Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Kesadaran Lin Liu kembali perlahan, disertai bau obat merah yang menyengat dan rasa perih di sekujur tubuhnya. Dia mengerjapkan mata, mendapati dirinya berbaring di sebuah dipan kecil beralaskan kain sederhana, dengan langit-langit yang tidak dia kenali menaunginya.
"Kamu udah sadar?"
Lin Liu menoleh lemah ke arah suara itu, mendapati Su Yan duduk di sampingnya, memegang baskom berisi air dan kain bersih, wajahnya terlihat lelah namun lega.
"Kak Su Yan? Ini... di mana?" suara Lin Liu serak, tenggorokannya terasa kering.
"Kamarku di atas toko," jawab Su Yan, mencelupkan kain ke baskom lalu menempelkannya perlahan ke luka di dahi Lin Liu. "Tadi malam ada orang yang menemukan dirimu pingsan di gang dekat sini, motormu ringsek, terus dia membawa kamu ke toko karena kartu identitas ojek onlinemu ada nama tokoku sebagai referensi kerjaan."
Lin Liu meringis menahan perih, ingatan tentang kejadian di gang gelap itu perlahan kembali—pria besar penumpangnya, bisikan tentang Zhang Ming, dan pukulan yang menghantam kepalanya.
"Zhang Ming..." gumamnya pelan, rahangnya mengeras menahan amarah yang bercampur kekecewaan.
"Siapa itu Zhang Ming?" tanya Su Yan, mengerutkan kening.
Lin Liu menghela napas panjang, lalu menceritakan semuanya—tentang pertemuannya dengan Zhang Ming, tawaran mencurigakan yang dia tolak, hingga serangan yang menimpanya semalam. Su Yan mendengarkan dengan saksama, wajahnya semakin serius seiring cerita itu berlanjut.
"Untung kamu menolak tawaran dia," kata Su Yan akhirnya, menyelesaikan balutan di dahi Lin Liu. "Tapi kamu harus hati-hati. Orang kayak gitu, sekali ditolak, biasanya nggak akan berhenti cuma sampai di situ."
Lin Liu mencoba bangkit dan duduk perlahan, meskipun kepalanya masih terasa berputar. Matanya secara refleks mencari layar sistem, dan segera menemukan angka waktu yang terus berjalan mundur di sudut penglihatannya.
...[MISI "MODAL USAHA": Rp3.150.000 / Rp5.000.000]...
...[WAKTU TERSISA: 19:42:15]...
Kurang dari sehari, dan dia masih membutuhkan hampir dua juta rupiah lagi, sementara motor ojek onlinenya kini rusak parah dan tubuhnya penuh luka. Belum lagi, deadline A-Wei malam itu yang terus diundur. sepuluh juta yang harus dia bawa jam delapan malam, sama sekali belum ada bayangan bagaimana cara memenuhinya.
"Kamu lagi mikirin apa sih? Dari tadi diam aja dan menatap kosong," Su Yan memperhatikan raut wajah Lin Liu yang berubah tegang.
"Kak Su Yan," Lin Liu menatap Su Yan dengan sorot mata penuh keputusasaan namun juga tekad, "Aku butuh bantuan. Bukan uang, tapi kerjaan tambahan, apa pun itu. Aku butuh mengumpulkan uang secepat mungkin, dan Aku nggak punya waktu banyak."
Su Yan terdiam sejenak, menatap Lin Liu dengan ekspresi yang sulit diartikan, sebelum akhirnya menghela napas dan mengangguk pelan. "Tokoku butuh orang buat bantu stok barang buat pameran UMKM besok pagi, bayarannya lumayan kalau kamu mau kerja lembur malam ini. Tapi badanmu masih luka-luka, yakin sanggup?"
"Saya sanggup," jawab Lin Liu tanpa ragu, meskipun rasa nyeri masih menjalar di sekujur tubuhnya. "Saya harus sanggup."
Malam itu, Lin Liu bekerja tanpa henti membantu Su Yan menyortir dan mengemas barang dagangan, mengabaikan rasa sakit yang terus mendera. Setiap kali dia merasa hampir menyerah, bayangan wajah kedua orang tuanya yang meninggalkannya, dan tekad untuk tidak lagi diinjak-injak oleh keadaan, membuatnya kembali bangkit dan melanjutkan pekerjaan.
Menjelang tengah malam, Su Yan menyerahkan upah kerja lemburnya, dan setelah dihitung bersama uang orderan ojek daring sebelumnya, angka di layar sistem akhirnya menunjukkan hasil yang melegakan.
...[MISI "MODAL USAHA": Rp5.020.000 / Rp5.000.000]...
...[MISI BERHASIL DISELESAIKAN.]...
Lin Liu tersenyum lega, hampir menitikkan air mata karena kelelahan dan kepuasan yang bercampur jadi satu. Namun kelegaan itu langsung sirna ketika ponsel bututnya—yang untungnya masih selamat dari kecelakaan semalam—berbunyi nyaring, menampilkan nama yang paling tidak ingin dia lihat saat ini.
A-Wei (3 Panggilan Tak Terjawab)
Dan tepat saat dia hendak mengangkat teleponnya, suara berat dari luar pintu toko terdengar menggelegar, disertai gedoran keras yang membuat seluruh badan Lin Liu membeku seketika.
"LIN LIU! GUE TAHU LO ADA DI DALEM! KELUAR SEKARANG, ATAU GUE YANG MASUK!"