Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desa dalam Kepungan Perampok
Sung Wen menatap Gao Rui dengan tatapan yang bercampur antara harapan dan keraguan. Sejujurnya, ia tidak terlalu berharap pemuda di hadapannya benar-benar mampu menolong Desa Qinghe.
Bagaimanapun juga, Gao Rui terlihat masih sangat muda. Dalam pikirannya, sekuat apa pun seorang pemuda, mustahil mampu menghadapi lebih dari seratus perampok seorang diri.
Namun, penampilan Gao Rui jelas berbeda dari orang kebanyakan. Pakaian yang dikenakannya, cincin ruang di jarinya, serta sikapnya yang tenang menunjukkan bahwa ia berasal dari keluarga terpandang.
Mungkin, kalau benar ia seorang tuan muda dari keluarga bangsawan, nama besar keluarganya saja sudah cukup untuk membuat para perampok berpikir dua kali.
Belum lagi pria bertubuh tinggi besar bernama Sha Nuo yang selalu berada di sisinya. Di mata Sung Wen, pria itu jelas merupakan pengawal pribadi Gao Rui.
Dari aura yang dipancarkannya, ia tampak jauh lebih kuat daripada pendekar biasa. Harapan yang sempat padam perlahan kembali muncul. Sung Wen menangkupkan kedua tangannya.
"Tuan Muda... Benarkah... kalian akan membantu desa kami?"
Gao Rui menganggukkan kepala tanpa ragu.
"Tentu. Kami akan membantu."
Ia segera berbalik menatap Sha Nuo.
"Ayo kita berangkat sekarang."
Lalu ia tersenyum kecil.
"Ayo, Paman."
"..."
Namun Sha Nuo sama sekali tidak bergerak. Pria bertubuh besar itu hanya berdeham pelan.
"Ehem."
Gao Rui menoleh dengan bingung. Sha Nuo memandangnya sambil mengangkat sebelah alis.
"Rui'er."
"Iya, Paman?"
"Menurutmu... Siapa pemimpin perjalanan ini?"
"..."
Ucapan sederhana itu membuat Gao Rui langsung terdiam. Ekspresinya berubah. Baru saat itulah ia menyadari kesalahannya.
Benar, sejak awal perjalanan ini, Sha Nuolah yang memimpin. Dialah yang bertanggung jawab menentukan arah perjalanan, mengambil keputusan, dan memutuskan apakah mereka akan menyimpang dari tujuan utama atau tidak.
Sedangkan dirinya, baru saja mengambil keputusan sepihak tanpa meminta persetujuan pemimpin rombongan. Gao Rui segera menundukkan kepala.
"Maaf, Paman. Aku terlalu terburu-buru."
"Aku tidak bermaksud mengambil keputusan sendiri."
Sha Nuo menatap wajah bocah itu cukup lama. Tatapan Gao Rui dipenuhi penyesalan yang tulus. Ia benar-benar menyadari kesalahannya.
Melihat itu, Sha Nuo akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Haaah..."
Ia mengusap dahinya pelan.
"Baiklah..."
Beberapa saat kemudian ia kembali menghela napas.
"Baiklah. Kita pergi."
Seketika itu juga, wajah Gao Rui yang semula dipenuhi rasa bersalah langsung berubah cerah. Senyumnya mengembang lebar.
"Terima kasih, Paman!"
Melihat perubahan ekspresi bocah itu, Sha Nuo hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Dasar bocah... Aku benar-benar tidak bisa menolak wajah seperti itu."
Tanpa membuang waktu lagi, ketiganya segera memadamkan api unggun. Gao Rui memastikan tidak ada bara yang tersisa sebelum mengusap cincin ruang di jarinya. Selimut, peralatan memasak, serta barang-barang lainnya kembali menghilang ke dalam cincin ruang.
Sha Nuo berdiri sambil meregangkan bahunya.
"Kalau begitu, pimpin jalan."
Sung Wen segera menganggukkan kepala.
"Baik!"
Sesaat kemudian, ketiganya melangkah keluar dari goa.
Sraaaashhh!
Begitu meninggalkan perlindungan goa, hujan deras langsung menghantam tubuh mereka. Dalam sekejap, pakaian Gao Rui, Sha Nuo, dan Sung Wen basah kuyup. Angin malam yang dingin berembus kencang, membuat pepohonan di sekitar terus bergoyang.
Namun tak seorang pun berhenti.
Wush!
Sung Wen langsung melesat ke depan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Di belakangnya, Sha Nuo dan Gao Rui mengikuti dengan tenang.
Sung Wen mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Langkahnya terus berpindah dari satu batu ke batu lain, sesekali melompati akar-akar pohon besar yang melintang di tengah jalur pegunungan.
Di dalam hatinya hanya ada satu pikiran.
"Cepat... aku harus secepat mungkin kembali ke desa."
Meski demikian, bagi Gao Rui dan Sha Nuo, kecepatan Sung Wen tetap terasa lambat. Ranah pendekar tahap pertama memang terlalu rendah dibandingkan kemampuan mereka berdua. Andai mau, mereka dapat melesat puluhan kali lebih cepat.
Namun tidak satu pun dari mereka menunjukkan rasa tidak sabar. Sha Nuo hanya berjalan mengikuti dari belakang dengan langkah santai.
"Tidak bisa disalahkan."
"Dengan kekuatannya sekarang, kecepatan seperti ini sudah termasuk cukup baik."
Gao Rui pun berpikiran sama. Ia justru khawatir kalau Sung Wen memaksakan diri terlalu keras, luka di tubuhnya akan semakin parah. Karena itu, keduanya hanya menjaga jarak beberapa langkah di belakang pria tersebut tanpa mendesaknya sedikit pun.
Wush!
Mereka terus melaju menembus hujan.
Perjalanan membawa mereka melewati hutan lebat, menuruni lereng-lereng curam, lalu kembali mendaki perbukitan berbatu. Sesekali kilatan petir membelah langit, menerangi jalur pegunungan yang licin hanya untuk sesaat sebelum kembali diselimuti kegelapan.
Waktu terus berlalu, kurang lebih satu jam kemudian, Sung Wen akhirnya memperlambat langkahnya.
"Hah... Hah..."
Ia berhenti di sebuah dataran tinggi. Gao Rui dan Sha Nuo ikut menghentikan langkah.
Di hadapan mereka terbentang sebuah tebing yang menghadap ke arah lembah. Sung Wen segera menunjuk ke bawah.
"Itu... itu Desa Qinghe."
Gao Rui dan Sha Nuo mengikuti arah yang ditunjuk. Di bawah sana, di tengah lembah yang dikelilingi hutan, tampak sebuah desa berukuran sedang. Puluhan rumah berdiri rapat mengelilingi jalan-jalan kecil yang kini nyaris tak terlihat akibat hujan deras.
Jarak mereka sudah tidak terlalu jauh lagi. Kalau terus bergerak, mereka hanya membutuhkan waktu singkat untuk mencapai desa tersebut.
Namun, tidak ada seorang pun yang langsung turun. Ketiganya berdiri di bibir tebing sambil mengamati keadaan di bawah.
Tatapan Sha Nuo perlahan menyipit.
"..."
Sementara Gao Rui juga memperhatikan desa itu dengan wajah serius. Mereka tahu, sebelum bergerak, lebih baik memastikan lebih dahulu situasi di bawah. Dalam keadaan seperti ini, sedikit saja salah mengambil langkah bisa membahayakan seluruh penduduk desa.
Sha Nuo dan Gao Rui saling berpandangan sejenak. Tanpa perlu berkata apa-apa, keduanya langsung teknik mata mereka.
Bzztt...
Lapisan tipis menyelimuti bola mata mereka. Seketika itu juga, penglihatan mereka menjadi jauh lebih tajam, menembus derasnya hujan yang mengguyur Desa Qinghe.
Tatapan Gao Rui langsung berubah serius.
"..."
Di tanah lapang yang berada di tengah desa, ratusan penduduk tampak dipaksa berkumpul. Tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan anak-anak, semuanya berdesakan sambil menahan ketakutan.
Sebagian dari mereka memeluk anggota keluarganya. Sebagian lagi hanya mampu menundukkan kepala. Tak seorang pun berani bergerak.
Sementara itu, di sekeliling tanah lapang, lebih dari seratus pendekar berpakaian gelap berdiri mengepung dari segala arah. Pedang, golok, tombak, hingga kapak berada di tangan mereka.
Mereka membentuk lingkaran rapat. Jelas sekali, tidak ada seorang pun yang diberi kesempatan melarikan diri. Beberapa perampok bahkan terus berpatroli mengelilingi kerumunan penduduk sambil sesekali menghardik mereka.
Suasana benar-benar mencekam. Gao Rui tanpa sadar mengepalkan tangannya.
"..."
Situasinya jauh lebih buruk daripada yang ia bayangkan.
Di sampingnya, Sha Nuo juga terus mengamati keadaan tanpa berkedip. Tatapannya menyapu seluruh desa. Jumlah musuh, posisi para penjaga, jalur keluar masuk desa, hingga kemungkinan tempat persembunyian. Semua ia perhatikan dalam beberapa tarikan napas saja.
Gao Rui menelan ludah.
"Paman..."
Sha Nuo tidak menjawab.
Gao Rui kembali membuka mulut.
"Langkah apa yang harus kita lakukan?"
Ia kembali melihat ke arah desa.
"Bagaimana kalau... kita mengurangi jumlah mereka diam-diam?"
"Satu per satu."
Menurutnya, bila beberapa perampok dapat disingkirkan tanpa diketahui, tekanan terhadap penduduk desa tentu akan berkurang.
Namun Sha Nuo perlahan menggelengkan kepala.
"Tidak."
"Hah?"
Sha Nuo tetap menatap ke arah desa.
"Situasinya terlalu rumit."
Ia mengangkat tangan, menunjuk ke arah tanah lapang.
"Lihat. Mereka mengepung dari semua sisi."
"Begitu satu orang saja menghilang... yang lain pasti langsung menyadarinya."
Tatapannya kemudian beralih kepada ratusan penduduk yang sedang disandera.
"Dan saat itu terjadi... orang-orang desa inilah yang pertama kali dijadikan sandera."
Gao Rui langsung terdiam. Ia menyadari perkataan itu memang masuk akal. Dalam keadaan seperti sekarang, penyusupan diam-diam justru bisa memancing kepanikan dan membahayakan seluruh penduduk.
Sha Nuo kemudian menarik napas panjang.
"Sudahlah."
Ia menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri hingga terdengar suara retakan kecil.
Krek... krek...
Tatapannya berubah tajam.
"Kita serang saja langsung dari arah depan."
Ucapan itu terdengar begitu tenang. Seolah menghadapi lebih dari seratus pendekar aliran hitam bukanlah sesuatu yang layak dipusingkan.