Alih-alih melawan takdir dan hasrat untuk meninggalkan sang mantan, Rinjani menelan cinta dari dua lelaki keturunan bangsawan Jawa dengan cara “anglaras ilining banyu angeli, ananging ora keli” sampai di usia senja.
Sementara itu, sudah lama Kaysan membuat surat wasiat untuk Rinjani dan adiknya hingga kedamaian di rumah utama dan pelangi tidak lagi warna-warni seperti sedia kala.
Lantas bagaimana akhir dari prahara cinta segitiga trah Adiguna Pangarep yang tak pernah usai? Apakah wasiat dan warisan itu menjadikan hubungan Rinjani dan Nanang kian semrawut ataukah cinta sejati yang digadang-gadang sebagai cikal bakal wasiat itu terus terjalin hingga mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KINASIH 25
Berdamai dengan diri sendiri dalam rumah ini rupanya masih menjadi pe-er tersendiri bagiku. Kembalinya sanak keluarga dari pemakaman menimbulkan tanya dalam benakku. Sejauh apa mereka mengerti rahasia hati yang dibeberkan mas Kaysan selama ini?
Kendati aku tidak ingin menyuarakan isi hati secara terang-terangan wajahku yang nampaknya bagi Nakula terlihat judes dan dingin membuatnya menyosorku dengan tanya.
“Kenapa bestie?”
Aku menerima mawar putih darinya dengan kerutan di wajahku.
“Maksudmu apa?”
“Titipan dari mas Kaysan.” Nakula mengambil secarik kertas di kantong jaket cardigan hitamnya. Ia membelalakkan mata dengan bibir yang kontan meringis lebar.
Nakula berdehem lalu berlutut di depanku yang duduk di bangku taman menikmati udara sore di temani bocah-bocah yang sibuk memberi makan ikan di temani pengasuh-pengasuhnya.
“Engkau layaknya anggrek langka yang hidup di lantai hutan, sendiri, tapi cantikmu hanya aku yang mengetahui.”
Aku menanggapi dengan senyum terpaksa. Sementara Nakula menyikapi responku dengan menghela napas panjang.
“Capek ya mbak jadi cewek cantik?”
Aku menentang mata Nakula. “Lebih capek menghadapi masmu!”
“Untung dulu aku batal naksir kamu, Mbak.”
Air mukaku langsung datar. Sementara air muka Nakula tampak terhibur dengan ucapannya sendiri seolah habis melepas sesuatu yang besar.
“Kamu nggak usah cerita apa-apa. Mumet kepalaku!”
“Aku batal curi start karena persaingan mas Kay dan mas Nanang rupanya tetap alot.”
“La!” Aku menginjak kakinya kuat-kuat. “Bersama kedua masmu aku sudah mengecap manis dan getirnya percintaan. Kamu malah nambah-nambah pikiran. Tega banget.”
Nakula tertawa. Dia yang menatapku membelakangi cahaya matahari menghela napas.
“Bonusnya dulu jagain Mbak memang itu kan, naksir. Eh tapi itu dulu, sekarang aku prihatin sama Mbak.”
Banjirnya kejujuran Nakula membuatku menaruh mawar putih di sampingku lalu menatap mega-mega mendung yang bercampur dengan sinar senja di ufuk timur.
“Kehangatan di rumah ini terkadang melenakan. Tahunan Nanang pun terlalu bebal menghendaki perubahan.” Aku mengembuskan napas.
“Sekarang aku tanya kamu, La. Apa iya sekeluarga setuju mas Kaysan nitipin aku ke Nanang?”
Nakula menyorongkan kertas yang di tulis mas Kaysan.
“Ikuti saja alurnya Mbak, sudah tua gini mau apa. Berontak? Ngambek? Terus capek sendiri? Sudahlah... Daripada jadi beban, nikmati saja masa tua ini wong teruntuk kalian yang sudah berjuang hingga tak terhitung jumlahnya menjadi teman hidup di masa tua rasanya cukup adil.”
Kami menelengkan kepala saat Rahma memanggil dan menghampiri kami sambil membawa handuk dan mengulurkan padanya.
“Aku mandi dulu, Mbak. Titip anak-anak ya.”
Aku berdehem. Keduanya berlalu sambil tersenyum meninggalkanku.
Pengorbanan kami memang tak terhitung jumlahnya. Namun betapa pun hebatnya cinta segitiga yang tidak pernah mencapai puncak kejayaan rasanya tetap tidak mudah menerimanya.
Aku menyuruh Ningsih mengajak anak-anak masuk ke dalam rumah sebelum magrib berkumandang.
“Ndoro, tidak masuk? Hati-hati lho magrib-magrib nanti di gondol duda.” ucap Ningsih sambil mengiringi bocah-bocah ke dalam rumah seperti menggiring kawanan bebek.
”Ngomong apa kamu ini, Ning!”
Ningsih menoleh dan tersenyum lebar.
Aku menghela napas dan beranjak. Kakiku gontai melangkah ke arah rumah utama. Namun ke arahku dari pintu belakang rumah yang terbuka duda yang di sebut Ningsih melangkah dengan senyum kecil di bibirnya.
Aku menundukkan kepala, males banget bertegur sapa dengan Nanang yang rupanya sudah siap menjalani hari-harinya sebagai duda. Ia sudah lihai memamerkan senyum dan tawa.
“Bungamu ketinggalan.” ucapnya saat melewatiku.
Cepat-cepat aku menjauhinya, seharusnya ia tahu tak semestinya ikut campur urusanku dalam hal sepele sekalipun.
Aku mendorong pintu kamar dan menguncinya. Upacara mendhak sepisan Sakila yang akan dilaksanakan pada pukul setengah delapan nanti dan akan di isi dengan acara kenduri dan doa bersama tamu undangan yang lebih banyak dari semalam.
Cantik dan anggun adalah kunci agar terlihat strong dan tak tersentuh malam ini. Topeng terbaik itu aku persiapan seorang diri selama satu jam sampai acara di mulai.
“Bun, tamu-tamu sudah datang.” ucap Dalilah sembari mengetuk pintu kamar.
Aku mengenakan selendang putih serupa selendang pengantin sebagai penutup kepala sembari membuka pintu kamar.
Dalilah menyodorkan bunga mawar putih tadi sembari memberi tatapan jail.
“Di simpan dong, jangan cuma di tinggalin di taman. Kasian bunda, kesepian.”
Aku meraih bunga itu dan menyimpannya di vas bunga bersama bunga segar lainnya seraya menutup pintu. Masalah selesai.
Aku menjemput mas Kaysan di kamar, dia tampak belum mengantuk tetapi perubahan ekspresinya setelah kehilangan pamong cukup membuatku lega.
Mas Kaysan tersenyum, dengan bantuan penyangga jalannya di berjalan di sampingku.
“Kamu cantik sekali malam ini, Dik.” pujinya saat aku membantunya menuruni telundakan.
Aku tersenyum sambil menatapnya. “Aku anggrek langka yang tumbuh di lantai hutan dan hanya kamu yang memahami kecantikanku.”
“Betulkah?” Mas Kaysan mengernyit.
“Kamu sendiri yang bilang tadi mas, lewat Nakula.”
Aku memandang kekacauan di wajahnya yang mendadak gundah sementara bocah-bocah berlarian ke sana kemari mencari bapak ibunya.
Kami berdiri saling menerka di depan wajah-wajah yang kami kenali. Beberapa kami tahu namanya, beberapa tidak. Mereka menunggu acara kenduri di mulai dengan duduk di karpet.
Mas Kaysan mendadak melempar tatapan pada Nakula lalu Nanang.
“Mungkin mereka berdua sedang jail padamu.”
Jantungku tremor seketika.
...----------------...
tapi.... kita sebagai orang terdekat yang mengharap kesembuhan tentu kecewa dan sedih dengan kepasrahan itu
mas kay, sini tak puk puk, aku juga pengen peluk kamu lho mas
aah part ini makin bikin mewek, mas kaysan aku paham rasa hatimu.
terkadang betapapun tulus dan rasa sayang kepada pasangan, tapi entah disadari atau tidak, jauh disanubari ada rasa lain yang tersimpan rapi untuk seseorang di masa lalu dan mas kaysan mungkin menyadari itu