Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Pertempuran Pertama
Hutan Kabut Hijau kembali sunyi.
Namun keheningan itu bukan lagi ketenangan.
Melainkan ketegangan yang membuat setiap tarikan napas terasa berat.
Puluhan mata hijau berkilat di balik kabut.
Kawanan Serigala Kabut mulai menyebar perlahan.
Mereka bergerak memutar, mempersempit ruang gerak kelompok Bai Hu.
Han Lei menggenggam golok besarnya semakin erat.
Tatapannya terus mengikuti pergerakan Raja Serigala Kabut.
Dengan suara pelan ia berkata,
"Jangan panik. Selama pemimpinnya belum bergerak, kawanan ini juga tidak akan menyerang sembarangan."
Luo Xin menganggukkan kepala.
Pedangnya kini telah terhunus sepenuhnya.
Ujung bilahnya sedikit bergetar,
Sun Qiao tanpa sadar menelan ludah.
Tangannya yang memegang belati mulai dipenuhi keringat.
Ini adalah pertama kalinya ia menghadapi Binatang Iblis secara langsung.
Sebelumnya Ia hanya pernah mendengar cerita dari para pemburu.
Kini...
Binatang-binatang itu berdiri hanya puluhan langkah di depannya.
Zhao Mingze mengamati jumlah lawan.
Semakin lama wajahnya semakin serius.
Dengan suara pelan ia berkata,
"Sedikitnya ada dua belas Serigala Kabut Tingkat Satu... ditambah seekor Pemimpin Serigala Kabut Tingkat Dua. Jumlah seperti ini bukan sesuatu yang bisa kita hadapi dengan mudah."
Han Lei mengangguk.
"Kalau hanya kawanan serigalanya, kita masih memiliki peluang. Masalahnya adalah Pemimpin Serigala itu."
Ia memandang Bai Hu.
"Apa pendapatmu?"
Semua mata langsung tertuju kepada Bai Hu.
Anak berbadan gemuk itu tatapannya terus memperhatikan kawanan serigala.
Sesekali ia melihat tanah.
Sesekali ia mengamati arah angin.
Hal itu membuat Zhao Mingze mulai mengernyit.
"Kita sedang menghadapi Binatang Iblis, bukan sedang mencari tanaman obat."
Nada suaranya memang tidak sekeras sebelumnya.
Namun masih terdengar sedikit tidak sabar.
Bai Hu tetap tenang.
Ia berjongkok perlahan.
Mengambil segenggam tanah.
Kemudian membiarkan tanah itu jatuh sedikit demi sedikit dari sela-sela jarinya.
Han Lei memperhatikan tindakannya.
"Apa yang sedang kau cari?"
Bai Hu berdiri kembali.
Suaranya tetap tenang.
"Arah angin."
Semua terdiam.
Ia melanjutkan,
"Serigala sangat bergantung pada penciumannya. Selama angin bertiup dari arah kita menuju mereka, mereka bisa mengetahui posisi kita dengan mudah."
Ia menunjuk beberapa semak di sebelah kanan.
"Tapi lihat arah daun itu."
Han Lei mengikuti arah yang ditunjuk.
Daun-daun kecil di ujung ranting memang bergerak ke arah kiri.
Bai Hu kembali berbicara.
"Anginnya berubah."
Kemudian ia menunjuk ke arah lain.
"Kalau kita bergerak menuju batu besar itu, posisi kita akan berada di sisi yang berlawanan dengan arah angin."
Sun Qiao mulai memahami.
Matanya sedikit membesar.
"Berarti penciuman mereka akan terganggu?"
Bai Hu mengangguk.
**"Tidak sepenuhnya hilang."
"Tapi cukup untuk mengurangi keunggulan mereka."**
Han Lei memandang Bai Hu beberapa saat.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Aku semakin mengerti kenapa para tetua sangat memperhatikanmu."
Tiba-tiba...
Auuuuuuuu...!
Pemimpin Serigala Kabut mengangkat kepalanya.
Lolongan panjangnya menggema memenuhi hutan.
Dalam sekejap...
Seluruh kawanan bergerak.
Mereka berlari dari tiga arah sekaligus.
Tanah bergetar oleh langkah kaki mereka.
"Luo Xin!"
teriak Han Lei.
"Sebelah kiri!"
Luo Xin langsung melesat.
Pedangnya berkilat seperti kilat putih.
Sreet!
Seekor Serigala Kabut yang melompat lebih dulu langsung terlempar.
Namun dua serigala lain segera menggantikan posisinya.
Di sisi kanan...
Zhao Mingze juga telah bergerak.
Pedangnya menusuk cepat.
Gerakannya rapi dan penuh tenaga.
Seekor serigala berhasil dipaksa mundur.
Tetapi kawanan itu sama sekali tidak berhenti.
Mereka terus mencari celah.
Sun Qiao mundur selangkah.
Tangannya mulai gemetar.
Seekor Serigala Kabut tiba-tiba menerjang lurus ke arahnya.
Wajah Sun Qiao langsung memucat.
Belatinya terangkat.
Namun ia tahu..Serangannya tidak akan cukup kuat.
Tepat saat cakar serigala tinggal beberapa jengkal dari wajahnya...
Brang!
Golok Han Lei menghantam tubuh serigala itu dari samping.
Binatang tersebut terpental beberapa meter.
Han Lei berdiri di depan Sun Qiao.
Tanpa menoleh ia berkata,
**"Jangan biarkan rasa takut menguasaimu."
Sun Qiao menarik napas panjang.
Perlahan...
Genggaman tangannya kembali stabil.
Di sisi lain...
Bai Hu belum menghunus senjatanya.
Ia terus memperhatikan Pemimpin Serigala Kabut.
Binatang itu sama sekali belum bergerak.
Ia hanya berdiri di belakang.
Matanya terus mengawasi seluruh medan pertempuran.
Bai Hu menyadari sesuatu.
Pupil matanya mengecil.
Ia langsung berteriak sekuat tenaga.
"Han Lei! Jangan kejar serigala yang mundur!"
Namun...
Terlambat.
Han Lei baru saja melangkah maju mengejar salah satu Serigala Kabut yang tampak terluka.
Begitu ia memasuki celah di antara dua pohon...
Kabut di depannya mendadak terbelah.
Dua serigala lain melompat bersamaan dari balik semak!
Han Lei membelalakkan mata.
"Jebakan!"
Han Lei baru menyadari kesalahannya ketika kedua Serigala Kabut itu melompat dari balik semak.
Jarak mereka terlalu dekat.
Mustahil menghindar sepenuhnya.
Ia langsung memutar tubuhnya sambil mengangkat golok besar di depan dada.
Dentang!
Goloknya berhasil menangkis cakar serigala pertama.
Namun pada saat yang sama...
Serigala kedua menerkam dari sisi kirinya.
Han Lei menggertakkan gigi.
"Tidak sempat!"
Tepat ketika taring binatang itu hampir mencapai lehernya...
Sebuah bayangan melesat dari samping.
Sreet!
Kilatan pedang membelah udara.
Luo Xin muncul tepat di sisi Han Lei.
Pedangnya bergerak cepat dan bersih.
Serigala kedua terpental sambil mengeluarkan lolongan kesakitan.
"Punggungmu!"
teriak Luo Xin.
Han Lei langsung memahami maksudnya.
Keduanya bergerak hampir bersamaan.
Punggung mereka saling menempel.
Kini tidak ada lagi titik buta.
Setiap serangan yang datang dari satu arah akan langsung dihadapi oleh salah satu dari mereka.
Di sisi lain...
Bai Hu menghela napas lega.
Namun tatapannya masih tertuju kepada Pemimpin Serigala Kabut.
Binatang itu...
Masih belum bergerak.
Ia hanya memperhatikan.
Seolah sedang menunggu waktu yang paling tepat.
Bai Hu mulai merasa ada yang tidak beres.
Seekor Binatang Iblis Tingkat Dua seharusnya cukup cerdas untuk memimpin kawanan.
Tetapi cara Raja Serigala itu mengatur serangan...
Terlalu rapi.
Terlalu teratur.
Seolah-olah...
Ia mempelajari itu dari cara manusia bertarung.
"Zhao Mingze!"
teriak Bai Hu.
Pemuda itu sedang bertarung menghadapi dua Serigala Kabut sekaligus.
Tanpa menoleh ia menjawab,
"Ada apa?"
"Jangan terlalu jauh! Mereka memancing kita agar berpencar!"
Zhao Mingze langsung memaksa kedua serigala itu mundur dengan satu tebasan.
Ia melompat ke belakang.
Beberapa saat kemudian...
Ia baru menyadari sesuatu.
Ketika mereka semua berkumpul...
Kawanan serigala hanya mengelilingi.
Namun begitu salah satu dari mereka maju terlalu jauh...
Beberapa serigala lain langsung muncul dari tempat persembunyian.
Han Lei juga menyadarinya.
Ia mengayunkan golok hingga memaksa kawanan itu menjauh beberapa langkah.
Kemudian berkata sambil terengah-engah,
"Mereka sedang memecah formasi kita."
Bai Hu mengangguk.
"Dan Pimpinan Serigala itu tidak menyerang lebih dulu. Ia menunggu kita membuat kesalahan."
Luo Xin mengerutkan kening.
"Binatang seperti itu bukankah terlalu cerdas."
Tiba-tiba...
Pemimpin Serigala Kabut mengeluarkan geraman pelan.
Grrr...
Seluruh kawanan langsung berhenti bergerak.
Mereka mundur beberapa langkah.
Han Lei tidak menurunkan kewaspadaannya.
Sebaliknya...
Jantungnya justru berdetak semakin cepat.
"Kenapa mereka berhenti?"
Sun Qiao bertanya dengan suara gemetar.
Tidak ada yang menjawab.
Karena mereka juga tidak tahu.
Hanya Bai Hu...
Yang terus menatap Pemimpin Serigala tanpa berkedip.
Ia segera menyadari ada yang tidak beres
"Menunduk!!" Bai Hu Berteriak
Semua spontan menjatuhkan tubuh.
Detik berikutnya...
Wussshhh!!
Seekor Serigala Kabut melompat dari atas pohon.
Bukan dari depan.
Bukan dari samping.
Melainkan dari atas kepala mereka.
Cakarnya menyapu udara tepat di tempat Han Lei berdiri sesaat sebelumnya.
Kalau saja mereka terlambat satu tarikan napas...
Salah satu dari mereka pasti sudah terluka.
Han Lei berguling ke samping.
Tanpa menunggu kesempatan kedua, ia menghantamkan goloknya ke arah serigala yang baru mendarat.
Brakk!
Serigala itu meraung kesakitan.
Namun sebelum Han Lei sempat menghabisinya...
Empat serigala lain kembali mengepung.
Han Lei langsung mundur.
"Mereka benar-benar merepotkan..."
Luo Xin menarik napas panjang.
Bai Hu menganggukkan kepala.
Tatapannya terus mengamati seluruh kawanan.
Ia melihat sesuatu yang membuat sudut bibirnya perlahan terangkat.
Han Lei Heran ,,
Dalam situasi seperti ini...
Bai Hu justru tersenyum.
"Apa yang kau temukan?"
Bai Hu menunjuk ke arah kaki Pemimpin Serigala.
"Lihat sisa lumpur di kakinya."
Semua memperhatikan.
Awalnya tidak ada yang aneh.
Namun beberapa saat kemudian...
Zhao Mingze mengernyit.
"Bekas lumpur..."
Bai Hu mengangguk.
"Tidak sama dengan tanah di tempat ini."
Sun Qiao ikut memperhatikan.
"Benar...Ada Lumpur di kakinya ."
Bai Hu mulai menjelaskan.
"Ada kemungkinan Serigala itu berada di tempat lain sebelumnya."
Han Lei masih belum memahami maksudnya.
"Terus?"
Bai Hu tersenyum.
"Binatang memiliki naluri menjaga wilayahnya."
"Kalau ia datang dari tempat lain...berarti ada sesuatu yang membuatnya meninggalkan sarangnya."
Luo Xin langsung mengangkat kepala.
Matanya membesar.
"Kau curiga..."
Bai Hu mengangguk perlahan.
"...bendera giok mungkin berada di dekat sarang Pemimpin Serigala."
Semua terdiam.
Kalau dugaan Bai Hu benar...
Berarti tujuan ujian mereka...
Mungkin sudah berada sangat dekat.
Namun..Untuk mengambilnya...
Mereka harus lebih dulu melewati seekor Pemimpin Serigala Kabut Tingkat Dua dan seluruh kawanannya.
Hutan kembali sunyi.
Kedua belah pihak saling berhadapan.
Kabut tipis terus bergerak di antara pepohonan, membuat sosok kawanan Serigala Kabut tampak muncul dan menghilang.
Han Lei menggenggam goloknya semakin erat.
Tatapannya beralih kepada Bai Hu.
"Kalau dugaanmu benar, berarti bendera giok berada di dekat sarang mereka. Tapi bagaimana kita bisa sampai ke sana? Dengan jumlah mereka seperti ini, mustahil kita menerobos secara langsung."
Bai Hu tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih mengamati Pemimpin Serigala Kabut.
Binatang itu juga sedang mengawasi mereka.
Seolah sedang menunggu siapa yang lebih dulu melakukan kesalahan.
Bai Hu perlahan berjongkok.
Tangannya mengambil sepotong batu kecil, lalu melemparkannya ke arah kiri.
Tok...
Suara batu mengenai batang pohon.
Beberapa Serigala Kabut langsung menoleh ke arah suara itu.
Namun Pemimpin Serigala tetap tidak bergerak.
Bai Hu mengangguk pelan.
"Benar... yang mengendalikan seluruh kawanan adalah Pemimpin Serigala."
Ia berdiri kembali.
Kemudian berkata dengan suara pelan agar hanya kelompoknya yang mendengar.
"Jangan berpikir mengalahkan seluruh kawanan."
Han Lei mengangguk.
"Aku juga tidak berniat melakukan hal sebodoh itu."
Bai Hu melanjutkan,
"kita bertarung sampai kelelahan, sekalipun menang kita tidak akan punya tenaga menghadapi ujian berikutnya."
Zhao Mingze mengerutkan kening.
"Lalu apa rencanamu?"
Bai Hu tersenyum tipis.
Tatapannya beralih kepada Sun Qiao.
"Sun Qiao, tadi kau menyimpan Rumput Inti Embun yang kita temukan, bukan?"
Sun Qiao segera mengangguk.
"Masih ada."
Ia mengeluarkan tanaman itu dari kantong kainnya.
Bai Hu menerimanya.
Kemudian mengendus aromanya beberapa saat.
Han Lei memperhatikan dengan bingung.
"Rumput itu bisa membantu kita melawan Serigala?"
Bai Hu menggeleng.
"Tidak."
Semua semakin bingung.
Ia tersenyum kecil.
"Tapi aroma Rumput Inti Embun sangat disukai beberapa jenis Binatang Iblis ."
Sun Qiao langsung mengangguk.
"Ayahku pernah mengatakan hal itu."
Bai Hu kembali berbicara.
"Kalau dugaanku benar.di sekitar hutan ini pasti ada Kawanan Rusa ."
Han Lei mulai memahami.
Matanya perlahan membesar.
"Kau ingin memancing Binatang Iblis lain?"
Bai Hu mengangguk.
"Bukan memancing mereka menyerang kita."
Ia menunjuk Pemimpin Serigala.
"Tetapi untuk membuat kawanan serigala kehilangan ketenangan."
Zhao Mingze masih terlihat ragu.
Ia memandang Bai Hu dengan serius.
"Bagaimana kalau dugaanmu salah? Bukankah kita justru akan menghadapi lebih banyak Binatang Iblis?"
Bai Hu mengangguk tanpa tersinggung.
"Kemungkinan itu memang ada."
Kemudian ia menatap seluruh rekannya.
Nada suaranya berubah lebih serius.
"Karena itu aku tidak meminta kalian langsung percaya. Aku hanya menyampaikan apa yang kupikirkan."
Ia mengambil sebatang ranting.
Kemudian menggambar peta sederhana di atas tanah.
"Lihat."
Ia menggambar posisi mereka.
Lalu menggambar posisi kawanan serigala.
Kemudian membuat lingkaran besar di sisi lain.
"Kalau memang ada kawanan Binatang Iblis lain, mereka pasti berada dekat sumber air."
Sun Qiao langsung menunjuk salah satu arah.
"Aku mendengar suara air sejak tadi."
Luo Xin juga mengangguk.
"Aku juga mendengarnya."
Bai Hu tersenyum.
"Berarti kemungkinan kita tidak salah."
Han Lei memperhatikan gambar di tanah.
Beberapa saat kemudian ia berkata,
"Kalau begitu kita tidak sedang berjudi. Kita sedang mengambil keputusan berdasarkan petunjuk yang kita miliki."
Bai Hu mengangguk puas.
"Benar."
Han Lei berdiri.
Tatapannya menyapu seluruh anggota kelompok.
Kemudian berkata dengan suara mantap,
"sekarang, kita bergerak sebagai satu tim."
Ia memandang Zhao Mingze.
"Kalau menurutmu rencana Bai Hu tidak masuk akal, katakan sekarang."
Zhao Mingze terdiam.
Ia kembali melihat Kawanan Serigala.
Lalu melihat Bai Hu.
Anak gemuk itu memang aneh.
Tetapi sejak memasuki hutan...
Semua yang dikatakannya terbukti benar.
Mulai dari lubang runtuhan.
Bekas cakar.
kawanan serigala.
Hingga dugaan bahwa mereka sedang dipancing keluar dari formasi.
Akhirnya Zhao Mingze mengembuskan napas pelan.
"Aku masih belum yakin."
Ia menatap Bai Hu.
"Tetapi untuk saat ini... aku percaya pada penilaianmu."
Mendengar jawaban itu, Bai Hu tersenyum lebar.
"Terima kasih."
Han Lei ikut tersenyum.
Inilah yang ingin ia lihat.
Kelompok mereka mulai saling percaya.
Namun...
Tepat ketika Bai Hu hendak menyusun langkah berikutnya...
Pemimpin Serigala Kabut tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Hidungnya bergerak beberapa kali.
Matanya yang hijau gelap perlahan tertuju tepat kepada tangan Bai Hu.
Lebih tepatnya...
Kepada Rumput Inti Embun yang sedang dipegangnya.
Bai Hu langsung menyadarinya.
Senyumnya perlahan menghilang.
Ia berbisik pelan.
"...Sepertinya kita terlambat."
Han Lei mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
Belum sempat Bai Hu menjawab...
Pemimpin Serigala mengeluarkan lolongan panjang yang jauh lebih keras daripada sebelumnya.
Auuuuuuuuuuu—!!
Seluruh kawanan Serigala Kabut seketika meraung bersamaan.
Mereka tidak lagi mengepung.
Mereka menyerbu secara serentak.
Kabut di seluruh hutan berputar hebat.
Tanah bergetar oleh puluhan langkah kaki.
Han Lei langsung mengangkat goloknya.
"Bersiaapp!!!!"
Di depan mereka...
Pemimpin Serigala Kabut ikut bergerak.
Dengan satu lompatan, tubuh besarnya melesat menembus kabut, langsung mengarah kepada Bai Hu.
Tatapan tajam binatang itu dipenuhi naluri membunuh.
Seolah ia mengetahui...
Anak berbadan gemuk itu adalah otak dari kelompok tersebut.
Bersambung
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut