Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 012: Tamu Tak Diundang
Bu Sri tidak menemukan jarum perak, tetapi kegagalannya membuat rumah terasa lebih sempit.
Pagi itu, ia sengaja berdiri di dapur saat Keira menyiapkan air panas untuk ramuan Bayu. Matanya mengikuti setiap gerakan. Setiap kali Keira membuka lemari, Bu Sri ikut menoleh. Setiap kali Bayu berjalan sedikit lebih stabil, wajah Bu Sri bukan lega, melainkan curiga.
Yang membuat Keira muak bukan kecurigaan itu. Ia sudah terbiasa dicurigai. Yang membuatnya ingin tertawa adalah alasan di baliknya. Bu Sri tidak takut Bayu celaka. Ia takut ada sesuatu yang terjadi di rumah ini tanpa melewati izinnya.
Kontrol, bagi perempuan itu, lebih penting daripada kesembuhan anak.
"Kamu jangan minum macam-macam dari kakakmu," katanya pada Bayu.
Bayu menunduk. "Itu cuma air jahe, Bu."
"Kamu tahu apa? Anak sekarang suka lihat internet, merasa paling pintar."
Keira mengaduk gelas tanpa menoleh. "Kalau internet saja bisa membuat orang pintar, seharusnya semua yang main Facebook sudah jadi profesor."
Pak Prasetyo tersedak kopi.
Bu Sri menatap tajam. "Mulutmu makin berani."
"Masih bisa ditingkatkan."
Laras yang sedang memakai bedak di ruang tamu berhenti sebentar. Ia menatap Keira lewat cermin kecil, antara kesal dan waspada. Sejak buku catatan Bayu disentuh malam sebelumnya, gadis itu lebih sering memperhatikan ruang belakang.
Di sekolah, suasana tidak lebih tenang.
Nadira belum menyerang lagi, tetapi Rika dan teman-temannya mulai bicara lebih pelan saat Keira lewat. Bayu duduk di kantin sambil membuka buku catatan. Beberapa halaman yang berisi cara cepat Keira tampak terlalu menarik untuk mata orang yang sedang mencari jalan pintas.
Keira melihat Laras berdiri tidak jauh dari pintu kelas Bayu.
"Kamu mencari apa?"
Laras tersenyum cepat. "Aku cuma lewat. Mbak sensitif banget."
"Kalau cuma lewat, jalan."
Senyum Laras menipis. Ia pergi, tetapi langkahnya tidak setenang biasanya.
Sore hari, Bu Sri menyeret Keira ke arisan RT di rumah Bu Wati. Alasannya sederhana: "Biar orang lihat kamu sehat. Jangan nanti dikira Ibu nggak ngurus."
Keira duduk di kursi plastik di sudut, memegang teh manis yang terlalu panas. Ibu-ibu membicarakan cicilan motor, harga cabai, anak siapa yang masuk bimbel mahal, dan siapa yang katanya punya pacar naik mobil hitam.
Topik mobil hitam membuat telinga Keira bergerak sedikit.
"Kemarin ada Alphard berhenti dekat gang tiga, loh," kata Bu Wati. "Plat Jakarta. Kaca gelap. Jangan-jangan ada debt collector?"
"Atau orang kaya cari rumah kontrakan?" ibu lain tertawa.
Bu Sri ikut tertawa, tetapi matanya sekilas menoleh ke Keira. Di rumah sekecil itu, kabar apa pun bisa berubah menjadi tuduhan.
"Keira sekarang kurusan ya?" kata salah satu ibu.
Bu Sri langsung tersenyum. "Saya yang atur makannya. Kalau tidak diawasi, anak ini susah."
Keira menatap teh.
Lucu sekali mendengar orang mencuri jasa dari hal yang tidak pernah ia lakukan.
Seorang ibu lain bertanya, "Laras katanya mau UI, Bu?"
Wajah Bu Sri bersinar. "Amin. Dia memang anaknya rajin. Beda dengan..."
Kalimat itu menggantung, tetapi semua orang tahu lanjutannya.
Keira meletakkan gelas. Bunyi kecil itu cukup membuat Bu Sri berhenti.
"Beda dengan siapa, Bu?"
Udara arisan mendadak lebih hangat.
Bu Sri tersenyum kaku. "Kamu ini, Ibu belum selesai bicara."
"Lanjutkan."
Tidak ada yang bicara selama beberapa detik. Ibu-ibu yang tadi ngerumpi sekarang sibuk menatap kue lapis.
Bu Sri akhirnya tertawa palsu. "Anak sekarang suka bercanda."
Keira ikut tersenyum sedikit. "Iya. Saya belajar dari rumah."
Setelah arisan, Keira berjalan pulang sendirian. Ia melewati bengkel kecil di dekat perumahan ketika sebuah motor hampir menabrak anak kecil yang berlari mengejar bola. Refleksnya bergerak. Ia menarik anak itu, lalu menahan stang motor yang oleng dengan satu tangan.
Pengendara motor panik. "Mbak, maaf!"
Keira melepaskan stang. "Remmu jelek. Jangan sok kencang."
Di seberang jalan, seorang pemuda dengan jaket mahal memperhatikan dari dalam mobil. Ia bukan Hansel. Bukan Yannic. Hanya seseorang yang lewat bersama teman-temannya, tetapi tatapannya membuat Keira sadar bahwa kemampuan kecil pun bisa menjadi rumor kalau dilihat orang yang tepat.
Malamnya, Laras mengunggah story tentang arisan.
Keluarga itu harus dijaga namanya. Jangan sampai ada yang bikin malu.
Bayu menyimpan screenshot.
Keira menerima tangkapan layar itu tanpa komentar. Ia sedang memeriksa jarum perak di plafon ketika suara mesin mobil berhenti di luar gang.
Lampunya mati, tetapi bentuknya terlalu rapi untuk mobil tetangga.
Keira menutup kotak jarum dan mematikan lampu ruang belakang.
Jika itu orang Hansel, mereka cukup sabar. Jika itu orang lain, mereka cukup bodoh karena parkir di tempat yang sama dua kali. Dua kemungkinan itu sama-sama membuat malamnya menarik.
Bayu ikut melihat dari celah tirai. "Mbak, itu mobil siapa?"
"Belum tahu."
"Bahaya?"
"Kalau mereka pintar, tidak."
Jawaban itu tidak menenangkan Bayu sama sekali. Namun Keira sudah mengambil ponsel, memotret plat yang setengah tertutup bayangan, lalu mengirimnya ke akun cadangan untuk dicek nanti.
Mobil itu tidak bergerak selama hampir sepuluh menit. Cukup lama untuk mengamati rumah. Cukup singkat untuk pura-pura hanya tersesat.
Keira tidak suka kebetulan seperti itu.
Apalagi dua kali.
Ia menghafal suara mesinnya, jarak parkirnya, dan arah mobil itu menghadap. Detail kecil sering menyelamatkan nyawa.
Di luar perumahan, mobil hitam yang sama berhenti lagi. Kali ini lebih lama.