: Gagal dalam rekonstruksi memori. Dialihkan ke Fasilitas Karantina Sekunder - Sektor Sembilan.

"Dia masih hidup!" jerit Nora histeris seraya meneteskan air mata. "Milo tidak mati, Nio!"

"Jangan senang dulu, Nora. Sektor Sembilan adalah area isolasi total milik Zero," pangkas Nio menepuk bahu wanita itu.

"Aku tidak peduli! Kita harus ke sana sekarang!" seru Nora memohon.

Sebelum Nio sempat menjawab, monitor terminal mendadak berubah warna menjadi biru pekat.

Pesan baru muncul dengan huruf kapital berukuran besar yang berkedip sistematis.

SISTEM PERTAHANAN MASA LALU DIAKTIFKAN. PENGHANCURAN DIRI DALAM 60 DETIK.

"Zero sengaja mengumpan data ini agar kita terjebak saat fasilitas ini meledak," geram Nio cepat.

Nio mengunduh seluruh data Subjek 0 dan Milo ke dalam drive portabel kecil di sakunya.

BEEP! BEEP! BEEP!

Lampu darurat merah menyala memutar di plafon, diiringi suara dentuman mesin hidrolik yang mulai mengunci seluruh celah keluar.

"Nio, pintu besi tempat kita masuk tadi... engselnya mulai tertutup otomatis!" teriak Nora menunjuk celah koridor.

"Lari sekarang, Nora!" bentak Nio menarik paksa tangan wanita itu.

Mereka melesat keluar dari laboratorium, menerjang kegelapan koridor yang dipenuhi suara reruntuhan beton.

Brak!

Pintu besi berlapis baja di ujung koridor jatuh menutup, menyisakan celah kurang dari setengah meter dari lantai.

"Meluncur sekarang atau lu mati membusuk di sini!" gertak Nio tanpa ragu.

Nio mendorong tubuh Nora hingga wanita itu meluncur mulus melewati celah bawah pintu besi.

Sejurus kemudian, Nio merebahkan badannya, meluncur telentang melewati celah pintu yang hampir menyentuh dadanya.

DUB!

Pintu besi menghantam lantai beton tepat setelah kaki Nio melewati batas bawah.

"Jangan berhenti bernapas! Lari ke luar!" perintah Nio seraya menarik Nora ke balik dinding pembatas pelataran.

BOOOMM!

Gelombang ledakan dari dalam koridor menghantam pintu besi raksasa, menyemburkan asap hitam pekat dan percikan api ke udara malam.

Keduanya terhempas ke tanah, terlindungi oleh ketebalan tembok beton pelataran.

Hening kembali menguasai malam, meninggalkan bau sulfur dan plastik terbakar yang menyengat.

"Kita... kita selamat...?" bisik Nora dengan tubuh gemetar hebat.

Nio meraba drive portabel di sakunya, memastikan bukti eksistensi dirinya dan Milo aman terikat.

"Gue berhasil amankan data Sektor Sembilan. Adik lu punya peluang untuk ditemukan," sahut Nio datar.

"Terima kasih... terima kasih banyak, Nio..." rintih Nora menahan isak tangisnya.

Nio mendongak menatap langit malam yang kelam tanpa bintang, meraba kembali kertas kosong di sakunya.

'Gue adalah Subjek 0. Lembaran kosong yang diciptakan oleh trauma Zero.'

Tiba-tiba, ponsel satelit tua di saku dalam Nio bergetar nyaring, menampilkan nomor tidak dikenal tanpa ID pemanggil.

Nio menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa bersuara.

Dari seberang telepon, suara berwibawa dan hangat yang sangat familier menyapa dengan nada tenang.

"Bagaimana perjalananmu di fasilitas tua itu, Nio?" tanya suara di seberang telepon.

Nio membeku seketika, mengenali vokal tua pemilik kedai di bawah tempat tinggalnya.

"K-Kael...?" desis Nio tak percaya.

Tawa halus terdengar dari ujung saluran, dingin dan sarat misteri.

"Kertas kosong itu... aku yang meletakkannya di sakumu sepuluh tahun lalu, Subjek 0."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!