Ini SEQUEL dari MUTIARA DI BALIK LUMPUR.
"Kau pikir aku mau menjadikamu istriku? Tidak sudi! Kalau bukan karena untuk melindungi bosku mana mau ku menikahi wanita kupu-kupu malam sepertimu, murahan."
Aiden berusaha keras bersabar meski hatinya sakit di katai kupu-kupu malam. Karena memang dirinya bekerja di sebuah club malam. Namun ada hal yang tidak pernah mereka ketahui tentang siapa Aiden yang sebenarnya. Mereka hanya bisa menilai dari luar tanpa tahu apa-apa. Mereka hanya bisa berasumsi sendiri tanpa tahu kenyataannya.
Billy Giovanno (27 tahun) memaksa wanita bernama Aiden Rosalina (25 tahun) menikah dengannya hanya karena Billy tidak ingin Aiden mengganggu rumah tangga majikannya. Billy juga beranggapan kalau Aiden merupakan wanita murahan sehingga membuatnya membenci wanita itu.
FB: Mmah Abidah / Goresan Tinta
Ig : @ai.sah562
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback masa lalu
"Ayo kita makan!" ajak Maria menarik lengan Billy. Pria itu melepaskan rangkulan Maria.
"Sorry, saya tidak bisa ada hal yang harus saya kerjakan." Billy pun cepat-cepat berlari ke mobilnya. Maria mengejar.
"Billy, kau mau kemana? aku ikut!" Namun sayang, mobil Billy telah melaju meninggalkannya.
********
Di depan pusara sang Mama, Aiden menumpahkan rasa sesak di dada. Sedari tadi tangisnya tiada henti menangisi keadaan dirinya. Tangannya memeluk tanah yang masih merah bertabur bunga tujuh rupa. Tangis pilu menyayat hati terdengar lirih bagi orang yang mendengarnya.
"Mah.. kenapa jatuh cinta sesakit ini? kenapa aku harus mencintai pria yang tidak mencintaiku? kenapa hati ini tetap mencintainya? Kak Billy akan menikah, Mah. Aku harus apa? aku tidak ingin suamiku menjadi milik orang lain, aku tidak sanggup, Mah."
Selama ada Mama, Aiden selalu mencurahkan segala keluh kesahnya kepada beliau. Meminta saran, meminta persetujuan, saling bertukar pikiran, Aiden lakukan bareng Mamanya. Soal siapa yang Aiden cintai, apapun mengenai kehidupannya, Sang Mama lah yang mengetahuinya.
"Apa aku tidak pantas bahagia? apa aku tidak pantas di cintai? apa ini jalan takdirku harus sepahit dan serumit ini? sekarang aku sendiri tiada yang menemani, tiada yang mengelus ku kala ku sedang bersedih. Aku merindukan Mama, dan Papa. Aku bingung harus apa dengan pernikahanku, Mah? Aiden bingung.. hiks hiks hiks.."
Aiden terisak pilu mengeluarkan apa yang ia rasa di hadapan makam Mamanya. Mencurahkan beban pikiran, beban di hati. Hingga beberapa saat dirinya masih betah di bawah langit jingga sore hari.
"Aiden..."
Aiden mendongak saat namanya di panggil seseorang. "Papa.." orang yang di sebut Papa adalah William, pria berumur yang akhir-akhir ini selalu menjadi pelindungnya.
William berjongkok di samping Aiden mengusap lembut rambut wanita di sampingnya. Sedari tadi, dirinya memperhatikan Aiden bicara dan ia mendengar curhatan Aiden. Hatinya terasa pilu kehidupan Aiden jauh dari kata bahagia. Hanya kesedihan yang sering Aiden alami. William pun mendengar Aiden menyebut nama Billy adalah suaminya. Meski banyak pertanyaan, William tidak akan banyak bertanya dan akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini sudah mau malam, jangan lama-lama di sini. Kalau kamu masih rindu orangtuamu bisa besok datang lagi ke sini." William menaruh buket bunga mawar kesukaan Linda di atas makamnya.
Aiden mengubah posisinya duduknya menjadi berjongkok. "Jam berapa sekarang?"
"Jam enam sore."
Aiden terbelalak. "Enam sore? aku harus pulang." Sudah dua jam Aiden di makam.
[ Aku harus ke apartemen. Ini hari ketiga diriku berada di apartemen Billy. ] Di tengah rasa sedihnya Aiden masih memikirkan Billy meski pria itu mengecewakannya.
Aiden berdiri seraya membersihkan tanah yang menempel di bajunya. "Pah, aku izin pulang dan juga izin untuk tidak bekerja dulu. Aku lelah."
William pun ikut berdiri. "Tidak bekerjapun kamu boleh. Papa tidak akan melarangnya."
"Mana bisa seperti itu? aku harus membayar biaya pengobatanku dan aku akan terus membayarnya meski lama lunasnya."
William tersenyum teduh. Di usianya menginjak kepala lima pesonanya masih mampu menarik wanita. Namun, William tipekal pria yang mudah jatuh cinta. Terbukti dari kesetiaannya menduda selama hampir lima belas tahun. "Terserah kamu saja. Asalkan hatimu bahagia Papa mendukungmu."
"Hmmm Aiden pasti akan bayar utangku. Kalau gitu, aku pamit dulu." Dengan simpannya dia menyalami William kemudian pergi.
William memperhatikan langkah Aiden, sang keponakan. Dia berjongkok kembali mengusap pusara bernamakan Linda. "Dek, saya akan menjaga anakmu semampuku. Saya juga akan mencari tahu pria yang tadi ia sebutkan padamu. Maafkan Kakak yang baru mengetahui dan menemukanmu setelah sekian puluhan tahun lamanya."
FLASHBACK
delapan tahun lalu, di kota New York city, Amerika serikat. William tengah menunduk sedih berhadapan dengan tubuh tua di hadapannya dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Dia, Neneknya sendiri.
"Wi-william, carilah anak dari istri kedua Ayahmu. Nenek tidak tenang sampai kau menemukannya. Nenek merasa bersalah karena Nenek Papamu tiada terkena serangan jantung."
"Nenek bicara apa? istri kedua Ayah? anak? aku tidak mengerti."
"Will, karena keegoisan Nenek, Papamu terpaksa menerima perjodohan dengan Mamamu atas ancaman Nenek yang akan melenyapkan wanita yang di cintai Ayahmu."
"Ayahmu menerima pernikahan ini sampai lahirlah dirimu dan Mamamu tiada pada saat melahirkanmu. Pada saat itu, Ayahmu masih menjalin hubungan dengan kekasihnya sampai mereka menikah dan istrinya hamil. Nenek tidak setuju karena wanita itu miskin yatim piatu. Nenek memisahkan Ayahmu dengan anak istrinya dengan cara merencanakan kematian mereka."
"Nenek berhasil menyingkirkan Istri kedua Ayahmu membuat mobilnya masuk ke sungai hingga hanyut tak bisa di temukan. Ayahmu syok, dia tidak menerima kenyataan dan tiba-tiba Ayahmu terkena serangan jantung. Maafkan Nenek William, maafkan nenek. Temukan anak itu, minta maaflah atas nama nenek supaya nenek tenang. Bawa dia dan anaknya kesini. Dia adik kandung kamu meski satu ayah beda ibu."
"Terakhir yang nenek tahu, dia berada di Kansas, Amerika serikat. Nama adikmu, Linda Margareth, anaknya Aiden Rosalina. Nenek mohon, bawa mereka ke sini!"
Setelah mengungkapkan masalalu Ayahnya dan rahasia besar yang tersembunyi, Neneknya William meninggal dalam keadaan penuh penyesalan. Sejak saat itu pula William mencari keberadaan adiknya dan keponakannya bermodalkan foto yang masih tersimpan rapi di dalam kotak kecil milik Ayahnya.
Butuh waktu cukup lama untuk menemukan Linda hingga ia bertemu dengan tukang taksi yang dimana saat itu selalu mengantarkan William mencari keberadaan Adiknya sampai berakhir menjadi teman. Dan tanpa di duga, setelah beberapa hari menggunakan jasanya William bertemu istrinya pria itu. Yang membuat William terkejut sekaligus senang adalah wanita itu Linda. Namun pada saat itu dia belum bertemu Aiden.
Hingga suatu hari, suaminya Linda berpesan pada William untuk menjaga keluarganya. Suami Linda juga menceritakan tentang masalahnya yang terlilit utang akibat kalah judi. Keesokan harinya, William mendapatkan kabar suami Linda meninggal.
Beberapa tahun, Linda bekerja menjadi pemandu karaoke di tempatnya. Dari sanalah dia mulai mendekati Linda dengan cara dia. Memperhatikan jauh Linda dan Aiden tanpa mau mendekatinya karena merasa bersalah telah membuat Linda dan anaknya menderita meski itu semua ulah neneknya. Hingga suatu hari, dirinya terlambat mengetahui jika Linda telah menikah lagi dengan Ronal. Dan beberapa tahun kemudian mendapatkan kabar kalau Aiden mengalami kecelakaan.
FLASHBACK END
Satu bapak beda ibu klo dalam agama Islam masih 1 nasab. Bin-nya sama. Setelah saya tanya-tanya, ternyata 1 bapak itu saudara kandung dan 1 nasab. Haram dinikahi. 1 ibu juga saudara kandung tapi tidak 1 nasab. Haram dinikahi. Hubungan paman/bibi dan keponakan juga haram dinikahi.
Jadi, William dan Linda adalah satu kandung. satu ayah meski beda Ibu.