Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.
Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
"Kamu kenapa sih, Zil?" tanya Davin sambil menyandarkan tubuhnya di kusen pintu. "Bukankah ini kesempatan yang bagus? Kamu pulang ke rumah utama. Kamu itu putri pertama keluarga Gentana. Penerus keluarga. Semua yang ada di sana memang hakmu. Perjalanan hidupmu masih panjang. Apa kamu nggak ingin sukses?"
Zilia mendengus pelan.
"Aku bisa sukses dengan usahaku sendiri, tanpa bantuan Papa. Aku akan buktikan kalau aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri."
Davin tersenyum tipis.
"Kakak tahu kamu mampu. Tapi kenapa harus menolak sesuatu yang memang menjadi hakmu?"
"Aku nggak pernah menginginkan semua itu."
"Terus, kamu juga nggak ingin mempertahankan statusmu sebagai putri pertama keluarga Gentana?"
Dengan tegas, Zilia menggeleng.
"Nggak."
Jawabannya begitu tegas tanpa sedikit pun keraguan.
Davin mengembuskan napas panjang.
"Baiklah. Kalau memang itu keputusanmu, Kakak nggak akan memaksa."
Zilia menatap Davin sejenak.
"Benarkah?"
"Iya."
Davin tersenyum lembut.
"Tapi setidaknya, temuilah Om. Dengarkan apa yang ingin beliau sampaikan. Setelah itu, apa pun keputusanmu, Kakak akan menghormatinya."
Zilia terdiam.
Ia tahu Davin bukan tipe orang yang pandai membujuk. Namun justru karena itu, setiap ucapan sepupunya terasa tulus.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya Zilia mengembuskan napas panjang.
"Ya sudah... aku ikut Kakak. Nolak juga dipaksa, apalagi gak nolak, enta paksaan apa lagi yang akan aku terima."
Senyum Davin langsung mengembang.
"Nah, begitu dong. Ini baru adiknya Kakak."
Davin tak kuasa mengacak pelan rambut Zilia seperti saat mereka masih kecil.
"Ih... Kak! Rambutku jadi berantakan!"
"Biarin. Tetap cantik, kok."
Zilia hanya mengerucutkan bibir dengan wajah sedikit sebal, sementara Davin tertawa puas melihat ekspresinya.
"Buruan siap-siap. Om sudah menunggu."
"Iya... iya."
Zilia melangkah kembali ke kamarnya.
Namun, sebelum membuka lemari, pandangannya tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas kasur.
Dengan penuh harap, ia segera mengambilnya.
Jarinya langsung membuka aplikasi pesan.
Tetapi...
Tak ada satu pun pesan baru.
Tak ada panggilan tak terjawab.
Tak ada kabar dari Vio.
Senyum tipis yang sempat menghiasi wajahnya perlahan memudar.
"Apa dia benar-benar sibuk...?"
Zilia menggigit bibir bawahnya, lalu menghela napas panjang.
"Aku harap kamu baik-baik saja, Vio."
Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas, Zilia akhirnya melangkah keluar kamar.
Tanpa ia sadari, perjalanan menuju rumah utama hari itu bukan hanya akan mempertemukannya kembali dengan keluarga kandungnya, tetapi juga menjadi awal dari takdir yang perlahan menjauhkannya dari lelaki yang masih setia ia tunggu.
Tak lama kemudian, Zilia keluar dari kamarnya dengan sebuah koper berukuran sedang dan tas selempang di pundaknya.
Langkahnya terhenti saat melihat Ibu Retno sudah berdiri di teras rumah. Tatapan wanita paruh baya itu begitu lembut, tetapi menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.
"Bu..."
Zilia menghampiri, lalu memeluk Ibu Retno erat.
"Zilia pamit dulu, ya."
Ibu Retno membalas pelukan itu dengan hangat. Tangannya mengusap lembut punggung gadis yang telah ia besarkan sejak masih bayi.
"Hati-hati di jalan, Nak."
"Iya, Bu."
Pelukan mereka perlahan terlepas.
Zilia menggenggam kedua tangan Ibu Retno.
"Bu, Zilia cuma mau ketemu Papa. Setelah semuanya selesai, Zilia pasti pulang lagi ke sini."
Ibu Retno tersenyum tipis.
"Kalau memang itu yang kamu inginkan, Ibu tidak akan melarang."
"Rumah ini tetap rumah kamu."
"Iya, Bu. Jadi Ibu jangan sedih, ya."
Ibu Retno mengangguk pelan. Meski begitu, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
"Zilia..."
"Iya, Bu?"
"Kalau nanti ternyata ayahmu benar-benar ingin memperbaiki semuanya... jangan langsung menutup pintu untuk beliau."
Zilia terdiam.
"Beliau memang banyak melakukan kesalahan. Tapi setiap orang berhak diberi kesempatan untuk memperbaikinya."
Zilia menundukkan kepala.
"Aku belum tahu apakah aku bisa memaafkannya atau tidak."
"Ibu tidak memintamu memaafkan sekarang."
"Lalu?"
"Ibu hanya ingin kamu membuka hatimu sedikit saja."
Zilia mengembuskan napas pelan.
"Akan Zilia coba."
Ibu Retno mengusap pipi gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Sebenarnya... ada satu harapan yang Ibu simpan."
"Apa itu?"
Ibu Retno tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Ibu berharap kamu tidak kembali ke sini."
Zilia langsung mengernyit.
"Bu? Kok malah begitu?"
"Bukan karena Ibu tidak ingin bersamamu."
"Lalu?"
"Karena Ibu ingin kamu kembali ke rumah yang memang seharusnya menjadi tempatmu."
Zilia terdiam.
"Kamu adalah putri keluarga Gentana. Di sana ada ayah kandungmu, ada masa depanmu, dan ada hak yang sejak dulu memang menjadi milikmu."
"Tapi..."
"Kalau suatu saat nanti mereka benar-benar menerima dan menyayangimu seperti seharusnya, tinggallah di sana."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ibu Retno.
"Ibu sudah bahagia melihatmu tumbuh sampai sebesar ini. Sekarang, Ibu hanya ingin melihatmu hidup bahagia... meski bukan lagi di rumah kecil ini."
Mata Zilia ikut memerah.
Tanpa berkata apa-apa, ia kembali memeluk Ibu Retno dengan erat.
"Terima kasih sudah menjadi ibu terbaik buat Zilia."
Ibu Retno memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang akhirnya tetap jatuh membasahi pipinya.
"Pergilah, Nak."
"Jangan khawatir. Secepatnya Zilia pasti pulang."
Di belakang mereka, Davin hanya bisa tersenyum tipis melihat perpisahan itu.
Ia sadar, tidak ada ikatan darah yang mampu mengalahkan kasih sayang seorang ibu yang telah membesarkan anaknya dengan sepenuh hati.
Namun, Davin juga percaya... perjalanan yang akan ditempuh Zilia hari ini akan mengubah seluruh hidup gadis itu untuk selamanya.
Mobil melaju membelah jalan raya menuju kota. Suasana di dalam mobil sempat hening. Davin fokus menyetir, sementara Zilia lebih banyak memandangi pemandangan di luar jendela.
Sesekali ia menghela napas, masih belum sepenuhnya rela meninggalkan rumah Ibu Retno.
Untuk mengusir kejenuhan, Zilia akhirnya membuka percakapan.
"Oh iya, Kak."
"Hm?"
"Aku sebenarnya sudah diterima kerja di sebuah perusahaan besar di kota."
Davin menoleh sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian ke jalan.
"Oh ya?"
"Iya."
Zilia tersenyum bangga. Ia membuka map cokelat yang dibawanya, lalu mengeluarkan surat penerimaan kerja.
"Nih, buktinya. Lumayan, kan? Belum lulus kuliah aja aku sudah diterima."
Davin langsung mengambil surat itu.
"Boleh Kakak lihat?"
"Boleh."
Matanya bergerak perlahan membaca setiap baris tulisan pada surat tersebut.
Semakin lama ia membaca, ekspresinya berubah.
Alisnya terangkat, lalu sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Zilia yang menyadari perubahan itu langsung mengernyit.
"Kok gitu ekspresinya, Kak?"
Davin menoleh sambil mengangkat surat itu.
"Zil... kamu sadar nggak perusahaan yang menerima kamu ini milik siapa?"
Zilia menggeleng.
"Memangnya milik siapa?"
Davin terkekeh kecil.
"Perusahaan ini adalah perusahaan keluarga calon suamimu."
"Hah?!"
Mata Zilia langsung membulat.
"Calon suamiku?"
Davin mengangguk santai.
"Iya."
"Apa maksudnya?"
"Kamu memang belum diberi tahu?"
"Diberi tahu apa?"
Davin tersenyum tipis.
"Om sudah menjodohkanmu."
Zilia sampai ternganga.
"Aku dijodohkan?"
"Iya. Tapi tenang saja, pernikahannya bukan sekarang. Cowoknya baik, juga tampan. Kamu tidak akan menyesal menikah dengannya."
Zilia masih menatap Davin dengan wajah tak percaya.
"Setelah kamu menyelesaikan kuliahmu di luar negeri, barulah pernikahan itu dilangsungkan."
"Terus?"
"Setelah menikah, Om berencana menyerahkan sebagian besar perusahaan keluarga kepadamu. Bahkan investasi keluarga Gentana juga akan digabungkan dengan perusahaan tempat kamu diterima bekerja ini."
Davin mengembalikan surat itu kepada Zilia.
"Singkatnya... perusahaan yang kamu lamar sekarang adalah perusahaan milik keluarga calon suamimu."
Zilia masih mematung.
Beberapa detik kemudian, ia langsung mendecak kesal.
"Ogah!"
Davin tertawa kecil.
"Belum ketemu orangnya saja sudah nolak."
"Ya jelas nolak! Aku sudah punya calon suami."
"Oh ya?"
"Iya!"
"Siapa?"
Zilia tersenyum bangga.
"Namanya Vio."
"Vio?"
"Iya. Orangnya baik, ganteng, pintar, penyayang... pokoknya sempurna deh."
Davin sengaja berdeham.
"Hem... hem..."
"Kenapa sih, Kak?"
"Kayaknya Kakak belum percaya."
Zilia langsung menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Nggak percaya?"
"Iya."
"Ya sudah! Nanti aku kenalin."
Davin tersenyum jahil.
"Ya udah kapan ngenalinnya."
"Iya nanti."
"Nah, nanti kalau ada waktu, kita temui orangnya."
Zilia mengangguk pelan.
"Boleh! Biar Kakak tahu kalau calon suamiku nggak kalah kerennya."
Davin hanya tersenyum kecil sambil kembali fokus melihat jalanan.
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄