NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Terjebak Cinta Di Antara Dua Kakakku.

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Andinirhein

Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran Yang Menyakitkan.

Kebenaran yang selama puluhan tahun terkubur akhirnya terungkap.

Pengurus senior panti asuhan yang dahulu pernah bertemu dengan Seolhwa membenarkan bahwa seorang gadis memang pernah datang untuk menanyakan keberadaan keluarga Lee.

Dengan tangan gemetar, Nyonya Kim menunjukkan foto Seolhwa kepada wanita tua itu.

"Iya, benar. Gadis dalam foto ini adalah orang yang datang ke sini waktu itu," jawab sang pengurus dengan yakin.

Seolah kehilangan seluruh kekuatan dalam tubuhnya, Nyonya Kim terdiam. Wajahnya pucat, sementara air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung.

"T-Tidak mungkin..." lirihnya dengan suara bergetar. "Tidak... ini tidak mungkin..."

Lututnya melemas hingga tubuhnya hampir jatuh. Beruntung Tuan Lee segera menahan sang istri.

Namun, pria itu sendiri tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Matanya memerah dan dipenuhi air mata. Meski hatinya hancur, ia tetap berusaha menenangkan wanita yang dicintainya.

Pada akhirnya, takdir menemukan jalannya sendiri.

Entah ini merupakan takdir yang baik atau justru awal dari tragedi yang lebih besar, tidak seorang pun mampu mengetahuinya.

Setelah perbincangan panjang, Tuan Lee dan Nyonya Kim memutuskan untuk kembali ke Daegu. Untuk sementara waktu, mereka memilih merahasiakan kebenaran itu dari Eun Dam dan Seolhwa.

Mereka membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan yang baru saja terungkap.

Lalu, bagaimana dengan Eun Dam dan Seolhwa yang saat ini tengah menjalani hubungan yang seharusnya tidak pernah terjadi?

Pertanyaan itu terus menghantui pikiran mereka sepanjang perjalanan pulang.

Namun, cepat atau lambat, kebenaran ini harus disampaikan.

Sebelum Eun Dam dan Seolhwa melangkah lebih jauh, sebelum perasaan mereka tumbuh semakin dalam, dan sebelum semuanya menjadi terlambat.

***

"Aktor pria itu mirip Oppa," ujarku sambil menatap layar televisi.

Aku dan Hwi Sol Oppa sedang menonton drama bersama di ruang keluarga.

"Wah, ternyata penglihatanmu bagus juga, ya?" sahutnya sambil mengacak pelan rambutku.

Aku hanya terkekeh kecil.

Drama yang kami tonton malam ini ternyata berkisah tentang seorang pria yang diam-diam mencintai seorang wanita selama bertahun-tahun.

Suasana mendadak hening ketika tokoh utama pria akhirnya memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.

"Kenapa aku baru mengatakan ini sekarang?" tanyanya pada wanita yang dicintainya. "Karena selama ini yang selalu kamu ceritakan adalah pria lain yang kamu cintai. Jadi, bagaimana mungkin aku mengungkapkan perasaanku saat itu?"

Deg!

Jantungku serasa berhenti berdetak.

Kalimat itu terdengar begitu familiar.

Terlalu familiar.

Bukankah kisah itu sangat mirip dengan kisahku dan Hwi Sol Oppa?

Bedanya, aku sudah mengetahui perasaannya bahkan sebelum ia mengungkapkannya secara langsung.

Aku menoleh pelan ke arahnya.

"Menurut Oppa, apa yang dilakukan pria itu benar?" tanyaku hati-hati. "Menyembunyikan perasaannya selama bertahun-tahun?"

Hwi Sol Oppa terdiam.

Tatapannya tetap tertuju pada layar televisi. Setelah beberapa saat, ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.

"Oppa tidak tahu, Seolhwa," jawabnya tenang. "Apakah itu benar atau salah."

Ia berhenti sejenak.

"Yang Oppa tahu, pria itu pasti sangat tulus mencintai wanita tersebut."

Aku terdiam.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang seharusnya.

Dadaku sesak.

Aku menundukkan kepala, menghindari tatapan Oppa.

Aku wanita yang jahat.

Pikiran itu kembali memenuhi benakku.

Aku tahu pria yang mencintaiku sedang terluka. Aku tahu setiap kali melihatku bersama pria yang kucintai, hatinya pasti terasa sakit.

Namun, aku memilih berpura-pura tidak melihatnya.

Berpura-pura tidak tahu.

Berpura-pura buta terhadap perasaannya.

Tapi... posisiku juga tidak mudah.

Aku tidak pernah meminta seseorang mencintaiku seperti itu.

Aku tidak pernah berniat menyakitinya.

Aku hanya...

Tidak ingin kehilangan mereka berdua.

Dan mungkin, justru karena itulah aku menjadi semakin egois.

Melihatku tiba-tiba terdiam dan menundukkan kepala, Hwi Sol Oppa menoleh ke arahku.

"Kamu kenapa?" tanyanya lembut. "Kenapa tiba-tiba jadi diam seperti ini?"

Aku mengangkat wajah dan memberanikan diri mengatakan sesuatu yang selama ini kusimpan.

"A-Aku sudah tahu semuanya..."

Hwi Sol Oppa mengernyit bingung.

"Tahu apa maksudmu?"

Aku menarik napas panjang.

"Aku sebenarnya sudah tahu kalau Oppa menyukaiku sejak lama."

Tubuhnya langsung menegang.

"Aku sudah membaca semua buku harian Oppa."

Suasana seketika membeku.

"Maafkan aku," lanjutku pelan.

Hwi Sol Oppa tidak berkata apa-apa.

Wajahnya berubah kaku.

Seolah-olah petir baru saja menyambar tepat di hadapannya.

Selama ini ia begitu berhati-hati menyimpan perasaannya, namun dalam hitungan detik semua rahasia itu runtuh begitu saja.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Hwi Sol Oppa benar-benar kehilangan kata-kata.

Rasanya seperti seorang pencuri yang tertangkap basah setelah sekian lama berhasil bersembunyi.

"Berkali-kali aku mencoba membuka kata sandi pintu ruangan rahasia Oppa dengan berbagai kata sandi," ujarku pelan. "Ternyata password-nya adalah tanggal ulang tahunku."

Aku tersenyum pahit.

"Sebelum Oppa mengatakan bahwa aku bukan adik kandungmu, sebenarnya aku sudah mengetahuinya lebih dulu."

Kini ia menatapku.

Tatapan yang sulit kuartikan.

"Mungkin karena itu aku tidak marah saat Oppa mengatakannya."

Aku menunduk sesaat sebelum melanjutkan.

"Aku tahu ini situasi yang sulit untuk kita berdua. Tapi aku juga sudah tidak ingin terus menjadi wanita yang berpura-pura tidak tahu."

Dadaku terasa sesak.

"Dan... terima kasih untuk semua perhatian, pengorbanan, dan rasa sayang yang Oppa berikan selama ini."

Suaraku bergetar.

"Aku benar-benar menghargai semua itu."

"Tap—"

"Sudah cukup."

Kalimatku terpotong.

Hwi Sol Oppa berdiri dari tempat duduknya.

Tatapannya kosong, tetapi sorot matanya menyimpan luka yang begitu dalam.

"Jangan mengatakan apa pun lagi."

Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

"Semakin kamu menjelaskan semuanya..."

Ia berhenti sejenak, berusaha menahan sesuatu yang nyaris runtuh.

"...semakin sakit hatiku, Seolhwa."

Dadaku langsung terasa sesak mendengarnya.

Hwi Sol Oppa mengalihkan pandangan.

Seakan tidak sanggup melihat wajahku lebih lama.

"Aku ke kamar dulu."

Ia mengambil langkah perlahan menuju tangga.

"Selamat malam."

Tanpa menunggu jawabanku, ia pergi meninggalkanku sendirian di ruang keluarga.

Aku hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa kejujuran tidak selalu membuat segalanya menjadi lebih baik.

Terkadang, kejujuran justru melukai seseorang yang selama ini berusaha melindungi perasaannya sendiri.

***

Berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, suasana meja makan terasa begitu hening. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Hwi Sol Oppa.

Yang terdengar hanyalah dentingan sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring, mengiringi sarapan kami pagi itu.

Aku beberapa kali melirik ke arahnya. Hati ini terasa sesak melihat sikapnya yang begitu berbeda.

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk membuka percakapan terlebih dahulu.

"O-Oppa..." panggilku ragu.

Hwi Sol Oppa menoleh ke arahku, tetapi tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Aku menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan.

Perlahan, aku mendekat lalu menggenggam tangannya dengan lembut.

"Oppa... maaf jika kejujuranku membuatmu tidak nyaman. Tapi aku mohon, tetaplah seperti biasanya. Aku sangat sedih jika Oppa mendiamkanku seperti ini."

Aku menundukkan kepala sejenak, berusaha menahan rasa bersalah yang terus menghimpit dada.

"Aku tidak akan memaksamu untuk segera menghilangkan perasaan itu. Aku hanya ingin Oppa tetap menjadi Oppa yang selama ini selalu ada untukku."

Hwi Sol Oppa terdiam. Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Tiba-tiba, ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya.

Pelukan itu begitu erat hingga aku bisa merasakan tubuhnya bergetar.

"Maafkan Oppa, Seolhwa..." suaranya terdengar parau. "Meski kita bukan saudara kandung, Oppa seharusnya tidak menyukaimu seperti ini. Maafkan Oppa."

Aku membeku sesaat.

Ini adalah kali kedua aku melihat Hwi Sol Oppa menangis.

Yang pertama adalah saat kami kehilangan kedua orang tua kami.

Melihat air mata yang jatuh dari matanya membuat dadaku ikut terasa nyeri.

Aku mengusap punggungnya perlahan, berusaha menenangkannya.

Kemudian, aku membisikkan kalimat yang kuharap mampu mengurangi rasa bersalah yang selama ini ia pendam.

"Ini bukan salah Oppa."

Pelukannya sedikit mengendur.

"Kita tidak pernah bisa memilih kepada siapa hati ini akan jatuh. Perasaan itu datang begitu saja tanpa meminta izin."

Aku menarik diri perlahan dari pelukannya, lalu menatap wajahnya yang dipenuhi air mata.

"Justru aku yang harus meminta maaf karena tidak mampu menjaga perasaan Oppa."

Dengan lembut, kuusap air mata yang membasahi pipinya.

Untuk sesaat, kami hanya saling menatap dalam diam.

Namun kali ini, diam itu tidak lagi terasa menyakitkan.

Setelah tangisan pagi itu, kami pun berusaha untuk bersikap biasa.

Bagaimana pun juga kami adalah dua saudara yang tumbuh bersama.

Sejak hari itu, aku juga berusaha untuk tidak membicarakan apapun tentang hubunganku dengan Eun dam di depannya. Karena aku tidak ingin menyakiti hatinya lebih dalam lagi.

***

Hari ini terasa cukup melelahkan.

Sejak pagi, aku disibukkan dengan berbagai tugas sebagai pemilik usaha. Mulai dari mengecek proses produksi, memastikan stok bahan baku tersedia, melakukan quality control terhadap rasa dan tampilan produk, hingga mengatur jadwal kerja para karyawan.

Setelah memastikan semuanya berjalan dengan baik, aku akhirnya bisa mengembuskan napas lega.

Aku menyandarkan tubuh ke kursi di ruang kerja, membiarkan rasa lelah yang sejak tadi kupendam perlahan menguasai tubuhku.

Namun, baru beberapa detik menikmati ketenangan, ponsel di atas meja bergetar.

Nama Eun Dam muncul di layar.

Senyum kecil tanpa sadar terukir di bibirku sebelum aku menerima panggilan itu.

"Seolhwa, apa kamu sudah makan siang?" tanyanya begitu panggilan terhubung.

Aku mengembuskan napas panjang.

"Huft... belum. Aku baru saja menyelesaikan semua pekerjaanku," jawabku lemas.

Eun Dam terkekeh pelan.

"Tepat sekali."

"Hm?"

"Aku sudah mengirimkan makan siang untukmu dan juga untuk para karyawanmu."

Seketika rasa lelahku sedikit berkurang.

"Terima kasih, Tuan Eun Dam yang terhormat," godaku sambil tersenyum.

"Sama-sama, Nona Cantik," balasnya cepat.

Aku bahkan bisa membayangkan senyum bangga yang sedang menghiasi wajahnya saat ini.

"Oh ya," lanjutnya, "hari ini aku mulai membangun usaha baruku sedikit demi sedikit."

Aku langsung duduk lebih tegak.

"Benarkah? Usaha apa?"

"Hari ini aku akan meninjau bangunan yang akan dijadikan tempat usaha. Aku sudah memikirkannya dengan matang. Aku ingin membuka pusat pelatihan tinju dan taekwondo."

Nada suaranya terdengar begitu serius, berbeda dari biasanya.

"Kali ini aku tidak berbohong padamu, Seolhwa," lanjutnya pelan. "Aku benar-benar ingin menjalankan bisnis ini dengan sungguh-sungguh."

Aku terdiam, mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya.

"Aku ingin membangun masa depan yang lebih baik. Aku ingin memiliki sesuatu yang bisa kubanggakan."

Suara Eun Dam terdengar semakin lembut.

"Karena aku ingin segera menikahimu."

Jantungku seketika berdegup lebih cepat.

Di balik kalimat sederhananya, aku bisa merasakan ketulusan dan tekad yang selama ini berusaha ia tunjukkan kepadaku.

Senyum hangat mengembang di wajahku.

"Aku percaya padamu, Eun Dam."

Untuk beberapa saat, kami terdiam.

Namun diam kali ini terasa hangat dan menenangkan.

Dalam hati, aku memanjatkan doa.

Semoga semua usaha yang sedang ia bangun berjalan dengan lancar. Semoga kerja kerasnya membuahkan hasil yang indah.

Dan semoga suatu hari nanti, impian yang sedang kami perjuangkan dapat terwujud menjadi kenyataan.

Tak lama setelah panggilan itu berakhir, salah satu karyawanku mengetuk pintu ruang kerja sambil membawa beberapa kotak makanan.

"Makan siang dari Tuan Eun Dam, Bu," ujarnya sambil tersenyum.

Aku hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum geli.

Pria itu benar-benar selalu memikirkan orang lain.

Aku pun membagikan sebagian makanan kepada para karyawan sebelum menyantap bagianku sendiri. Rasa lapar yang sejak tadi kutahan membuatku menghabiskan makanan itu dengan lahap.

Tanpa terasa, sore pun tiba.

Langit mulai dihiasi semburat jingga yang hangat ketika aku keluar dari bakery.

Dari kejauhan, kulihat seorang pria tampan tengah duduk di atas motornya yang terparkir di depan toko. Senyum lebar menghiasi wajahnya saat melihatku keluar.

Ia langsung melambaikan tangan dengan antusias.

"Seolhwa!" panggilnya.

Entah mengapa, melihat wajah cerahnya selalu berhasil membuat suasana hatiku ikut membaik.

Ya, sore ini Eun Dam datang untuk menjemputku.

Namun sebelum pulang, ia mengajakku makan malam bersama.

Kami memilih sebuah restoran kecil dengan suasana hangat dan nyaman. Alunan musik jazz yang mengalun lembut di seluruh ruangan membuat malam itu terasa semakin romantis.

Setelah pesanan kami datang, aku menatap Eun Dam yang tampak begitu bersemangat.

"Bagaimana pengecekan bangunan hari ini? Apa semuanya berjalan lancar?" tanyaku.

Eun Dam mengangguk cepat.

"Tentu saja!" jawabnya penuh semangat.

"Semuanya berjalan dengan baik. Aku juga sudah cocok dengan harganya. Lokasinya strategis dan sesuai dengan yang aku inginkan."

Matanya berbinar saat melanjutkan.

"Dan hari ini aku resmi membelinya."

Aku ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajahnya.

Kerja kerasnya selama ini perlahan mulai membuahkan hasil.

Melihatnya seperti itu membuatku ikut merasa bahagia.

Namun di tengah suasana hangat tersebut, pikiranku tiba-tiba melayang pada kejadian semalam bersama Hwi Sol Oppa.

Senyumku perlahan memudar.

"Oh ya," kataku pelan. "Nanti kamu antar aku sampai depan kompleks perumahan saja, ya? Tidak usah sampai depan rumah."

Eun Dam yang sedang minum langsung mengernyit bingung.

"Hm? Kenapa?"

Aku terdiam sejenak.

Untuk saat ini, aku belum bisa menceritakan tentang perasaan Hwi Sol Oppa kepadanya.

Aku meminta Eun Dam mengantarku hanya sampai depan kompleks agar Oppa tidak melihat kami bersama.

Aku tahu, melihatku bersama Eun Dam hanya akan membuat luka di hatinya semakin dalam.

Setidaknya, jika bisa, aku ingin menjaga perasaannya sebisaku.

"Tidak apa-apa," jawabku sambil tersenyum kecil. "Aku hanya ingin berjalan kaki sedikit."

"Berjalan kaki?"

Aku mengangguk cepat.

"Akhir-akhir ini aku jarang berolahraga. Sekalian cari udara segar."

Kebohongan kecil itu terasa pahit di lidahku.

Namun Eun Dam tidak menunjukkan sedikit pun kecurigaan.

Ia hanya tertawa pelan sambil mengangguk.

"Baiklah. Kalau itu maumu."

Aku membalas senyumnya.

Meski begitu, ada perasaan bersalah yang perlahan menyelinap ke dalam hati.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa menjaga perasaan dua orang yang sama-sama berharga bagiku ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan.

"Kau pernah bilang bahwa mata adalah satu-satunya bagian tubuh yang tidak bisa berbohong. Lalu apa ini?" gumam Eun Dam dalam hati.

Ia menatap Seolhwa lekat-lekat, berusaha membaca setiap emosi yang bersembunyi di balik sorot mata wanita itu.

"Aku tahu itu Seolhwa. Aku yakin. Tapi apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan dariku?"

Meski berbagai pertanyaan memenuhi benaknya, Eun Dam memilih berpura-pura tidak mengetahui apa pun. Ia tetap memasang ekspresi tenang, seolah tidak ada yang janggal di hadapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!