NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENJELASAN SUSI

Joe menatap wanita itu dengan tatapan bingung namun penuh tanya. "Maaf... kenapa Tante bisa ada di sini dan menolong kami?" tanyanya pelan namun jelas.

Mendengar pertanyaan itu, Mama Rey tersenyum tipis namun matanya terlihat berat seakan menahan kesedihan yang lama tersimpan. "Nanti... setelah kita sampai di tempat tujuan dengan selamat, Tante akan menceritakan semuanya dengan lengkap," jawabnya lembut namun tegas.

Arthur yang duduk di sebelah Joe langsung menyahut dengan nada cemas. "Tapi kita mau ke mana? Sekarang sedang banyak berita orang yang tiba-tiba hilang, lalu tubuhnya dipotong-potong dan organ dalamnya dijual. Siapa pun bisa menjadi korban!"

Lisa yang duduk di kursi depan hanya menoleh sedikit dan berkata tenang, "Apa yang loe katakan itu bisa terjadi — jika loe terus bicara sembarangan dan mencurigai orang yang justru ingin menolong."

Mama Rey menggeleng pelan lalu menenangkan mereka dengan suara yang hangat namun berwibawa. "Kalian berdua tenang aja ya. Kita akan pergi ke rumah Tante yang berada di luar kota, jauh dari keramaian. Di sana aman." Lalu ia menatap Joe dengan tatapan dalam. "Aku tahu kau punya banyak pertanyaan, Joe. Sangat banyak. Tapi simpan dulu semuanya sampai kita tiba. Kita bicara setelah selamat sampai."

Tanpa menunggu jawaban, Lisa membuka laci kecil di bagian belakang mobil dan mengeluarkan kapas bersih, perban, botol alkohol, serta obat merah. Ia menyerahkan barang-barang itu kepada Joe dan Arthur. "Obati luka kalian sendiri di tempat yang bisa dijangkau. Yang sulit nanti kami bantu," ucapnya singkat.

Joe dan Arthur saling pandang, lalu mulai membersihkan luka mereka. Setiap kali alkohol menetes ke kulit yang terluka, mereka berdua meringis kesakitan dan mengerang pelan.

"Sial... perih sekali," gerutu Arthur sambil mengipasi lengannya sendiri.

"Sudah bersyukur masih bisa bergerak," balas Joe sambil menahan napas saat menaburkan obat merah di luka di lengannya.

Tak lama kemudian, kelelahan perlahan menguasai tubuh mereka. Keduanya pun tertidur pulas di kursi belakang mobil yang terus melaju membelah jalan sepi.

Empat jam lebih berlalu. Lisa menepuk bahu Joe pelan. "Bangun. Kita sudah sampai."

Joe dan Arthur terbangun perlahan, mengucek mata yang masih berat. Saat mereka menatap ke luar jendela, pemandangan di depan mata membuat mereka terdiam. Mereka berada di daerah pinggir laut yang sangat sepi. Jauh di kejauhan terlihat ombak memecah di bibir pantai, dan hampir tidak ada rumah penduduk yang terlihat. Hanya ada satu bangunan yang berdiri tidak terlalu besar namun tampak cantik dan rapi, berwarna krem dengan atap cokelat, tidak jauh dari tepi pantai.

Mereka berempat turun dan berjalan menuju rumah itu. Begitu masuk, Mama Rey langsung menyuruh Joe dan Arthur melepas pakaian luar mereka yang ternoda darah. "Lepas saja. Nanti dicuci. Sekarang ikut aku," perintahnya lembut namun tidak bisa dibantah.

Mereka masuk ke sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang perawatan klinik kecil — ada tempat tidur beralaskan kain putih, lemari kaca berisi obat-obatan, dan alat-alat medis yang tersusun rapi di meja.

"Sebenarnya aku adalah seorang dokter," ujar Mama Rey sambil mengambil peralatan perawatan. "Aku membuka klinik kecil di sini untuk warga sekitar yang jarang mendapat pelayanan medis." Ia menunjuk ke arah Lisa yang sedang menyiapkan alat. "Dan Lisa adalah anak angkatku. Dia sudah bersamaku sejak kecil."

Saat Mama Rey sedang membersihkan luka di punggung Joe dengan hati-hati, Joe meringis kesakitan namun tetap bertanya, "Kenapa Tante mau menolong kami? Kita bahkan belum saling kenal lama."

Mama Rey berhenti sejenak, lalu melanjutkan pekerjaannya sambil berbicara pelan. "Karena ibumu, Joe. Aku dan ibumu — Clara — berteman baik sejak masa SMA. Kami selalu bersaing dalam hal-hal yang positif: nilai, prestasi, hingga akhirnya memilih pasangan hidup masing-masing. Kami berjanji akan saling mendukung apa pun yang terjadi."

Di sisi lain, Arthur tiba-tiba menjerit keras saat Lisa membetulkan posisi tangannya yang patah dan memasang gips di sana. "Aduh! Pelan-pelan sedikit saja!"

"Sabar. Kalau tidak kuat, tulangmu tidak akan sembuh lurus," jawab Lisa datar tanpa berhenti bekerja. Setelah selesai dengan tangan, ia mulai membersihkan sayatan di wajah Arthur. Lalu ia menyuntikkan cairan obat ke lengan Arthur. "Obat biar tidak sakit saat dijahit. Tidur sebentar saja." Tak lama kemudian, mata Arthur perlahan tertutup dan ia tertidur pulas. Lisa pun mulai menjahit sayatan di wajahnya dengan hati-hati.

Sementara itu, Joe kembali bertanya, "Tapi Rey pernah bilang... Tante pergi meninggalkan rumah begitu saja. Kenapa Rey berkata begitu?"

Mama Rey menghela napas panjang, lalu duduk di kursi dekat tempat tidur Joe dan mulai menceritakan semuanya dengan perlahan.

"Dulu... ada enam orang sahabat dekat sejak masa sekolah: ayahmu Kevin, Jefri, William, Nisa, Dodi... dan aku. Semua berjalan baik sampai kita dewasa dan mencari jati diri masing-masing. Kevin adalah pemuda yang cerdas dan berpikiran luas. Sayangnya, ia terlibat dengan kelompok mafia yang dipimpin oleh seorang pria bernama Edgar — pria yang sangat kejam, tidak segan membunuh karena alasan sepele. Kevin mulai dari bawah, menjadi penjaga, lalu perlahan naik menjadi orang kepercayaan Edgar.

Edgar memiliki dua anak: David, dan Clara — ibumu, Joe. Clara berbeda jauh dari ayahnya. Dia wanita yang lembut dan baik hati, sama sekali tidak mau hidup dalam dunia kekerasan milik ayahnya. Ketika Edgar mengetahui bahwa Kevin menjalin hubungan dengan putrinya sendiri, ia marah besar dan berniat membunuh Kevin.

Kevin menyadari bahayanya. Ia lalu mengumpulkan kami — Jefri, William, Nisa, dan Dodi — di rumah Jefri yang sederhana. Kami semua kecewa mendengar apa yang telah Kevin lakukan. Tapi kami tetap membantunya — bukan untuk kekerasan, melainkan untuk menyelamatkan nyawa dua orang yang saling mencintai. William yang bekerja di bengkel diam-diam merusak rem mobil Edgar, agar kejadian yang menimpa edgar itu seakan murni kecelakaan. Dengan itu tidak akan ada yang mencurigai kevin. Saat itu Dodi baru menjadi polisi biasa dengan pangkat rendah, ia membantu mengaburkan jejak kejadian agar kasus itu tidak diteliti lebih lanjut.

Setelah kematian Edgar, Kevin menggantikan posisinya. Dodi, William, dan Jefri diajak ikut bersamanya — sebagai bentuk balas budi karena telah membantu. Awalnya semuanya tampak baik. Namun setelah kau lahir, Joe, Kevin dan Clara sepakat untuk berhenti. Mereka tidak ingin kau tumbuh di dunia yang penuh darah. Kevin memutuskan meninggalkan dunia gelap itu.

Tapi Dodi, William, dan Jefri sudah terbiasa hidup kaya mendadak dari bisnis gelap. Mereka tidak siap kembali hidup susah. Maka mereka menyusun rencana — menyingkirkan Kevin dan Clara agar mereka bisa menguasai semuanya sendiri. Aku tahu rencana itu. Aku menentangnya dengan keras. Dodi berubah menjadi orang yang sangat serakah, berbuat apa saja demi keuntungan. Setiap hari aku berdebat dengannya, sampai akhirnya aku memutuskan pergi diam-diam — meninggalkan rumah agar tidak ikut terlibat dalam kejahatan mereka.

Belum lama aku pergi, aku mendengar berita itu — Kevin dan Clara telah tewas. Aku menangis dan berkabung berhari-hari. Aku merasa gagal melindungi sahabatku. Lalu aku mengadopsi seorang anak perempuan dari panti asuhan — itu Lisa — untuk menemaniku hidup di tempat sepi ini.

Beberapa tahun kemudian, seorang pria bernama Steven datang kepadaku. Dia memberi tahu bahwa kau masih hidup, Joe — kau selamat dan dibawa pergi bersamanya. Dan dia membawa putranya, Arthur, untuk melindungimu juga. Sejak hari itu, aku selalu memantau keadaanmu dari jauh, siap membantu jika kau dalam bahaya."

Joe terdiam cukup lama. Seluruh kebenaran yang tersembunyi perlahan terungkap di hadapannya.

Mama Rey menatapnya dengan tatapan lembut namun tegas. "Balas dendam bukan hal yang mudah, Joe. Bukan sekadar emosi dan amarah. Tapi yakinlah — waktu yang tepat pasti akan datang. Untuk sekarang... kau dan Arthur harus pulih dulu. Tubuhmu masih muda, tapi lukamu masih dalam. Pulihkan dirimu sepenuhnya sebelum melangkah lebih jauh."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!