Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#33
Deru mesin mobil sport hitam milik Braxton meraung rendah saat memasuki garasi privat Penthouse mewah mereka. Lampu utama kendaraan padam, menyisakan pendar remang-remang dari sudut dinding garasi.
Keheningan yang tercipta di dalam kabin terasa teramat pekat, dingin, dan mencekat—seolah-olah udara di sekitar mereka telah membeku menjadi es.
Lux melepaskan sabuk pengamannya dengan gerakan kasar. Tangannya yang memegang tali tas bergetar halus oleh sisa air mata dan amarah yang belum sepenuhnya padam.
Namun, saat gadis itu hendak membuka pintu mobil, ia menyadari Braxton sama sekali tidak mematikan mesin kendaraan.
Pria itu tetap duduk kaku di kursi pengemudi, kedua tangannya mencengkeram erat roda kemudi dengan pandangan lurus menatap dinding semen di depan mereka.
Lux menoleh. Rasa gengsi dan kejengkelan masih bertakhta di dadanya, tetapi ada sejumput rasa asing yang menyengat saat melihat kebisuan suaminya yang tak biasa.
"Kenapa kau tidak turun?" tanya Lux dengan nada suara yang sengaja dibuat dingin dan ketus, menutupi getar di tenggorokannya.
Braxton tidak menjawab. Rahang tegas pria itu bertaut begitu keras hingga urat-urat di sepanjang lehernya menegang menahan gejolak emosi.
Demi Tuhan, dadanya terasa begitu sesak dan hancur. Perkataan Lux di dalam mobil tadi—soal menyesali pernikahan mereka hingga membawa nama Amelia Giger untuk mempertanyakan kejujurannya—merupakan belati paling beracun yang pernah menusuk jantungnya.
Braxton tahu betul wataknya sendiri. Jika ia memaksa ikut turun dan menjejakkan kaki di dalam Penthouse bersama Lux malam ini, emosinya yang sedang membakar dipastikan akan kembali meledak dan memperkeruh keadaan.
Pria itu lebih memilih menelan kepahitannya sendiri dan tidur di mansion orang tuanya malam ini daripada harus mengucapkan kata-kata yang makin melukai istrinya.
Melihat keheningan kaku dari Braxton yang sama sekali tidak menggubris perkataannya, rasa panik berbalut kejengkolan seketika menyusup ke dalam dada Lux.
"Braxton! Kalau kau marah... jangan berani-berani pergi ke club malam atau minum-minum!" gertak Lux seraya menunjuk wajah suaminya, mencoba mempertahankan dominasinya. "Kalau kau melangkah keluar dari garasi ini dan pergi ke tempat seperti itu, aku tidak akan pernah membukakan pintu Penthouse untukmu selamanya!"
Sebutir air mata hampir saja lolos dari sudut mata cokelat Braxton mendengar tuduhan konyol itu.
Pria itu sejujurnya ingin menangis—merasakan betapa kejamnya sang istri yang menuduhnya serendah itu, padahal pikirannya bahkan tak pernah terlintas untuk melakukan hal gila seperti itu.
Namun, Braxton tetap memilih diam. Pria itu menahan lidahnya rapat-rapat, ingin membuat istrinya sadar bahwa dirinya sedang benar-benar murka, dan bahwa berada di satu ruangan saat emosi sama-sama menggebu hanya akan menghancurkan pernikahan mereka.
Lux yang mendapati ancamannya lagi-lagi disambut kebisuan dingin semakin tersulut emosi. Rasa gengsi dan naluri wanita yang ingin dimanja seketika berontak hebat.
"Harusnya aku yang marah, Braxton!" jerit Lux dengan suara serak, air mata yang ditahannya akhirnya meluncur membasahi pipinya yang mulus. "Harusnya aku yang dibujuk karena kau yang mencampuri urusanku! Bukan malah kau yang berakting sok tersakiti dan lari seperti pengecut!"
Braxton memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas panjang dan berat yang terdengar begitu lelah dari dalam dadanya.
Pria itu menahan diri sekuat tenaga agar tidak meledak kembali. Ia menoleh perlahan, menatap wajah cantik istrinya yang dibasahi air mata dengan pendar mata cokelat yang sarat akan luka mendalam.
"Jangan pergi ke mana-mana," bisik Braxton dengan nada suara yang teramat rendah, serak, dan datar—tanpa ada sedikit pun nada tengil atau narsis yang biasanya menghiasi harinya. "Tetaplah di apartemen."
Itu adalah satu-satunya kalimat yang diucapkannya.
Lux menatap Braxton tak percaya. Tanpa menunggu balasan lagi, Lux membalikkan tubuhnya, membuka pintu mobil, lalu menghentakkannya keluar.
BRAK!
Lux membalikkan badan di luar mobil, menatap kaca kabin yang gelap dengan napas memburu dan dada yang teremas sakit.
"Kau akan menyesal karena tidak kembali bersamaku malam ini, Braxton!" teriak Lux histeris di dalam garasi yang bergema, tangisannya pecah tanpa bisa ditahan lagi. "Kau jahat! Kau yang salah karena campur tangan! Kau yang malah membentakku, brengsek!!!"
Braxton tidak membalas. Tanpa menoleh lagi ke arah istrinya yang berdiri gemetar, pria itu memindahkan tuas transmisi, menginjak pedal gas, dan mengemudikan mobil sport-nya mundur keluar dari area Penthouse dengan kecepatan tinggi—meninggalkan suara tangis dan jeritan murka istrinya melayang kaku di udara malam yang dingin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara deru mesin mobil sport yang menderu memecah keheningan pelataran Mansion Valerio-Desmon yang megah. Lampu sorot kendaraan itu padam tepat di depan tangga pualam utama.
Braxton melangkah keluar dari kabin, berjalan gontai dengan langkah berat yang sarat akan beban di dadanya. Wajah tampannya pias, rambutnya sedikit berantakan, dan sepasang mata cokelatnya memancarkan keletihan batin yang amat pekat.
Saat pintu jati setinggi tiga meter itu terbuka, pendar lampu gantung kristal yang hangat menyambut kedatangannya. Zephyr—ibundanya yang selalu tampil anggun—baru saja melintasi ruang tengah dengan secangkir teh herbal di tangannya.
Langkah wanita itu seketika terhenti begitu melihat putra tunggalnya berdiri kaku di ambang pintu pada pukul sebelas malam.
Zephyr berkerut bingung, menatap Braxton dari atas ke bawah. "Braxton? Kenapa kau pulang malam-malam begini, Sayang?" Zephyr melangkah mendekat, melirik ke arah luar pintu yang sepi. "Kenapa sendirian? Kenapa tidak membawa istrimu? Di mana Lux?"
Pertanyaan sederhana dari sang Mommy seketika terasa bagaikan sembilu yang menusuk tepat di ulu hati Braxton. Pria itu menundukkan kepalanya, menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari yang bergetar halus.
"Lux... tidak ikut, Mom," bisik Braxton dengan suara yang mendadak amat serak.
Belum sempat Zephyr membalas, sebuah langkah kaki tegap teratur bergema dari arah tangga melingkar.
Aj—sang Daddy yang selalu berwibawa dan berkarisma—berjalan turun dengan pakaian santainya. Pandangan matanya yang tajam dan berpengalaman seketika menangkap guncangan emosi yang berusaha disembunyikan oleh putranya.
Sebagai pria yang telah mengarungi gelombang kehidupan dan pernikahan selama puluhan tahun, Aj tidak memerlukan waktu lama untuk membaca situasi.
Aj menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir, bersedekap seraya menatap Braxton lurus-lurus dengan pendar mata yang dingin namun sarat akan ketegasan seorang ayah.
"Ada apa ini?" suara berat Aj mengudara, tenang namun memotong keheningan. "Kau meninggalkan Penthouse-mu malam-malam dan datang ke sini dengan raut wajah hancur seperti itu?"
Braxton memilih membisu, mengalihkan pandangannya ke lantai marmer yang berkilau.
Aj terkekeh pendek—sebuah kekehan dingin yang penuh akan teguran keras. "Apa aku pernah mengajarimu untuk jadi pengecut, Braxton?"
Kata 'pengecut' yang keluar dari mulut Daddy-nya seketika membuat dada Braxton bergemuruh hebat. Kalimat itu persis seperti jeritan histeris Lux di garasi beberapa saat lalu.
Braxton menengadah, menatap sang Daddy dengan mata yang memerah menahan gumpalan air mata dan amarah yang menumpuk di tenggorokannya.
"Aj, tolonglah... jangan mulai menghakiminya," tegur Zephyr lembut, menyentuh lengan suaminya seraya menatap Braxton dengan pendar keprihatinan yang mendalam sebagai seorang ibu.
Zephyr tahu betul betapa Braxton sangat memuja Lux, dan melihat putranya sehancur ini hanya menandakan satu hal: bentrokan besar baru saja terjadi di antara mereka.
"Aku tidak menghakiminya, Sayang," sahut Aj tegas, matanya tak lepas dari Braxton. "Seorang pria Desmon tidak akan pernah lari dari rumahnya sendiri saat ada masalah dengan istrinya. Jika kau bertengkar, selesaikan di bawah atap yang sama. Bukan malah melarikan diri ke mansion orang tuamu seperti anak kecil yang kehilangan mainannya."
Braxton mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat di sisi tubuhnya. Napasnya memburu pelan, mencoba menahan emosi yang nyaris membakar sisa rasionalitasnya.
Pria itu menghembuskan napas panjang yang begitu lelah, menggelengkan kepalanya perlahan di hadapan kedua orang tuanya.
"Mom... Dad..." bisik Braxton, suaranya bergetar berat seraya menatap Zephyr dengan tatapan memohon yang amat polos dan terluka. "Biarkan aku menginap di sini saja ya, Mom? Tolong..."
Zephyr tersentak kecil, hatinya menggelembung oleh rasa iba yang teramat sangat melihat putranya yang biasa tertawa percaya diri kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya.
"Braxton..." panggil Zephyr halus.
"Aku benar-benar tidak bisa kembali malam ini, Mom," pungkasi Braxton dengan kepasrahan yang pekat.
Pria itu menelan ludahnya yang terasa pahit. "Pikiranku sedang sangat kacau. Emosiku dan emosi Lux sama-sama sedang berada di puncak tertinggi. Kalau aku dipaksa kembali ke Penthouse malam ini juga... aku takut ucapan atau tindakanku justru akan makin merusak pernikahan kami dan melukai hati Lux lebih dalam lagi. Aku hanya butuh menenangkan diri..."
Mendengar kejujuran murni yang keluar dari tenggorokan putranya, tatapan keras di mata Aj perlahan melunak.
Sang Daddy hembuskan napas panjang, menyadari bahwa keputusan Braxton untuk mundur sejenak malam ini bukanlah bentuk kepengecutan, melainkan sebuah usaha tertatih untuk melindungi istrinya dari ledakan amarahnya sendiri.
Zephyr melangkah maju, meraih kedua bahu kokoh Braxton lalu memeluk putranya erat-erat, mengusap punggung tegap itu dengan kehangatan seorang ibu.
"Baiklah, Sayang... menginaplah di kamar lamamu malam ini," bisik Zephyr lembut di dekat telinga Braxton. "Tenangkan pikiranmu dulu. Besok pagi, saat kepalamu sudah dingin, selesaikan semuanya dengan bijak bersama Lux."
Braxton memejamkan matanya rapat-rapat dalam dekapan ibunya, menikmati sedikit kehangatan di tengah badai emosi yang meremukkan hatinya malam ini.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux