NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Air mata yang membasahi pipi Baskara perlahan mengering, berganti dengan kilatan tatapan yang jauh lebih dingin dan tajam daripada sebelumnya. Ia menatap Tanti dengan sorot mata yang penuh tekad.

"Tanti, tolong ambilkan ponselku di nakas," pintanya dengan suara yang kini terdengar lebih stabil, meski masih terselip rasa sakit yang mendalam.

Tanti segera mengambilkan ponsel Baskara dan menyerahkannya dengan tangan gemetar.

Baskara menekan satu nama di daftar kontaknya: Kenan, kepala keamanan sekaligus orang kepercayaan terdekatnya yang selalu bergerak di balik bayangan.

"Halo, Kenan," suara Baskara terdengar berat dan dingin, kontras dengan kondisi tubuhnya yang penuh perban.

"Ya, Bos? Saya sudah di lokasi kejadian. Polisi sedang melakukan olah TKP, tapi sepertinya pelakunya sudah merencanakan ini dengan sangat rapi dan menghilangkan jejak CCTV," lapor Kenan dari seberang telepon.

"Aku tidak peduli seberapa rapi mereka, Kenan. Cari bukti siapa yang membakar toko roti istriku. Aku ingin nama mereka, motif mereka, dan bukti rekaman yang menghubungkan mereka dengan keluarga besar di rumah itu. Lakukan sekarang juga!" perintah Baskara dengan penekanan di setiap katanya.

"Siap, Bos. Akan segera saya laksanakan."

Baskara terdiam sejenak, lalu sebuah rencana gila dan berbahaya terlintas di benaknya.

Ia tidak akan membiarkan musuh-musuhnya menang sedikit pun.

"Satu hal lagi, Kenan," lanjut Baskara.

"Mulai detik ini, sebarkan berita melalui saluran media dan kolega bisnis bahwa aku dan istriku... tewas dalam insiden kebakaran tadi."

Suasana di seberang telepon mendadak senyap. "T-tapi, Pak... Apa itu tidak terlalu berisiko bagi saham perusahaan?" tanya Kenan ragu.

"Lakukan, Kenan! Jangan membantah," potong Baskara dengan nada otoriter.

"Aku ingin mereka merasa telah memenangkan segalanya. Biarkan mereka berpesta di atas kehancuranku. Aku ingin mereka merasa sangat aman, sampai akhirnya mereka terkena serangan jantung saat aku kembali nanti."

Baskara menoleh ke arah jendela, membayangkan proses panjang yang menantinya.

"Setelah aku menjalani operasi pemulihan punggungku dan memastikan kondisiku pulih, aku akan kembali dengan identitas yang berbeda jika perlu. Mereka telah menyentuh nyawa istriku dan calon anakku... kali ini, aku tidak akan memberi ampun."

Baskara mematikan panggilan tersebut. Ia menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan senyum tipis yang mengerikan.

Ia tahu bahwa badai sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, ia adalah badai itu sendiri.

Baskara mengalihkan pandangannya kepada Tanti yang masih berdiri mematung, tampak masih mencerna perintah gila yang baru saja didengarnya melalui sambungan telepon tadi.

"Tanti," suara Baskara memecah keheningan ruangan.

Ia menatap asisten setianya itu dengan tatapan yang sulit diartikan—ada rasa percaya sekaligus tekad yang bulat.

"Beritahu dua karyawan baru itu, suruh mereka ikut bersiap. Kita akan terbang ke Korea Selatan secepat mungkin."

Tanti terbelalak, matanya mengerjap cepat. "K-Korea? Maksud Bapak... kita mau liburan? Nonton konser BTS atau wisata kuliner di sana?" tanyanya dengan nada polos yang sangat tidak tepat di tengah situasi mencekam ini.

Baskara mendengus pelan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya yang pucat. Ia menggelengkan kepalanya.

"Bukan untuk bersenang-senang, Tanti. Aku harus menjalani operasi pemulihan dan rekonstruksi kulit di pusat medis terbaik di Seoul untuk punggungku ini. Aku tidak bisa membiarkan bekas luka ini menghambat rencanaku ke depan."

Tanti segera menutup mulutnya dengan tangan, menyadari kekeliruan ucapannya.

"Maafkan saya, Pak. Saya mengerti. Saya akan segera mengurus segalanya." ucap Tanti sambil tersenyum tipis.

"Satu lagi," tambah Baskara sambil mencoba menggeser tubuhnya meski rasa sakit di punggungnya berdenyut hebat.

"Panggilkan perawat sekarang juga. Aku ingin mereka mengantarku ke ruang perawatan Alena. Aku tidak bisa tenang sebelum melihat sendiri istriku dan bayi kami baik-baik saja."

"Siap, Pak Bos," jawab Tanti dengan nada mantap.

Ia segera bergegas keluar untuk memanggil perawat, sementara Baskara menarik napas panjang.

Pikirannya sudah melayang jauh ke depan—ke hari di mana ia akan muncul kembali di hadapan musuh-musuhnya, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai sosok yang jauh lebih kuat dan tak terduga.

Rencana pembalasan itu kini telah terkunci rapat di dalam hatinya, sama kuatnya dengan cinta yang ia miliki untuk Alena dan calon buah hati mereka.

Ceklek.

Pintu ruang perawatan terbuka perlahan. Baskara, yang duduk di kursi roda dengan punggung yang terbalut perban tebal, didorong masuk oleh seorang perawat.

Alena, yang baru saja terbangun dari pengaruh obat bius, langsung menoleh.

Matanya membulat, lalu dengan gerakan perlahan namun penuh protektif, ia berusaha bangkit untuk mendekati suaminya.

"Bas...!" suara Alena bergetar, air matanya langsung luruh melihat kondisi Baskara yang terlihat sangat rapuh dengan wajah pucat.

Ia meraih tangan suaminya dengan hati-hati. "Maafkan aku, Bas. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini. Kamu terluka parah karena menyelamatkanku."

Baskara tersenyum lembut, meski ada guratan nyeri di sudut bibirnya. Ia meraih jemari istrinya dan mengecupnya.

"Sayang, sudah... jangan menangis. Kasihan si kecil nanti ikut sedih."

Alena mengernyitkan dahi, bingung dengan ucapan Baskara.

"Si kecil? Si kecil siapa?"

Baskara menatap istrinya dengan tatapan hangat yang memancar dari balik matanya.

"Kamu hamil, sayang."

Alena terpaku. "Bas... kamu tidak bercanda, kan?"

"Sayang, berondongmu ini tidak berbohong," balas Baskara dengan nada jenaka yang dipaksakan, mencoba mencairkan suasana yang mencekam.

Mendengar konfirmasi itu, tangis Alena kembali pecah, kali ini tangis bahagia sekaligus haru yang bercampur aduk.

Ia menyandarkan kepalanya di bahu Baskara, sementara sang suami mengusap rambutnya dengan lembut.

"Malam nanti, kita akan terbang ke Korea," bisik Baskara serius.

"Aku akan menjalani operasi plastik untuk pemulihan punggungku di sana. Dan selama kita berada di sana, berita kematian kita sudah tersebar luas di sini."

Alena mendongak, menatap mata Baskara dengan tidak percaya.

"Kenapa harus menyebarkan berita kematian kita?"

Baskara menatap istrinya dengan tatapan yang tajam dan dingin.

"Dengar, Alena. Musuh-musuh kita, terutama keluarga besar itu, berpikir mereka telah memenangkan segalanya. Dengan menyebarkan berita kematian kita, aku sengaja membiarkan mereka lengah. Aku ingin mereka merasa sangat aman dan berpesta di atas kehancuran kita, agar mereka tidak lagi melakukan pengawasan atau serangan tambahan. Ketika mereka sudah berada di puncak rasa aman dan kesombongan, saat itulah kita akan kembali. Aku ingin melihat ekspresi mereka saat 'hantu' yang mereka bunuh tiba-tiba muncul kembali di hadapan mereka dalam bentuk yang lebih kuat."

Alena terdiam, memahami logika di balik strategi kejam namun cerdas suaminya.

"Tanti dan dua karyawan kita sudah bersiap-siap," lanjut Baskara.

"Mereka sedang mengemas pakaianmu, pakaianku, dan segala dokumen penting kita untuk dibawa ke sana."

Alena menganggukkan kepalanya dengan mantap, menghapus sisa air matanya.

"Aku akan membalas semuanya, Sayang."

"Iya, Bas. Kamu harus membalasnya," desis Alena dengan nada penuh kebencian yang mendalam.

"Toko roti itu... itu adalah hasil jerih payahku dari nol. Aku membangunnya dengan darah dan keringat, dan mereka membakarnya tanpa rasa bersalah sedikit pun."

"Iya, Sayang," ujar Baskara, matanya menatap ke depan dengan sorot api yang membara.

"Setiap tetes air mata dan setiap rupiah kerugian yang mereka sebabkan, akan aku pastikan mereka bayar dengan harga yang jauh lebih mahal. Kita akan kembali sebagai orang baru, dan saat itu tiba, tidak akan ada tempat bagi mereka untuk bersembunyi."

Di lobi utama markas kepolisian kota, suasana begitu riuh oleh kilatan kamera wartawan.

Kenan, berdiri di samping perwira polisi dan perwakilan tim pemadam kebakaran, tampak menundukkan kepala dengan ekspresi yang sangat meyakinkan—wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.

"Dengan berat hati, kami menyampaikan kabar duka yang mendalam," suara Kenan bergetar, mikrofon menangkap setiap desah napasnya.

"Insiden kebakaran dahsyat yang melanda toko roti milik Nyonya Alena siang tadi telah menelan korban jiwa. Setelah dilakukan identifikasi sisa-sisa reruntuhan dan pencocokan data forensik awal di tempat kejadian, tim pemadam dan kepolisian menyatakan bahwa pemilik toko, Alena, serta suaminya, Baskara, terjebak di dalam gudang dan tidak berhasil menyelamatkan diri. Api yang membakar seluruh struktur bangunan dalam hitungan menit membuat keduanya tidak dapat dijangkau oleh bantuan. Investigasi awal menunjukkan ini adalah kecelakaan tragis akibat korsleting arus listrik yang menyambar bahan kimia pembersih di area gudang."

Berita itu menyebar secepat kilat melalui layar televisi dan notifikasi ponsel ke seluruh penjuru kota.

Di sebuah rumah mewah bergaya kolonial, berita kematian itu disambut dengan atmosfer yang jauh dari kata berkabung.

"Akhirnya..." bisik Mama Baskara sambil menyesap tehnya, wajahnya tampak puas.

Di sekelilingnya, Arum, Areta, dan Yanuar duduk dengan senyum yang tertahan.

"Si pembuat masalah itu akhirnya musnah juga," sahut Arum dengan nada sinis.

"Sekarang tidak ada lagi yang menghalangi jalan kita untuk mengambil alih aset perusahaan Baskara."

Billy, yang sedari tadi mondar-mandir dengan perasaan lega yang meluap-luap, langsung menyambar sebotol wine mahal dari lemari kristal.

Ia membukanya dengan suara plop yang nyaring, lalu menuangkannya ke dalam gelas-gelas tinggi.

"Untuk kematian mereka!" seru Billy sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

"Untuk kebebasan kita! Akhirnya tidak ada lagi yang berani menantang kita di keluarga ini. Cheers!"

Mereka tertawa lepas, berdenting, dan berpesta pora di tengah malam, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik layar berita kematian itu, sebuah rencana pembalasan yang jauh lebih mematikan sedang disusun dengan rapi.

Sementara itu, ribuan kaki di atas permukaan laut, di dalam kabin jet pribadi yang tenang dan mewah, suasana sangat kontras dengan pesta di rumah itu.

Jet tersebut telah lepas landas dalam diam, membawa Baskara, Alena, Tanti, dua karyawan toko, serta tim medis yang disewa khusus oleh Baskara untuk memantau kondisi kesehatan mereka selama perjalanan menuju Seoul.

Baskara duduk di kursi first-class yang dirancang khusus untuk kenyamanan punggungnya.

Ia tampak pucat, namun matanya tetap tajam menatap ke luar jendela pesawat yang hanya menampilkan kegelapan malam.

Alena, yang duduk di sampingnya, meraih tangan suaminya dengan lembut.

Jemarinya yang halus menggenggam erat telapak tangan Baskara, menyalurkan kekuatan dan rasa tenang.

Di sana, di antara mesin jet yang menderu pelan, Alena bisa merasakan detak jantung suaminya—detak jantung seorang pria yang kini telah bertransformasi menjadi sosok yang tidak akan memberi ampun bagi siapa pun yang mencoba menyakiti keluarga kecil mereka.

"Mereka sedang berpesta, Bas," bisik Alena pelan, suaranya mengandung janji yang mengerikan.

Baskara membalas genggaman istrinya, lalu menoleh dengan senyum tipis yang dingin.

"Biarkan mereka menikmati malam-malam terakhir mereka dengan rasa aman. Karena begitu kita kembali, pesta mereka akan berubah menjadi neraka yang tidak akan pernah mereka lupakan."

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!