Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Harga diri yang diinjak
Surat gugatan cerai di atas meja itu tampak seperti sebilah pisau yang siap menyembelih masa depannya. Namun di tengah kehancuran jiwanya, sisa-sisa harga diri dan harapan bodoh seorang istri rupanya belum sepenuhnya mati.
Larissa menatap kertas putih di hadapannya, lalu beralih menatap Bram yang berdiri dengan wajah sedingin es. Dengan tangan yang gemetar hebat, dia mendorong kembali kertas itu menjauh.
"Aku... aku tidak akan menandatanganinya, Mas," ucap Larissa, suaranya bergetar namun ada nada penolakan yang tegas di dalamnya.
"Lima tahun pernikahan kita tidak bisa berakhir begitu saja, aku minta waktu. Mari kita pulang dan bicara berdua, di rumah kita sendiri. Tolong, Mas... sekali ini saja."
Ibu Maya mendengus remeh, bersiap untuk kembali menyemburkan makian, namun Bram mengangkat tangannya menghentikan sang ibu. Pria itu menatap istrinya dengan pandangan muak.
"Baik. Kalau itu yang kamu mau agar kamu bisa sadar posisi, kita pulang," jawab Bram ketus.
Tapi harapan Larissa untuk sebuah pembicaraan dari hati ke hati justru menguap begitu mereka menginjakkan kaki di rumah.
Sepanjang perjalanan, Bram membisu. Dan begitu pintu rumah ditutup, alih-alih berbalik dan memeluknya yang sedang menangis, Bram justru melangkah lebar menuju kamar kerjanya di lantai bawah.
Klek.
Suara kunci pintu yang diputar dari dalam terdengar begitu nyaring di tengah keheningan rumah, Bram mengunci diri. Larissa berdiri terpaku di depan pintu kayu itu, mengetuknya perlahan dengan air mata yang terus mengalir.
"Mas... buka pintunya, Mas. Katanya kita mau bicara? Aku mohon, jangan seperti ini..." ratap Larissa, menyandarkan keningnya pada daun pintu.
Tidak ada jawaban, dari dalam ruangan hanya terdengar keheningan. Bram mengabaikannya total, memperlakukannya seolah-olah dirinya hanyalah pengemis yang mengganggu ketenangannya.
Larissa akhirnya menyerah. Malam itu, dia tidur sendirian di kamar utama, memeluk guling yang dingin dengan hati yang kian membeku.
Keesokan harinya, penderitaan Larissa belum juga berakhir. Pukul sepuluh pagi, pintu depan rumah diketuk dengan kasar. Saat dia membukanya dengan mata yang sembap dan wajah pucat, sosok Ibu Maya sudah berdiri di sana.
Kali ini beliau tidak sendiri, di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya berpakaian necis dengan tas kerja kulit, dia adalah pengacara keluarga Baskoro.
Tanpa permisi, Ibu Maya melangkah masuk dan duduk di ruang tamu, diikuti oleh sang pengacara.
"Larissa, tidak usah membuang-buang waktu anakku lagi. Aku sudah membawa Pak Satria," ujar Ibu Maya tanpa basa-basi, menunjuk dokumen cerai yang sengaja dibawa kembali.
"Tandatangani surat ini sekarang, jangan memperpanjang urusan yang sudah jelas ujungnya. Kamu itu mandul, cacat, tidak bisa memberikan apa-apa untuk keluarga ini. Mau bertahan sampai kapan pun, kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri."
Pak Satria membenarkan posisi kacamatanya dan menyodorkan sebuah pulpen hitam ke hadapannya. "Betul, Ibu Larissa. Secara hukum medis, bukti yang dipegang oleh klien kami sangat kuat untuk mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama atas dasar ketidakmampuan biologis. Jika Ibu bersikap kooperatif sekarang, prosesnya akan lebih cepat dan tidak perlu ada drama yang diketahui publik."
Larissa menatap pulpen dan kertas itu dengan dada yang sesak. Tekanan beruntun dari mertua dan pengacara ini membuat kepalanya berdenyut pening. Di dalam rumahnya sendiri, dia disudutkan seolah-olah dia adalah seorang kriminal.
"Saya... saya butuh waktu untuk berpikir," bisik Larissa, suaranya parau menahan mual dan sakit kepala yang mendera sejak pagi.
"Berpikir apa lagi?! Kamu hanya menunda-nunda karena mengincar harta gono-gini, kan? Dasar wanita serakah!" sembur Ibu Maya kejam.
Sedangkan di belahan kota yang lain, di sebuah restoran mewah bernuansa kaca di kawasan bisnis elit Jakarta Pusat, suasana justru berbanding terbalik. Bram sedang menghadiri acara makan siang bisnis untuk merayakan kemenangan tender proyek konstruksi terbarunya.
Tapi siang itu Bram tidak duduk sendiri, di sampingnya duduk Vera dengan sangat anggun. Wanita itu mengenakan gaun formal tanpa lengan berwarna zamrud, dan tentu saja kalung berlian delapan puluh lima juta pemberian Bram melingkar cantik di lehernya.
Bram sesekali tertawa lepas, tangannya bahkan tidak ragu mengelus punggung kursi Vera dan sesekali menyentuh jemari wanita itu di atas meja, sebuah kemesraan terang-terangan yang tidak lagi ditutupi di depan rekan bisnis mereka.
Bram merasa berada di atas angin, baginya Larissa sudah tamat. Dengan dokumen palsu dari dr. Hendra, dia merasa statusnya sebagai pria perkasa yang suci telah aman, dan kini saatnya dia mulai memperkenalkan Vera ke dalam lingkaran terdekatnya.
Tanpa Bram sadari, di sudut restoran yang agak jauh, duduk dua orang wanita yang merupakan teman-teman Larissa sejak masa kuliah. Mereka adalah Mita dan Siska.
Mata mereka membelalak tidak percaya saat melihat bagaimana mesranya Bram dengan wanita lain, padahal status Bram masih menjadi suami sah temannya.
"Mita, lihat itu... itu bukannya Bram, suaminya Larissa?" bisik Siska dengan wajah syok, menyenggol lengan temannya.
"Astaga, iya! Siapa perempuan ganjen di sebelahnya itu? Kok mesra sekali sampai pegangan tangan begitu? Larissa tahu tidak, ya?" balas Mita dengan wajah memerah menahan geram.
Tanpa membuang waktu, Mita segera mengeluarkan ponselnya. Dengan diam-diam, dia mengambil beberapa foto yang menangkap dengan sangat jelas momen di mana Bram sedang tertawa sembari mengelus pipi Vera dengan mesra. Foto-foto itu langsung dikirimkan oleh Mita ke nomor WhatsApp Larissa.
Di ruang tamu rumahnya, di tengah cercaan Ibu Maya yang belum juga berhenti, ponsel Larissa yang tergeletak di atas pangkuannya bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan dari Mita masuk.
Larissa membuka pesan tersebut dengan tangan yang gemetar. Begitu layar ponselnya menampilkan foto-foto yang dikirimkan Mita, napasnya seketika tercekat.
Di atas layar digital itu, suaminya sedang menatap wanita lain dengan pandangan penuh cinta yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dia dapatkan.
Kalung berlian itu, senyuman lepas itu, dan sentuhan tangan itu... semuanya menjadi bukti fisik yang tak terbantahkan bahwa dirinya telah dikhianati secara buta.
Hati Larisssa hancur, sehancur-hancurnya sampai tidak ada lagi serpihan yang tersisa. Rasa bersalah yang sempat hinggap di dadanya karena rahimnya rusak kini menguap seketika, digantikan oleh rasa perih yang teramat sangat atas harga dirinya yang telah diinjak-injak sampai ke dasar tanah.
Tepat saat air matanya menetes di layar ponselnya, sebuah panggilan telepon masuk dari nomor Bram. Dia menggeser tombol hijau dengan tubuh yang gemetar hebat, menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Mas..." bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Dari seberang telepon, tidak ada nada penyesalan atau kehangatan. Suara Bram terdengar sangat datar dan penuh ancaman tanpa memedulikan batin istrinya yang sedang berdarah.
"Rissa, Ibuku bilang kamu masih menolak menandatangani surat itu," kata Bram di seberang telepon, terdengar suara bising sendok dan garpu restoran di latar belakang suaranya.
"Dengar ya, jangan buat kesabaranku habis. Kalau kamu masih bersikap keras kepala dan tidak mau tanda tangan siang ini juga, aku akan pastikan semua orang tahu isi hasil labmu yang cacat itu, agar semua orang tahu wanita seperti apa kamu sebenarnya. Tandatangani sekarang, atau kamu keluar dari rumah itu dengan nama yang busuk!"
Pip.
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Bram. Larissa perlahan menurunkan ponselnya, menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang mendadak kosong.
Ancaman keji suaminya barusan menjadi titik balik terbesar di dalam hidupnya. Menjalin kasih selama tiga tahun dan cinta pernikahan selama lima tahun itu sudah tidak berarti lagi.
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut