NovelToon NovelToon
Transmigrasi: Menjadi Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Transmigrasi: Menjadi Istri Kedua Yang Tak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.

Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.

Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lucian!

Jeje masih sibuk menggeledah nakas di sudut kamar, mencari entah apa, mungkin semacam petunjuk atau buku harian, ketika indra pendengarannya menangkap suara derap langkah kaki yang teratur. Langkah itu berat, tidak tergesa-gesa, dan semakin lama semakin mendekat ke ambang pintu, Jeslyn langsung membuka pintu kamarnya dan membukanya lebar.

​Klik.

​Jeje terdiam. Ia mematung, kepalanya menoleh perlahan ke arah pintu. Napasnya seolah tercekat di tenggorokan saat melihat sosok yang berdiri di sana.

​Seorang remaja laki-laki dengan tubuh yang terlalu jangkung dan atletis untuk anak seusianya. Rambutnya berwarna cokelat terang yang sedikit berantakan, dan yang paling mencolok yang membuat jantung Jeje seolah berhenti berdetak adalah sepasang mata berwarna biru cerah yang menatapnya tajam, dingin, dan kosong.

​"Lucian?" bisik Jeje. Suaranya serak, bergetar hebat.

​Tanpa ia sadari, air matanya luruh begitu saja. Pemandangan di depannya adalah perwujudan nyata dari deskripsi novel yang ia benci sekaligus ia cintai. Lucian berdiri di sana, dengan seragam sekolah yang tampak sedikit kusut, menatapnya dengan pandangan yang seolah sedang melihat objek tak bernyawa.

​"Lucian... beneran Lucian?" Jeje tidak bisa menahan dorongan emosinya. Tanpa memikirkan status "ibu tiri" yang menyandang di pundaknya atau fakta bahwa mereka baru saja bertemu, Jeje berlari kecil sebisanya, dengan perut buncitnya itu mendekati sang remaja.

​"Eh, jangan lari-lari! Bahaya!" gumamnya pada diri sendiri, tapi kakinya tidak berhenti bergerak.

​"Lucian! Kamu Lucian, kan?" Jeje berteriak heboh, air mata mengalir deras di pipinya.

"Ya ampun, kamu ternyata beneran nyata! Dan kamu... kamu ganteng banget, ya Tuhan!"

​Sebelum Lucian sempat bereaksi atau berucap, Jeje sudah menerjang maju dan mendekap tubuh remaja itu dengan sangat erat. Ia menempelkan wajahnya di dada bidang Lucian, meluapkan segala rasa sesak yang ia rasakan sejak terbangun di tubuh wanita asing ini.

​"Lucian, maafin aku... maafin aku karena telat datang!" isak Jeje sesenggukan.

"Aku nggak tahu apa yang terjadi sebelumnya, tapi mulai sekarang, aku di sini. Aku bakal lindungin kamu, aku bakal jagain kamu sampai kamu besar, sampai kamu sukses, sampai kamu nikah sama orang yang bener-bener sayang sama kamu! Aku janji!"

​Lucian, yang tadinya berdiri tegak seperti patung, mendadak kaku. Matanya yang biru itu melebar sesaat karena terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka akan mendapatkan serangan pelukan sebrutal ini dari wanita yang setahu dia hanya peduli pada harta ayahnya.

​"Lepas!" suara Lucian terdengar rendah, dingin, dan berat.

​"Nggak mau! Aku nggak akan lepas!" Jeje malah mengeratkan pelukannya.

"Kamu harus tahu, kamu itu berharga. Kamu nggak boleh mati, kamu nggak boleh ngerasa sendirian lagi. Aku bakal jadi orang pertama yang dengerin cerita kamu, meskipun kamu cuma mau diam aja!"

​Lucian mendorong bahu Jeje dengan satu tangan, mencoba melepaskan diri dari dekapan yang terasa begitu mencekik itu.

"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan kamu!"

​"Nggak! Aku tahu kamu dingin, aku tahu kamu pasti risih, tapi dengerin aku dulu," Jeje mendongak, menatap mata biru itu dengan penuh kasih sayang yang tulus, membuat Lucian tertegun.

"Mulai sekarang, aku adalah ibu tiri kamu yang paling cerewet sedunia. Kamu nggak bisa ngusir aku, karena aku udah mutusin buat nemenin kamu."

​Lucian kembali mencoba mendorong Jeje, kali ini dengan tenaga yang lebih nyata. Namun, Jeje yang memang memiliki jiwa bar-bar dan keras kepala justru mengunci lengannya di punggung Lucian, membuat remaja itu terjebak dalam pelukan tersebut.

​"Kamu gila," gumam Lucian datar, meski alisnya berkerut bingung.

​"Iya, aku gila! Gila karena baru ketemu kamu dan langsung jatuh cinta sama anak sekeren kamu!" seru Jeje dengan air mata yang masih membasahi pipinya.

"Kenapa kamu diam aja? Kamu mau marah? Marah aja! Maki aku! Jangan diem terus kayak mayat hidup, Lucian. Aku benci liat kamu gitu."

​Lucian berhenti meronta. Ia menatap wajah Jeje yang sembab dan penuh air mata itu. Tidak ada kebencian yang ia temukan di sana, melainkan sesuatu yang asing dan jujur. Lucian tidak terbiasa dengan sentuhan, apalagi perhatian yang meledak-ledak seperti ini.

​Perlahan, tenaga di tangan Lucian yang tadinya mendorong, kini meluruh. Ia membiarkan saja Jeje tetap memeluknya. Ekspresinya kembali ke mode datar, seolah ia sedang mengamati seekor hewan yang aneh.

​"Kamu habis makan apa?" tanya Lucian tiba-tiba, suaranya sangat datar namun membuat Jeje tertawa di tengah tangisannya.

​"Eh? Aku? Aku habis makan keripik singkong. Kenapa? Kamu mau? Nanti aku beli satu gudang buat kamu!" jawab Jeje dengan semangat, masih enggan melepaskan pelukannya.

​Lucian hanya menatapnya dengan tatapan kosong. "Kamu aneh. Dan sangat berisik."

​"Biarin! Cerewet itu tanda sayang," sahut Jeje sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu kembali memeluk Lucian.

"Lucian, janji sama aku, jangan pernah ngerasa sendirian lagi. Aku tahu hidup kamu di rumah ini nggak enak, tapi aku bakal bikin rumah ini jadi tempat yang bisa kamu pulangin."

​Lucian tidak menjawab. Ia hanya berdiri membiarkan wanita itu memeluknya. Namun, jika diperhatikan lebih teliti, ketegangan di bahunya mulai berkurang. Tatapan mata birunya yang tadi tajam dan penuh curiga, kini sedikit melunak, meski wajahnya masih tetap datar tanpa emosi.

​"Kamu bisa lepaskan sekarang?" tanya Lucian lagi, kali ini dengan nada yang lebih tenang, hampir seperti sebuah permintaan.

​Jeje melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya masih memegangi lengan Lucian seolah takut remaja itu akan menghilang jika dilepaskan. Ia menatap wajah Lucian dengan senyum lebar yang terlihat tulus.

​"Oke, oke, aku lepas. Tapi janji ya, jangan kabur?"

​Lucian menatap tangan Jeje yang masih mencengkeram lengannya, lalu menatap wajah wanita itu.

"Kamu mau apa lagi?"

​"Aku mau kita kenalan dengan cara yang benar," Jeje menyeringai, jiwa bar-barnya kembali muncul.

"Aku Jeje. Mulai hari ini, aku bukan cuma ibu tiri kamu, tapi aku adalah partner in crime kamu. Kita bakal bikin rumah ini lebih hidup, atau kalau perlu, kita bikin orang-orang yang bikin hidup kamu menderita itu ngerasain konsekuensinya."

​Lucian menatap Jeje cukup lama, seolah sedang memindai apakah wanita di depannya ini sedang berakting atau memang benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

​"Kamu bukan Jeslyn," ucap Lucian datar.

​Jeje terdiam, jantungnya berdegup kencang. "Kenapa kamu bilang gitu?"

​"Cara kamu bicara... berbeda," jawab Lucian singkat, lalu ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

"Jangan terlalu banyak bermimpi. Tidurlah, itu lebih berguna."

​Jeje menatap punggung Lucian yang perlahan menjauh dari kamarnya. Ia tidak marah atau tersinggung. Sebaliknya, ia justru tersenyum lebar.

​"Bagus! Setidaknya dia udah mulai sadar kalau aku beda," gumamnya ceria.

"Lucian! Besok kita sarapan bareng ya! Aku bakal masak sesuatu yang enak!"

​Lucian tidak menoleh lagi, tapi langkahnya sempat melambat sejenak sebelum akhirnya menghilang di balik lorong. Jeje kembali ke kamarnya dengan perasaan lega yang luar biasa. Ia tahu, misinya baru saja dimulai, dan tantangannya adalah menghadapi remaja paling dingin di dunia.

​"Tunggu aja, Lucian. Aku bakal bikin kamu ngerasain apa itu namanya kebahagiaan, entah kamu suka atau nggak!" Jeje kembali duduk di kasur, perutnya yang buncit terasa jauh lebih ringan sekarang.

Bersambung...

Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.

1
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 33 sampai bab 37
Potatoes 🥔
Bagus Banget,/Kiss/
Fajar Fathur rizky
cepat bikin mcnya bongkar kebusukan hera
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 29 dan bab 33 thor
It's me Ri🥕: Udah ya tunggu beberapa menit lagi, selamat membaca
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
jangan bikin lu cian cinta thor bikin perasaan itu seperti anak yang tidak mau ibunya lebih perhatian kepada ayahnya
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 25 sampai bab 30
It's me Ri🥕: Sebentar ya kak, lagi di cek dan edit lagii🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 16 sampai bab 20
It's me Ri🥕: Sudah di up ya, tunggu sebentar lagi🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
It's me Ri🥕: Aawww🥺 Semoga suka ya kak😘
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
bikin adegan Lucian menganggap mcnya seperti ibu kandungnya sendiri
Fajar Fathur rizky
nanti pas lahiran bikin mcnya jadi model yang terkenal dan cantik bikin banyak yang suka bikin suaminya cemburu
Fajar Fathur rizky
cepat update thor bab 7 sampai bab 11 thor ceritanya seru
It's me Ri🥕: Kak😭 Ini udah di up kok, semoga suka yaa/Kiss/
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
besok bikin 5 bab thor ceritanya seru bikin pas mcnya selesai lahiran bikin dia jadi model yang terkenal dan cantik
Fajar Fathur rizky: biar suaminya cemburu thor mcnya banyak yang naksir hahaha
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!