Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Suasana di dalam kamar kembali sunyi.
Alyssa masih berdiri di dekat jendela dengan wajah pucat. Tatapannya belum lepas dari deretan mobil hitam yang terparkir di bawah hotel.
Beberapa pria yang tadi mengejarnya masih berjaga, sesekali berbicara melalui ponsel sambil mengawasi pintu masuk.
Artinya...
Mereka benar-benar belum menyerah.
Alyssa mengepalkan kedua tangannya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang...?"
Pria misterius itu tidak menjawab.
Ia berjalan menuju meja kerja, mengambil ponselnya, lalu membaca beberapa pesan yang baru masuk.
Wajahnya tetap datar, seolah keributan yang baru saja terjadi hanyalah gangguan kecil dalam rutinitasnya.
Keheningan itu justru membuat Alyssa semakin gugup.
Ia ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi.
Ia juga ingin meminta maaf karena telah menerobos masuk tanpa izin.
Namun aura dingin pria itu membuat setiap kata yang hendak keluar kembali tertelan.
Tok...
Tok...
Tok...
Terdengar tiga ketukan pelan dari arah pintu.
Pria misterius melirik jam di pergelangan tangannya.
"Masuk."
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Namun yang masuk bukan petugas hotel.
Bukan pula salah satu pengejar Alyssa.
Melainkan seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun.
Tubuhnya tegap.
Rambut hitamnya tersisir rapi.
Ia mengenakan kemeja putih, celana panjang hitam, serta sepatu kulit mengilap yang tampak jauh lebih mahal daripada pakaian kebanyakan anak seusianya.
Meski wajahnya masih menyimpan kepolosan seorang anak, sorot matanya justru tajam.
Tatapan itu...
Hampir sama persis dengan pria misterius di hadapannya.
Begitu pintu tertutup, anak itu langsung berjalan masuk tanpa sedikit pun keraguan.
"Papa."
Suara kecil itu memecah kesunyian.
Alyssa membelalak.
Papa?
Jadi...
Pria dingin itu sudah memiliki seorang putra?
Pria tersebut menoleh.
"Kau sudah selesai belajar?"
Anak itu mengangguk singkat.
"Sudah."
Jawabannya pendek.
Nada bicaranya tenang.
Namun kemudian...
Tatapannya beralih kepada Alyssa.
Raut wajahnya langsung berubah.
Alisnya mengernyit.
"Dia siapa?"
Tidak ada sapaan.
Tidak ada senyum.
Hanya tatapan penuh kecurigaan.
Alyssa mencoba tersenyum ramah.
"Halo..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya—
"Aku tidak bertanya padamu."
Suara bocah itu dingin.
Alyssa langsung terdiam.
Ia sama sekali tidak menyangka seorang anak kecil bisa berbicara setajam itu.
Anak itu kembali memandang ayahnya.
"Papa."
"Kenapa ada orang asing di kamar Papa?"
Pria misterius menutup layar ponselnya.
"Dia sedang mencari perlindungan."
Anak itu mendengus pelan.
"Itu bukan urusan kita."
Alyssa menelan ludah.
Kalimat itu terdengar begitu kejam jika keluar dari mulut anak berusia sepuluh tahun.
"Suruh dia keluar."
Perintah itu diucapkan tanpa sedikit pun keraguan.
Pria misterius belum menjawab.
Namun anak itu sudah berjalan mendekati Alyssa.
Langkahnya pelan.
Teratur.
Berhenti tepat di depan gadis itu.
"Kau dengar, kan?"
"Keluar."
Alyssa menggeleng pelan.
"Aku... aku tidak bisa."
"Mereka masih menungguku di luar."
"Itu bukan masalahku."
Anak itu melipat kedua tangannya.
"Kalau kau tetap di sini, kau mengganggu Papa."
Alyssa mencoba menjelaskan.
"Aku hanya ingin menunggu sampai keadaan aman."
"Tidak."
Jawaban itu tegas.
"Kau harus pergi sekarang."
"Aku mohon..."
Belum selesai Alyssa berbicara, bocah itu langsung meraih pergelangan tangannya.
"Cepat!"
Tarikannya memang tidak terlalu kuat.
Namun cukup mengejutkan Alyssa.
"Tunggu..."
Alyssa berusaha melepaskan diri secara perlahan agar tidak menyakiti anak itu.
"Aku tidak ingin membuatmu terluka."
"Aku juga tidak peduli."
Anak itu justru semakin kesal.
Ia mendorong lengan Alyssa.
"Pergi!"
Alyssa mundur satu langkah.
Namun ia tetap tidak melawan.
Ia sadar, anak ini mungkin hanya belum memahami situasinya.
Sayangnya...
Kesabaran bocah itu lebih cepat habis.
"Aku bilang pergi!"
Bruk!
Ia kembali mendorong Alyssa.
Kali ini lebih keras.
Tubuh Alyssa kehilangan keseimbangan hingga bahunya membentur sisi sofa.
Rasa nyeri menjalar.
Tetapi ia masih menahan diri.
"Aku tidak akan melukaimu."
"Aku tidak takut."
Tiba-tiba...
Anak itu mengangkat tangannya.
Sret!
Kuku kecilnya mencakar punggung tangan Alyssa.
"Ah!"
Alyssa spontan menarik tangannya.
Garis merah tipis langsung terlihat di kulitnya.
Belum sempat ia bereaksi—
"Aku benci orang asing!"
teriak anak itu.
"Semuanya pembohong!"
"Papa selalu repot karena orang lain!"
"Keluar!"
Suasana kamar berubah tegang.
Alyssa hanya memandangi luka kecil di tangannya.
Ia sama sekali tidak marah.
Yang justru ia lihat adalah...
Mata anak itu.
Tatapan penuh amarah.
Tetapi jauh di dalamnya...
Ada kesedihan yang sulit disembunyikan.
Seolah-olah...
Ia pernah kehilangan seseorang.
Dan sejak saat itu, ia tidak lagi mempercayai siapa pun.
Pria misterius akhirnya berdiri.
"Cukup."
Suaranya rendah.
Namun langsung membuat ruangan kembali sunyi.
Anak itu menoleh.
"Tapi Papa..."
"Cukup."
Untuk pertama kalinya, nada suara pria itu terdengar sedikit lebih tegas.
Anak tersebut mengatupkan bibirnya.
Ia memang berhenti mencakar Alyssa.
Tetapi sorot matanya tetap penuh penolakan.
"Aku tidak suka dia."
Pria itu berjalan mendekat.
Kemudian menatap luka di tangan Alyssa.
"Luka?"
Alyssa segera menggeleng.
"Tidak apa-apa."
"Hanya goresan kecil."
Ia sengaja tersenyum agar suasana tidak semakin buruk.
Anak itu justru semakin kesal melihat Alyssa tidak membalas.
"Kenapa kau tidak marah?"
Alyssa menatapnya lembut.
"Karena kau masih anak-anak."
Jawaban itu membuat bocah tersebut membeku beberapa detik.
Lalu...
Ia mendengus.
"Jangan bicara seolah mengenalku."
"Aku memang tidak mengenalmu."
"Tapi aku tahu..."
Alyssa menatap matanya.
"Anak yang benar-benar jahat tidak akan terlihat sesedih itu."
Kalimat itu membuat ekspresi bocah tersebut berubah.
Hanya sesaat.
Lalu ia kembali memasang wajah dingin.
"Aku tidak sedih."
"Aku hanya tidak suka orang asing."
Pria misterius memperhatikan percakapan mereka tanpa menyela.
Entah mengapa...
Untuk pertama kalinya ia melihat putranya tidak langsung meledak marah setelah melukai seseorang.
Biasanya...
Orang yang dicakar anak itu akan membentak balik.
Sebagian bahkan mengancam.
Namun perempuan di depannya justru memilih berbicara dengan tenang.
Alyssa mengusap pelan luka di tangannya.
"Aku minta maaf kalau kehadiranku membuatmu tidak nyaman."
"Aku akan pergi..."
"...begitu situasinya benar-benar aman."
Anak itu hendak menyela.
Namun tiba-tiba—
Ponsel pria misterius berdering.
Ia melihat nama yang muncul di layar.
Wajahnya yang sejak tadi tenang perlahan berubah serius.
Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Apa?"
Beberapa detik ia hanya mendengarkan.
Tatapannya kemudian mengarah ke jendela.
"Ada tambahan orang?"
"...Baik."
Telepon ditutup.
Pria itu membuka sedikit tirai.
Di bawah...
Bukan hanya empat mobil hitam.
Kini jumlahnya bertambah.
Beberapa pria lain baru saja turun dari kendaraan berbeda.
Mereka menyebar ke setiap pintu keluar hotel.
Jelas...
Mereka tidak akan pulang sebelum menemukan Alyssa.
Pria misterius menutup kembali tirai.
Lalu berkata pelan,
"Mulai sekarang..."
"Kalian berdua tidak boleh keluar dari kamar ini."
Alyssa tercengang.
Anak itu pun ikut menatap ayahnya.
"Papa?"
Pria itu tidak menjelaskan apa pun.
Namun sorot matanya menunjukkan satu hal.
Orang-orang di luar sana...
Bukan sekadar preman biasa.
Dan tanpa disadari Alyssa, pelariannya kini telah menyeret ayah dan anak itu ke dalam pusaran bahaya yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka bayangkan.
"Bagaimana? sejauh ini apakah kalian suka ceritanya?" MHKaylid_