Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Deni terdiam mematung mendengar ucapan Clara barusan.
Seratus juta rupiah per bulan adalah jumlah uang yang tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya.
Di Gunung Kawi, gurunya hanya memberinya uang saku lima puluh ribu per minggu untuk jajan di warung bawah gunung.
"Maaf Nona Clara, uang seratus juta itu sangat banyak," ucap Deni sambil mengusap dagunya perlahan.
"Tapi saya tidak bisa menerima tawaran itu jika harus berhenti menerima orderan dari aplikasi."
Clara mengerutkan keningnya karena merasa sangat heran dengan jalan pikiran pemuda berjaket oranye di depannya ini.
"Kamu bodoh atau bagaimana Deni?" tanya Clara dengan nada sedikit meninggi.
"Gaji kurir itu paling banyak hanya beberapa juta sebulan, dan aku menawarkan seratus juta tanpa kamu harus capek mengantar makanan."
Siska yang sudah mulai bisa bernafas normal juga ikut menatap Deni dengan pandangan tidak percaya.
"Benar Deni, tawaran Nona Clara ini tidak datang dua kali lho," bujuk Siska dari lantai karpet.
"Kamu bisa hidup enak dan bisa membeli motor baru yang lebih bagus dari motor bututmu di bawah sana."
Deni menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak bisa Nona, ini masalah prinsip hidup dan jalan bela diri yang harus saya tempuh," tolak Deni dengan tegas.
"Saya harus mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari berbagai pelanggan yang berbeda, bukan hanya dari satu orang saja."
Deni melihat Clara menghela nafas panjang, wanita itu sepertinya tidak mengerti apa hubungannya bela diri dengan ulasan aplikasi makanan.
Tapi sebagai seorang pebisnis handal, Clara terlihat sedang memikirkan cara bernegosiasi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Bagaimana kalau begini saja," tawar Clara mengambil langkah kompromi.
"Kamu tetap menjadi kurir pribadiku dan melindungiku, tapi di waktu luang saat aku tidak butuh, kamu bebas mengambil orderan dari orang lain."
Deni tampak berpikir sejenak mendengar tawaran baru dari CEO cantik itu.
"Jadi saya tetap dibayar seratus juta dan bebas cari ulasan saat Nona sedang sibuk bekerja?" tanya Deni memastikan.
"Ya, asalkan kamu selalu siap sedia dalam waktu sepuluh menit jika aku menelponmu," jawab Clara dengan nada serius.
"Nona Clara, bukankah ini terlalu berlebihan untuk seorang kurir?" bisik Siska yang merasa heran bosnya sangat gigih.
Clara menoleh ke arah asistennya dan menggelengkan kepala pelan.
"Siska, pria ini baru saja mendobrak pintu baja seberat seratus kilogram hanya dengan satu tendangan," balas Clara mengingatkan.
"Orang yang mencoba membunuh kita malam ini pasti akan mencoba lagi, kita butuh pengawal sekuat dia."
Siska seketika terdiam dan hanya bisa mengangguk pelan membenarkan ucapan bosnya.
"Ting nong!"
Suara bel lift khusus tiba-tiba berbunyi memecah percakapan mereka bertiga.
Pintu lift terbuka dan menampilkan lima orang berseragam polisi lengkap dengan senjata api di tangan mereka.
"Angkat tangan dan jangan bergerak!" teriak polisi yang berada di barisan paling depan.
Mereka semua langsung menodongkan senjata ke arah Deni yang masih berdiri di dekat Clara dan Siska.
Deni menatap kelima polisi itu dengan tenang tanpa ada rasa takut sedikitpun di wajahnya.
"Bapak-bapak polisi santai saja, saya ini kurir yang menyelamatkan mereka, bukan penjahatnya," ucap Deni dengan nada santai.
"Diam di tempat dan jangan banyak alasan!" bentak polisi bertubuh besar sambil berjalan mendekati Deni.
Polisi itu langsung mengeluarkan borgol besi dari pinggangnya.
"Nona Clara, kami mendapat laporan dari sistem keamanan gedung tentang perusakan pintu kamar Anda," lapor polisi besar itu kepada Clara.
"Kami akan mengamankan pemuda mencurigakan ini dulu untuk dimintai keterangan."
Clara langsung berdiri dan merentangkan tangannya untuk menghalangi polisi tersebut.
"Tunggu dulu Komandan, kalian salah paham," potong Clara dengan nada memerintah khas seorang pemimpin perusahaan.
"Pemuda ini memang kurir makanan, dia yang menyelamatkan saya dan asisten saya dari gas beracun di dalam kamar."
Komandan polisi itu tampak ragu dan menatap Deni dari atas sampai bawah.
"Tapi Nona Clara, kami melihat dari rekaman CCTV kalau pemuda ini mendobrak pintu baja Anda dengan sangat brutal," bantah komandan itu.
"Pintu baja tingkat empat itu tidak mungkin bisa didobrak oleh manusia biasa, kami curiga dia menggunakan peledak yang bisa membahayakan penghuni gedung."
Deni menghela nafas kasar mendengar tuduhan dari polisi bertubuh besar itu.
"Pak, saya tidak pakai peledak, saya cuma menendangnya satu kali saja," jelas Deni membela diri.
"Hahaha, kamu pikir kami bodoh?" tawa polisi lain yang berjaga di belakang.
"Tidak ada manusia yang bisa menendang pintu itu sampai jebol."
Komandan polisi itu kembali maju dan mencoba meraih tangan Deni untuk diborgol paksa.
"Ikut kami ke kantor sekarang juga, kami akan menggeledah tas dan jaketmu," perintah komandan itu kasar.
Tangan besar polisi itu mencengkeram lengan kanan Deni dengan sangat kuat.
Deni merasa sangat tidak nyaman diperlakukan seperti penjahat padahal dia baru saja menolong orang.
"Saya bilang saya bukan penjahatnya Pak," ucap Deni dengan suara sedikit dingin.
Deni hanya memutar bahunya sedikit dan menggeser posisi kakinya beberapa sentimeter menggunakan teknik pergerakan daun jatuh.
"Srak!"
Tiba-tiba komandan polisi bertubuh besar itu kehilangan keseimbangan seperti ditarik oleh tenaga tak kasat mata.
"Gubrak!"
Komandan itu jatuh tertelungkup ke lantai berkarpet dengan posisi yang sangat memalukan.
Empat polisi lainnya seketika panik dan langsung mengarahkan moncong pistol mereka tepat ke kepala Deni.
"Berani melawan petugas ya! Cepat tiarap di lantai sekarang juga!" teriak mereka bersahutan.
Clara dan Siska berteriak kaget melihat insiden yang terjadi begitu cepat di depan mata mereka.
"Hentikan semuanya!" teriak Clara dengan suara paling keras yang bisa dia keluarkan.
Suara CEO wanita itu berhasil menghentikan pergerakan para polisi yang sedang emosi.
Komandan yang jatuh tadi segera bangun sambil mengusap hidungnya yang memerah akibat terbentur lantai.
"Nona Clara, tolong jangan menghalangi tugas kami, pemuda ini sangat berbahaya," ucap komandan itu sambil menahan marah.
Clara melangkah maju dan berdiri tepat di antara moncong senjata polisi dan tubuh Deni.
"Saya adalah korban di sini, dan saya saksi mata utamanya," tegas Clara menatap tajam para polisi itu satu per satu.
"Deni tidak membawa peledak apapun, dia mendobrak pintu itu dengan kakinya sendiri dan menyelamatkan nyawa saya."
Polisi-polisi itu saling pandang dengan tatapan bingung dan tidak percaya satu sama lain.
"Kalau kalian ingin menangkap seseorang, tangkap orang yang memasukkan gas beracun itu melalui saluran ventilasi AC kamarku," lanjut Clara memberikan petunjuk.
Komandan polisi itu akhirnya menyuruh anak buahnya menurunkan senjata mereka perlahan-lahan.
"Baiklah Nona Clara, kami akan memeriksa saluran ventilasi seperti yang Anda katakan," ucap komandan itu mengalah.
"Tapi pemuda ini tetap harus ikut ke kantor polisi sebagai saksi kejadian malam ini."
Deni menganggukkan kepalanya karena gurunya pernah berpesan bahwa menjadi saksi adalah kewajiban warga negara yang baik.
"Tidak masalah, saya akan ikut untuk memberi keterangan," jawab Deni dengan santai.
"Tapi tolong cepat sedikit karena malam ini saya belum tidur sama sekali."
Deni melihat Clara menatapnya dengan pandangan lega bercampur kagum.
"Siska, kamu ikut ke rumah sakit dulu pakai ambulans untuk mengecek kondisi paru-parumu," perintah Clara kepada asistennya.
"Baik Nona, Nona juga harus periksa ke dokter setelah dari kantor polisi," balas Siska yang sudah berdiri dibantu oleh staf medis yang baru saja tiba.
Satu jam kemudian, Deni dan Clara sudah berada di dalam ruang pemeriksaan kantor polisi Jakarta Pusat.
Deni menceritakan semuanya dengan jujur mulai dari dia menerima orderan bubur ayam sampai dia mencium bau almond pahit.
Polisi yang mengetik laporan tampak geleng-geleng kepala saat Deni menceritakan proses dia mendobrak pintu.
"Jadi kamu bilang kamu pakai tenaga dalam untuk mendobrak pintu?" tanya polisi pemeriksa itu dengan nada menyindir.
"Benar Pak, di gunung saya biasa menendang batu besar sampai hancur, jadi pintu baja itu tidak ada apa-apanya," jawab Deni polos.
Deni melihat Clara memijat pelipisnya mendengar jawaban jujurnya itu.
"Pak Polisi, tolong abaikan saja bagian itu, intinya dia yang menyelamatkan saya," potong Clara agar urusan cepat selesai.
"Fokus saja pada siapa yang mencoba membunuh saya, apakah tim kalian sudah menemukan bukti di apartemen?"
Polisi itu membalik dokumen di mejanya dan menatap Clara dengan serius.
"Tim forensik kami menemukan tabung gas hidrogen sianida ukuran kecil di ruang mesin AC apartemen Anda Nona," jelas polisi itu.
"Pelakunya pasti orang yang tahu persis denah apartemen Anda dan punya akses masuk ke ruang mesin yang terkunci itu."
Deni melihat Clara mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kuku jarinya memutih.
"Pasti ini ulah orang dalam yang ingin mengincar posisiku," gumam Clara pelan dengan rahang mengeras.
"Terima kasih atas informasinya Pak, saya harap polisi bisa segera menangkap pelakunya," ucap Clara sambil berdiri dari kursinya.
Deni juga ikut berdiri dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku karena kelamaan duduk di kursi kayu.
Mereka berdua berjalan keluar dari kantor polisi saat langit Jakarta sudah mulai memunculkan sinar matahari pagi.
Udara pagi terasa dingin tapi cukup menyegarkan setelah malam yang sangat panjang dan melelahkan.
"Deni, tentang tawaran kerjaku tadi, aku anggap kamu sudah setuju ya," ucap Clara memecah keheningan di tempat parkir.
Deni menoleh dan menatap wajah cantik Clara yang terlihat sangat kelelahan namun tetap menawan di bawah sinar matahari pagi.
"Baiklah Nona Clara, saya setuju menjadi kurir pribadi merangkap pengawal anda," jawab Deni akhirnya mengalah.
"Sistem memperbolehkan saya punya bos selama saya masih bisa mengumpulkan ulasan dari orang lain di waktu luang."
Clara tersenyum kecil mendengar kata sistem yang dia anggap hanya bagian dari cara bicara Deni yang berkhayal.
"Bagus, nanti siang datanglah ke kantor pusat Grup Nirvana, aku akan menyiapkan kontrak kerja dan fasilitas untukmu," perintah Clara.
"Tunggu sebentar Nona, fasilitas apa maksudnya?" tanya Deni penasaran.
"Tentu saja motor baru, apartemen, dan ponsel baru yang layarnya tidak retak seperti milikmu itu," jawab Clara santai.
Deni membelalakkan matanya mendengar semua fasilitas mewah yang dijanjikan oleh bos barunya itu.
Dia merasa keputusannya turun gunung ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan semalam.
Tiba-tiba suara sistem di kepala Deni kembali berbunyi.
[Sistem Raja Kurir Mengingatkan: Jangan terlena dengan kemewahan duniawi]
[Tugas Harian Baru: Selesaikan tiga pesanan pengiriman hari ini dan dapatkan ulasan bintang lima]
[Hukuman Jika Gagal: Tuan akan diare selama tiga hari berturut-turut tanpa bisa disembuhkan dengan obat]
Deni seketika mematung dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Sistem sialan, hukuman macam apa itu, kau ingin membunuhku secara perlahan ya?" rutuk Deni di dalam hati.
"Ada apa Deni? Kenapa wajahmu tiba-tiba pucat begitu?" tanya Clara yang memperhatikan perubahan ekspresi Deni.
"Tidak apa-apa Nona, saya harus segera mencari orderan sekarang juga sebelum perut saya bermasalah," jawab Deni buru-buru.
Deni langsung berlari menuju motor matic bututnya yang diparkir di dekat pos satpam.
Dia menyalakan mesin motornya dan melambaikan tangan kepada Clara.
"Sampai jumpa nanti siang di kantor Nona Clara!" teriak Deni sambil menggas motornya meninggalkan area kantor polisi.
Deni memacu motornya menembus jalanan pagi ibukota untuk segera mencari mangsa pelanggan pertamanya hari ini.
Dari kaca spionnya yang retak, dia melihat Clara masuk ke dalam mobil jemputan dari perusahaannya dengan aman.
Hari pertama Deni di ibukota berjalan dengan sangat gila, tapi dia tahu petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.