No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari pertama setelah pernikahan
Valerie melangkah memasuki ruang makan dengan langkah pelan. Di ujung meja panjang, Damian sudah duduk rapi dengan setelan kerjanya.
Secangkir kopi hitam berada di sampingnya, sementara beberapa dokumen tampak tersusun di atas meja. Mendengar langkah kaki Valerie, Damian mengangkat kepalanya.
“Selamat pagi Damian,” sapa Valerie lembut.
“Selamat pagi,” balas Damian singkat, namun tetap sopan.
“Kita sudah menjadi suami istri, sebaiknya kita tidak terlalu formal.”
Valerie mengerutkan dahinya.
“Lalu bagaimana?”
Damian menatapnya lembut.
“Selayaknya kamu berbicara kepada pria seusiamu saja.”
Valerie mengangguk setuju.
“Baiklah.”
Valerie menarik kursi dan duduk tepat di hadapan suaminya. Pelayan segera menyajikan sarapan. Tangannya bergerak mengambil semangkuk bubur hangat, lalu menuangkan sedikit sup ke dalam mangkuk kecil.
Namun gerakannya terlihat lambat, seolah pikirannya berada di tempat lain. Tatapannya kosong, sesekali ia hanya menatap makanan di hadapannya tanpa benar-benar memakannya.
Damian memperhatikannya beberapa saat.
“Apa kamu sedang sakit?” tanyanya tiba-tiba.
Valerie sedikit tersentak sebelum menggeleng pelan.
“Tidak.”
“Lalu kenapa wajahmu terlihat pucat?”
Valerie tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
“Mungkin aku belum terbiasa tidur di kamar yang baru.”
Damian mengangguk memahami.
“Iya, itu wajar.”
“Kalau kamu membutuhkan sesuatu, atau ada yang membuatmu tidak nyaman. Katakan saja.”
Valerie kembali tersenyum.
“Baik, terima kasih.”
Namun di dalam hatinya, Valerie masih memikirkan Hazel. Ia merasa kesepian menyadari tidurnya tanpa bermimpi.
Setelah sarapan selesai, Damian berdiri dan memanggil seorang pria paruh baya yang sedari tadi menunggu di dekat pintu.
“Pak Boby!”
“Ya, Tuan Muda.”
“Mulai hari ini, tugas Anda adalah mengantar dan menjemput Nona Muda.”
“Ke kampus, ke mana pun ia ingin pergi, atau ke tempat yang ia butuhkan.”
Pak Boby mengangguk hormat.
“Baik, Tuan Muda.”
Valerie sedikit terkejut.
“Ini berlebihan...” ucapnya pelan.
Damian menatapnya sekilas.
“Kamu adalah istriku.”
“Setidaknya selama dua tahun ke depan, Aku tidak ingin ada masalah dengan keselamatanmu.”
“Dan dengan mengikuti aturan yang berlaku, citra namaku sebagai suamimu tidak terlihat buruk diluar sana.”
Valerie terdiam sejenak, lalu menggela napas panjang.
“Baiklah, aku mengerti.”
Damian mengambil tas kerjanya.
“Aku berangkat.”
“Kalau ada sesuatu yang penting, hubungi aku atau Pak Surya ketua pelayan dirumah ini.”
Setelah mengatakan itu, Damian melangkah keluar rumah. Tak lama kemudian, suara mesin mobilnya terdengar menjauh. Damian pergi menuju kantornya.
Sementara Valerie bersiap, untuk kembali menjalani kehidupan sebagai mahasiswi. Sesampainya di kampus, Valerie melihat dua sosok sahabatnya yang sudah menunggunya di taman kampus.
Ariana dan Rachel Balwael.
Begitu melihat Valerie turun dari mobil mewah, keduanya langsung melambaikan tangan dengan antusias.
“Vall!”
“Kemari!”
Valerie tersenyum kecil lalu berjalan mendekati mereka, Rachel langsung memeluknya.
“Kamu cantik sekali saat menjadi pengantin!”
“Iya!” sambung Ariana bersemangat. “Aku bahkan masih menyimpan fotonya!”
“Aku benar-benar iri, gaunmu indah sekali. Kamu berjalan di altar seperti tuan putri dari negeri dongeng.”
“Dan suamimu juga seperti pangeran yang tampan paripurna turun dari kuda.”
Valerie tersenyum tipis.
“Kalian terlalu memujiku, tapi terima kasih.”
Rachel menyipitkan mata.
“Tapi sebagai pengantin baru, kenapa wajahmu pucat seperti orang yang baru saja ikut ujian skripsi?”
Ariana tertawa kecil.
“Mungkin saja malam pertamanya sangat melelahkan.”
Valerie tersenyum malu.
“Jangan menggodaku lagi, aku hanya masih menyesuaikan diri.”
Ariana mengangguk penuh pengertian.
“Baiklah.”
“Wajar sih, kamu baru saja menikah.”
“Pasti perlu banyak waktu untuk menyesuaikan diri.”
Valerie menundukkan pandangannya sesaat. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya, bahwa pernikahannya hanyalah sebuah kesepakatan. Dalam pernikahannya tidak ada cinta diantara dirinya dan Damian, tidak seperti suami istri yang saling menginginkan satu sama lain.
Namun pada akhirnya, Valerie memilih diam. Ia hanya tersenyum, menyembunyikan kenyataan pahit di balik senyum yang tampak biasa. Karena bagi semua orang, ia adalah pengantin baru yang beruntung.
•●✿●•
Setelah pulang dari kampus, Valerie meminta Pak Boby mengantarnya ke pemakaman. Mobil berhenti di parkiran, Valerie Valerie turun sambil membawa buket bunga lili putih kesukaan ibunya.
Langkahnya pelan menuju pemakaman yang terlihat masih baru, hingga akhirnya ia berdiri di depan dua nisan yang berdampingan. Nama kedua orang tuanya terukir dengan rapi di atas batu marmer putih.
Valerie berjongkok perlahan, lalu meletakkan buket bunga itu di hadapan makam mereka. Tangannya mengusap lembut kedua nisan tersebut, seolah ingin merasakan kembali kehangatan orang-orang yang selama ini selalu menjadi rumah baginya.
“Ayah... Ibu...”
“Aku datang.”
Senyum tipis terlukis di wajahnya, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Kalian lihat, aku baik-baik saja.”
“Aku makan dengan baik, aku juga masih kuliah.”
“Jadi Ayah dan Ibu disana tidak perlu mengkhawatirkanku.”
Valerie menunduk sejenak.
“Aku merindukan kalian berdua, aku rindu kehangatan rumah.”
Air mata perlahan jatuh di pipinya.
“Aku sangat rindu...”
Tiba-tiba langit yang sejak tadi mendung berubah semakin gelap. Tak lama kemudian, hujan deras mengguyur area pemakaman.
Valerie segera berdiri dan berlari kecil mencari perlindungan di bawah pohon besar tak jauh dari sana. Ia memeluk tubuhnya sendiri, berusaha menghindari cipratan hujan. Namun hujan yang turun sangat deras membuat sekujur tubuhnya basah.
Dari kejauhan, terlihat Pak Boby berlari tergesa-gesa sambil membawa payung.
“Nona Muda!”
“Maaf saya terlambat!”
Valerie tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa, Pak Boby.”
Pak Boby membuka payung itu dan memayunginya.
“Mari kita pulang Nona, tolong berhati-hati...”
Valerie mengangguk pelan.
Keduanya berjalan berdampingan menuju mobil di tengah derasnya hujan.
Sesampainya di mansion, Valerie beberapa kali bersin.
“Hatchiu!”
“Hatchiu!”
Ia mengusap hidungnya, ia merasa kepalanya terasa sedikit berat, dan tubuhnya mulai meriang.
Bella, salah satu pelayan yang bertugas melayaninya, segera menghampiri dengan ekspresi khawatir.
“Astaga, Nona Muda basah kehujanan.”
Valerie tersenyum tipis.
“Aku tidak apa-apa.”
Bella menghela napas.
“Nona saya akan mempersiapkan air hangat,”
Valerie tersenyum.
“Terimakasih Bella.”
Selesai mandi, dan berganti pakaian. Bella kembali membawa secangkir teh hangat dengan aroma rempah yang menenangkan.
“Minumlah, Nona.”
“Ini bisa membantu menghangatkan tubuh.”
Valerie menerima cangkir itu dengan kedua tangannya.
“Terima kasih, Bella.”
Meski tubuhnya mulai terasa lemas, ia tetap berusaha tersenyum.
•●✿●•
Malam mulai tiba.
Damian akhirnya pulang setelah seharian bekerja. Ia berjalan melewati koridor lantai dua menuju kamarnya, namun saat melewati kamar Valerie yang pintunya sedikit terbuka, ia menyadari sesuatu.
Kamar itu kosong.
Lampu kamar masih menyala, secangkir teh herbal tampak berada di atas meja kecil di samping tempat tidur, namun tidak ada sosok Valerie di sana. Damian berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah salah satu pelayan yang kebetulan sedang lewat.
“Di mana Valerie?”
Pelayan itu segera menundukkan kepala.
“Nona Muda berada di balkon kamarnya, Tuan.”
Damian mengernyit pelan.
“Di jam segini?”
“Iya, Tuan,” jawab pelayan itu sopan. “Nona Muda pulang dalam keadaan kehujanan setelah mengunjungi pemakaman kedua orang tuanya. Sejak tadi beliau terlihat kurang sehat dan beberapa kali bersin. Bella sudah membuatkan teh herbal untuk menghangatkan tubuhnya.”