NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETEGASAN SEBUAH JAWABAN

Suasana malam di kediaman keluarga Fatih terasa hangat ketika deru motor matic lelaki itu akhirnya berhenti di halaman rumah. Setelah menempuh perjalanan sore yang cukup melelahkan dari rumah peninggalan almarhumah nenek Maira, Fatih dan Aisyah melangkah masuk ke dalam rumah mereka yang bernuansa islami dan tenang.

Di ruang keluarga, kebetulan Abi dan Umi sedang duduk santai bersisian di atas sofa sembari menikmati teh hangat.

“Assalamu’alaikum,” ucap Fatih dan Aisyah berbarengan saat melangkah masuk melintasi pembatas ruang tengah.

“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” jawab Umi dan Abi serempak. Umi langsung meletakkan rajutannya, menatap kedua anaknya yang tampak lelah namun gurat kepanikan semalam sudah memudar dari wajah mereka.

“Gimana, Syah? Teman kerja kamu itu... siapa namanya, Maira ya? Kondisinya sekarang bagaimana?” tanya Umi membuka percakapan, menyuarakan rasa penasaran sekaligus simpati yang sejak semalam ia pendam.

Aisyah mengambil tempat duduk di sofa sebelah Umi, lalu mengembuskan napas lega. “Alhamdulillah, Umi. Mbak Maira sore ini udah dibolehin pulang kok sama dokter. Lukanya alhamdulillah gak ada yang parah atau sampai dalam, cuma memar-memar sama ada jahitan kecil di pelipisnya.”

“Alhamdulillah... syukurlah kalau begitu. Umi semalam ikut was-was waktu Masmu bilang temen kamu kecelakaan parah,” ucap Umi sembari mengusap dada pelan.

Di saat suasana mulai mencair, Abi yang sejak tadi diam menyimak tiba-tiba meletakkan cangkir tehnya ke atas meja kaca. Tatapan matanya yang tegas namun penuh wibawa kini beralih lurus menatap putra sulungnya.

“Fatih, Abi mau ngobrol sama kamu sebentar. Duduklah,” ucap Abi dengan nada suara yang dalam.

Fatih yang baru saja hendak melangkah ke kamarnya untuk membersihkan diri, seketika mengurungkan niat. Sebagai anak yang patuh, ia mengangguk pelan lalu mengambil posisi duduk di kursi kayu tunggal, tepat berhadapan dengan Abi dan Umi. Aisyah yang merasakan atmosfer mendadak berubah serius, memilih untuk tetap diam di tempatnya dan ikut menyimak dengan saksama.

Abi menyesap kembali tehnya sedikit, memberikan jeda waktu yang sempat terasa menegangkan bagi ruangan itu sebelum akhirnya mulai berbicara langsung pada inti masalah.

“Soal perjodohan kamu dengan Ning Halwa... Bagaimana? Sudah kamu pikirkan matang-matang?” tanya Abi, menatap Fatih lekat-lekat. “Tidak baik, Nak, membuat keluarga Pak Kiai lama menunggu jawaban dari kamu. Bagaimanapun, mereka sudah berniat baik dan kita harus memberikan kepastian yang jelas.”

Umi ikut menggeser duduknya, menatap Fatih dengan pandangan penuh harap. “Iya, Nak Fatih. Sebenarnya apa lagi yang kamu tunggu? Secara kemapanan, alhamdulillah profesi kamu sebagai arsitek independen sudah sangat stabil dan mapan untuk membangun rumah tangga. Ning Halwa juga sosok perempuan yang sangat baik, salihah, anggun, dan jelas keturunannya dari keluarga ulama. Umi rasa tidak ada alasan untuk menunda lagi.”

Fatih terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya, menatap jemarinya sendiri yang bertautan di atas pangkuan. Sebuah helaan napas pendek dan berat berembus dari bibirnya, menandakan ada beban besar yang berkecamuk di dalam dadanya. Namun, Fatih tahu, menunda kejujuran hanya akan memperpanjang luka bagi semua pihak.

Fatih mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Umi dan Abi dengan tatapan mata yang teramat yakin dan tenang.

“Kalau... Fatih menolak perjodohan ini, bagaimana, Umi, Abi?” ucap Fatih lirih namun terdengar sangat tegas di malam yang sunyi itu. “Fatih rasa... Fatih tidak memiliki rasa cinta atau kecenderungan hati kepada Ning Halwa. Fatih teramat menghormati beliau, tapi itu murni hanya karena beliau adalah putri dari guru ngaji Fatih sendiri. Hanya sebatas itu, tidak lebih.”

Mendengar penolakan spontan dan berani dari Fatih, wajah Umi seketika berubah terkejut. “Loh, Fatih? Masalah cinta kan bisa mengikuti nanti kalau kamu sudah berumah tangga, Nak! Banyak orang zaman dulu yang dijodohkan dan akhirnya hidup bahagia karena cinta tumbuh setelah menikah. Umi ini sangat setuju dan mau banget kalau kamu bersanding sama Ning Halwa. Dia menantu idaman, Fatih.”

Fatih menggelengkan kepalanya pelan, sorot matanya memancarkan rasa bersalah namun ia tetap bergeming pada prinsipnya. “Umi... Fatih gak yakin bisa bersikap adil sama Ning Halwa. Fatih takut kalau pernikahan ini dipaksakan hanya karena rasa sungkan, Fatih justru akan menyakiti hati Ning Halwa ke depannya karena tidak bisa memberikan nafkah batin berupa rasa cinta yang utuh. Fatih tidak mau mendzalimi wanita sebaik beliau.”

Suasana ruang keluarga mendadak hening mencengkam. Abi yang sejak tadi menyimak, kini menghela napas panjang. Wajah tuanya tampak berwibawa saat melontarkan pertanyaan final.

“Jadi... kamu benar-benar memutuskan untuk menolak perjodohan dari Pak Kiai?” ucap Abi, memastikan.

Fatih mengangguk mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya. “Iya, Abi. Maafin Fatih karena belum bisa memenuhi keinginan Abi dan Umi untuk hal yang satu ini. Fatih bener-bener minta maaf.”

Umi Fatih seketika tertunduk, gurat kesedihan yang teramat dalam tercetak jelas di wajah keibuannya. Beliau merasa kecewa karena impiannya untuk memiliki menantu seorang Ning yang suci dan salihah harus kandas di tangan prinsip keras anaknya sendiri.

Sementara itu, di sudut sofa, Aisyah yang sejak tadi mengunci mulutnya rapat-rapat, mendadak merasa heran dan bingung dengan keputusan sang kakak. Otak Aisyah mulai berputar, menghubungkan satu titik kejadian ke kejadian lainnya.

Aisyah teringat kembali momen-momen belakangan ini. Pikirannya mendadak melayang pada saat-saat di mana Fatih berada di dekat Maira. Aisyah ingat betul bagaimana paniknya Fatih semalam saat mendengar Maira kecelakaan, bagaimana peka dan khawatirnya Fatih sampai membelikan hijab baru, dan yang paling membuat Aisyah curiga... beberapa kali Aisyah menangkap basah kakak laki-lakinya itu tersenyum dengan sangat tulus dan manis saat menatap atau menggodai Maira.

Senyuman tulus yang sangat jarang—bahkan hampir tidak pernah—Mas Fatih berikan kepada lawan jenis mana pun selama ini, termasuk kepada Ning Halwa yang secantik itu.

“Apa jangan-jangan... Mas Fatih nolak Ning Halwa karena hatinya udah nyangkut di Mbak Maira?” batin Aisyah menebak-nebak dalam hati dengan rasa penasaran yang mendadak membuncah hebat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!