Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arti Seorang Teman
Bagaikan laju air yang merayap di celah selokan sempit. Terus mendesak mencari jalan keluar tak peduli seberapa keras rintangannya. Seperti itulah kondisi batin Cate saat ini.
Ia sedang mencari celah pelarian. Gadis berambut merah itu butuh ruang bernapas. Ketenangan absolut adalah satu-satunya hal yang bisa mencegah kewarasannya runtuh.
Fakta bahwa ibunya menyembunyikan riwayat penyakit mematikan sukses menghancurkan dinding pertahanannya. Berbagai skenario terburuk silih berganti menyerang kepalanya, memaksanya meratapi hal-hal menakutkan yang bahkan belum terjadi.
Di bawah rindangnya kanopi pohon ek besar—tempat persembunyian rahasianya setiap kali masalah datang—Cate meringkuk. Kedua lengannya memeluk erat lutut yang ditarik rapat hingga menyentuh dada.
Pandangannya kosong, menatap nanar piyama putih bermotif lebah yang ia kenakan. Kain itu kini dipenuhi bercak basah, menampung tetesan air mata yang tak kunjung berhenti jatuh dari pelupuknya.
Jika saja pagi ini berjalan normal, seharusnya ia sudah tiba di peternakan, memilah dan mengumpulkan telur-telur segar untuk dikirim ke Kota Terrovia. Namun, rutinitas itu mendadak kehilangan arti.
Di tengah isak tangisnya yang tertahan, ingatannya terlempar ke masa lalu. Bau tanah basah dan gelak tawa seolah kembali mengudara.
Ia teringat momen asyik perang lumpur bersama ibunya di tengah sawah yang baru dibajak, tepat di bawah terik matahari yang menyengat.
Tawa lepas mereka kala itu diinterupsi oleh teriakan Joe. Ayahnya muncul dari balik pematang, melambaikan sebuah bingkisan besar menyerupai bangkai hewan segar di atas kepalanya, sambil memanggil nama mereka dengan senyum lebar.
Namun, sebelum bayangan Joe muda itu berhasil memeluk mereka di dalam ingatan, sebuah suara feminin menyentak Cate kembali ke dunia nyata.
"Sudah kuduga kau ada di sini,"
Gadis dengan rambut diikat ponytail berdiri beberapa langkah darinya. Helaian rambut hitam legamnya yang tergerai diikat ke belakang memiliki gradasi merah terang di bagian bawah, menciptakan kontras warna yang tajam. Sepasang mata birunya yang jernih, menyaingi warna langit pagi Desa Veria, menatap Cate lekat-lekat.
Ia berdiri dengan postur tenang namun tegas. Kedua lengannya bersedekap rapat di depan dada. Kaki kanannya menumpu berat badan, sementara kaki kirinya sedikit menekuk dengan ujung sepatu mengarah ke timur laut. Walau terlihat santai, raut wajahnya mengunci fokus sepenuhnya pada Cate.
"Cynthiara."
Cate terdiam sejenak. Bibirnya bergetar saat menyebut nama sahabatnya. Menatap gadis itu dengan sepasang mata yang bengkak dan berkaca-kaca, pertahanan Cate runtuh seutuhnya. Ia bangkit, terhuyung pelan, lalu menabrakkan dirinya, memeluk tubuh Cynthiara erat-erat.
Dalam kehangatan dekapan itu, tangisan Cate kembali pecah. Ia menumpahkan seluruh keputusasaannya, menangis tersedu-sedu hingga napasnya tersengal dan bahunya berguncang hebat, membasahi punggung baju sahabatnya.
Lengan Cynthiara yang sedari tadi bersedekap perlahan turun melonggar. Ia membiarkan lengannya menggantung lemas di sisi tubuh sejenak, pandangannya menerawang lurus ke depan memproses kesedihan itu, sebelum akhirnya ia menunduk. Dagunya bersandar di bahu Cate, dan kedua tangannya terangkat untuk membalas pelukan tersebut tak kalah erat.
Cynthiara mengusap punggung Cate dengan gerakan ritmis dan menenangkan, membiarkan temannya menumpahkan segalanya tanpa diinterupsi.
Di kepalanya, puluhan kalimat penghiburan sudah tersusun rapi, namun ia memilih menelannya kembali. Ia tahu, saat ini diam adalah obat terbaik.
Setelah beberapa menit berlalu dan guncangan di bahu Cate mulai mereda, Cynthiara memberi sedikit jarak. Ia mengurai pelukan mereka dengan sangat hati-hati.
Menggunakan ibu jarinya, ia mengusap sisa air mata yang menjejak di pipi pucat Cate, bermaksud mengembalikan keceriaan gadis itu.
Namun, sebelum Cynthiara sempat membuka mulut, Cate mendahuluinya.
"Cynthiara...," panggilnya parau. Getar kepedihan masih sangat kentara menyelimuti suaranya.
"Aku sudah tahu semuanya dari ayahmu," potong Cynthiara cepat.
Tangannya beralih menyingkirkan helaian rambut merah Cate yang berantakan menempel di wajah yang basah, lalu menyelipkannya ke belakang telinga.
"Aku tahu ini berat buat kamu terima, tapi kamu harus kuat, nggak boleh lemah!" lanjutnya tegas. "Kamu satu-satunya harapan bagi orang tuamu. Kalau kamu menyerah, kamu sama saja seperti membunuh mereka."
Cate membiarkan rentetan kata itu menembus dadanya. Tidak ada perlawanan atau bantahan.
"Semua orang punya titik nadir. Tapi itu bukan berarti semuanya berakhir. Aku percaya kamu bisa melewati itu semua, aku percaya kamu kuat, Cate!"
Tubuh Cate mematung. Sorot matanya yang sembab perlahan membulat. Ajaibnya, gertakan lugas dari sahabatnya itu bekerja layaknya penawar racun. Kabut kesedihan di matanya perlahan tersapu bersih, digantikan oleh bara kepercayaan diri yang sempat padam.
"Bertahanlah demi keluargamu dan jangan menyerah!"
Mendengar kalimat pamungkas itu, spontan Cate kembali menerjang Cynthiara dalam sebuah pelukan. Kali ini bukan karena rapuh, melainkan luapan energi baru.
Sudut bibirnya tertarik bebas, membentuk senyum lega yang membebaskan. Beban raksasa seolah baru saja diangkat dari dadanya.
Tanpa perlu repot-repot melihat ekspresi wajah Cate, Cynthiara sudah bisa merasakan perubahan drastis itu dari cara sahabatnya memeluk. Ia ikut tersenyum lebar di balik pundak Cate. Kalimat motivasinya sukses telak menghapus duka.
"Terima kasih," bisik Cate tulus. Kedua tangannya mencengkeram erat kain baju di bagian punggung Cynthiara.
Alih-alih membalas dengan kata-kata, Cynthiara hanya mengusap pelan puncak kepala bersurai merah itu. Namun, ketika pandangannya tak sengaja melewati bahu Cate dan menangkap pergerakan di ujung jalan setapak, sebersit ide iseng tiba-tiba terlintas di kepalanya.
"Cate," panggilnya lirih, perlahan melepaskan pelukan hangat mereka. "Apa kamu pernah mendengar frasa "Siapa cepat, dia dapat" dari orang tuamu?"
Kening Cate berkerut. Ia mencoba membedah frasa ganjil tersebut, tapi otaknya tak menemukan referensi apa pun. Kalimat itu terdengar benar-benar asing. Pada akhirnya, ia hanya menggeleng pelan, menyerah dan menunggu jawaban dari sahabatnya.
Senyum jahil mulai terbit di bibir Cynthiara.
"Coba kamu lihat ke belakang." Tangan kanannya menunjuk lurus melewati Cate.
Tanpa curiga sedikit pun, Cate memutar tubuhnya menurut. Begitu matanya mengarah ke titik yang ditunjuk Cynthiara, ia menyipitkan pandangan, berusaha mencari sesuatu yang menarik.
"Aku nggak melihat apa-apa—"
Ucapannya terpotong mendadak saat deru langkah cepat menyapu sisi kirinya. Dalam kedipan mata, Cynthiara sudah melesat berlari meninggalkannya, membiarkan Cate berdiri mematung memproses kebingungan.
Di jarak yang sudah cukup jauh di depan, Cynthiara memutar tubuhnya dan terus berlari mundur. Ia menangkupkan kedua tangan di sisi mulut layaknya corong.
"Tadi aku lihat paman Bee bawa sesuatu di tangannya," teriaknya memecah udara. "Ayo kita balapan ke sana. Siapa cepat, dia yang dapat!"
Sadar bahwa momen harunya baru saja dirusak dan ia telah ditipu mentah-mentah, urat kekesalan seketika muncul di pelipis Cate. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan sebal.
Tanpa membuang waktu lagi, ia mengambil ancang-ancang dan langsung mengambil langkah seribu, mengerahkan seluruh tenaganya untuk memburu sahabatnya itu.
"Cynthiara sialan!" gerutunya nyaring di sela-sela napas yang memburu.