NovelToon NovelToon
Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.

Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.

Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.

Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:

Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.

Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.

Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Harga Sebuah Pilihan

Gang sempit itu dipenuhi keheningan.

Avatar Chu Xuan berdiri dengan tenang.

Jubah putihnya berkibar perlahan.

Rambut putih panjangnya bergoyang lembut mengikuti hembusan angin.

Sepasang mata peraknya memandang dua perampok itu tanpa sedikit pun emosi.

Di belakangnya...

Luo Ning berdiri menjaga tubuh asli Chu Xuan yang tertidur.

Pedang pendeknya terhunus.

Tatapannya waspada.

Namun sebagian besar perhatiannya justru tertuju pada sosok berjubah putih di depan sana.

Ia tahu...

Itu adalah Gurunya.

Tetapi...

Bukan tubuh asli Gurunya.

Sementara itu, tulisan hitam muncul di hadapan Avatar.

【Deteksi Niat Buruk.】

【Target: 2 Kultivator Alam Penempaan Tubuh Tingkat Ketujuh.】

【Niat: • Merampas batu roh milik Tuan Rumah. • Melukai Murid Luo Ning. • Menghilangkan saksi.】

【Syarat eliminasi terpenuhi.】

【Hadiah Poin Tak Terkalahkan akan diberikan setelah target dieliminasi.】

Avatar Chu Xuan hanya melirik sekilas.

"Sistem."

"Apakah mereka masih memiliki niat buruk?"

【Benar.】

"Kalau begitu..."

"Tidak perlu berbicara lagi."

Salah seorang perampok mendengus.

"Berlagak!"

"Kau pikir kami akan takut hanya karena penampilanmu berbeda?"

BOOM!

Keduanya langsung menerjang.

Golok dan pedang mereka mengarah lurus ke leher Avatar.

Luo Ning tanpa sadar menahan napas.

Namun...

Avatar Chu Xuan hanya mengucapkan satu kata.

"Berhenti."

Tidak keras.

Bahkan terdengar sangat pelan.

Tetapi...

Pada detik berikutnya...

Seluruh dunia membeku.

Angin berhenti berembus.

Daun-daun yang tertiup membeku di udara.

Debu yang beterbangan berhenti di tempatnya.

Bahkan ekspresi marah kedua perampok ikut membeku.

Waktu...

...telah berhenti.

Hanya Avatar Chu Xuan yang masih dapat bergerak.

Ia melangkah perlahan.

Melewati dua perampok yang membeku di tempat.

Tatapan mata peraknya sama sekali tidak berubah.

Ia berdiri tepat di antara mereka.

Lalu berkata pelan,

"Orang yang memiliki niat buruk terhadap diriku dan muridku..."

"...tidak berhak memperoleh belas kasihan."

Ia mengangkat tangan kanannya.

Jari telunjuknya menyentuh pelipis perampok pertama.

Kemudian...

Pelipis perampok kedua.

Sentuhannya seringan embusan angin.

Setelah itu...

Avatar Chu Xuan merapikan sedikit lengan jubah putihnya.

Lalu berjalan kembali ke posisi semula.

Tatapannya mengarah ke Luo Ning.

"Perhatikan baik-baik."

"Ini adalah pelajaran keduamu."

"Jangan pernah menunjukkan belas kasihan kepada orang yang telah memutuskan menjadi musuhmu."

Luo Ning hanya mampu mengangguk kaku.

Ia bahkan tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

Avatar Chu Xuan kemudian menjentikkan jarinya.

Tak.

Suara jentikan itu menggema pelan.

Pada saat yang sama...

Waktu kembali mengalir.

Angin kembali bertiup.

Daun-daun kembali berjatuhan.

Dan...

BOOM!!

Tubuh kedua perampok langsung hancur menjadi butiran cahaya.

Tanpa darah.

Tanpa mayat.

Tanpa sempat mengeluarkan suara.

Mereka lenyap begitu saja dari dunia.

Seolah-olah keberadaan mereka telah dihapus.

Luo Ning membelalakkan mata.

Ia sama sekali tidak melihat Guru bergerak.

Ia hanya melihat...

Dua kultivator yang jauh lebih kuat darinya...

...menghilang dalam sekejap.

Tulisan hitam kembali muncul.

【Dua target berhasil dieliminasi.】

【Menghitung hadiah...】

【Selamat.】

【Tuan Rumah memperoleh 840 Poin Tak Terkalahkan.】

【Total Poin Tak Terkalahkan: 5.940.】

Avatar Chu Xuan melirik notifikasi itu sekilas.

"Lumayan."

Kemudian ia menoleh ke arah Luo Ning yang masih terpaku.

Luo Ning masih belum mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Di dalam hatinya hanya ada satu pikiran.

"Guru..."

"...sebenarnya makhluk seperti apa?"

Gang sempit itu kembali dipenuhi keheningan.

Angin bertiup perlahan.

Tidak ada bekas pertarungan.

Tidak ada darah.

Tidak ada mayat.

Seolah-olah...

Dua perampok itu tidak pernah ada.

Luo Ning masih memegang tubuh asli Chu Xuan.

Tatapannya berulang kali berpindah antara pemuda berambut hitam yang sedang tertidur dan sosok berjubah putih di depannya.

Sampai sekarang...

Ia masih belum mampu memahami apa yang sedang terjadi.

Avatar Chu Xuan menoleh.

"Letakkan tubuhku."

Luo Ning mengangguk pelan.

Dengan sangat hati-hati, ia menyandarkan tubuh asli Chu Xuan ke dinding gang.

Kemudian ia berdiri kembali.

"...Guru."

"Hm?"

"Apa teknik tadi..."

"...benar-benar teknik kultivasi?"

Avatar Chu Xuan hanya tersenyum tipis.

"Suatu hari nanti..."

"...kau akan mengetahuinya."

Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun.

Namun justru membuat rasa hormat Luo Ning semakin besar.

Di dalam hatinya, ia bersumpah.

"Aku harus menjadi murid yang tidak mempermalukan Guru."

Pada saat itu...

Tulisan hitam muncul di hadapan Avatar.

【Dua target berhasil dieliminasi.】

【Selamat.

Tuan Rumah memperoleh 840 Poin Tak Terkalahkan.】

【Total Poin Tak Terkalahkan: 5.940.】

Chu Xuan hanya melirik sekilas.

"Baik."

Tidak ada notifikasi lain.

Tidak ada hadiah tambahan.

Gang kembali sunyi.

Beberapa saat kemudian...

Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa.

"Di sana!"

"Itu gangnya!"

Beberapa penjaga Kota Canglan berlari memasuki gang.

Di depan mereka berdiri seorang kapten penjaga berusia sekitar empat puluh tahun.

Tatapannya tajam.

Ia segera mengamati keadaan.

Tidak ada mayat.

Tidak ada luka.

Tidak ada tanda pertarungan.

Kapten itu mengernyit.

"Kami menerima laporan bahwa ada dua perampok yang sedang merampok orang di sini."

"Apakah kalian melihat mereka?"

Avatar Chu Xuan menjawab singkat.

"Ya."

Kapten penjaga segera bertanya,

"Di mana mereka sekarang?"

Avatar memandangnya dengan tenang.

"Mereka sudah tidak akan mengganggu siapa pun lagi."

Kapten itu membeku.

"Apa maksudmu?"

Avatar tidak menjawab.

Tatapan matanya hanya mengarah ke tanah.

Kapten penjaga ikut menoleh.

Di sana...

Tergeletak dua golok yang dikenalnya.

"Itu..."

"Wakil Kapten."

"Itu senjata milik dua perampok yang selama ini kami buru."

Semua penjaga saling berpandangan.

Goloknya ada.

Orangnya...

Tidak ada.

Kapten penjaga perlahan menelan ludah.

Ia kembali menatap pria berjubah putih di hadapannya.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun bertugas...

Ia tidak mampu menebak tingkat kultivasi seseorang.

Bahkan...

Ia sama sekali tidak merasakan aura dari pria itu.

Justru itulah yang membuatnya semakin takut.

Orang tanpa aura...

Atau...

Orang yang kekuatannya jauh melampaui dirinya.

Kapten penjaga segera memberi hormat.

"Terima kasih, Senior."

"Karena telah membantu menjaga keamanan Kota Canglan."

Avatar Chu Xuan hanya mengangguk pelan.

"Tugas mereka sudah selesai."

Kapten penjaga tidak berani bertanya lebih jauh.

Naluri bertahunnya mengatakan...

Semakin sedikit ia tahu...

Semakin lama ia akan hidup.

Ia segera memerintahkan bawahannya.

"Ambil kedua senjata itu."

"Dan..."

"...jangan mengganggu Senior."

"Baik!"

Para penjaga segera pergi membawa dua golok tersebut.

Tak seorang pun berani menoleh ke belakang.

Setelah mereka menghilang...

Jauh di atas tembok Kota Canglan.

Seorang lelaki tua berjubah abu-abu perlahan membuka matanya.

Tatapannya mengarah tepat ke gang tempat Avatar Chu Xuan berdiri.

Matanya menyipit.

"...Menarik."

"Aku sama sekali..."

"...tidak bisa melihat tingkat kultivasinya."

Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...

Rasa penasaran muncul di wajah seorang ahli yang selama ini disegani di Kota Canglan.

Bersambung...

1
obeng min
tambah banyak up-nya tambah jos pula ketua mantap👍👍👍👍👍
obeng min
selalu top
obeng min
top👍👍👍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
sikat😍
Hadi Hadi
bantai💪💪
obeng min
selalu dedepan mantap🤣🤣🤣👍
obeng min
upnya kurg banyak ketua👍👍👍👍👍
andi widya
kerennn
obeng min
mantao ketua 💪💪💪💪💪
Hadi Hadi
bantai
Hadi Hadi
semangat🤭🤭
Hadi Hadi
is good😍😍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
up up💪💪
obeng min
👍👍👍👍👍👍
obeng min
💪💪💪
obeng min
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!