NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SKANDAL #2

Pada saat bersamaan, di dalam mobil yang melaju membelah jalan sore, Arthur hanya bisa mendengus kesal sambil memegang setir dengan kuat. Ia melirik ke arah Joe yang duduk di kursi penumpang dengan wajah tenang.

"Loe ini ya, Joe! Selalu saja bertindak sesuka hati tanpa bilang dulu," keluh Arthur dengan nada tidak puas. "Tiba-tiba saja harus berangkat ke rumah lama loe sore begini. Rencana lain jadi berantakan semua gara-gara keputusan loe yang mendadak ini."

Joe hanya tersenyum tipis melihat tingkah sahabatnya yang mengomel tanpa henti. Ia menepuk bahu Arthur pelan.

"Maaf, Bil. Gue tahu ini mendadak. Tapi gue merasa hari ini waktu yang tepat untuk ke sana. Kalau tidak sekarang, mungkin gue tidak akan pernah punya waktu lagi," jawabnya lembut namun tegas.

Arthur mendengus lagi, lalu menoleh sekilas. "Maaf begitu saja? Gue harus dibayar setimpal, tahu? Membantu urusan loe itu tidak mudah. Bisa-bisa nyawa gue yang jadi taruhannya."

Joe tertawa kecil, lalu tersenyum membujuk. "Baik, baik. Nanti sepulang dari sana, gue traktir makan di restoran paling enak yang loe mau. Mau makan apa saja, gue yang bayar. Puas?"

Mendengar itu, wajah kesal Arthur perlahan berubah menjadi senyum lebar. "Nah, begitu baru enak didengar. Kalau begitu, kita percepat saja!"

Tanpa menunggu lama, Arthur menekan pedal gas lebih dalam, mobilnya melaju semakin kencang membelah jalanan yang mulai sepi, seakan ingin segera tiba agar janji makan enak itu segera terlaksana.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, mereka tiba di sebuah kawasan di pinggiran kota. Tempat itu sepi, rumah penduduk jarang berjejer, dan sekelilingnya dipenuhi bukit-bukit hijau yang menjulang tenang. Joe menunjuk ke arah sebuah jalan tanah yang lebarnya sempit dan permukaannya hampir seluruhnya tertutup rumput liar yang tinggi, menanjak perlahan menuju puncak bukit.

"Di sana," tunjuk Joe dengan jari telunjuknya. "Kita lanjut jalan kaki dari sini."

Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menaiki jalan setapak yang berumput itu. Angin sore berhembus sejuk, namun hati Joe terasa berat semakin mendekati tempat tujuannya. Langkah kakinya perlahan melambat, seakan beban masa lalu sedang menariknya ke bawah.

Sesampainya di puncak bukit, pemandangan di hadapan mereka membuat napas mereka tertahan. Di sana hanya tersisa tumpukan puing bangunan yang hangus — sisa-sisa kebakaran besar yang memusnahkan rumah tempat Joe tumbuh dan tempat di mana ayahnya dikhianati lima belas tahun lalu. Dinding-dindingnya roboh, tiang-tiangnya hitam terbakar, dan rumput liar sudah tumbuh tinggi di antara pecahan batu bata.

Arthur berdiri diam di samping Joe, ikut menatap puing-puing itu dengan perasaan haru dan sedih. Ia tidak mengganggu Joe yang berdiri termenung lama di sana, matanya menatap kosong ke arah sisa-sisa dinding yang masih berdiri tegak seolah menyimpan kisah pilu yang tak pernah terungkap.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arthur akhirnya berjalan perlahan menyusuri tumpukan puing itu, mengelilingi bangunan yang kini tinggal nama. Ia berjalan semakin jauh ke bagian belakang bekas bangunan tersebut, tempat yang lebih sepi dan tertutup semak belukar. Matanya teliti meneliti setiap jengkal tanah di bawah kakinya. Tiba-tiba langkahnya terhenti — kakinya menginjak sesuatu yang keras dan rata, bukan tanah biasa.

Arthur berlutut di tempat itu, penasaran. Dengan tangannya, ia mencabut rumput liar yang menutupi permukaan tanah di hadapannya. Semakin lama ia membersihkannya, semakin jelas terlihat — di bawah sana bukan tanah, melainkan sebuah pintu besar yang terbuat dari besi tebal dan kokoh. Di tengah pintu itu terpasang gembok besar yang masih utuh dan tertutup karat.

"Hei, Joe! Sini cepat!" teriak Arthur dengan suara penuh kegembiraan dan keheranan. "Gue menemukan sesuatu yang luar biasa!"

Joe segera berlari mendekat. Sesampainya di samping Arthur, ia menatap pintu besi itu dengan mata terbelalak tak percaya.

"Pintu apa ini?" gumam Joe pelan. "Selama ini gue tidak pernah tahu ada pintu seperti ini di sini."

Arthur tidak membuang waktu. Ia berkeliling mencari sepotong besi panjang yang masih kuat dari sisa reruntuhan bangunan di sekitarnya. Setelah menemukan besi yang cukup berat dan kokoh, ia kembali berdiri di depan pintu itu.

"Mundur sedikit, Joe," pesannya singkat.

Dengan satu tarikan napas, Arthur mengayunkan potongan besi itu dengan kuat ke arah gembok yang mengunci pintu. BRAK! Bunyi keras terdengar saat besi menghantam gembok. Ia melakukannya berulang kali — sekali, dua kali, tiga kali — hingga akhirnya gembok itu pecah dan lepas dari pengaitnya.

Joe segera mengangkat pintu besi itu perlahan. Pintu berat itu berderit pelan saat terangkat, menampakkan deretan anak tangga yang turun ke dalam kegelapan di bawah tanah.

"Ayo turun," ajak Joe dengan suara bergetar penuh rasa ingin tahu.

Mereka berdua bergegas menuruni anak tangga yang dingin dan lembap itu. Langkah kaki mereka terdengar jelas memantul di dinding batu. Sesampainya di bawah, ruangan itu gelap gulita. Joe mencari saklar lampu di dinding namun tidak menemukannya. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan menyalakan lampu senter yang menyinari sekeliling ruangan.

Saat cahaya senter menerangi ruangan itu, Joe dan Arthur sama-sama terbelalak dan terdiam seribu bahasa. Mata mereka tak berkedip menatap apa yang ada di sekeliling mereka. Ruangan bawah tanah itu luas dan rapi, jauh dari hancur seperti bangunan di atasnya. Di satu sisi tersusun rapi banyak sekali senjata api — mulai dari pistol berbagai jenis hingga senapan laras panjang yang berkilauan di bawah cahaya lampu ponsel. Dan di sisi lain, berdiri beberapa peti besar yang terbuka sebagian, berisi penuh dengan batangan emas murni yang menumpuk tinggi hingga ke pinggir peti.

Arthur menelan ludah dengan susah payah, matanya tak lepas dari tumpukan emas dan senjata itu.

"Joe..." ucapnya pelan namun penuh keyakinan. "Pasti ortu loe dulunya adalah pemimpin kelompok yang sangat besar dan kaya raya. Lihatlah semua ini — senjata sebanyak ini, emas batangan yang tak terhitung jumlahnya... bukan orang biasa yang bisa memiliki simpanan sebesar ini."

Arthur menoleh ke arah Joe. "Lalu bagaimana? Kita bawa semua ini sekarang? Atau ambil sebagian dulu?"

Joe menatap sekeliling ruangan itu dengan pikiran yang berputar cepat. Ia berpikir sejenak, lalu menggeleng perlahan.

"Tidak," jawabnya mantap. "Sebaiknya semua barang ini tetap disimpan di sini dulu. Mobil kita kecil, bagasinya tidak akan cukup menampung bahkan sepersepuluh dari apa yang ada di ruangan ini. Kalau dipaksa, justru akan mencurigakan."

"Benar juga," setuju Arthur.

"Mari kita naik sekarang," ajak Joe.

Mereka segera keluar dari ruangan bawah tanah itu. Setelah menutup kembali pintu besi dengan rapat, Joe menimbunnya dengan tanah dan menaburkan rumput liar di atasnya agar tidak terlihat berbeda dari sekelilingnya — menyembunyikan rahasia besar itu kembali di bawah tanah. Tanpa meninggalkan jejak, mereka berjalan pulang dengan pikiran yang penuh pertanyaan dan keheranan.

Sepanjang perjalanan pulang, Joe berkata dengan wajah serius, "Malam ini gue harus pergi ke Loyalty Hotel. Loe langsung pulang dan istirahat saja di rumah, Bil. Hari ini loe sudah banyak membantu gue. Terima kasih banyak."

Arthur hanya mengangguk sambil menyetir. "Baiklah. Tapi jangan lupa janji makan enak itu ya!"

Setelah beberapa jam perjalanan, mobil akhirnya berhenti di depan rumah Arthur. Joe turun dan berpamitan, lalu segera melanjutkan perjalanannya sendirian menuju Loyalty Hotel — tempat di mana nasibnya dan rahasia masa lalunya perlahan saling berkaitan.

Sesampainya di dalam rumah, Arthur baru menyadari sesuatu yang penting. Ia menepuk dahinya sendiri. "Sial! Dia lupa — atau lebih tepatnya, sengaja tidak mengajak gue makan malam!"

Arthur segera mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Joe. Namun panggilannya tidak diangkat. Berkali-kali dicoba, tetap saja tidak ada jawaban.

"Pasti dia sengaja!" gumam Arthur sambil tersenyum geleng-geleng kepala. Ia lalu mengirim pesan singkat: Kalau begitu, belikan makanan untuk gue saat pulang nanti. Jangan lupa!

Sementara itu, di lantai paling atas Loyalty Hotel, Mama Billy baru saja keluar dari ruangan VIP dengan wajah yang tampak puas dan berseri-seri. Ia menatap kedua bodyguardnya yang berdiri tegak di depan pintu.

"Pergilah ke tempat parkir, bawa mobilku ke depan pintu masuk utama, dan tunggu di sana," perintahnya dengan tenang namun berwibawa.

"Baik, Nyonya," jawab mereka serempak, lalu segera bergegas turun ke bawah melaksanakan perintah itu.

Setelah kedua bodyguardnya pergi, Mama Billy melihat sekeliling lorong yang sepi. Ia lalu mengangkat tangan perlahan dan memberi kode — kedipan mata singkat — ke arah pintu ruangan yang sedikit terbuka.

Tak lama kemudian, Rey keluar dari dalam ruangan dengan langkah pelan. Begitu berada di luar, ia tidak langsung pergi. Sebaliknya, ia mendekat ke arah Mama Billy, memeluk pinggangnya erat tanpa ragu, lalu mencium bibirnya dengan lembut namun penuh perasaan.

Mama Billy terkejut seketika, namun tidak melepaskan diri. Sebaliknya, ia justru membalas pelukan dan ciuman itu dengan gairah yang sama — bibirnya menyambut hangat, tangannya melingkar di leher pemuda itu, membuat momen perpisahan itu menjadi semakin panas dan mendalam.

Beberapa detik kemudian, Rey perlahan melepaskan ciumannya, menatap wajah wanita itu dengan senyum penuh arti.

"Gue pergi duluan," bisiknya pelan. "Tapi gue janji... akan sering datang menemui Tante."

Mama Billy tersenyum lebar, matanya berbinar bahagia. "Pergilah, sayang. Tante akan menunggumu."

Rey pun berbalik dan berjalan menuruni tangga sendirian, meninggalkan Mama Billy yang masih tersenyum puas sendirian di lorong sepi itu.

Namun tanpa mereka sadari, dari balik pintu lorong yang sedikit terbuka di ujung sana, seorang wanita yang bekerja sebagai pelayan restoran hotel itu diam-diam mengarahkan ponselnya ke arah mereka. Ia merekam setiap gerakan dan mengambil banyak foto — saat mereka berciuman, saat mereka berpelukan, semuanya terekam dengan jelas. Setelah menyimpan semua bukti itu di ponselnya, wanita itu segera berbalik dan pergi dengan langkah cepat, membawa rahasia besar yang tidak disangka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!