Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Sang Pilar Kehormatan
Para asisten tabib bergerak tergesa-gesa di sepanjang koridor batu,
membawa tandu kayu tempat tubuh Luo Hao terbaring kaku. Di belakang mereka, Mu
Xue melangkah cepat sambil mendekap erat tubuh kecil putranya yang masih menyeka
sisa air mata di pipi.
Di dalam ruang perawatan Paviliun Medis yang dingin, tubuh Luo Hao segera
dipindahkan ke atas ranjang batu putih. Tabib kepala klan langsung menempelkan
tiga jarinya di perisai nadi pergelangan tangan kiri pria tersebut, mengalirkan
energi Qi murni berwarna hijau lembut untuk memeriksa sisa meridian di dalam
tubuhnya.
"Bagaimana kondisinya, Tabib?" tanya Mu Xue dengan suara bergetar
meletakkan Luo Chen di lantai batu di samping ranjang.
Sambil menarik kembali tangannya, tabib kepala klan menggelengkan kepala
perlahan dengan wajah datar. "Racun korosif dari jarum spiritual itu telah
melelehkan seluruh jalur meridian utamanya. Tidak ada lagi energi Qi yang
mengalir di tubuhnya."
"Apakah tidak ada obat, Tabib? Pil tingkat tinggi? Pil Penyelamat Jiwa?" tanya
Mu Xue melangkah maju, memegang tepian ranjang batu dengan jemari yang
memucat.
"Tidak ada harapan lagi, Bahkan tabib yang tersohor pun tidak akan bisa membangun kembali dantian
yang telah meleleh," sahut tabib kepala klan dengan nada dingin dan objektif.
"Inti Emas miliknya telah pecah menjadi serpihan abu. Dia kini lumpuh total,
setara dengan manusia fana biasa tanpa sisa kultivasi sedikit pun."
Tangan kecil anak laki-laki di samping ranjang menggenggam erat jemari ayahnya
yang terasa dingin dan kaku. "Ayah akan sembuh, kan, Ibu?" tanya Luo Chen
mendongak menatap wajah ibunya yang pucat.
"Tentu saja, Chen'er," bisik Mu Xue berlutut dan merengkuh bahu kecil
putranya, mencoba menghentikan getaran di tubuh anak itu. "Ayah hanya perlu
beristirahat."
Suara langkah kaki yang berat dari arah pintu masuk mengalihkan perhatian
mereka.
Sambil mengepalkan kedua tangannya di belakang punggung, Tetua Agung Luo Zhan
melangkah masuk ke dalam ruang perawatan dengan jubah kebesarannya yang tampak
berdebu. Pandangan matanya yang tajam menatap lurus ke arah wajah putranya yang
kini memucat di atas ranjang batu. "Bagaimana laporan hasil pemeriksaannya,
Tabib?"
"Kondisinya permanen, Tetua Agung," jawab tabib kepala klan membungkuk
hormat. "Luo Hao tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi seumur hidupnya.
Bahkan untuk sekadar berdiri dan berjalan, ia akan membutuhkan bantuan orang
lain karena sebagian besar saraf motoriknya telah rusak akibat hantaman energi
hitam."
Mendengar hal itu, Luo Zhan memejamkan matanya selama beberapa detik, menarik
napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan. Kekecewaan yang mendalam
terpancar jelas dari garis-garis kerutan di wajahnya yang menua. "Klan utama
tidak bisa memiliki pewaris yang lumpuh," ujarnya dengan suara berat yang
bergema di dalam ruangan dingin tersebut.
"Ayah!" pekik Mu Xue berdiri tegak menghadap mertuanya. "Bagaimana bisa
Ayah memikirkan posisi pewaris di saat suamiku baru saja kehilangan kultivasinya
demi membela nama klan?"
"Ini adalah hukum klan, Mu Xue," sahut Luo Zhan tanpa memandang wajah
menantunya. "Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya. Tanpa kekuatan,
posisi Luo Hao di klan utama hanya akan menjadi sasaran empuk bagi cabang-cabang
lain yang ingin merebut kekuasaan."
Dari balik jubah ibunya, Luo Chen menatap kakeknya dengan pandangan dingin yang
tidak biasa bagi anak seusianya. "Kakek... apakah Kakek akan membuang Ayah?"
tanyanya dengan suara pelan namun terdengar jelas di tengah kesunyian ruangan.
"Kalian tidak dibuang, Chen'er," jawab Luo Zhan memandang cucunya sesaat
sebelum mengalihkan pandangan kembali ke pintu keluar. "Tetapi klan harus
membuat keputusan yang adil bagi seluruh anggota klan utama dan cabang."
Dua jam kemudian, di dalam Aula Pertemuan Utama klan Luo yang megah, puluhan
tetua dari berbagai cabang klan telah berkumpul mengelilingi meja batu
melingkar.
"Luo Hao kini hanyalah sampah manusia fana!" seru seorang tetua dari cabang
ketiga dengan nada suara yang meninggi. "Bagaimana mungkin klan utama terus
mendanai kehidupan seorang lumpuh dengan sumber daya berharga yang seharusnya
diberikan kepada murid-murid berbakat?"
"Dia terluka dalam turnamen resmi klan!" bantah seorang tetua pendukung faksi
utama seraya menggebrak meja batu. "Klan Luo tidak boleh terlihat membuang
pahlawannya begitu saja setelah dia tidak lagi berguna!"
"Pahlawan yang kalah bukanlah pahlawan," balas tetua cabang ketiga dengan
dengusan dingin. "Luo Jun memenangkan pertarungan secara sah. Aturan klan
menyatakan bahwa posisi pewaris harus diberikan kepada yang terkuat. Membiarkan
seorang lumpuh tinggal di paviliun utama hanya akan merusak reputasi klan Luo di
mata klan-klan tetangga."
Sambil mengetukkan tongkat kayunya ke lantai batu hingga menimbulkan suara
ketukan yang keras, Luo Zhan menghentikan perdebatan di dalam aula tersebut.
"Cukup. Aku, sebagai Tetua Agung klan utama, telah mengambil keputusan."
Keheningan seketika menyelimuti seluruh ruangan pertemuan saat para tetua
menunggu kalimat selanjutnya dari mulut sang pemimpin tertinggi.
"Demi menjaga stabilitas dan keadilan klan, Luo Hao resmi dicopot dari posisinya
sebagai pewaris utama," ujar Luo Zhan dengan nada suara yang datar dan tanpa
emosi. "Mulai hari ini, seluruh tunjangan spiritual dan fasilitas kediaman utama
untuk keluarganya akan dihentikan."
"Lalu di mana mereka akan tinggal, Tetua Agung?" tanya salah satu tetua dari
faksi netral.
"Mereka sekeluarga akan dipindahkan ke Desa Yin Yang yang terletak di kaki
Gunung Tiga Jari," jawab Luo Zhan berdiri dari kursi kebesarannya.
"Mereka akan diberikan sebuah kediaman di sana dan dilarang kembali ke area klan
utama tanpa izin tertulis dariku."
Suara bisik-bisik persetujuan terdengar dari kubu cabang ketiga yang tampak puas
dengan keputusan keras tersebut.
Keesokan paginya, di luar paviliun kediaman utama, dua kereta kuda sederhana
berstruktur kayu kasar telah menunggu di depan gerbang batu. Beberapa pengawal
klan mengawasi dengan pandangan dingin saat Mu Xue membantu memapah tubuh
suaminya yang terkulai lemas untuk naik ke atas kereta.
"Kita akan pergi ke mana, Ibu?" tanya Luo Chen memegang buntelan kain
berisi pakaian mereka yang tersisa.
"Kita akan pergi ke tempat yang lebih tenang, Chen'er," jawab Mu Xue
tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan wajah lelahnya di hadapan sang anak. "Di
sana kita bisa merawat ayahmu dengan lebih baik tanpa gangguan siapa pun."
Dengan tubuh yang bersandar lemas pada bantalan kursi kereta yang keras, Luo Hao
menatap tangan kanannya yang gemetar tanpa daya. "Maafkan aku, Mu Xue... aku
telah membuat kalian berdua terpuruk seperti ini," bisiknya dengan suara serak
yang hampir tenggelam oleh deru roda kereta yang mulai berjalan.
"Jangan katakan itu, Hao," sahut Mu Xue menggenggam tangan suaminya, lalu
menarik Luo Chen ke dalam pelukannya saat kereta mulai bergerak meninggalkan
gerbang megah klan utama yang perlahan mengecil di kejauhan.
Perjalanan melelahkan itu berlangsung selama satu hari penuh melalui jalan
setapak berbatu yang kasar dan berdebu. Roda kereta terus berguncang keras,
membuat tubuh Luo Hao berulang kali meringis menahan sakit akibat gesekan
sarafnya yang rusak.
Hingga akhirnya, kereta kuda tersebut berhenti di sebuah area terbuka yang
dikelilingi oleh pepohonan liar di kaki gunung yang menjulang tinggi dengan tiga
puncak runcing.
"Kita sudah sampai," ujar kusir kereta dari luar dengan nada suara yang tidak
ramah membukakan pintu kayu kereta. "Turunlah. Ini adalah batas wilayah
yang bisa dilalui oleh kereta klan."
Sambil menggendong Luo Chen turun terlebih dahulu, Mu Xue memandang ke arah
bangunan yang ditunjuk oleh sang kusir.
Sebuah gubuk kayu reyot dengan atap jerami yang sebagian telah membusuk berdiri
di atas tanah berlumpur di pinggiran Desa Yin Yang. Dinding-dinding kayunya
tampak berlubang di beberapa bagian, menyisakan celah lebar yang bisa dimasuki
oleh embusan angin malam yang dingin.
"Ini tempat tinggal kita?" tanya Luo Chen menatap gubuk tersebut dengan
dahi berkerut, tangannya memegang erat ujung jubah ibunya yang kini mulai kotor
terkena cipratan lumpur jalanan.
"Iya, Chen'er," jawab Mu Xue menarik napas panjang, menatap bangunan
reyot di depannya dengan pandangan mata yang tegas. "Mulai hari ini, ini adalah
rumah baru kita."
Dua pengawal klan segera menurunkan buntelan pakaian mereka ke atas tanah
berlumpur sebelum membantu memindahkan tubuh Luo Hao dari dalam kereta dan
membaringkannya di atas ranjang kayu tua di dalam gubuk tanpa sepatah kata pun.
Begitu tugas mereka selesai, kereta kuda tersebut segera berputar arah dan
melaju cepat kembali menuju arah kota klan utama, meninggalkan kepulan debu
tipis yang perlahan turun menutupi area di sekitar gubuk kayu reyot tersebut.
Di dalam gubuk yang pengap, Luo Hao menatap langit-langit jerami yang berlubang
dengan pandangan kosong. "Tempat ini... bahkan tidak layak untuk dihuni oleh
hewan ternak klan utama," bisiknya lirih dengan air mata yang perlahan mengalir
dari sudut matanya yang kering.
"Kita akan memperbaikinya bersama, Hao," ujar Mu Xue sambil mulai membersihkan
debu tebal di atas meja kayu tua menggunakan saputangan kainnya yang tersisa.
"Selama kita bertiga bersama, tempat ini akan menjadi rumah yang layak bagi
kita."
Sambil melangkah mendekati ranjang ayahnya, Luo Chen meletakkan buntelan pakaian
mereka di sudut ruangan yang kering sebelum menggenggam kembali tangan dingin
sang ayah. "Chen'er akan menjadi kuat, Ayah," bisiknya dengan nada suara yang tenang dan tegas untuk anak seusianya. "Chen'er akan melindungi Ayah dan
Ibu di tempat ini."