NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34

"Ada apa? Kamu pasti punya alasan sampai datang mencari ku," tanya Hugo setelah berhasil menegakkan punggungnya.

"Ah, itu... Ibu cemas karena Anda belum keluar untuk makan malam. Jenny sudah selesai makan. Tinggal Nero yang tadi agak susah, tapi sekarang sudah mulai makan."

​Hugo mengangguk-angguk kecil mendengarnya. "Kamu?"

​"Ya?" Asia agak tersentak.

​"Apa kamu sudah makan malam?"

​"Hmmm... belum. Saya baru saja selesai membantu Bibi membereskan dapur."

​"Nanti makanlah lebih dulu," ujar Hugo bernada perintah halus.

​"Baik, Pak Hugo."

​"Ibuku itu terlalu cemas, padahal aku sudah tua. Bahkan sudah punya anak," gerutu Hugo pelan. Jemarinya yang kaku mulai sibuk membuka satu per satu kancing kemeja PDL-nya yang tebal.

​"Menurut saya, semua ibu pasti seperti itu pada anaknya," tanggap Asia hangat.

​"Apa ibumu juga begitu dulu?" tanya Hugo tanpa mengalihkan pandangan dari kancing bajunya.

​"Mungkin... tapi ibu saya sudah meninggal sebelum saya tumbuh dewasa."

​Gerakan tangan Hugo seketika terhenti. Ia mendongak, menatap Asia dengan rasa bersalah yang mendadak menyeruak. "Maaf..."

​"Tidak apa-apa, Pak Hugo," Asia menggelengkan kepala pelan, mengulas senyum tipis yang tulus untuk menenangkan pria itu. "Anda kan tidak tahu kalau ibu saya sudah meninggal."

Ya. Informasi tentang wanita kurang lengkap.

​Hugo kembali menunduk, mencoba melanjutkan apa yang ia lakukan. Namun jarinya yang terlanjur lemas membuat kancing baju dinasnya terasa amat keras dan sulit dilepas.

​"Apa Anda butuh bantuan?" tawar Asia sopan. Ini mungkin kedua kalinya ia menawarkan bantuan serupa malam ini.

"Tidak," jawab Hugo cepat, masih bersikeras mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.

Asia tahu persis apa jawaban itu—sebuah penolakan klasik dari seorang pria yang terbiasa mandiri. Tapi ia cukup sabar dan peduli untuk tidak langsung menyerah atau meninggalkan pria itu begitu saja.

Hugo tampak mencoba membuka kemeja seragam PDL-nya yang berlapis dan kaku. Namun, otot-otot tangannya yang sudah kehabisan tenaga membuatnya tak berdaya. Gerakannya tertahan, dan kemeja itu sama sekali tidak bergeser.

"Anda pasti lelah, Pak Hugo," ujar Asia pelan, menatap lurus dengan penuh pengertian.

"Sepertinya..." gumam Hugo lirih, helaan napasnya terdengar berat.

"Anda bisa meminta bantuan saya, Pak Hugo. Hanya sedikit bantuan," Asia menjelaskan dengan nada lembut, meyakinkan pria itu bahwa tidak ada yang salah dengan menerima uluran tangan saat tubuhnya sudah benar-benar remuk.

Hanya membuka kancing kemeja... namun usaha Hugo tetap tidak membuahkan hasil. Tubuhnya benar-benar sudah mencapai batas kelelahan. Pria itu menghela napas panjang, akhirnya mengubur dalam-dalam gengsinya.

"Baiklah, Asia. Aku meminta bantuanmu," ucap Hugo pasrah.

"Iya, Pak Hugo," sahut Asia lembut tanpa sedikit pun kesan menggurui.

Asia maju beberapa langkah hingga berdiri tepat di hadapan Hugo yang sedang duduk di tepi ranjang.

"Permisi, Pak Hugo," bisik Asia perlahan saat tangannya terulur mendekati kancing kemeja pria itu.

"Ya," balas Hugo singkat.

Asia merendahkan tubuhnya sedikit. Jemarinya yang terampil dan teratur dengan lembut menggantikan posisi jemari Hugo yang kaku pada kancing kemeja tebal tersebut. Satu demi satu kancing PDL yang keras itu mulai terlepas dari rumahnya.

Jarak di antara mereka kembali mengikis hebat. Hugo refleks menahan napasnya, mencoba sebisa mungkin menetralkan debar aneh di dadanya. Namun, ia tak mampu mengalihkan pandangannya dari wajah Asia yang kini berada begitu dekat dengannya.

Baru kali ini Hugo melihat wajah perempuan dari jarak yang begitu dekat dan teramat jelas.

Jadi seperti ini wajah perempuan ini... batin Hugo. Sepertinya ini pertama kalinya ia benar-benar merekam wajah Asia secara utuh, tercetak amat jelas di dalam netranya.

"Sudah, Pak," kata Asia lembut seraya melepaskan kancing terakhir dan menarik jemarinya kembali.

"Ya," sahut Hugo refleks. Pria itu segera memalingkan wajahnya ke arah lain, berusaha keras menutupi desiran aneh dan rasa canggung luar biasa yang mendadak melingkupi dadanya.

"Saya akan kembali ke ruang makan," pamit Asia pelan seraya melangkah mundur satu pijakan.

"Jangan," potong Hugo cepat. Ia mendongak, berusaha menetralkan sisa kecanggungannya. "Tunggu aku di depan. Kita akan ke sana bersama-sama. Ibu akan terus menyuruhmu melihatku kalau aku tidak keluar dari kamar."

Asia tertegun sejenak, lalu mengangguk paham. "Baik, Pak Hugo. Saya tunggu di depan pintu."

Hugo mengangguk.

Asia melangkah keluar dari area kamar tidur dan menunggu di dekat pintu depan seperti yang diminta.

Sementara itu, Hugo dengan sisa tenaganya perlahan berganti baju dan meraih tuas kursi roda hidroliknya.

Tak butuh waktu lama, roda hidrolik itu bergulir pelan mendekati Asia di samping pintu. Hugo menghentikan kursi rodanya persis di sebelah Asia, mengisyaratkan bahwa ia sudah siap.

"Ayo," ajak Hugo singkat.

Keduanya melangkah berdampingan menyusuri lorong menuju ruang makan. Kehadiran mereka yang muncul bersamaan membuat Nyonya Malinda yang sedang duduk mengawasi Nero menghela napas lega seketika.

"Nero, apa kamu rewel saat mau makan lagi?" tanya Hugo dengan suara beratnya, menatap lurus ke arah putra kecilnya.

"Tidak! Aku makan banyak. Iya kan, Oma?" sahut Nero tak mau kalah, mencari dukungan dari neneknya agar tidak kena tegur sang ayah.

"Iya, Hugo. Lihat saja piringnya sampai bersih begitu," Nyonya Malinda menyahut cepat sambil tersenyum membela cucunya, memperlihatkan piring Nero yang kini sudah licin tanpa sisa.

"Bagus. Jangan menyusahkan Oma," nasehat Hugo datar namun tegas, memberikan tatapan penuh peringatan yang membuat anak itu terdiam sejenak.

"Iya... Aku enggak menyusahkan Oma, kok," cicit Nero pelan seraya menunduk memainkan sendoknya, tidak berani membantah ayahnya lebih jauh.

Nyonya Malinda yang melihat itu menyunggingkan senyum hangat, lalu mengusap kepala cucunya dengan penuh kasih sayang. Beliau kemudian menoleh ke arah Asia yang duduk tenang di samping Hugo.

"Nah, Asia, sekarang giliranmu makan. Kamu dari tadi belum menyentuh makanan sama sekali kan?" ujar Nyonya Malinda penuh perhatian.

"Iya, Bu. Terima kasih," jawab Asia sopan sambil mulai meraih piringnya, merasakan kehangatan kecil di tengah suasana meja makan keluarga itu.

Tanpa diminta, Asia meraih piring kosong dan mulai mengambilkan porsi makan untuk Hugo. Pria itu melirik jemari Asia yang cekatan menata lauk di piringnya, merasakan perhatian kecil yang diam-diam terasa menghangatkan.

"Jenny ke mana, Ibu?" tanya Hugo tiba-tiba, sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling meja makan yang sepi dari keberadaan putri sulungnya.

"Dia sudah makan duluan tadi. Mungkin sekarang ada di kamarnya," sahut Nyonya Malinda seraya merapikan sendok dan garpu di depannya. "Sepertinya dia lelah dengan kegiatan sekolahnya."

___

1
Hartati Tati
jangan baper Hugo ... kamu yg pasang tembok tinggi 🤣🤣
Hartati Tati
banyak banyak update jangan sampai lupa 🤣🤣🤣🤣
English Lesson
bagus 👍🏻👍🏻
Lina Marali
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!