NovelToon NovelToon
My Handsome Rich Husband

My Handsome Rich Husband

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:81.9k
Nilai: 5
Nama Author: PiEl

🍁Sequel dari SEMESTA RAI.🍁

Ranu Wais Prianggoro.
Tampan, terlahir dari keluarga kaya. Sejak lahir, seolah seluruh perhatian dunia berpusat padanya. Pesonanya sebagai konten kreator nomor 1 di indonesia, membuatnya tidak pernah luput dari perhatian dari semua orang.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Miara Tisha, gadis yang sama sekali tidak peduli dengan ketenaran yang disandang Ranu. Gadis yang sama sekali mengabaikannya padahal orang-orang di sekitarnya sibuk menginginkan perhatian Ranu.
Dan sejak saat itu, hati Ranu seperti tertarik ke dunia Mia.
Bagaimana perjalaan kisah Ranu demi menarik perhatian Mia?
Yukk,, cuuussss...➡️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PiEl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25. Narsistik Itu Juga Bakat.

Suasana Bandar Udara Kualanamu, Deli Serdang, nampak ramai seperti biasanya. Mia, Ranu, Arnav, dan Haris baru saja turun dari mobil Fuan yang mengantarkan mereka.

“Hati-hati disana ya, Dek.” Pesan Fuan.

“Iya, Bang.”

“Makasih banyak sama kalian udah bersedia datang ke tempat terpencil kami.”

“Sama-sama, Mas. Kami juga makasih banyak. Disana pemandangannya luar biasa bagus.” Jawab Ranu.

“Maaf kalau ada banyak kekurangan dan membuat kalian tersinggung selama tinggal di rumahku.”

“Ya enggak lah, Mas. Malah pengalaman disana itu keren. Selama tinggal di sana, pokoknya seru lah.” Arnav menimpali.

“Nitip Mia di jalan ya, Ranu.” Pesan khusus Fuan kepada Ranu.

Dan Ranupun mengangguk sambil tersenyum. Ia melirik ke arah Mia yang sedang sibuk menelfon seseorang.

“Jangan lupa, lanjutkan perjuanganmu. Aku mendukungmu, Ranu.” Bisik Fuan yang membuat Ranu tersipu malu.

“Mia. Ayo.” Ajak Arnav membuat Mia yang masih menelfon langsung menoleh.

“Kalian duluan aja. Aku belakangan.” Tolak Mia.

“Kalau gitu kami pergi dulu, Mas Fuan. Sampai bertemu lagi.”

“Sama-sama. Semoga selamat sampai tujuan, ya.” Ujar Fuan.

Sebelum keadaan menjadi ramai, Ranu, Arnav dan Haris, berjalan lebih dulu meninggalkan Mia yang masih sibuk dengan telfonnya.

Yang Mia tidak tau adalah, kalau Fuan sudah menceritakan perihal ketertarikan Ranu kepada Mia kepada ayah dan ibunya.

“Iya, Bu. Mia pasti hati-hati disana. Ibu ini, kayak Mia baru pertama kesana aja. Gak usah khawatir. Mia bisa jaga diri.” Mia meyakinkan ibunya.

Beberapa saat kemudian, Mia sudah selesai bertelfon dengan ibunya. Ia menaruh ponselnya di tas kemudian berbalik menghampiri Fuan.

“Mia pergi dulu, Bang.” Pamitnya sambi menyalami abangnya.

“Hati-hati disana.” Pesan Fuan sambil mengusap kepala adik tersayangnya.

Mia mengangguk kemudian berbalik dan mulai mendorong kopernya. Menjauh dari Fuan yang masih menatapi punggung adiknya. Barulah kemudian ia kembali setelah melihat Mia yang menghilang di antara kerumunan orang-orang.

Mia menghentikan langkahnya saat hendak masuk ke pintu chek-in bandara. Ia lupa membeli sesuatu. Lalu ia keluar dari antrian dan berjalan ke lantai bawah. Ia langsung berjalan menuju gerai roti favoritnya. Disana, ia memesan lima porsi roti kemudian baru kembali ke pintu chek-in.

Sekarang tidak seperti waktu itu, dimana Ranu di kerubungi oleh para penggemarnya. Kali ini, tidak ada yang mengerubungi Ranu. Sehingga keadaan bandara tidak nampak sibuk. Mungkin karna Ranu mengenakan masker dan topi sehingga tidak ada yang mengenalinya.

Setidaknya itulah yang terlihat saat di luar. Berbeda halnya dengan di dalam. Saat Ranu sudah masuk dan sedang menunggu Haris yang sedang mengurusi bagasi mereka, satu persatu orang mulai mengenalinya. Dan langsung saja, hanya butuh beberapa detik sampai orang-orang mulai mengerubutinya. Bahkan pihak keamanan bandara sampai turun tangan untuk mengamankan.

Dan pada akhirnya, Mia lebih dulu masuk ke ruang tunggu. Sedangkan Ranu masih sibuk membelah kerumunan manusia untuk bisa lewat.

Di ruang tunggu, Mia sudah menghabiskan sepotong roti sebelum akhirnya Ranu dan Arnav beserta Haris duduk di kursi di hadapannya. Ranu nampak kelelahan. Ia menyeka keringat dengan tisu.

“Mau?” Mia menawarkan roti kepada Ranu. Dan Ranu segera menerimanya. Ia juga memberikan kepada Arnav dan Haris masing-masing satu.

Walaupun nafasnya sedang tersengal, namun ia tetap mengunyah roti itu. Tapi kemudian ia berpindah duduk di samping Mia.

“Waah, ternyata roti ini yang buat kamu gak peduli sama aku?” Ujar Ranu sambil mengunyah.

“Gimana? Enak, kan?”

“Enak, sih. Tapi masak iya sampai mengalihkan perhatianmu dari aku?”

“Mulaiiii deh narsisnya.”

“Hehehehehehe..”

“Apa enaknya sih jadi orang terkenal? Padahal orang-orang malah jadi mengkritik sesuka mereka dengan dalih kamu publik figur.”

“Ehmm,, mungkin karna aku memang punya darah artis kali, ya. Soalnya kakek dan nenekku mantan artis terkenal pada masanya. Jadi mungkin bakat itu nurun di aku.”

“Apa narsistik itu juga bakatmu? Hahahahahaha”

“Bisa jadi. Hehehehehehe.”

Mia langsung menghentikan tawanya setelah mendengar jawaban Ranu. Niatnya mengejek Ranu. Tapi pria itu ternyata malah santai menanggapinya.

“Tapi aku dengar, kamu juga pernah jadi konten kreator?” Pertanyaan Ranu itu membuat Mia langsung menoleh padanya.

“Siapa yang bilang?”

“Mas Fuan.”

“Waaaahhh.” Mia tidak menyangka kalau abangnya itu sudah membuka masalalunya kepada Ranu.

“Kenapa gak coba lagi aja bikin konten? Kalau mau. Kita bisa kolaborasi.”

Mia langsung menggelengkan kepalanya. “Kayaknya Bang Fuan gak cerita kenapa aku bisa berhenti jadi konten kreator, ya?”

“Emangnya kenapa?” Telisik Ranu menajdi penasaran.

Mia menenggak air mineral setelah menghabiskan rotinya. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menatap jauh ke depan. Menembus dinding kaca yang membentang di hadapannya.

Kenanganya kembali melesat ke beberapa tahun yang lalu. Saat hubungannya dengan Yola memburuk karna sebuah kontes membuat konten edukatif di sekolah. Dan karna kenangan itu, ingatannya seolah di suruh untuk mengingat hal-hal tentang Fandra juga.

Kota Jogja. Ia akan kembali ke kota dimana Fandra berada. Ia akan menginjakkan kakinya di kota yang sama dengan Fandra. Pria yang mengisi hatinya selama beberapa waktu yang lama. Pria yang namanya selalu terucap di dalam lantunan doa-doanya. Pria yang membuatnya berharap tentang masa depan pernikahan.

Namun harapan itu harus pupus karna aib yang ia bawa. Dan entah, Mia menjadi ragu kalau nanti akan ada pria yang bersedia menerimanya beserta aib yang dibawanya.

“Mia?” Panggil Ranu lirih. Namun sepertinya Mia tengah asyik dengan kenangannya.

“Mia?” Akhirnya Ranu mencoba mencolek lengan gadis itu hingga menyadarkannya.

“Hah? Apa?”

“Pesawat kita itu.” Ranu memperingatkan.

Mia yang baru tersadar, melihat ke deretan orang-orang yang tengah berbaris memanjang di depan sana. Ia segera menyambar tasnya dari kursi kemudian mengikuti langkah Ranu untuk bergabung di barisan.

Setelah masuk ke dalam pesawat, mereka segera mencari nomor kursi yang tertera di tiket mereka. Ranu nampak kecewa karna ia tidak duduk bersama dengan Mia. Padahal ia masih ingin mendengar cerita dari gadis itu lagi.

Tapi Ranu tak kehilangan akal. Ia mendekati pria paruh baya yang duduk di tengah, di dekat Mia yang duduk di dekat jendela. Ia bernegosiasi kepada pria itu untuk bertukar tempat duduk dengannya.

Dan entah apa yang ia katakan kepada pria itu sehingga si bapak bersedia untuk bertukar dengannya.

“Semoga istrinya gak ngambek lagi ya, Mas.” Ucapan si bapak terdengar oleh Mia. Gadis itu hanya menatapi Ranu dengan aneh saat pria itu duduk di sampingnya.

“Bapak itu ngomong apa tadi?” Selidik Mia.

“Ngomong apa? Gak ngomong apa-apa?” Ranu berkilah.

“Tapi tadi aku denger sekilas kalau dia bilang istri, istri, gitu.”

“Salah denger kamu.” Ranu mencoba untuk tidak mempedulikan kecurigaan Mia. Ia segera mengencangkan seat-belt kemudian membuat dirinya senyaman mungkin.

“Aku fikir kamu gak mau naik kelas ekonomi. Biasanya tuh kan, kalau artis terkenal gitu naiknya kelas bisnis.” Celetuk Mia saat pesawat sudah berada di atas awan.

“Apa bedanya? Pesawatnya sama, nyampenya juga sama. Kecuali perjalanan jauh, baru pakai bisnis.” Jelas Ranu.

Mia hanya mengangguk-angguk saja. Sedikit mengerti tentang kebiasaan Ranu.

1
Ayu Galih
😂😂😂😂 kasihan terabaikan Ranu
Ayu Galih
Aqu sdh mampir meraoat ke jaryamu kak..maaff baru baca , pas baca sinopsisnya aqu suka lgsg tertarik...🤗🤗😘😘😘😘
Fina Fitriani
cerita menarik. walaupun tidak sepanjang cerita orang tua Ranu.. tapi ceritanya to the point gak bertele2... lanjut ah.,,.....
Dwi ratna
pk mentri ada d aceh ya pk zul
Dwi ratna
certany ranu dlu y bru ren, aq bcny kebalik deh
💕febhy ajah💕
ehhh ranu emak bapak mu nga se narsis itu kaliiii 😁😁😁😁
💕febhy ajah💕
mampir setelah sekian lama difavoritkan emak bapaknya dah lama dibaca
walaupun bukan otor/novel populer dan masih sedikit yg mengenal tp aku suka ceritanya
Pucuk Labu🍁: makasih banyak kak feby.... 🥰
total 1 replies
Mbah Edhok
Nu ... lebay ... miara itu sama sepertiku, nggak mudah histeris ... eh ... maaf. Lagi menyimak cerita, nggak boleh berisik.
qiqi
bagus cerita y,,,, 🥀🥀🥀🥀
Agnes LAMTIAR
tidak bertele tele, bab nya sedikit tetapi saya puas, cerita nya seru, thank you sudah menghibur hehehe
Pucuk Labu🍁: terimakasih kak agnes. jangan lupa mampir di novelku yang lain...
total 1 replies
울산소주
💃💃💃💃
🤣🤣🤣🤣
tina hans
bagus ceritanya. nggak bertele-tele. dan konfliknya biasa ngga seperti di sinetron yang terkesan dipanjangkan sebab tidak mau cepat habis ceritanya
Pia
kata kata legend nih... menarik🤔🤔🤔
Pia
hadeuh Bang Ranu🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Pia
gercep nih Bang Ranu, langsung dikenalin ke mama👍
Pia
🥺🥺🥺😥😥😥
Pia
maksud lo.....
Pia
👍👍👍👍
Pia
hadeuh... wes angel iki obatane 🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Pia
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!