NovelToon NovelToon
Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Beladiri Yang Mencapai Puncak Cakrawala

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Kultivasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: JokyWong

Dunia di mana kekuatan adalah satu-satunya hukum, Luo Chen lahir sebagai "sampah" dengan bakat yang menyedihkan. Dihina, dikucilkan, dan dipandang sebelah mata oleh klan sendiri—namun, ia memiliki satu hal yang tidak dimiliki para jenius: Keinginan untuk bertahan hidup yang melampaui batas kewarasan dan tekad yang sanggup meruntuhkan hukum Langit dan Bumi.Tidak ada warisan agung, tidak ada guru besar, hanya teknik bela diri kuno yang terlupakan dan pil racikan dari tanaman liar. Ini bukan sekadar kisah bangkitnya seorang kultivator, ini adalah perjalanan penuh darah dan keringat untuk membuktikan bahwa takdir hanyalah belenggu yang harus dihancurkan. Akankah Luo Chen mengguncang langit, atau ia akan terkubur selamanya dalam ketidakadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JokyWong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Runtuhnya Sang Pilar Kehormatan

Para asisten tabib bergerak tergesa-gesa di sepanjang koridor batu,

membawa tandu kayu tempat tubuh Luo Hao terbaring kaku. Di belakang mereka, Mu

Xue melangkah cepat sambil mendekap erat tubuh kecil putranya yang masih menyeka

sisa air mata di pipi.

Di dalam ruang perawatan Paviliun Medis yang dingin, tubuh Luo Hao segera

dipindahkan ke atas ranjang batu putih. Tabib kepala klan langsung menempelkan

tiga jarinya di perisai nadi pergelangan tangan kiri pria tersebut, mengalirkan

energi Qi murni berwarna hijau lembut untuk memeriksa sisa meridian di dalam

tubuhnya.

"Bagaimana kondisinya, Tabib?" tanya Mu Xue dengan suara bergetar

meletakkan Luo Chen di lantai batu di samping ranjang.

Sambil menarik kembali tangannya, tabib kepala klan menggelengkan kepala

perlahan dengan wajah datar. "Racun korosif dari jarum spiritual itu telah

melelehkan seluruh jalur meridian utamanya. Tidak ada lagi energi Qi yang

mengalir di tubuhnya."

"Apakah tidak ada obat, Tabib? Pil tingkat tinggi? Pil Penyelamat Jiwa?" tanya

Mu Xue melangkah maju, memegang tepian ranjang batu dengan jemari yang

memucat.

"Tidak ada harapan lagi, Bahkan tabib yang tersohor pun tidak akan bisa membangun kembali dantian

yang telah meleleh," sahut tabib kepala klan dengan nada dingin dan objektif.

"Inti Emas miliknya telah pecah menjadi serpihan abu. Dia kini lumpuh total,

setara dengan manusia fana biasa tanpa sisa kultivasi sedikit pun."

Tangan kecil anak laki-laki di samping ranjang menggenggam erat jemari ayahnya

yang terasa dingin dan kaku. "Ayah akan sembuh, kan, Ibu?" tanya Luo Chen

mendongak menatap wajah ibunya yang pucat.

"Tentu saja, Chen'er," bisik Mu Xue berlutut dan merengkuh bahu kecil

putranya, mencoba menghentikan getaran di tubuh anak itu. "Ayah hanya perlu

beristirahat."

Suara langkah kaki yang berat dari arah pintu masuk mengalihkan perhatian

mereka.

Sambil mengepalkan kedua tangannya di belakang punggung, Tetua Agung Luo Zhan

melangkah masuk ke dalam ruang perawatan dengan jubah kebesarannya yang tampak

berdebu. Pandangan matanya yang tajam menatap lurus ke arah wajah putranya yang

kini memucat di atas ranjang batu. "Bagaimana laporan hasil pemeriksaannya,

Tabib?"

"Kondisinya permanen, Tetua Agung," jawab tabib kepala klan membungkuk

hormat. "Luo Hao tidak akan pernah bisa berkultivasi lagi seumur hidupnya.

Bahkan untuk sekadar berdiri dan berjalan, ia akan membutuhkan bantuan orang

lain karena sebagian besar saraf motoriknya telah rusak akibat hantaman energi

hitam."

Mendengar hal itu, Luo Zhan memejamkan matanya selama beberapa detik, menarik

napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya perlahan. Kekecewaan yang mendalam

terpancar jelas dari garis-garis kerutan di wajahnya yang menua. "Klan utama

tidak bisa memiliki pewaris yang lumpuh," ujarnya dengan suara berat yang

bergema di dalam ruangan dingin tersebut.

"Ayah!" pekik Mu Xue berdiri tegak menghadap mertuanya. "Bagaimana bisa

Ayah memikirkan posisi pewaris di saat suamiku baru saja kehilangan kultivasinya

demi membela nama klan?"

"Ini adalah hukum klan, Mu Xue," sahut Luo Zhan tanpa memandang wajah

menantunya. "Di dunia kultivasi, kekuatan adalah segalanya. Tanpa kekuatan,

posisi Luo Hao di klan utama hanya akan menjadi sasaran empuk bagi cabang-cabang

lain yang ingin merebut kekuasaan."

Dari balik jubah ibunya, Luo Chen menatap kakeknya dengan pandangan dingin yang

tidak biasa bagi anak seusianya. "Kakek... apakah Kakek akan membuang Ayah?"

tanyanya dengan suara pelan namun terdengar jelas di tengah kesunyian ruangan.

"Kalian tidak dibuang, Chen'er," jawab Luo Zhan memandang cucunya sesaat

sebelum mengalihkan pandangan kembali ke pintu keluar. "Tetapi klan harus

membuat keputusan yang adil bagi seluruh anggota klan utama dan cabang."

Dua jam kemudian, di dalam Aula Pertemuan Utama klan Luo yang megah, puluhan

tetua dari berbagai cabang klan telah berkumpul mengelilingi meja batu

melingkar.

"Luo Hao kini hanyalah sampah manusia fana!" seru seorang tetua dari cabang

ketiga dengan nada suara yang meninggi. "Bagaimana mungkin klan utama terus

mendanai kehidupan seorang lumpuh dengan sumber daya berharga yang seharusnya

diberikan kepada murid-murid berbakat?"

"Dia terluka dalam turnamen resmi klan!" bantah seorang tetua pendukung faksi

utama seraya menggebrak meja batu. "Klan Luo tidak boleh terlihat membuang

pahlawannya begitu saja setelah dia tidak lagi berguna!"

"Pahlawan yang kalah bukanlah pahlawan," balas tetua cabang ketiga dengan

dengusan dingin. "Luo Jun memenangkan pertarungan secara sah. Aturan klan

menyatakan bahwa posisi pewaris harus diberikan kepada yang terkuat. Membiarkan

seorang lumpuh tinggal di paviliun utama hanya akan merusak reputasi klan Luo di

mata klan-klan tetangga."

Sambil mengetukkan tongkat kayunya ke lantai batu hingga menimbulkan suara

ketukan yang keras, Luo Zhan menghentikan perdebatan di dalam aula tersebut.

"Cukup. Aku, sebagai Tetua Agung klan utama, telah mengambil keputusan."

Keheningan seketika menyelimuti seluruh ruangan pertemuan saat para tetua

menunggu kalimat selanjutnya dari mulut sang pemimpin tertinggi.

"Demi menjaga stabilitas dan keadilan klan, Luo Hao resmi dicopot dari posisinya

sebagai pewaris utama," ujar Luo Zhan dengan nada suara yang datar dan tanpa

emosi. "Mulai hari ini, seluruh tunjangan spiritual dan fasilitas kediaman utama

untuk keluarganya akan dihentikan."

"Lalu di mana mereka akan tinggal, Tetua Agung?" tanya salah satu tetua dari

faksi netral.

"Mereka sekeluarga akan dipindahkan ke Desa Yin Yang yang terletak di kaki

Gunung Tiga Jari," jawab Luo Zhan berdiri dari kursi kebesarannya.

"Mereka akan diberikan sebuah kediaman di sana dan dilarang kembali ke area klan

utama tanpa izin tertulis dariku."

Suara bisik-bisik persetujuan terdengar dari kubu cabang ketiga yang tampak puas

dengan keputusan keras tersebut.

Keesokan paginya, di luar paviliun kediaman utama, dua kereta kuda sederhana

berstruktur kayu kasar telah menunggu di depan gerbang batu. Beberapa pengawal

klan mengawasi dengan pandangan dingin saat Mu Xue membantu memapah tubuh

suaminya yang terkulai lemas untuk naik ke atas kereta.

"Kita akan pergi ke mana, Ibu?" tanya Luo Chen memegang buntelan kain

berisi pakaian mereka yang tersisa.

"Kita akan pergi ke tempat yang lebih tenang, Chen'er," jawab Mu Xue

tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan wajah lelahnya di hadapan sang anak. "Di

sana kita bisa merawat ayahmu dengan lebih baik tanpa gangguan siapa pun."

Dengan tubuh yang bersandar lemas pada bantalan kursi kereta yang keras, Luo Hao

menatap tangan kanannya yang gemetar tanpa daya. "Maafkan aku, Mu Xue... aku

telah membuat kalian berdua terpuruk seperti ini," bisiknya dengan suara serak

yang hampir tenggelam oleh deru roda kereta yang mulai berjalan.

"Jangan katakan itu, Hao," sahut Mu Xue menggenggam tangan suaminya, lalu

menarik Luo Chen ke dalam pelukannya saat kereta mulai bergerak meninggalkan

gerbang megah klan utama yang perlahan mengecil di kejauhan.

Perjalanan melelahkan itu berlangsung selama satu hari penuh melalui jalan

setapak berbatu yang kasar dan berdebu. Roda kereta terus berguncang keras,

membuat tubuh Luo Hao berulang kali meringis menahan sakit akibat gesekan

sarafnya yang rusak.

Hingga akhirnya, kereta kuda tersebut berhenti di sebuah area terbuka yang

dikelilingi oleh pepohonan liar di kaki gunung yang menjulang tinggi dengan tiga

puncak runcing.

"Kita sudah sampai," ujar kusir kereta dari luar dengan nada suara yang tidak

ramah membukakan pintu kayu kereta. "Turunlah. Ini adalah batas wilayah

yang bisa dilalui oleh kereta klan."

Sambil menggendong Luo Chen turun terlebih dahulu, Mu Xue memandang ke arah

bangunan yang ditunjuk oleh sang kusir.

Sebuah gubuk kayu reyot dengan atap jerami yang sebagian telah membusuk berdiri

di atas tanah berlumpur di pinggiran Desa Yin Yang. Dinding-dinding kayunya

tampak berlubang di beberapa bagian, menyisakan celah lebar yang bisa dimasuki

oleh embusan angin malam yang dingin.

"Ini tempat tinggal kita?" tanya Luo Chen menatap gubuk tersebut dengan

dahi berkerut, tangannya memegang erat ujung jubah ibunya yang kini mulai kotor

terkena cipratan lumpur jalanan.

"Iya, Chen'er," jawab Mu Xue menarik napas panjang, menatap bangunan

reyot di depannya dengan pandangan mata yang tegas. "Mulai hari ini, ini adalah

rumah baru kita."

Dua pengawal klan segera menurunkan buntelan pakaian mereka ke atas tanah

berlumpur sebelum membantu memindahkan tubuh Luo Hao dari dalam kereta dan

membaringkannya di atas ranjang kayu tua di dalam gubuk tanpa sepatah kata pun.

Begitu tugas mereka selesai, kereta kuda tersebut segera berputar arah dan

melaju cepat kembali menuju arah kota klan utama, meninggalkan kepulan debu

tipis yang perlahan turun menutupi area di sekitar gubuk kayu reyot tersebut.

Di dalam gubuk yang pengap, Luo Hao menatap langit-langit jerami yang berlubang

dengan pandangan kosong. "Tempat ini... bahkan tidak layak untuk dihuni oleh

hewan ternak klan utama," bisiknya lirih dengan air mata yang perlahan mengalir

dari sudut matanya yang kering.

"Kita akan memperbaikinya bersama, Hao," ujar Mu Xue sambil mulai membersihkan

debu tebal di atas meja kayu tua menggunakan saputangan kainnya yang tersisa.

"Selama kita bertiga bersama, tempat ini akan menjadi rumah yang layak bagi

kita."

Sambil melangkah mendekati ranjang ayahnya, Luo Chen meletakkan buntelan pakaian

mereka di sudut ruangan yang kering sebelum menggenggam kembali tangan dingin

sang ayah. "Chen'er akan menjadi kuat, Ayah," bisiknya dengan nada suara yang tenang dan tegas untuk anak seusianya. "Chen'er akan melindungi Ayah dan

Ibu di tempat ini."

1
🌹🌹Alika Moi🌹🌹
sangatbagus isi ceritanya tapi sayang tidak di lanjutkan.
Joe Maggot Curvanord
bagus cuma terlalu sedikit bab oer hari nya
JokyWong: oke makasih ya masukkan nya, nanti di up ya 2 bab per hari 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!