"selamat pagi, yah, Bun." sapa Naya.
"pagi, sayang," balas lina Bunda naya.
" pagi,princess,"faizal ayah Naya, tersenyum ke arah putrinya.
"mau sarapan apa sayang."
"roti kacang, Bunda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part25
"Assalamu'alaikum," salam Keenan setelah mengetuk pintu.
Pria itu sudah terlihat sangat segar, karena dia pulang dulu kerumahnya sebelum ke pesantren.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Naya. "Mas Keenan!"
Naya berlari kearah suaminya dengan mata berkaca-kaca, sedangkan Keenan hanya terkekeh kecil melihat istrinya berlari kearahnya sambil merentangkan kedua tangannya.
"Mas Keenan, hiks ... hiks ...." Tangisan Naya langsung pecah didalam pelukan suaminya. "Mas Keenan kemana aja? Naya hubungi, tapi gak aktif."
"Abi sama Umi mana?" tanya Keenan sambil melonggarkan pelukannya.
Naya melepaskan pelukannya, lalu mendongak untuk menatap suaminya. "Lagi di mushala, Mas."
Memang jam segini Umi sama Abi masih memberikan kajian terhadap santri-santri mereka.
"Kamu sendiri di rumah?" tanya Keenan sambil berjalan masuk kedalam rumah.
Naya mengangguk. "Iya, Naya gak takut kok, lagian musholanya tidak jauh."
"Udah solat?"
"Udah." Naya tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih tersusun rapi. "Mas keenan udah solat?"
"Alhamdulillah, udah."
Mereka duduk diruang keluarga dengan tv menyala.
"Udah makan?" tanya Keenan.
Naya menggeleng. "Hmm ... belum. Hehehehe."
"Kenapa gak makan, Sayang?"
"Mual."
Keenan menatap istrinya dengan tatapan menyipit. "Masih mual?"
"Masih." Naya cemberut. "Tapi Naya udah gak mual kalo liat wajah Mas keenan, tidak sama kaya kemarin."
Mendengar kata kemarin dari istrinya, Keenan langsung teringat sesuatu.
"Sayang, apa yang kamu liat itu tidak seperti dengan kenyataan," ucap keenan sambil meraih tangan istrinya.
Naya menatap bingung kearah Keenan. "Maksudnya, Mas?"
"Tentang poto yang kamu terima dari no tidak dikenal," tutur Keenan.
Setelah diam sejenak, bibir wanita itu melengkung seperti bulan sabit. "Oh ... Naya tau kok kalo itu editan, mana mungkin Mas Keenan berani foto kaya gitu, Naya gak percaya Mas Keenan. "
"Terus kenapa kamu marah kalo kamu tau itu editan?" tanya Keenan dengan tatapan tidak percaya, dia sudah berjuang mati-matian agar salah faham ini cepat kelar, tapi istrinya ... Ah sudahlah, lupakan.
"Ih ... Naya juga gak tau, tiba-tiba aja Naya gak suka liat muka Mas Keenan yang ada di foto itu." Naya menjatuhkan kepalanya di atas paha Keenan.
"Kenapa dibuka?" tanya Keenan saat melihat Naya akan membuka jilbabnya.
Naya hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Suaminya. Wanita itu menarik tangan Keenan agar mengelus kepalanya, sedangkan Keenan hanya menurut apa kemauannya istrinya itu.
Setelah beberapa menit kemudian Naya membalikkan badannya dan wajahnya langsung menghadap ke purut Keenan yang masih dilapisi baju kaos warna hitam.
"Naya suka baunya Mas Keenan." Gadis itu melingkarkan tangannya ke pinggang Keenan, lalu menghirup bau parfum suaminya yang membuatnya nyaman. "Wanginya."
"Suka?" tanya Keenan sambil melirik istrinya yang berada di pahanya.
"Sukaaa!"
Keenan hanya terkekeh kecil melihat tingkah istrinya.
"Sayang, makan dulu yuk," ajak Keenan, dia tersadar kalo istrinya ini belum makan.
"Malasss!"
"Mas temani,"
"Suapi juga." Naya mendongak menatap Suaminya dari bawah.
"Iya, Mas suapi, ayo." Keenan ingin beranjak, tapi di tahan Naya.
"Jangan dulu."
"Kenapa?"
"Mas Keenan lebih ganteng kalo dilihat dari sini, hehehe." Naya menyentuh rahang suaminya. "Mas Keenan lihat sini."
Keenan tidak mengiyakan keinginan Naya, dan akhirnya wanita itu menangis membuat Keenan sedikit terkejut.
"Kenapa menangis?"
"Hiks, hiks, Mas Keenan gak sayang sama Naya."
"Mas sayang kok."
"Kalo sayang, kenapa gak liat sini."
"Ini udah liat situ." Keenan tersenyum sambil menatap istrinya yang ada di bawah.
Naya langsung tersenyum lebar dengan mata yang masih basah.
"Mas Keenan," panggil Naya.
"Apa sayang? hmm." Keenan mencubit hidung istrinya dengan gemas.
"C–civm b–boleh?" tanya Naya malu-malu dengan muka sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Kenapa harus minta izin? ini kan punya kamu, Sayang." Keenan mengedipkan sebelah matanya menggoda istrinya. "Tapi sebelum itu kamu makan dulu."
Senyum yang tadinya mengembang dibibir mungilnya, tiba-tiba redup saat mendengar syarat dari suaminya itu.
"Naya gak lapar, Mas."
"Ya udah gak jadi." Keenan mengalihkan tatapannya kearah lain.
Naya langsung duduk saat mendengar perkataan Keenan. "Ya udah, ayo."
Keenan tersenyum geli. "Ayo."
"Tapi gedong."
Mata Keenan langsung melotot.
Apa katanya digendong? rasanya Keenan ingin teriak dengan kencang ke telinga istrinya, menyadarkan kalo wanita ini bukan anak kecil lagi yang harus di gendong.
"Gak mau iya?" tanya Naya dengan raut wajah sedih. "Iya udah, Naya bisa sendiri kok."
Entah kepada Naya merasa akhir-akhir ini perasaannya mudah paberan.
"Kata siapa Mas gak mau? hmm." Keenan langsung menggendong istrinya ala bridal style. "Ayo tuan putri, saatnya makan."
Naya hanya tersipu malu.
Keenan menurunkan Istrinya ke kursi. "Duduk, Mas ambil makanan dulu."
"Siap Gus Keenan yang ganteng."
Keenan lagi-lagi terkekeh geli.
"Bismillah dulu, Sayang," ucap kenapa setelah duduk di samping istrinya.
"Bismillahirrahmanirrahim ...."
Setelah mengucapkan bismillah, Naya membuka mulutnya untuk menerima suapan dari Keenan langsung dari tangan pria itu.
"Kok beda iya?" tanya Naya dengan heran saat makanan itu sudah sampai ke dalam lambungnya.
"Bedah gimana?"
"Tadi gak seenak ini, Mas."
"Masa?"
"Serius."
Lagi-lagi Keenan hanya tertawa kecil dan melanjutkan kegiatannya menyuapi Istrinya.
Setelah beberapa menit kemudian, Naya sudah menghabiskan makanannya, lalu meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja.
"Alhamdulillah, kenyang." Naya menepuk-nepuk perutnya.
"Alhamdulillah."
"Mas Keenan?" panggil Naya pada Keenan yang masih duduk di samping dengan tersenyum.
"Iya, Sayang."
"Janjinya." Naya tersenyum lebar kearah Keenan.
"Tenang, Mas gak lupa kok." Keenan berdiri dari duduknya, dia berniat untuk membawa piring dan gelas kotor Naya ke tempat cuci piring.
"Mas Keenan mau kemana?" tanya Naya.
"Bentar iya, Mas bawah dulu ini ke sana." Keenan menunjuk tempat cucian piring dengan tatapannya.
"Oh ...."
"Iya ...."
"Iya udah.'
Keenan pun membawa piring kotor tersebut.
"Ayo ke kamar," ajak Keenan.
"Gendong." Naya merentang ke-dua tangannya. Entah kenapa Naya merasa malas berjalan jika ada Suaminya.
Sedangkan Keenan membuang nafasnya sedikit kasar, dia ingin menolak, tapi takut Naya nangis lagi.
"Ayo."
Dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu telah sampai dikamar mereka.
"MAS KEENAN!" teriak Naya.
"Utsssh ...." Keenan meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya sebagai isyarat agar Naya tidak teriak-teriak. "Sayang, jangan teriak-teriak, gak baik."
Setelah mengunci pintu kamarnya, Keenan berjalan kearah istirnya yang sedang duduk di pinggir ranjang.
"Mas, kita tinggal disini aja iya," pinta Naya. "Naya nyaman disini."
"Iya, besok kita pindah kesini." Keenan mengelus kepala istrinya. "Sekarang kamu tidur."
"Janjinya?"
"Janji?"
"Tadi 'kan udah janji sebelum makan. Mas Keenan lupa?" tanya Naya dengan kecewa. Bagaimana bisa suaminya ini lupa itu penting yang menurutnya sangat penting, bagaimana tidak penting, karena itu Naya harus makan dulu.
Keenan tertawa kecil. "Gak lupa kok."
Cvp ....
"Sudahkah?" tanya Keenan setelah melayangkan kecupan ke blblr istrinya. "Sekarang kamu tid—"
"Gak gitu konsepnya!" pekik Naya.
"Terus gimana?" tanya Keenan terheran-heran.
Naya menjatuhkan dirinya ketempat tidur, lalu menari selimut untuk menutupi badannya, tiba-tiba dia bad mood.
"Sayang, kamu kenapa? hmmm." Keenan ikut membaringkan tubuhnya ke samping Naya.
"Hiks, hiks, Mas Keenan gak ngerti!"
"Iya udah, jelaskan biar Mas ngerti." Keena mencoba menarik selimut yang menutupi wajah istrinya.
"Dasar kaum hawa, bikin repot aja kerjaan," lanjut Keenan dalam hati.
"Hiks, hiks, Naya mau Mas Keenan nyanyiin selawat."
Dengan senang hati Keenan menuruti permintaan istrinya. Pria itu menyanyikan lagu sholawat sambil mengelus kepala sang istri.
"Alhamdulillah, tidur juga." Keenan menatap istrinya yang sudah memejamkan matanya.
Keenan mengecvp kening istrinya sebelum beranjak dari tempatnya, dia ingin menemui Abi dan Uminya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh, Umi, Abi," salam Keenan saat melihat kedua orangtuanya sudah berada di depan televisi.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Kiyai Ibrahim dan Umi Hafizah bersamaan.
Keenan langsung menyalami tangan Kedua orang tuanya secara bergantian.
"Kapan kamu datang, kok Umi gak tau?" tanya Umi Hafizah.
"Selesai solat isya Keenan langsung kesini, Umi sama Abi masih di musala," jawab Keenan setelah duduk di sofa. "Umi, Naya kenapa iya, jadi aneh gitu?"
"Seharusnya Umi yang nanya, sejak kapan Naya seperti itu?" bukannya menjawab, Umi Hafizah malah bertanya balik pada Keenan.
"Seperti apa, Umi?"
"Muntah-muntah."
"Empat atau tiga hari yang lalu, Keenan lupa."
"Sudah periksa ke dokter?" tanya Kiai Ibrahim.
"Belum, Bu."
"Tunggu bentar." Umi Hafizah beranjak dari tempatnya untuk menuju ke kamarnya.
"Tekspek?" tanya Keenan saat Umi Hafizah menyodorkan benda itu padanya saat wanita paruh baya itu sudah kembali dari kamarnya.
"Minta Naya untuk memakainya besok. Umi curiga, kalo istrimu itu sedang hamil."
"H–hamil?"
"Bisa jadi, Nak." Kiai Ibrahim tersenyum kearah Putranya. "Apa yang di alami Naya saat ini pernah dialami Umimu waktu."
Keenan tidak mampu lagi untuk mengeluarkan kata-katanya, jika benar Naya hamil, dia akan sangat bahagia.
"K–keenan kedalam dulu Umi, Abi," izin Keenan untuk masuk kedalam kamarnya.
"Iya, Nak."
Setelah sampai di dalam kamarnya, Keenan tersenyum sangat lebar.
Dia langsung membaringkan tubuhnya kesamping istrinya, lalu menari tubuh kecil itu kedalam pelukannya.
"Semoga Allah mengabulkan do'a kita, Sayang." Keenan menghujani wajah istrinya dengan kecvpan.
"Mas harap, malaikat kecil kita sudah ada didalam sana." Keenan mengelus perut istrinya.
"Dia akan memanggilmu, Umma dan memanggilku Abi." Keenan tersenyum saat membayangkan seorang anak kecil memanggil dengan sebutan Abi berlari kearahnya dan memeluknya.
🍃🍃🍃
Keenan terbangun saat mendengar alarm berbunyi dari ponselnya. Seperti biasa, pria itu akan melakukan solat tahajudnya.
"Naya?" Panggilnya pada Istrinya yang masih setia memejamkan mata indahnya.
"Sayang, bangun yuk, kita solat tahajud." Keenan menepuk-nepuk pipi istrinya dengan pelan, takut istrinya itu tersakiti.
"Hmm, lima menit lagi, Mas," pinta Naya dengan mata yang masih terpejam.
Keenan terkekeh. "Gak ada lima menit, lima menit lagi, sekarang tuan putri bangun." Keenan mendekatkan wajahnya kearah wajah istrinya.
Fiyuuh ...
Pria itu terkekeh setelah meniup wajah istrinya. "Sayang, bangun yuk. Kita gak tau apa yang akan terjadi lima menit ke depan, bisa jadi kita sudah tidak ada di dunia lagi."
Naya langsung membuka matanya saat mendengar perkataan suaminya.
"Mas Keenan do'ain Naya iya, biar cepat mati?" tanya Naya dengan mata melirik tajam kearah suaminya.
Keenan memukul bibirnya. "Aduh ... salah ngomong."
"MASS KEENAN!"
"Sayang, kenapa kamu suka teriak-teriak? hmm."
"Mas Keenan do'ain Naya iya? biar cepat mat—"
"Usttth ...." Keenan meletakkan jarinya bibir istrinya sambil tersenyum manis yang membuat jantung Naya berdegup kencang. "Dari pada ribut, ayo kita solat."
Naya hanya mengangguk, seakan-akan dirinya terhipnotis oleh senyuman suaminya itu.
"Mas Keenan?" panggil Naya dengan suara lembutnya.
"Kenapa, Sayang?"
"Kok Mas Keenan ganteng sih?"
Keenan yang dipuji seperti itu menjadi salah tingkah, padahal ini bukan kali pertamanya Naya memujinya, tapi saat ini rasanya berbeda, Keenan juga gak tau kenapa berbeda.
🍃🍃🍃
Keenan masuk kedalam kamarnya setelah pulang dari solat subuh.
Krek ....
Pria itu langsung tersenyum lebar saat melihat istrinya tertidur di atas sajadah. "Kebiasaan."
"Naya sayang?" panggil Keenan. "Ayo bangun, Mas punya sesuatu untukmu."
Dengan malas Naya membuka matanya, dan pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah suaminya.
"Bangun, Mas ada sesuatu untukmu."
"Hmm, apa, Mas?" tanya Naya dengan malas.
Keenan menyodorkan tekspek kearah Naya.
"Apa ini?" tanya Naya.
"Tekspek,"
"Iya, Naya juga tau, tapi untuk apa?"
"Untuk dipake, Sayang." Keenan manarik Naya agar berdiri. "Ayo ke kamar mandi."
Naya hanya menurut dengan ucapan Suaminya.
TBC ....
masih bnyk teka teki ...🤔🤔🤔🤔