Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi mencari Kecoa : 19
Huaaaa — “Papi nakal!”
Ardan bertambah tantrum, merasa dicurangi. Bukan lagi berguling-guling, dia bangkit dan mendekati tas belanjaan dari butik. “Mau aku lempalin itu!”
Yarash menangkap putranya sebelum mengacak-acak pakaian Saniya. “Mbak, tolong bawa masuk ke kamar kami.”
Mbak Juraida bergegas menyelamatkan tas berisi pakaian baru majikannya.
“Lepasin, Papi jelek!” tak kehabisan akal, digigitnya lengan ayahnya.
Saniya Syamira memainkan peran, menggunakan kesempatan ini. Barusan dia mencari informasi terkait hewan Kecoa jenis Badak raksasa.
“Mas Ardan,” panggilnya lirih.
Gigitannya dilepas agar bisa menjawab. “Aku Abang-abang, bukan Mas!”
“Abang Ardan paling tampan, apalagi kalau lagi tersenyum, gak gampang marah, gantengnya nambah banyak-banyak, seharusnya kita cari terus si Coro, kasihan kan dia. Siapa tau lapar,” bujuknya dengan memuji.
Bak mantra sakti, kalimat ibu tirinya seperti hipnotis. Ardan berkedip-kedip lucu, warna pipi bersemu kemerahan. “Benelan aku gantengnya banyak-banyak?”
Tubuh Yarash bergetar samar, dia tertawa tanpa mengeluarkan suara.
Tatiana menahan diri, pupus sudah kesempatan melihat adiknya tantrum lalu menyerang wanita yang tidak disukainya.
“Kalau menurut Tante, siapa paling tampan di rumah ini … ya abang Ardan,” ekspresi Saniya sangat menjiwai, tak terlihat seperti seseorang sedang bercanda.
Ardan menurunkan lengan ayahnya yang memeluk perut. “Awas, Papi! Aku ndak mau dipeluk olang jelek.”
Yarash menarik napas panjang, putranya paling bisa mengacaukan suasana hati orang.
“Ayo kita cali Colo-colo! Lek Lele ambil tok tok sana! Kita lobohin lumah ini!” ujarnya bersemangat.
Saniya melangkah lebih dulu, berdiri di rumah kaca kotak persegi yang lantainya tanah gembur, terdapat daun kering makanan Kecoa jenis paling besar di dunia. Tidak bisa terbang, tak berbau, dan tidak berbahaya dijadikan hewan peliharaan.
“Abang ….”
“Iya, Ibu tiliii,” suaranya bernada, senyum lebar menghiasi bibir mungilnya.
“Astaga, masih sebotol yakult, aura playboy nya udah keluar,” mang Suip berbisik di sebelah rekannya yang seperti orang menahan mual.
“Wes rah iso ngomong aku ki (sudah gak bisa bilang aku).” Lek Lawi geleng-geleng kepala, dia kehabisan kata-kata.
“Bang Ardan, Kecoanya gak bisa terbang loh, terus badannya kan besar, mana mungkin dia masuk ke dalam tembok, yang ada nanti kejepit batu bata. Bisa jadi sekarang lagi sembunyi di gorden rumah, yuk kita cari kesana!” ajaknya sesaat mengulurkan tangan.
“Ndak mau digandeng, aku kan udah Abang-abang,” pipinya bertambah kemerahan, dia sedang malu.
Gaya Ardan bak gentleman, berjalan dengan langkah lebar, tangan sedikit terangkat.
Yarash beranjak, dia berbisik dekat sekali dengan wajah istrinya. “Kamu hebat, bisa membujuk Ardan. Padahal saya sering kewalahan.”
Saniya tersenyum tipis, tetap berjalan ke jendela ruang santai. “Sesekali mas Yarash harus melihat bagaimana tingkah laku murid-muridku.”
Gorden bergelombang yang sudah ditarik menutupi jendela, sama Ardan disibak. Dia menolak bantuan orang lain, tak mengindahkan peringatan. Ingin terlihat hebat di mata ibu tirinya.
Akhhhh! “Benelan ada cucuku!” Ardan memekik kegirangan.
Pada gelombang gorden kelima, bersembunyi hewan coklat gelap.
“Ayo tulun anak pintal, jangan nakal ya, nanti Opa jewel telinganya.” Kain gorden digoyangkan.
Ardan yang tidak memiliki kesabaran seluas samudra, berusaha naik dengan bergelantungan di gorden tinggi.
“Nak, turun! Nanti kamu jatuh!” Yarash mulai panik.
“Ndak mau. Aku mau milip Talzan!” Genggaman tangannya berpindah ke atas supaya bokongnya bisa bergerak naik.
Lek Lawi diam-diam naik ke kursi lipat, lalu menangkap Kecoa agar tidak kabur lagi.
“Ardan, itu berbahaya. Sakit loh kalau jatuh, nanti —”
Bruk!
Belum juga selesai kalimat Saniya, penyanggah gorden jendela rubuh.
Yarash tepat waktu menahan batang gorden agar tidak mengenai putranya, tetapi terlambat menolong balita yang terlanjur jatuh menghantam lantai.
“Pantatku pelih!” Ardan terlanjur malu, bukannya berdiri malah guling-guling diatas kain lembut warna abu-abu muda.
Mang Suip, dan Suci menggantikan posisi sang tuan, mereka menahan batang gorden.
“Ardan, katanya kan udah Abang-abang, jadi gak boleh cengeng,” ucap pria yang hafal jika putranya sedang memainkan drama.
“Tapi ini sakit, Pi. Nanti bokongku kempes gimana?” Wajahnya keluar dari gulungan kain.
“Nanti Papi tiup biar montok lagi.” Ia angkat balita yang hanya memakai kaos singlet dan celana pendek.
“Jangan lihat-lihat!” Ardan menghardik ibu tiri, dia malu karena gagal bersikap bak laki-laki sejati.
“Siap Abang ganteng,” jawab Saniya cepat-cepat memalingkan wajahnya.
Lagi-lagi mendapatkan pujian, suara tangisnya pun perlahan berhenti. Menggunakan kaos sang ayah, dia mengelap air mata dan ingus.
Yarash memangku Ardan, mereka duduk pada sofa, bersebelahan dengan Tatiana yang hanya menjadi penonton sembari menahan geram dalam hati.
Kecoa sudah dimasukkan lagi ke dalam rumahnya. Para pelayan sekarang bisa tenang, tidak sakit telinga mendengar teriakan Ardan, dan tak dipusingkan oleh perintah aneh.
“Masih sakit, atau sudah hilang sakitnya, Nak?” Yarash membelai lembut rambut lembab putranya.
Ardan yang memeluk ayahnya seperti anak Koala, enggan menjawab.
“Papi nanya loh, kalau masih sakit kan bisa dikasih obat dingin,” ada kekhawatiran dalam suaranya, dia memang sesayang itu kepada Ardan maupun Tatiana.
“Udah sembuh, tapi aku malu … hiks hiks.” Mulutnya terbuka, dan gigi kecilnya menggigit otot dada pria yang langsung mengerang terkejut.
“Sakit, Nak.” Yarash menarik kepala Ardan, lalu mengubah posisi duduknya.
“Ibu tili kok ndak mau lihat aku, kenapa?” Ardan langsung kesal, dia sudah duduk membelakangi ayahnya.
Saniya memalingkan muka, memandang wajah memerah dan lembab. “Tadi katanya gak boleh lihatin abang Ardan?”
“Lupa aku tu.” Ia meringis.
“Sekarang sudah boleh lihat belum?” Saniya duduk di sofa bersebelahan dengan Ardan.
“Aku masih ganteng kan?”
Saniya mengangguk mantap. “Masih dong, mana tambah tampan lagi kalau ngomong suaranya pelan gitu, gak teriak-teriak.”
Tubuh Ardan menggelinjang, tangannya menutupi wajah. “Boleh lihatin aku.”
“Abang Ardan, tadikan abang bilang kalau lek Lawi yang buat hilang Kecoanya, apa Abang ada lihat sendiri, atau cuma asal ngomong?” dibalik wajah tenangnya, Saniya memiliki maksud terselubung.
Yang ditanya sibuk mengorek telinga terasa gatal. “Kan, lek Lele suka belsihin kandang cucuku.”
“Membersihkan kandang, bukan berarti lek Lawi yang melepaskan Kecoanya, Abang,” pelan-pelan Saniya mencoba mendidik Ardan.
“Gitu ya?” tanyanya polos.
“Iya. Lain kali, sebelum asal ngomong, coba ditanya baik-baik, suaranya pelan seperti ini, jangan teriak-teriak, nanti pita suara bang Ardan rusak, terus gak bisa ngomong lagi gimana?”
“Ambil punyanya Papi,” jawabnya cepat, singkat.
Saniya dan Yarash sama-sama tertawa lepas, sedangkan Tatiana mendengus.
Kemudian Saniya berbicara serius ke pria masih memangku Ardan. “Mas, alangka baiknya kalau hunian ini dipasang cctv di setiap sudut. Untuk mendidik Ardan supaya lebih menjaga lisan, tak asal menuduh, membiasakan dia untuk menjadi pribadi yang jujur.”
“Jangan! Siapa kamu ngatur-ngatur papiku?!”
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...