**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Aku Bukan Alat Tukar Keluarga
Keluarganya telah menjualnya semalam.
Pagi ini, Kayla pulang untuk menagih jawaban.
Sebelum meninggalkan Grand Regalia, petugas keamanan menyerahkan tas selempang cokelat yang ditemukan di ruang privat restoran. Dompet dan kartu identitasnya masih ada. Ponselnya mati, tetapi menyala kembali setelah diisi daya beberapa menit di lobi.
Ada dua puluh tiga panggilan tak terjawab.
Tujuh dari Vera. Sebelas dari Rosa. Sisanya nomor Wilson Chandra dan nomor tak dikenal.
Tidak satu pun pesan bertanya apakah Kayla baik-baik saja.
Pesan pertama Vera berbunyi, `Kamu di mana?`
Pesan berikutnya lebih jujur.
`Kenapa Wilson pulang sendirian semalam?`
Di dalam taksi menuju Bekasi, Kayla membaca kalimat itu dua kali. Lalu ia tertawa pendek sampai pengemudi melirik dari kaca tengah.
Bukan keselamatannya yang dikhawatirkan Vera. Rencana mereka yang gagal.
Perjalanan keluar dari kawasan hotel terasa seperti perpindahan antara dua dunia. Gedung kaca dan mobil mewah perlahan berganti dengan jalan padat, deretan ruko, pengendara motor yang menyelip di antara kendaraan, serta spanduk cicilan yang menggantung di depan toko elektronik.
Kayla menyandarkan kepala ke kursi. Tubuhnya menuntut tidur, tetapi amarah membuat matanya tetap terbuka.
Menjelang siang, taksi berhenti di depan toko sembako keluarga Halim. Pintu gulungnya terbuka setengah. Tumpukan kardus mi instan memenuhi sisi pintu, sementara dua ibu tetangga sedang memilih minyak goreng.
Rosa melihat Kayla lebih dulu.
"Kayla!"
Suara itu membuat kedua pelanggan menoleh. Kayla masuk tanpa menjawab. Ia menunggu sampai para pelanggan membayar dan pergi, lalu menutup pintu kaca toko.
Vera muncul dari tangga menuju lantai atas. Wajahnya pucat saat melihat pakaian butik hotel yang dikenakan Kayla.
"Kau dari mana?"
Kayla meletakkan tas kertas berisi gaun robek di atas meja kasir.
"Kalian seharusnya lebih tahu jawabannya."
Benny berdiri di belakang rak rokok. Ia memandang tas itu, kemudian Vera, lalu cepat-cepat menunduk. Bryan yang sedang mencatat stok berhenti menulis.
Rosa bergegas mendekat. "Jangan bicara keras-keras. Toko masih buka. Kalau tetangga dengar bagaimana?"
"Mama masih memikirkan tetangga?"
"Mama memikirkan nama baik keluarga!"
Kayla mengeluarkan secarik kertas dari saku. Kertas bertuliskan 2010 dan 2001 itu dibentangkan di atas meja kasir.
"Kalau Tante Fen tidak salah kamar, sekarang aku mungkin masih terjebak bersama suami Ci Vera. Itu nama baik yang Mama maksud?"
Bryan menatap Vera. "Ci, apa maksudnya?"
"Kau jangan ikut campur," bentak Vera.
"Dia berhak tahu perempuan macam apa yang tinggal serumah dengannya," kata Kayla.
Rosa menarik lengan Kayla. "Sudah. Kita bicara di atas."
Kayla melepaskan tangannya. "Aku mau bicara di sini. Biar Papa dan Bryan dengar."
Benny akhirnya membuka mulut. "Kayla, Papa baru tahu tadi pagi. Papa sungguh tidak menyangka mereka akan sampai memberi obat..."
"Tapi Papa tahu mereka ingin menyerahkanku kepada Wilson?"
Benny terdiam.
Jawaban itu menyakitkan lebih daripada pengakuan.
Rosa berdiri di depan suaminya seolah ingin menutup kelemahannya. "Jangan menyalahkan Papa. Mama yang setuju. Vera sudah bertahun-tahun berusaha punya anak. Keluarga Chandra terus mengancam akan menceraikannya. Kita ini keluarga. Apa salahnya berkorban sekali untuk kakakmu?"
"Berkorban?" Kayla menunjuk gaun robek di dalam tas. "Kenapa bukan Mama yang meminum obat itu? Kenapa bukan Ci Vera yang diseret ke kamar orang asing?"
Wajah Rosa memerah. "Jaga mulutmu!"
"Tubuhku milikku. Bukan milik Mama, bukan milik Ci Vera, dan bukan alat tukar untuk mempertahankan pernikahan siapa pun."
Vera turun satu anak tangga lagi. "Jangan bersikap seolah hidupmu sudah hancur. Keluarga Chandra kaya. Wilson juga tidak akan menelantarkanmu. Kau bisa berhenti jaga malam, tinggal di apartemen, punya mobil. Banyak perempuan mau mendapatkan itu."
Kayla memandang kakak angkatnya lama sekali.
"Kalau hidup itu begitu enak, kenapa kau tidak membiarkan Wilson mencari perempuan lain?"
Rahang Vera menegang.
"Karena kau takut dia akan mencintai perempuan itu," lanjut Kayla. "Kau ingin bayinya, uangnya, dan status istri sahnya. Perempuan yang melahirkan untukmu harus cukup dekat untuk dikendalikan, tetapi tidak boleh punya hidup sendiri. Jadi kalian memilihku."
"Aku melakukan ini agar pernikahanku selamat!"
"Dengan menghancurkan hidupku?"
"Aku kakakmu!" teriak Vera. "Aku ikut membiayai sekolahmu. Tanpa keluarga ini, kau tidak akan menjadi dokter."
Rosa segera menyambung, "Benar. Mama dan Papa mengangkatmu, memberimu makan, menyekolahkanmu. Sekarang baru diminta membantu satu kali, kau sudah menghitung semuanya seperti orang asing."
Kayla membuka aplikasi bank di ponselnya.
Ia memperlihatkan riwayat transfer bulanan yang tersimpan selama bertahun-tahun. Biaya sekolah yang pernah dikeluarkan keluarga telah ia kembalikan sedikit demi sedikit sejak masa koas. Setelah menjadi dokter, jumlah yang dikirimnya bahkan lebih dari dua kali lipat.
"Aku tidak pernah melupakan bantuan kalian," katanya. "Karena itu aku membayarnya. Aku membantu cicilan toko. Aku membayar biaya rumah sakit Papa. Aku juga melunasi utang kartu kredit Ci Vera saat Wilson belum tahu."
Vera membuang muka.
"Semua sudah kembali lebih dari dua kali lipat," lanjut Kayla. "Kalau kalian masih menganggap tubuhku sebagai bunga dari utang itu, berarti utangnya memang tidak pernah dimaksudkan untuk lunas."
Rosa menepis ponselnya. "Keluarga tidak menghitung uang seperti pedagang!"
Ponsel itu jatuh di meja. Bryan cepat-cepat mengambilnya sebelum menyentuh lantai.
"Tapi Mama baru saja menghitung semua yang pernah Mama keluarkan untukku," kata Kayla.
Rosa kehilangan kata-kata.
Bryan menyerahkan ponsel tersebut. Wajahnya kaku. "Kayla benar."
"Bryan!" Rosa melotot.
"Kalau kalian melakukan ini kepada Ci Vera, Mama pasti akan melapor polisi. Kenapa karena korbannya Kayla, Mama menyebutnya pengorbanan?"
Vera turun sampai lantai toko dan menunjuk adiknya. "Kau tidak tahu apa-apa. Jangan sok jadi pahlawan."
"Aku tahu kalian memberinya obat," balas Bryan. "Itu cukup."
Benny mengusap wajah. "Sudah, jangan bertengkar. Kita selesaikan baik-baik. Vera minta maaf. Kayla juga jangan langsung memutus keluarga."
Kayla hampir tertawa.
Seperti biasa, Papa meminta orang yang terluka untuk menjaga kedamaian.
"Tidak ada yang perlu diselesaikan," katanya. "Mulai hari ini, jangan hubungi aku kecuali ada keadaan darurat yang benar-benar menyangkut nyawa. Aku tidak akan membayar utang kalian lagi. Aku juga tidak akan datang setiap kali Mama memakai kata keluarga untuk memaksaku."
"Kau berani meninggalkan orang tua yang membesarkanmu?" suara Rosa meninggi.
"Mama meninggalkanku lebih dulu semalam."
Kalimat itu membuat toko mendadak sunyi.
Kayla membuka grup WhatsApp keluarga. Foto profilnya adalah gambar mereka berlima saat Imlek tahun lalu. Semua tersenyum seolah tidak pernah ada perbedaan antara anak kandung dan anak angkat.
Ia menekan `Keluar dari grup`.
Lalu nomor Rosa diblokir.
Nomor Vera menyusul.
Vera melihatnya dan tertawa sinis. "Silakan kabur. Kau pikir memblokir nomor kami akan menyelesaikan semuanya? Wilson sudah melihat fotomu. Dia tahu kau bekerja di RS Sentosa. Kalau dia menginginkan sesuatu, dia tidak mudah menyerah."
Jari Kayla berhenti di atas layar.
"Kau bisa menghindari kami," lanjut Vera, "tapi kau tidak bisa terus menghindari suamiku."
Kayla memasukkan ponsel ke dalam tas dan membuka pintu toko.
Udara Bekasi yang panas menyergap wajahnya. Klakson motor bersahutan di jalan, sementara dari warung sebelah tercium minyak goreng yang terlalu lama dipakai.
Di belakangnya, Rosa masih memanggil namanya.
Kayla tidak menoleh.
Ia sudah memutus keluarganya. Sekarang ia membutuhkan cara untuk membuat Wilson Chandra berhenti menganggapnya bisa dimiliki.