Sinopsis:
Liu Bai berusaha sekuat tenaga untuk mencapai puncak bela diri. Dalam menghadapi kesulitan, Liu Bai harus bertahan dan pantang menyerah. Hanya dengan begitu Liu Bai dapat menerobos dan melanjutkan perjalanan untuk menjadi yang terkuat. Suatu hari murid rendahan Liu Bai menemukan bela diri terkuat yang tidak pernah di sangkanya dan menempatkan dirinya di jalan menuju puncak dunia persilatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAN JF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 24 - Kediaman Keluarga Wu III
"Angkatlah kepala kalian. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya." ujar Liu Bai kepada mereka semua.
Mendengar hal tersebut, Wu Shan dan para pelayan pun kembali mengangkat kepala mereka.
"Sungguh Anak Muda yang baik dan rendah hati." ujar Wu Shan.
'Pembohong.'
'Pembohong.'
Di saat bersamaan, secara kebetulan Sun Wukong dan juga Wu Xinxin bergumam di dalam hati.
"..." Liu Bai hanya terdiam sejenak saat mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Sun Wukong.
'...Terserahlah. Dan entah kenapa, aku juga seperti mendengar hal yang sama saat melihat tatapan tajam yang di arahkan Wu Xinxin padaku.' gumam Liu Bai di dalam hatinya menanggapi perkataan Sun Wukong.
"Ayah..." ujar Wu Xinxin sambil sedikit berjinjit dan mendekatkan mulutnya ke telinga Wu Shan.
"Ada apa, Putriku?" Wu Shan bertanya kepada Wu Xinxin sambil sedikit merendahkan tubuhnya agar mulut Wu Xinxin dapat meraih telinganya.
Wu Xinxin pun berbisik kepada Wu Shan. Sedangkan para pelayan hanya tersenyum kecil. Melihat hal tersebut, Liu Bai hanya dapat menunggu sejenak.
"Hooh... Begitu, ya... Ayah mengerti." ujar Wu Shan saat mendengarkan apa yang di bisikkan oleh Wu Xinxin pada dirinya.
Kemudian, Wu Xinxin dan Wu Shan kembali pada posisi sebelumnya.
"Uhum! Karena kau sudah menyelamatkan Putriku satu-satunya, aku sebagai seorang Ayah akan memberikan imbalan yang selayaknya. Sampai aku membayarnya, aku berharap kau dapat menunggu dan tinggal di kediaman Keluarga Wu kami. Untuk sekarang, kalian berdua beristirahatlah. Aku yakin kalian pasti kelelahan. Kita dapat membahasnya di pagi hari." ujar Wu Shan kepada Liu Bai dan Wu Xinxin.
"Baik, Ayah." ujar Wu Xinxin membalas perkataan Wu Shan.
'Aku penasaran apa yang dia bisikkan pada ayahnya.' gumam Liu Bai di dalam hatinya.
"Aku dengan senang hati menerimanya." ujar Liu Bai membalas perkataan Wu Shan.
"Kalian sudah tahu apa yang harus di lakukan. Pergilah sekarang." ujar Wu Shan kepada para pelayannya.
"Kami mengerti." Para pelayan menjawab dengan serentak sambil sedikit merendahkan tubuhnya. Sesaat setelah itu para pelayan itu terbagi-bagi sesuai dengan tugas yang akan mereka lakukan.
Kemudian ada 2 orang pelayan wanita mendekati Liu Bai.
"Silahkan ikuti kami, Tuan." ujar salah satu pelayan wanita itu kepada Liu Bai.
"Baiklah." ujar Liu Bai membalas perkataan pelayan wanita itu.
Kedua pelayan wanita itu pun berjalan dan di ikuti oleh Liu Bai. Di sana, Liu Bai dan Wu Xinxin berpisah. Wu Xinxin berjalan ke arah yang berlawanan dengan beberapa pelayan wanita yang juga menemani dirinya.
***
Liu Bai yang mengikuti 2 orang pelayan wanita yang menemani dirinya itu pun sampai di depan pintu sebuah ruangan yang cukup besar. Salah satu dari pelayan wanita itu membuka lebar-lebar pintu yang terkunci tersebut dengan kunci yang telah di siapkan sebelumnya.
"Silahkan, Tuan. Ruangan ini akan menjadi kamar anda mulai dari sekarang. Ini kunci ruangan anda." ujar salah satu pelayan wanita itu kepada Liu Bai sambil menyerahkan kunci yang di bawanya tersebut.
Liu Bai pun berjalan memasuki ruangan tersebut setelah menerima kunci yang di berikan padanya dan melihat seluruh ruangannya dari tempatnya berdiri.
"Kami permisi terlebih dahulu, Tuan. Segera kami akan menyiapkan beberapa pakaian dan juga makanan." ujar salah satu pelayan wanita itu kepada Liu Bai.
"Baiklah. Terimakasih." ujar Liu Bai membalas perkataan pelayan wanita itu.
Kemudian, 2 orang pelayan wanita itu pun beranjak pergi meninggalkan Liu Bai di dalam ruangannya.
"Aku seperti sedang bermimpi karena mendapatkan tempat yang layak untuk di tinggali seperti ini. Aku sangat bersyukur walaupun hanya untuk sementara." ujar Liu Bai sambil mengeluarkan 3 bungkusan kain berisi Pil miliknya dan 1 kantung berisi koin. Liu Bai meletakkannya di meja kecil di sebelah tempat tidurnya, termasuk kunci yang baru saja di bawanya.
Tok-! Tok-! Tok-!
Suara ketukan pada pintu sontak terdengar.
Mendengar hal tersebut, Liu Bai mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu. Liu Bai melihat 2 orang pelayan wanita yang berbeda datang dengan membawa beberapa pakaian dan juga senampan makanan.
"Masuklah." ujar Liu Bai kepada 2 orang pelayan wanita itu.
Setelah mendapatkan izin memasuki ruangan Liu Bai, 2 orang pelayan wanita itu pun beranjak masuk ke dalam.
"Ini adalah beberapa pakaian yang akan Tuan kenakan untuk sementara. Jika masih kurang, Tuan dapat memberitahukannya kepada kami. Kami akan menyampaikannya kepada Tuan Wu." ujar salah satu pelayan wanita itu sambil meletakkan beberapa pakaian yang di bawanya di atas tempat tidur.
"Tidak apa-apa. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih." ujar Liu Bai membalas perkataan pelayan wanita itu.
Kemudian salah satu pelayan wanita lainnya meletakkan senampan makanan di atas meja bundar yang berada di sisi lain ruangan tersebut.
"Ini makanan anda, Tuan. Silahkan di nikmati." ujar pelayan wanita itu kepada Liu Bai.
"Terimakasih banyak." ujar Liu Bai membalas perkataan pelayan wanita itu.
"Beritahu saja apa yang anda butuhkan kepada kami berdua atau para pelayan lainnya. Kami akan segera menyiapkannya untuk anda." ujar salah satu pelayan wanita itu kepada Liu Bai.
"Ya. Terimakasih." ujar Liu Bai membalas perkataan pelayan wanita itu.
"Kalau begitu kami permisi." ujar salah satu pelayan wanita lainnya.
Kedua pelayan wanita itu pun beranjak pergi meninggalkan ruangan.
"Ayo selesaikan ini dan pergi tidur." ujar Liu Bai.
***
Setelah selesai menyantap makanan dan mengganti pakaian yang di kenakan olehnya, Liu Bai sudah terlelap tidur di tempat tidurnya.
Tap-! Tap-! Tap-!
Suara langkah kaki yang kecil sontak terdengar di keheningan malam.
Sesosok bayangan hitam berdiri tepat di depan pintu ruangan milik Liu Bai. Kemudian, sesosok bayangan hitam itu membuka pintu tersebut dan perlahan-lahan masuk ke dalam ruangan milik Liu Bai sambil kembali menutup pintu dengan hati-hati.
Sesosok bayangan hitam itu pun mendekati Liu Bai. Kemudian, tangan kirinya mulai bergerak menuju ke wajah Liu Bai.
"...!" Liu Bai tersentak dan membuka kedua matanya lebar-lebar.
Grep-!
Liu Bai dengan cepat memegang tangan kiri sesosok bayangan hitam itu dengan menggunakan tangan kanannya.
Di saat bersamaan, Liu Bai menarik tangan kiri sesosok bayangan hitam itu.
Brak-!
Liu Bai beranjak bangkit dan membalikkan tubuhnya serta menjatuhkan sesosok bayangan hitam itu di atas tempat tidurnya.
"Kyah...!" Sesosok bayangan hitam itu berteriak di saat bersamaan.
"...!" Liu Bai di kejutkan dengan sesosok bayangan hitam yang baru saja di tindihnya.
"Apa yang kau lakukan dengan masuk ke dalam ruanganku di tengah-tengah malam begini, Wu Xinxin?" Liu Bai bertanya kepada sesosok bayangan hitam itu yang merupakan seseorang yang di kenalnya yaitu Wu Xinxin.
"Aku hanya tidak bisa tidur." ujar Wu Xinxin menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Liu Bai sambil mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
"Aku baru tahu kalau ada seorang wanita yang tidak bisa tidur malah mendatangi kamar seorang pria. Apakah ini kebiasaanmu?" Liu Bai kembali bertanya kepada Wu Xinxin.
"...Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya." Wu Xinxin menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Liu Bai dengan malu-malu dan dengan wajah yang memerah.
"..." Liu Bai terdiam sejenak sambil melihat ke arah pintu ruangannya.
"Aku yakin kalau sebelumnya aku sudah mengunci pintu ruanganku dari dalam. Bagaimana caranya kau bisa masuk?" Liu Bai bertanya kepada Wu Xinxin sambil menatap wajahnya yang memerah itu.
"Itu... rahasia." ujar Wu Xinxin menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Liu Bai kepada dirinya.
"Tidak bisakah kau melihatku?" ujar Liu Bai sambil memegang dagu Wu Xinxin dan menghadapkannya tegak lurus dengan wajahnya sendiri.
Sesaat setelah wajah Wu Xinxin saling berhadapan, kedua matanya pun tanpa sengaja menatap kedua mata Liu Bai.
Badump-! Badump-! Badump-!
Detak jantung Wu Xinxin semakin cepat.
"Maaf, aku tidak kuat." ungkap Wu Xinxin sambil kembali mengalihkan pandangannya ke sisi lain.
Melihat reaksi yang di perlihatkan oleh Wu Xinxin, Liu Bai tak dapat menahan dirinya untuk terus menggodanya. Senyum kecil pun terlihat di wajah Liu Bai.
"Jadi untuk apa kau datang ke ruanganku?" Liu Bai bertanya kepada Wu Xinxin.
"Aku ingin berterimakasih kepadamu karena telah menyelamatkanku. Sebelumnya aku belum sempat untuk berterimakasih dengan benar. Seharusnya aku melakukannya sesaat setelah kau menyelamatkanku. Tapi aku malah mengabaikannya. Maafkan aku." ungkap Wu Xinxin kepada Liu Bai.
"Bukankah kau dapat mengatakannya saat pagi hari? Aku tidak akan pergi kemana-mana." Liu Bai kembali bertanya kepada Wu Xinxin.
"Itulah sebabnya aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkannya." ungkap Wu Xinxin menjawab pertanyaan yang di berikan oleh Liu Bai kepada dirinya.
'Begitu, ya.' gumam Liu Bai di dalam hatinya.
"Sekarang kau sudah mengatakannya padaku. Jadi artinya sekarang kau sudah bisa tidur." ujar Liu Bai kepada Wu Xinxin.
"Belum." ujar Wu Xinxin membalas perkataan Liu Bai dengan cepat.
"Apakah masih ada hal lainnya?" Liu Bai bertanya kepada Wu Xinxin.
"Masih ada satu hal lagi yang membuatku tidak bisa tidur. Aku sebagai seseorang yang telah di selamatkan ingin memberikanmu hadiah yang layak. Apakah ada hal yang kau inginkan? Selama itu masih dalam kemampuanku, itu tidak akan menjadi masalah." ujar Wu Xinxin kepada Liu Bai.
Mendengar hal tersebut, Liu Bai tersenyum kecil.
"Kalau begitu aku tidak akan sungkan. Aku menginginkanmu sebagai hadiahnya. Aku ingin kau menjadi wanitaku. Apakah itu masih dalam kemampuanmu untuk menyanggupinya?" ujar Liu Bai kepada Wu Xinxin.
"...?!" Wu Xinxin sontak terkejut dalam kebingungan saat mendengar perkataan Liu Bai.
"Itu... Aku..." ujar Wu Xinxin yang kebingungan dengan wajahnya yang semakin memerah.
"Harusnya kau sudah siap akan hal yang dapat terjadi padamu saat kau dengan berani memasuki ruangan seorang pria seorang diri seperti ini. Aku bisa saja melahapmu." ujar Liu Bai kepada Wu Xinxin.
"Berhenti menggodaku. Kita masih belum cukup mengenal satu sama lain." ujar Wu Xinxin membalas perkataan Liu Bai.
"Itu artinya kau bersedia selama kita sudah cukup mengenal satu sama lain?" Liu Bai bertanya kepada Wu Xinxin.
Badump-! Badump-! Badump-!
Jantung Wu Xinxin berdetak semakin cepat saat mendengar perkataan yang di ucapkan oleh Liu Bai.
"Itu... Aku tidak tahu. Lepaskan aku. Aku sudah tidak kuat lagi." ujar Wu Xinxin membalas perkataan Liu Bai.
"Baiklah." ujar Liu Bai sambil melepaskan Wu Xinxin.
Wu Xinxin pun bangun sesaat setelah Liu Bai melepaskan dirinya.
"Aku akan kembali ke kamarku. Sampai jumpa lagi." ujar Wu Xinxin dengan cepat dan terburu-buru sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan milik Liu Bai.
'Haah... Sepertinya aku malah tidak akan dapat tidur untuk beberapa hari ke depan." gumam Wu Xinxin di dalam hatinya dengan wajah memerah saat di perjalanan menuju ke kamarnya.
Di sisi lain, Liu Bai terdiam sejenak memandang pintu di ruangannya.
'Padahal dia sendiri yang mengatakan kalau belum cukup mengenal satu sama lain denganku. Tapi dia tetap berani datang ke ruangan dari seorang pria yang tak begitu di kenalnya. Aku bingung bagaimana harus menanggapinya. Namun satu hal yang pasti, aku tidak berbohong saat mengatakan ingin menjadikannya wanitaku. Semakin ku kenal, semakin aku menyukainya.' gumam Liu Bai di dalam hatinya sambil tersenyum kecil.
Liu Bai pun bangun dan kembali mengunci pintu ruangannya. Setelah itu, Liu Bai berbaring di tempat tidurnya. Beberapa saat kemudian, Liu Bai pun terlelap dalam tidurnya.