NovelToon NovelToon
Ghaffar Si Penakluk Arwah

Ghaffar Si Penakluk Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Mata Batin
Popularitas:188.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nike Julianti

Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiga Arwah Anak Hilang

"Bagaimana kalau kalian ikut kakak, kembalikan dia pada ayahnya. Kakak akan cari tau, siapa dan kenapa kalian bisa di sini. Kakak juga akan bantu, mencari ayah dan keluarga kalian. Bagaimana?" tanya Ghaffar, ketiga anak itu saling tatap dan mengangguk bersamaan. Ghaffar tersenyum, ia meminta jiwa Candra untuk kembali ke tubuhnya terlebih dahulu.

Candra menurut, ia pun masuk kembali ke tubuhnya. Tak lama, Candra yang ada di punggung pak Anwar membuka kedua matanya. Lalu...

"Ayah.." panggilnya pelan, pak Anwar terkejut. Gegas ia menurunkan Candra, karena ingin melihat kondisi putranya.

"Nak, sayang... kamu sudah kembali?" tanya pak Anwar, dengan suara bergetar

"Ayah, kenapa kita di sini? Ayah kenapa menangis? Apa Candra sudah berbuat nakal?" Candra mengusap pipi pak Anwar yang basah, pak Anwar tertawa meski air matanya masih mengalir.

"Syukurlah, Alhamdulillah kamu kembali nak." pak Anwar memeluk tubuh sang anak, melepaskan rindu dan rasa bahagianya.

"Ayah... Ayo pulang, ibu pasti sudah menunggu." pak Anwar mengangguk

"Iya nak, ayo kita pulang. Ibu sudah menunggumu kembali, ibu pasti senang." jawab pak Anwar, ia bangun dan menggendong Candra.

"Nak Ghaffar, terima kasih... terima kasih... bapak tidak tau harus bagaimana membalas bantuan nak Ghaffar, terima kasih nak. Sayang, katakan terima kasih pada kak Ghaffar. Karena kak Ghaffar, kamu bisa kembali ke pelukan ayah dan ibu." ucap pak Anwar

"Kak Ghaffar, terima kasih." ucap Candra, seraya menundukkan sedikit punggungnya. Ghaffar mengusap kepala Candra, sedikit tersenyum.

"Sama-sama Ndra... pak, hari sudah senja. Sebentar lagi adzan, sebaiknya bapak dan Candra segera pulang." jawab Ghaffar

"Lalu nak Ghaffar? Apa nak Ghaffar tidak akan kembali dengan bapak?" tanya pak Anwar, Ghaffar menunduk dan menatap ketiga arwah yang akan ikut dengannya.

"Tidak pak, saya akan langsung ke kafe. Nanti saya akan minta Akbar untuk menjemput saya" jawab Ghaffar

"Baiklah kalo begitu, bapak pamit pulang duluan nak. Sekali lagi terima kasih, besok malam datanglah ke rumah. Makan malam di rumah bapak, itu pun bila tidak mengganggu waktunya nak Ghaffar." ucap pak Anwar

"Baik, nanti saya ajak teman-teman. Tidak apa-apa kan pak?" pak Anwar mengangguk

"Tentu tentu, ajak saja ke rumah. Bapak tunggu..." jawab pak Anwar, Ghaffar mengangguk. Pak Anwar mengucapkan salam, ia lalu meninggalkan Ghaffar.

"Ayo kita ke rumah kakak, kita bicara di sana." ketiga arwah itu mengangguk

Rupanya Ghaffar tidak menghubungi Akbar, ia memesan taxi online. Tak mungkin ia merepotkan Akbar, sahabatnya sudah lelah menjemput dan membantu Damar pindah.

.

.

"Bagaimana, kalian suka di sini?" tanya Ghaffar, yang baru saja menyelesaikan shalat isya.

'Mmm... kami menyukainya, di sini banyak teman.' jawab arwah anak perempuan, seraya mengangguk riang. Takkan ada yang merasa aneh pada Ghaffar, karena mereka sedang berbicara di taman belakang kafe. Tak ada pengunjung di sana, karena Ghaffar meminta karyawannya untuk menutup tempat itu sementara.

"Syukurlah kalo begitu, apa kita bisa membicarakan masalah kalian sekarang?" tanya Ghaffar, ketiga arwah itu mengangguk cepat

'Aku ingin bertemu ayah, apa ayah ku sebaik ayahnya Candra?' jawab arwah anak lelaki, yang menggunakan kaos garis-garis. Ghaffar terdiam, lalu ia tersenyum dan mengusap kepala anak tersebut.

"Kakak yakin, ayah kalian pasti baik. Baiklah, kita mulai dengan nama. Apa kalian mengingat nama kalian?" ketiga arwah itu terdiam cukup lama, tak lama arwah anak perempuan mengangguk dan di susul yang lainnya.

'Namaku Theresia Berliana, usiaku.... mmm... 7 tahun.' jawabnya

'Aku... Diki Anggara, usiaku 6 tahun.' ucap anak, yang memakai kemeja

'Dan aku Arkana Setiawan, usiaku 7 tahun.' ucap anak, yang menggunakan kaos

"Apa kalian tak ingat, terakhir kalian sebelum terbangun di tempat itu?" tanya Ghaffar, ketiganya terdiam lama.

'Aku hanya ingat, ada yang menutup hidungku menggunakan sapu tangan. Setelah itu...' Theresia menggelengkan kepalanya

'Mmm... sama' jawab Diki dan Arka bersamaan

"Baiklah, kakak akan mencari tau semuanya. Kalian pergi main lagi sana.." ucapan Ghaffar di iyakan dengan riang, oleh ketiga arwah itu.

"GHAFF" panggil Akbar dan Damar, ia menoleh sekilas. Lalu mulai fokus pada laptop nya, ia langsung mencari di bagian anak hilang. Mengetikkan nama Theresia Berliana, belum ia mengetik enter...

"Theresia Berliana?" ucap Damar, Ghaffar menoleh dan menatap Damar

"Lu kenal?" tanya Ghaffar, Damar mengangguk

"Dia adalah anak dari pemilik toko meubel besar, rumahnya tak jauh dari kontrakan ku sebelumnya. Anak ini sudah hilang selama 3 bulan, kedua orang tuanya hampir gila mencari putrinya ini. Bahkan ia sampai menawarkan 100 juta, untuk yang bisa menemukan putrinya. Namun nihil, sampai sekarang tak ada kabar keberadaan putrinya itu." jawab Damar, Akbar menggebrak meja

"AAHH... IYA AKU JUGA TAU INI MAH!!!" ucap nya berteriak, mengejutkan Ghaffar dan Damar.

"Kamu bisa kan ga usah gebrak sama teriak, Bar." tegur Ghaffar, Akbar cengengesan

"Maaf maaf, aku teh terkejut Ghaf." Ghaffar menggelengkan kepalanya

"Kalo tidak salah mah yah, ada dua anak lelaki lagi yang hilang. Anak dari pemilik rumah sakit xxx, sama anak seorang pengusaha batu bara." ucap Akbar, Damar mengangguk

"Apa nama mereka Diki Anggar dan Arkana Setiawan?" tanya Ghaffar

"Kamu tau Ghaff?" tanya Akbar, Ghaffar mengangguk

"Lu tau keberadaan mereka?" Ghaffar menggelengkan kepalanya

"Lebih tepatnya, gue ga tau dimana jenazah ketiga anak itu di kuburkan." jawab Ghaffar

"HAH?!" ucap Akbar dan Damar

"Di kuburkan gimana maksud lo?" tanya Damar

"Jangan bilang, kalo ketiga arwah anak itu ada di sini?" tanya Akbar, Ghaffar mengangguk

"Innalillahi wa inna illaihi rajiun... jadi ketiga anak itu sudah tiada, ya Allah... gimana perasaan orang tua mereka, saat tau anak-anaknya sudah tiada?" ucap Akbar, yang mendadak merasa sedih

"Tunggu... gue ga ngerti woyy, maksudnya gimana ini? Ketiga anak itu sudah meninggal, lalu arwahnya ada di sini sama lu. Gitu?" tanya Damar, Ghaffar dan Akbar mengangguk, Damar langsung celingukan ke sana kemari. Ia merasa merinding, di sekujur tubuhnya. Refleks, ia memeluk dirinya sendiri.

"Mereka sedang bermain, gue janji untuk mempertemukan mereka dengan keluarganya. Karena kalian sudah menjelaskan tentang mereka, jadi gue ga usah cari tau tentang mereka. Gue cuma minta tolong ma kalian, hubungi keluarganya. Katakan pada mereka, besok gue ingin ketemu di sini sepulang sekolah." ucap Ghaffar

"Kalo mereka ga mau?" tanya Akbar

"Bilang aja, kalo ini tentang anak-anaknya." Akbar dan Damar mengangguk

Sedangkan Ghaffar, ia terdiam. Memikirkan siapa, dalang di balik hilangnya ketiga anak-anak tersebut. Pelakunya antara memang seorang psikopat, yang menargetkan anak-anak. Atau... ada hubungan rumit, di antara ketiga keluarga tersebut dan si pelaku.

'Ku rasa mereka saling kenal, dan saling berkaitan satu sama lain. Kalau begitu, harus menunggu besok. Semua akan terbongkar dengan sendirinya, tapi... kenapa harus anak-anak tak berdosa yang harus menjadi korbannya?' ucap Ghaffar dalam hati

"Sudah malam" ucap Ghaffar, Akbar langsung paham

"Kalo gitu kita pamit ya, kamu istirahat aja." ucapnya, Ghaffar mengangguk dan pergi meninggalkan Akbar dan Damar

"Lu ngerti banget ya ma si Ghaffar" ucap Damar

"Gimana ga ngerti atuh Dam, aku sama Ghaffar udah bareng dari kita masih kecil. Kita tetanggaan waktu masih di Bandung, waktu pindah ke sini juga aku yang maksa ikut." jawab Akbar

"Berarti lu tau dong, masa lalu Ghaffar." Akbar tersenyum

"Aku memang tau, tapi aku ga berhak untuk membicarakannya." jawab Akbar, ia pun mengajak Damar untuk pulang. Damar tak memaksa, karena setiap orang pasti punya masa lalu.

...****************...

Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰

1
Sani Srimulyani
tambah lagi Mak.....
vania larasati
lanjut kak
Hasnawiyah Ansar
🤣🤣🤣
Raini Bancin
ok
ule_keke (IG: ule_keke26): makasih kak❤️❤️
total 1 replies
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
/Cry/ Maaaakkkk lagiii atuh /Whimper/
nurul supiati
semngattt seannn
Ambu Rinddiany Thea
milu mewek ah pas malik ma mirza , masih adakah anak yg seperti itu sm orang tuanya , aslina beruntung banget buat orang tuanya, 🤗🤗
nisa
ayo gaf tlng sean cpt agar terlepas dri keluarga yg berhati busuk😡lanjutttt mak
nisa
ayo gaf tlng sean cpt agar terlepas dri keluarga yg berhati busuk😡lanjutttt mak
Dewi inaya
ada gitu ya,kasian sean 🤧
rose🦋
kasuss lg 😍😍😍, seruuu nihhh
milk_ch0co
ayo update lagi mak, lagi seru seru nyaaa
cuplis
jangan jangan sean ini orang tua nya kollngmerat pula
RiriChiew🌺
sungguh cerita Mirza mengingatkan ku pada keadaan keluargaku duluu 🥺 ah emakk
RiriChiew🌺
wahhhh kurang dihajar memang kluarga si Sean ini, balikin lagi aja tuh ilmu hitam nya biar tau rasaa diaa 🙈
kaylla salsabella
lanjut
Queen adzilla👑
ga mau minta double ah,ntar ga di kasih sama mak nya ito🤭
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM
ihhhh inginku meminta doubel tpi voteku hbs😑🤣
Sulastri Mawardi.87
smg bunda nya ito khilaf bisa double up lagi 😁😁
Zea Rahmat
zaman skrg ga cuma skill sm pendidikan aja buat dpt kerja enak... hrs ada ORDAL🤭🤭🤭🤣🤣
ule_keke (IG: ule_keke26): tah eta, matak aya si Ghaffar ge🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!