Sinopsis
Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.
Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.
Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terasa pening!
Sore itu, keheningan menyelimuti kamar hotel mewah di pusat kota. Cahaya oranye matahari terbenam menyusup tipis di antara celah gorden, memantul pada permukaan seprai putih yang telah begitu sering menjadi saksi pertemuan rahasia mereka.
Hubungan tersembunyi itu telah berjalan berbulan-bulan. Setiap kali rasa ragu menghampiri Sabrina, Julian selalu tahu cara meredamnya, menyusun janji-janji manis tentang masa depan dan rasa cinta yang terus ia ulang seperti mantra.
Dan setiap kali itu pula, Sabrina kembali luluh, menyerahkan hatinya yang makin terikat jauh dalam genggaman Julian.
Di atas ranjang, Julian merayap mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Sabrina dan menarik tubuh gadis itu rapat ke dadanya. Hembusan napas hangatnya menyapu leher Sabrina saat ia mendaratkan kecupan-kecupan kecil di sana.
Namun, tepat sebelum keintiman itu bergerak lebih jauh, Julian menghentikan gerakannya sejenak. Ia menegakkan tubuhnya sedikit, menatap Sabrina dengan alis terangkat halus.
"Kamu udah minum obatnya, kan?" tanya Julian santai, suaranya terdengar begitu kasual seolah menanyakan hal sepele.
Sabrina terdiam sejenak, dadanya berdesir pelan. Obat yang Julian maksud adalah butiran pil yang diserahkan lelaki itu setiap kali mereka akan melakukan hubungan intim.
Julian mengaku tidak nyaman jika harus memakai pengaman karena sensasi yang dia rasakan berbeda, sehingga ia memilih memberikan obat pencegah kehamilan tersebut kepada Sabrina agar gadis itu tidak hamil akibat hubungan mereka.
Bagi Julian, pil itu adalah jaminan praktis agar ia bisa tetap menikmati keintiman tanpa hambatan dan tanpa perlu khawatir akan risiko kehamilan di kemudian hari.
"Udah, Kak, tadi siang aku udah minum," jawab Sabrina pelan, hampir berupa bisikan.
Mendengar jawaban itu, senyum lega dan puas seketika terukir di wajah tampan Julian. Rasa cemas akan potensi masalah di masa depan menguap begitu saja dari kepalanya.
"Bagus kalau udah diminum, Sayang." bisik Julian hangat, mengusap pipi Sabrina dengan lembut untuk menyalurkan rasa aman yang sebenarnya semu.
"Aku cuma nggak mau kamu hamil dulu sekarang. Masa depan kamu masih panjang, kuliah kamu belum selesai. Kita harus main aman, oke? Aku lakuin ini juga demi kamu."
Sabrina menatap manik mata Julian yang begitu meyakinkan. Kata-kata demi kamu yang diucapkan Julian membalut rasa dingin di dalam dadanya.
Meskipun ada rasa cemas akan efek obat yang harus ia konsumsi beberapa hari saat mereka akan melakukan hal itu, rasa percaya Sabrina pada sang kekasih kembali membungkam semua keraguannya.
"Iya, Kak, aku paham," Kata Sabrina pasrah, meremas pelan lengan Julian yang melingkar di tubuhnya.
Mendengar kepasrahan itu, Julian mengulas senyum puas. Tanpa mengulur waktu lagi, ia kembali menunduk dan menyambar bibir Sabrina, menenggelamkan seluruh rasa mengganjal di hati gadis itu ke dalam lautan gairah yang kembali menguasai mereka di dalam kamar hotel yang hening itu.
Di dalam kamar hotel yang sepi dan ber-AC sejuk itu, kata-kata manis Julian kembali melumpuhkan sisa pertahanan diri Sabrina. Keyakinan semu bahwa Julian melakukan semua ini demi kebaikannya membuat Sabrina memejamkan mata, membiarkan pasrah mengambil alih seluruh kesadarannya.
Julian mengulas senyum tipis di bibirnya. Senyum penuh kemenangan dan gairah yang tak lagi terbendung.
Tanpa mengulur waktu lagi, Julian menunduk dan menyambar bibir Sabrina dalam ciuman yang pekat dan menuntut.
Tangannya bergerak cepat namun terampil, menanggalkan pakaian yang membungkus tubuh Sabrina satu per satu hingga tak ada lagi selembar kain pun yang membatasi kulit mereka.
"Kamu makin cantik, sayang..." bisik Julian parau di sela-sela ciumannya yang berpindah menelusuri leher, tulang selangka, hingga turun ke dada Sabrina.
Sabrina melenguh pelan, meremas seprai putih di bawah tubuhnya. Jemarinya yang gemetar perlahan naik, menyusup ke sela-sela rambut Julian, menarik lelaki itu agar semakin lekat padanya.
Sensasi hangat dan gairah memabukkan dari sentuhan Julian perlahan menghapus rasa dingin di dalam dadanya.
Dengan kelincahan dan pengalaman yang ia miliki, Julian membimbing Sabrina, yang kini tak lagi seperti malam pertamanya, menuju puncak keintiman.
Gesekan kulit yang hangat, deru napas yang saling beradu cepat, serta bisikan-bisikan manja dari Julian memenuhi setiap sudut kamar suite tersebut.
Di atas ranjang empuk itu, penyerahan utuh kembali terjadi. Sabrina menyerahkan seluruh tubuh dan jiwanya tanpa rasa curiga, percaya penuh pada pil pencegah kehamilan yang baru saja ia telan dan janji-janji manis pria di atasnya.
Sementara bagi Julian, malam itu hanyalah pengulangan dari pemenuhan hasrat tanpa beban, terikat dalam kebohongan rapi yang terus ia pelihara.
Seminggu setelah malam di kamar hotel itu, kondisi tubuh Sabrina mendadak berubah. Pagi itu, saat ia baru saja terbangun di kamar kosnya, kepala Sabrina terasa begitu berat dan berputar hebat.
Rasa pusing yang mencengkram membuatnya kesulitan bahkan sekadar untuk mendudukkan diri di tepi ranjang.
Namun, yang membuat Sabrina makin tersiksa adalah rasa mual yang melilit perutnya.
Saat melangkah keluar kamar untuk mengambil sarapan yang ia beli dari warung sebelah, piring berisi nasi hangat dan lauk sederhana, aroma uap nasi yang baru dibuka seketika menusuk inderanya. Bau yang biasanya terasa biasa saja itu mendadak tercium sangat menyengat dan menggeledah lambungnya.
"Ugh..."
Sabrina refleks menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Rasa mual yang membuncah tak lagi bisa ditahan.
Dengan langkah terburu-buru dan napas terengah, ia berlari menuju kamar mandi kosnya.
Ia membungkuk di depan wastafel, memuntahkan cairan bening karena perutnya yang masih kosong.
Dadanya naik turun, napasnya memburu, dan air mata menetes di sudut matanya akibat rasa mual yang begitu menyiksa. Setelah rasa mualnya sedikit mereda, Sabrina membasuh wajahnya dengan air dingin.
Sabrina memegang tepi wastafel dengan jemari yang gemetar, mengatur napasnya yang masih terengah-engah, lalu mengusap bibirnya yang terasa asam dengan punggung tangan.
Melihat wajah pucatnya di cermin, Sabrina menghela napas panjang.
Sabrina menduga semua ini karena tumpukan tugas kuliah yang tak ada habisnya dan pola tidurnya yang berantakan, ia yakin tubuhnya hanya sedang meronta karena lelah.
Rasa mual akibat aroma nasi hangat tadi dipikirnya hanyalah maag atau gejala masuk angin parah karena sering begadang.
Dengan langkah gontai, Sabrina berjalan kembali ke ranjangnya. Ia membiarkan bungkus nasinya tergeletak begitu saja di meja, tak lagi berselera untuk menyentuhnya.