Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perawat dari Adrian
Wanita pemilik restoran itu mengusap pipinya yang mulai terasa merah dan perih, lalu kembali mendongakkan kepalanya dengan dagu yang terangkat tinggi. Ia tertawa keras dengan nada yang penuh penghinaan dan keberanian yang tak berdasar. “Kau kira aku akan merasa takut begitu saja? Aku sama sekali tidak gentar menghadapi siapa pun, sekalipun itu orang yang memegang kekuasaan besar sekalipun!”
Sementara itu di dalam mobil, sebelum sopir mulai menyalakan mesin kendaraannya, ia terlebih dahulu menyodorkan sebungkus tisu bersih ke arahku. “Silakan gunakan ini untuk membersihkan sedikit lukanya, Nyonya.”
Aku menerimanya dengan tangan yang masih terasa gemetar hebat. Aku mengambil selembar tisu itu, lalu mengusapkannya perlahan ke atas dahi yang masih terasa basah, lengket, dan sangat perih. Aku menggigit bibir bawahku dengan cukup kuat, berusaha sekuat tenaga menahan tangis yang rasanya ingin meledak keluar lagi. Di dalam benakku terus saja terbayang wajah-wajah orang yang menatapku penuh rasa heran dan meremehkan, suara-suara caci maki yang tajam, serta tuduhan-tuduhan yang sama sekali tidak berdasar itu. Rasanya hati ini hancur berkeping-keping, dan ada rasa malu yang mendalam menyelimuti seluruh jiwaku—namun tak ada satu hal pun yang bisa kulakukan selain menahan semua rasa itu sendirian di dalam dada.
Perjalanan pulang terasa sangat panjang meski sebenarnya tidak terlalu jauh. Tak lama kemudian mobil mulai melambat dan berbelok masuk ke halaman luas kediaman itu. Sopir segera turun dari tempatnya, lalu membukakan pintu untukku dengan penuh kesopanan. Aku pun melangkah keluar perlahan, tangan kananku masih terus menekan tisu itu di atas dahi agar darah tidak menetes lagi ke wajah atau pakaianku. Namun saat aku baru saja melewati pintu gerbang utama dan hendak melangkah masuk ke dalam ruangan, langkah kakiku seketika terhenti kaku di tempat, dan seluruh tubuhku tersentak kaget yang luar biasa.
Di ujung tangga yang menjulang tinggi itu, terlihat sosok Adrian sedang berdiri diam menungguku. Hari ini ia mengenakan kemeja berwarna putih bersih yang terbuat dari bahan yang halus dan bermutu tinggi, dipakainya dengan gaya yang sederhana namun tetap memancarkan kesan gagah, berwibawa, dan memikat hati. Kedua lengan kemejanya digulung rapi hingga mencapai bagian siku, sehingga terlihat jelas pergelangan tangannya yang kokoh dan berisi, yang kemudian dipadukan dengan celana panjang berwarna gelap yang pas sekali menutupi bentuk tubuhnya.
Ia pun mulai melangkah turun perlahan mendekati arahku. Jantungku seketika berpacu jauh lebih cepat dari biasanya, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya. Saat ia berhenti tepat di hadapanku, aku hanya mampu menundukkan kepalaku sedikit karena rasa gugup yang mendalam. Tatapan matanya terasa begitu dingin dan tajam saat ia mulai berbicara kepadaku: “Segeralah membersihkan dirimu dan mandi, kemudian datanglah ke kamarku.”
Belum sempat aku mengatur napas atau merasa sedikit lega, seketika Adrian seolah menyadari ada sesuatu yang tidak beres padaku. Tanpa menanyakan apa pun lebih dulu, ia meraih pergelangan tanganku dengan lembut namun pasti, lalu perlahan menurunkan tanganku yang sedang menempelkan tisu itu ke dahi. Tisu itu pun terlepas jatuh begitu saja ke atas lantai mengkilap itu, sehingga lukaku terlihat jelas di hadapannya—ada sisa darah yang masih terlihat segar dan sebagian sudah mulai mengering menempel di kulitku yang pucat.
Raut wajah Adrian seketika berubah menjadi sangat keras dan tegas, nada bicaranya rendah namun terasa penuh dengan tekanan yang tak terlukiskan. “Katakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi? Siapakah orang yang berani sekali menyakiti mu?”
Hatiku berdebar sangat kencang diliputi rasa takut, sehingga jawaban yang hendak kusampaikan terasa tercekat di kerongkonganku dan aku hanya bisa menjawab dengan terbata-bata. “Itu… sebenarnya aku… tadi hanya terjadi sedikit kesalahpahaman saja. Ini hanyalah luka kecil yang tidak berarti, aku benar-benar tidak apa-apa…” Sambil berbicara demikian, aku berusaha menarik kembali tanganku dari genggamannya, karena aku ingin sekali menyembunyikan segala hal yang menyakitkan itu darinya.
Namun Adrian hanya menatapku lekat-lekat dengan pandangan yang begitu tajam, seolah matanya mampu menembus segala kebingungan dan kebohongan kecil yang kusampaikan itu. “Diamlah. Kemarilah.”
Cengkeramannya di pergelangan tanganku terasa kuat namun sama sekali tidak menyakitkan kulitku. Aku sebenarnya ingin menolak atau meminta waktu sebentar, namun rasa takut dan segan membuat kakiku tak berani bergerak melawan arahnya—aku hanya bisa mengikuti langkah kakinya yang lebar dan mantap menaiki anak tangga satu per satu hingga sampai ke lantai atas. Ia berhenti tepat di depan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu gelap yang kokoh, mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, menarikku masuk ke dalam ruangan itu bersamanya, lalu menutup pintu itu rapat-rapat kembali dari balik tubuh kami.
Di dalam hatiku aku terus saja bergumam penuh rasa cemas dan bimbang: Apakah aku telah melakukan kesalahan yang membuatnya marah hari ini? Mengapa raut wajahnya terlihat begitu serius dan dingin seperti ini? Apakah ia marah karena aku pergi agak lama dari rumah? Dengan perasaan yang penuh kegelisahan, aku hanya bisa berdiri diam mengikuti segala apa yang hendak ia lakukan.
Aku terpaku sejenak di tempat saat mulai memperhatikan keadaan ruangan itu. Kamar ini terasa sangat luas, megah, namun sekaligus menyimpan suasana yang agak gelap dan sejuk. Hanya cahaya lembut dari lampu-lampu yang terpasang di dinding yang menerangi sebagian sudut ruangan itu, sehingga tidak terlalu terang namun juga tidak sepenuhnya gelap. Dinding-dindingnya memiliki pola ukiran yang unik namun tidak beraturan, dengan garis-garis dari bahan tembaga yang memancarkan cahaya samar membelah permukaan dinding yang berwarna gelap itu. Di tengah ruangan terlihat tempat tidur yang ukurannya sangat luas, dengan seprai dan selimut dari bahan yang terlihat sangat halus namun tampak agak berantakan seolah memang baru saja dipakai sebentar tadi. Di salah satu sudut ruangan berdiri sebuah kursi tunggal yang terlihat kokoh, di sampingnya ada lemari kaca yang penuh dengan berbagai benda berharga namun tidak tersusun terlalu rapi, sementara beberapa botol berisi cairan bening terlihat berdiri miring di atas meja kecil. Lantai yang terbuat dari kayu pilihan itu tampak sangat bersih dan mengkilap, namun udara di dalamnya selalu terasa membawa kesunyian yang terasa berat di dada. Entah mengapa, ruangan ini seolah tak pernah terasa hangat sama sekali, meskipun lampu-lampu di dalamnya selalu dinyalakan setiap saat.
Adrian menutup pintu itu perlahan hingga tertutup rapat, lalu berjalan mendekat ke arahku dengan langkah yang tenang namun mantap. Aku merasakan detak jantungku makin memacu kencang saat ia akhirnya berdiri tepat di hadapanku—ia tampak begitu tinggi, wajahnya begitu tampan memikat hati, dan pandangan matanya begitu dalam seolah menyimpan begitu banyak rahasia yang belum terungkap kepada siapa pun.
“Mengapa kau menatapku?” tanya Adrian pelan, sambil sedikit menundukkan kepalanya agar pandangan kami bisa saling bertemu sejajar.
Aku segera memalingkan wajahku ke arah lain karena merasa sangat gugup dan malu, lalu menjawab pertanyaannya dengan suara yang masih terdengar terbata-bata. “Ti… tidak ada apa-apa, Tuan Adrian.”
Mendengar cara aku menyapanya itu, Adrian langsung menegurku dengan nada yang tegas namun tidak kasar. “Mulai saat ini, jangan pernah lagi memanggilku dengan sebutan seperti itu.”
Aku segera menganggukkan kepalaku berulang kali sebagai tanda mengerti, lalu perlahan mengubah panggilanku. “Baiklah… Kak Adrian.”
"duduk.” Ia kembali meraih pergelangan tanganku dengan lembut, lalu menuntunku hingga aku duduk di tepi tempat tidurnya yang empuk itu. Tanpa membuang banyak waktu lagi, ia berbalik badan membuka pintu-pintu lemari dan laci satu per satu, hingga akhirnya tangannya menyentuh sebuah kotak berwarna putih yang berisi perlengkapan pengobatan yang tersimpan rapi di sana. Ia kembali berjalan menghampiriku dengan langkah yang mantap, lalu berdiri tepat di hadapanku.
Ia meletakkan kotak obat itu perlahan di sisi tempat dudukku, lalu ikut duduk di tepi tempat tidur tepat di sebelahku. Posisi kami saat ini berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, hingga rasanya napasku sendiri terasa tersekat dan sulit untuk keluar dengan lancar. Ia membuka tutup kotak obat itu dengan sangat hati-hati, sementara kedua tanganku tanpa sadar mulai meremas ujung pakaian yang kupakai karena rasa gugup yang masih menyelimutiku. Pandanganku sendiri entah harus tertuju ke mana, karena rasanya hatiku berdebar tak karuan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Saat aku melihat ia mulai mendekatkan wajahnya perlahan ke arahku, rasanya jarak yang ada di antara kami seolah semakin hilang tak bersisa. Aku segera memalingkan wajahku ke sisi lain, karena aku sama sekali belum sanggup untuk menatap langsung ke dalam kedua matanya yang begitu tajam dan memikat itu. Rasa gugup itu menyebar dengan cepat ke seluruh tubuhku, hingga aku bahkan tak berani sedikit pun menggerakkan anggota tubuhku yang lain.
Adrian mengambil selembar kapas bersih, lalu membasahinya dengan cairan bening yang dingin itu. Setiap gerakannya terlihat sangat hati-hati dan lembut, ia mengusap perlahan sisa darah yang masih menempel di kulitku tanpa sekalipun membuatku merasa kesakitan berlebihan, seolah ia sangat takut jika perbuatannya sedikit saja menambah rasa sakit yang kurasakan. Setelah bagian itu terlihat bersih kembali, ia meneteskan sedikit cairan antiseptik ke atas kapas yang baru, lalu menempelkannya dengan sangat lembut di sekeliling luka itu agar tidak terjadi infeksi. Sebagai langkah terakhir, ia mengambil selembar kain kasa yang tipis namun bersih, menutupinya dengan rapi lalu menempelkan sepotong plester kecil agar penutup itu tidak mudah terlepas. Sepanjang waktu itu ia hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun, namun kedua matanya tak pernah beralih sedikit pun dari wajahku.
Tanpa kami sadari, pandangan kami akhirnya saling bertemu kembali. Aku perlahan mendongakkan kepalaku ke atas, sementara ia menunduk menatapku dari posisinya—dan seketika itu juga pandangan kami terkunci satu sama lain dalam keheningan yang panjang. Kami berdua hanya diam terpaku sejenak, seolah segala sesuatu yang ada di luar ruangan ini telah lenyap sepenuhnya dan hanya tersisa kami berdua saja di dunia ini. Rasanya kedua pipiku perlahan mulai terasa hangat lalu memerah padam, sehingga aku segera memalingkan wajahku kembali ke arah lain karena tak sanggup lagi menahan rasa malu yang tiba-tiba menyerbu masuk ke dalam hatiku.
Setelah selesai merawat lukaku, Adrian merapikan kembali segala isi kotak obat itu, menutupnya dengan rapat lalu menyimpannya kembali ke tempat semula seperti sebelumnya. Tak lama kemudian ia meraih sebuah benda yang tergeletak di atas meja kecil di samping kursi itu, lalu kembali menghadapku dengan pandangan yang tetap tenang namun tajam.
Ia menatapku sekilas dari ujung kepala hingga ke ujung kakiku, lalu suaranya terdengar tenang namun matanya begitu tajam seolah mampu melihat apa yang tersembunyi paling dalam di dalam hatiku. Ada rasa takut yang samar perlahan menyusup kembali ke dalam dadaku, namun aku tetap berusaha duduk tenang di tempatku.
Ia kemudian berbalik badan sejenak untuk meraih benda lain yang tergeletak di tepi tempat tidur, lalu menyodorkannya kepadaku. Itu adalah sebuah telepon genggam yang berwarna merah muda lembut, tampak sangat baru dan belum pernah digunakan sama sekali. Layarnya terlihat luas dan jernih, sementara dua lensa kamera terpasang dengan rapi di bagian belakang benda itu.
“Ambillah ini, mulai sekarang ini milikmu,” ucapnya singkat namun tegas.